Indonesia yang Besar

27 Mei 2008

Obrolan aku dengan seorang sutradara muda Indonesia berbakat itu berlangsung malam hari. jam sebelas malam, di sebuah kompleks pertokoan yang sudah sepi. Di lantai paling atas. dinding-dindingnya ditempeli poster dengan desain yang apa adanya, bebas-bebas saja. Obrolan panjang soal film, apapun dikaitkan dengan film, film Indonesia tentunya.

Setiap kali membicarakan film, aku seperti masuk ke dalam ruang imajinasi yang luas. Tidak mampu membendung segala keinginan mise en scene yang ingin tumpah dari kepalaku. begitu pula saat aku ngobrol dengan kawan yang merupakan seniorku di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta itu.

Namanya Harry Suhariyadi. Pangilan akrabnya Harry Dagoe,  filmnya yang cukup fenomenal adalah Pachinko and Everyone’s Happy. Kantornya yang di kompleks pertokoan Wijaya itu cukup luas, hanya ada beberapa meja dan peralatan ATK apa adanya. Waktu aku naik ke lantai empat dalam bayanganku terlintas film Chunking Expressya sutradara Wong Kar Way. Entah mengapa begitu, tiba-tba saja terlintas.

Dengan secangkir kopi, obrolan kami semakin seru. Ujungnya di jam tiga pagi lebih sekian menit. Harry Dagoe akan bikin film, judulnya Cinta Setaman. Dari apa yang dia ceritakan ke aku malam itu, nampaknya film ini berisi kerusuhan hidup yang menghiasi indonesia dalam keseharian. Pernak pernik peristiwa besar yang direpresentasikan dari sekian chapter; lonte, homo Sexual, kuli, keliaran manusia, penyakit kelamin, kemabukan, huru hara, eksploitasi manusia atas manusia, sex… dan aku teringat sebuah tempat di Tanah Abang. Laboratorium sosialku yang sekian tahun ini aku tinggalkan. Tanah Abang tanah abang yang kelam, yang menghilangkan perjakaku, yang menghantar aku mengenal dunia Jakarta yang kelam ini hingga ke keraknya yang ganas.

Pernah suatu malam, aku datang ke kawasan Monas, aku bertolak pinggang menghadap Monas, aku berteriak sekeras-kerasnya, “Aku tahlukkan kau Jakarta!”. Orang-orang menengok ke arahku, mungkin mereka menganggap aku orang yang baru saja gila.

Indonesia Grande, demikian Hary Dagoe memberikan judul filmnya. Indonesia Grande adalah Indonesia Besar, dari Sabang sampai Merauke, yang baru saja memperingati 100 tahun kebangkitan nasional dengan gegap gempita, peringatan yang dirayakan dengan iklan-iklan megah di televisi dan penampilan beberapa politisi sebagai bintang iklan yang intinya tetap dagangan politis.

Indonesia Grande adalah Indonesia sebagai cita-cita besar, dimana manusia dan cita citanya menjadi benda besar dengan samudera, pegunungan, tambang, berikut hutan, udara, laut dan kekayaan alam berlimpah di dalamnya. Indonesia adalah benda raksasa, sebuah negara yang terapung dengan tujuhbelas ribu limaratus lebih pulau dalam lingkar luas lautan dan  samudera, seperti kapal induk dan ribuan sekoci di sekitarnya.

Indonesia yang besar itu terus menerus digerus oleh karat besi tua yang dari tahun ke tahun semakin rapuh oleh tekanan ekonomi dan mentalitas yang bobrok. semuanya menjadi komoditas, barang dagangan yang selalu laku dijual, propaganda penguasa, kotbah kaum ulama yang mendistribusikan kebencian dalam bentuk aksi terorisme dan kekerasan, hak asasi manusia maupun demokrasi tumplek blek jadi satu adonan yang meriah.

Indonesia Grande adalah wajah dari suasana yang kacau, Indonesia Grande adalah Indonesia to day, warta berita yang selalu dilihat sebagai kriminal dan chaos, simpang siur antara ketegangan dan keindahan. Estetika Indonesia Grande adalah kawinnya realisme dan sosial. bercumbunya estetika bunga bangkai dan sedap malam yang aduhai wangi serta sedap dipandang. Ngobrol dengan Hary Dagoe seperti bertemu rangkuman berita pos kota, koran lampu merah dan liputan kriminal di televisi. suatu hal yang setiap hari dimakan bangsa ini, lauk pauk kekerasan!

Aku suka mendengarkan ceritanya. Kegelisahannya seperti mampir di sajak-sajak Chairil Anwar, penyair angkatan 45 yang mati muda karena sipilis dan TBC, maupun tulisan-tulisannya Iwan Simatupang.

