Tamasya

14 Mei 2014

Malam ini pikiranku sedang dilanda jengah

Batinku gundah

Tubuhku lelah

Maka aku ingin sekali beranjak istirah

Atau mengemas keperluan ke dalam ransel

Membeli tiket melalui online dan bertamasya

Tetapi aku menemukan sebuah tiket

Tamasya kepada ucapan syukur atas segala apa yang telah tersampaikan dan terdapat

20140514-021907.jpg

Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah tragedi bagi negara-neara kolonialis. Oleh sebab proklamasi kemerdekaan Bangsa Indonesia menjadi gelombang pembebasan bagi negara negara tertindas, khususnya di Afrika dan asia.

Bagi Bangsa Indonesia sendiri, teks yang dibacakan Soekarno dan Hatta pada hari Jum’at Legi itu membangkitkan semangat kemerdekaan bagi manusia kepulauan Nusantara yang sejak saat itu, dengan rela hati dan iklas melakukan perjalanan menjadi Indonesia dengan segala konsekuensi yang dihadapi.

Hari ini, saat saya menuliskan catatan ini, perjalanan kemerdekaan itu telah hampir tiba di tahun ke 69 pada bulan Agustus depan dan akan menjadi ke 70 pada tahun 2015 yang akan segera datang.

70 tahun sebuah kemerdekaan dipertahankan. Dari generasi ke generasi. Pada kurun itu tidak semua ingatan tentang perjuangan kemerdekaan terekam untuk tersimpan dengan baik dan diceritakan. Tentunya banyak catatan hilang atau punah tak lagi ditemukan.

Pada kurun waktu 70 tahun banyak peristiwa yang merubah arah sejarah. Perubahan ini dipicu oleh beberapa peristiwa. Pertikaian politik yang pernah beberapa kali terjadi di Indonesia sedikit banyak merubah pencatatan materi sejarah Indonesia modern.

Peristiwa Darul Islam dengan tokohnya Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, peristiwa Madiun 1948 dengan tokohnya Musso, peristiwa 1 Oktober 1965 yang berakibat luluhlantaknya Partai Komunis Indonesia berikut pimpinan partai Dipo nusantara Aidit dkk serta pengikutnya. Setiap peristiwa itu merupakan peristiwa besar yang melahirkan catatan catatan sejarah yang diperbarui dan tentunya disesuaikan oleh para pemenangnya. Catatan yang tentunya mampu mengarahkan arah pandang dan pemahaman para pembacanya.

Terlebih selama 32 tahun kekuasaan Orde Baru di bawah naungan kekuasaan jendral Besar Haji Mohammad Soeharto dan didukung oleh mesin politik Golkar. Statusquo bekerja keras mewujudkan sistem ekonomi dan pembangunan Indonesia dengan sokoguru stabilitas nasional.

Pembersihan dilakukan dimulai dengan pelarangan teks-teks yang dinyatakan sebagai tidak sesuai dengan kiblat proyek rencana pembangunan per lima tahun itu.

Teks-teks besar sebagai konstruksi sejarah dibangun disertakan pelupaan pelupaan atas peristiwa, subyek, ruang dan waktunya. Wacana alternatif diganyang. Bangsa Indonesia memasuki wilayah yang tidak memiliki dinamisator dalam setiap diskursus apapun.

Era reformasi yang tahun ini telah berjalan 16 tahun tidak banyak melakukan perubahan dalam catatan catatan sejarah. Reformasi melahirkan keterbukaan dan setelah itu bersamaan dengan era digital dan teknologi informasi maka terdapat banyak sekali teks teks alternatif ( dalam hal ini pencatatan sejarah) yang bersebaran dan belum ada upaya pengumpulan dan pencatatan kembali.

Maka 70 tahun Indonesia Merdeka adalah momentum untuk memulai upaya menggali kembali catatan catatan sejarah yang dikuburkan.

Mengajak generasi yang melek huruf, angka, dan teknologi untuk melihat kembali potensi sejarah sebagai awal pembangunan karakter bangsa dan negara. Awal dari kesadaran atas kedaulatan dan cita cita republik bernama Indonesia.

Memaknai 70 tahun Indonesia adalah pekerjaan rumah bagi setiap manusia Indonesia yang mempertanyakan arah perjalanan bangsa dan negaranya dalam pusaran arus sejarah dunia internasional.

Melukis

12 Mei 2014

20140512-000344.jpg

20140512-000438.jpg

20140512-000453.jpg

20140512-000524.jpg

20140512-000545.jpg

20140512-000629.jpg

20140512-000653.jpg

20140512-000719.jpg

20140512-000755.jpg

20140512-000821.jpg

Proses melukis untuk sebuah vila di Bali Cliff 69, Ungasan, Jimbaran Bali Indonesia.

Melukis untuk Samana Casa… Rumah yang indah:)