Bergelora tetapi bisu, mengamuk tetapi rentan, menghibur tetapi subversiv. Yang paling mengejutkan aku adalah ketika kawan satu ini bicara tentang film as ideology. aku seperti melihat cermin di depan wajahku. Film sebagai ideologi di sini alangkah jauh dari popcorn dan tiket cetakan komputer, dengan ruang gelap dan seting dolby suround di ruang-ruang bioskop 21. Aku menterjemahkan apa yang dia sampaikan. Mencoba memaknainya. Indonesia to day, Indonesia Grande, seperti sinema!!!

Menjelang subuh aku pamit pulang, di salah satu sudut ruangan, aku lihat selembar foto casting pemain berukuran 4 x 6 beridentitas seorang laki-laki tertempel dengan besi steples nempel di jidatnya!

beberapa pom bensin yang saya lewati nampak padat dengan antrian sepeda motor dan mobil. orang-orang antri membeli bahan bakar. bensin atau solar, keduanya biasa dengan mudah dibeli di SPBU. ini adalah pemandangan ke sekian. dalam kurun waktu sepuluh tahun ini, sejak perubahan pemerintahan orde baru ke orde reformasi 1998, pemandangan semacam itu hampir menjadi pemandangan umum dalam setiap periode pemerintahan. gus dur, megawati atau sby. kemudian berbarengan ribut di berita-berita televisi dan radio, menyampaikan bentrokan aparat keamanan dan mahasiswa, BBm adalah bahan bakar yang bukan hanya menggerakkan mobil dan mesin motor, akan tetapi bbm adalah bahan bakar politis yang dapat memicu amarah dan konflik sekian pihak yang berkepentingan.

indonesia tengah malam adalah mimpi buruk, perihal sikap pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak. mimpi buruk karena kebutuhan pokok akan ikut naik, biaya tranportasi vital akan ikut naik, kemudian rakyat akan menjalani hari-hari dengan daftar kebutuhan yang mahal. pemerintah sungguh berani, mahasiswa juga berani. turun ke jalan dan emnuntut penolakan kenaikan harga bbm adalah sepeti membentur tembok. konsekuensinya memang begitu. krisis global. nilai rupiah dan minyak dunia, sistem perekonomian yang rapuh semua berhubungan bagai benang ruwet yang harus diurai satu per satu. lantas orang-orang kembali pada realitas yang semakin panas.

indonesia tengah malam adalah umpatan kesal yang terdengar di sudut-sudut gang, perempatan-perempatan dan bisikan di ruang tamu yang hampir tak terdengar. menggerundel bagaikan suara lebah, tak jelas maknanya. ketika bulan setengah buah melon, di televisi pemirsa di rumah melihat angkara murka.  gerundelan orang-orang mulai semarak. susu balita, beras, angkot, lauk pauk, sandang, pangan papan…

pagebluk istilah orang jaman dulu. panen gagal dan penduduk desa jatuh dalam kelaparan dan penyakit. mandeg dan matinya kesejahteraan. sulit lagi menemukan kopi dan teh di ruang tamu. air putihpun berubah pahit karena beban hidup semakin menghimpit. di pojok-pojok rumah kontrakan yang pengap, di bawah siluet lampu-lampu halte, di ujung perempatan dimana terdengar suara gitar yang sumbang, di remang sekat-sekat pasar bau arak murahan. hidup menjadi suram. manusia mebicarakan hal-hal yang suram. bunuh diri dan pembunuhan. semuanya berbaris antri menjadi berita koran sekaliber pos kota. bersanding dengan iklan pegadaian dan jual beli barang murahan.

indonesia tengah malam adalah mimpi buruk…

mei 1998

12 Mei 2008

dalam alam bawah sadar saya tidak akan pernah saya lupa bulan mei 1998.

peristiwa besar yang menghantar perubahan mendasar pada perjalanan bangsa dan negara republik indonesia, tumpah darah dan tanah air saya. 12 mei, ketika senapan menyalak di semanggi, saya ada di bilangan tanah abang. di hotel jati, bersama veteran angkatan 66 yang tak dapat kue pembangunan.

di hari itu, rakyat marah, tidak tertinggal saya dan abang-abang angkatan 66 pun marah pada militer dan polisi yang telah tega membunuh mahasiswa. kami menghantar karangan bunga esok harinya. dan benar-benar hari itu mencekam. ribuan rakyat berkumpul di sepanjang jalan, entah siapa yang pegang komando. mahasiswa di dalam kampus trisakti terus tercekat dalam imajinasi tiananmen. mahasiswa melihat darah, rakyat melihat darah, seharian semalaman televisi tak ada habisnya memutar lagu gugur bunga dan berita duka. lima mahasiswa trisakti mati ditembak aparat keamanan. jakarta geger, jogjakarta geger, surakarta, surabaya dan kota-kota di panatai utara geger. jalur distribusi ekonomi mulai terganggu. massa marah!

dan kami melihat istana negara sepi, hanya ada barisan blokade aparat bersenjata, kostrad dan kopasus, tvri dan rri terlihat siluet warna loreng. hampir tidak bisa membedakan mana marinir, mana kostrad mana kesatuan yang lain? dari mana, siapa? yang saya tahu, jakarta terus geger dan kerusuhan di depan mata, menjalar ke mana-mana menghancurkan dan membumihanguskan segala macam yang berbau cina. toko-toko mulai tutup, orang-orang menulis muslim atau pribumi. mei adalah kelam, sejarah yang hitam dalam perjalanan indonesia menjelang kejatuhan rejim soeharto.

mei 1998 tersimpan rapih dalam memori saya, catatan demi catatan saya tulis sepanjang hari. saat itu, dunia ini seperti kiamat. kebakaran, penjarahan, huru hara meletup seperti tabung gas yang jebol. nyalak senapan setiap waktu terdenagr. ada berita simpang siur, cina diperkosa, cina dirampok, orang terbunuh, swalayan terbakar, mahasisewa dan rakyat tumpah ke jalanan. dan saat itu gedung dpr/mpr adalah sasaran yang dekat. mahasiswa dan rakyat merengsek maju. tidak lagi takut apa itu peluru dan tank. tidak takut lagi apa itu mati. hidup terasa sudah sedemikian sulit masa itu, tidak lagi takut mati karena peluru atau granat. maju terus melawan militer yang pembunuh mahasiswa.

saya berada di antara massa. dihujani peluru dan gas air mata. saya mendengar teriakan yang pedih. dari kerongkongan saya sendiri yang parau. gas air mata dan rentetan peluru itu mencekik salurah pernafasan dan pendengaran saya. tetapi ini kemudian menjadi pengalaman yang kesekian. sebelumnya di bulan april, seorang mahasiswa di jogja juga mati karena siksa tentara di jalanan, tidak bisa dilupakan begitu saja. seorang moses gatotkoco tewas karena kekerasan militer, saat itulah pertama kalinya mahasiswa membakar gambar soeharto. persitiwanya di bulaksumur. mei 1998 adalah hal yang penting dalam hidup saya. peristiwa yang penting. saat itu yang ada dalam benak saya adalah revolusi sudah tiba. perubahan di depan mata. menuju indonesia makmur aman dan sentosa.

kini sepuluh tahun kemudian, setelah melewati masa-masa sulit. melewati peristiwa demi peristiwa sejak kejadian penting itu. peristiwa semanggi dan seterusnya, menginjak sepuluh tahun sesudahnya. indonesia berubah semakin terpuruk. gawang ekonomi, stabilitas nasional hankamrata bobol terus terusan. seperti tidak ada orang pintar di negeri ini. semuanya menjadi gagal dan gagal. hutang dan hutang, kemudian ambles dan terpuruk. kejadian bencana alam dan kelaparan, penistaan dan huru hara terus berlangsung. saya menganggap sepuluh tahun ini, dalam peringatan tewasnya lima mahasiswa tri sakti hari ini, semangatnya sudah berbeda. sepuluh tahun membiarkan indonesia terpuruk tanpa keadilan dan pemerataan kesejahteraan. negeri ini terus menerus tunduk pada kepentingan modal dan investasi yang menggadaikan negara dan rakyatnya. reformasi total gagal total. dan hari ini adalah peringatan atas kegagalan itu.

saat itu ketika hari berikutnya mahasiswa menguasai gedung dpr/mpr, saya membawa sebuah anak tangga, menjebol anak tangga itu dan mengangkatnya ke arah belakang gedung hijau. bersama mahasiswa-mahasiswa berjaket alamamater hitam, saya memasang anak tangga besi itu, saya pertama kali naik, seorang wartawan AFP mendokumentasikan peristiwa itu. dan pertama kalinya dalam hidup saya, menyaksikan ribuan massa mahasiswa di lapangan bawah dengan warna warni jaket almamaternya. saya mengepalkan tangan, beteriak teriak tak karuan. mengumandangan revolusi, mengumandangkan semangat aksi melawan!

hari ini saat saya mengenang itu, jakarta terus berubah. tak tertarik lagi saya memperingati peristiwa itu di jalanan. sebab, jalanan sudah tiak sakti lagi. jalanan berubah jadi konspirasi elitis yang memuakkan.

tadi pagi saya buka koran tempo, sarbini, alex, ardian, syafik dengan foto tertanggal 6 mei 2008 terpajang dengan mimik muka masing-masing. ditulis di situ mereka adalah tokoh-tokoh penggerak massa aksi sepuluh tahun lalu. saya rasa, dunia terus berputar, iklan di jalanan merebak seperti kacang goreng. besok sehari lagi, seminggu lagi, sebulan lagi, tiga bulan lagi, setahun lagi, tahun depannya lagi, orang sudah makin lupa dengan ibu-ibu kampung yang bikin dapur umum serta sopir-sopir mikrolet dan metromini, kopaja yang dengan tulus iklas sempat mengantarkan mahasiswa memasuki gerbang perubahan. kini bensin makin mahal, solar makin mahal. keluarga kita terancam kelaparan dan putus sekolah…

quo vadis reformasi? fatamorgana!