Membuka kembali catatanmu //

Pada Minggu pagi yang cerah //

Usai malam Purnama //

Buku bergambar Brotoseno //

Kebangkitan timur //

Segala gelisahmu //

Perjalanan dan pelabuhan-pelabuhan //

Bukan singgah kepada peluk pangkuan gadis pujaan //

Tetapi berpikir dan menuliskan catatan – catatan revolusi //

Penamu mengembara jaman //

Catatan-catatan yang hilang //

Jembatan keledai melintas perbatasan //

Madilog //

Gerakan Politik Ekonomi //

Persatuan Perjoeangan //

Dari Penjara ke Penjara //

Naar de Republik //

Siasat //

Manivesto-manivesto //

Terkenang //

Waktu itu muda remaja //

Kelana dan buku-buku //

Meninggalkan surau dan kitab-kitab usang //

Kotbah-kotbah tanpa membaca jaman //

Tetapi petani ditindas segala jaman kolonial //

Rumah gadang kenangan masa kecil //

Perburuanmu ilmu kemerdekaan //

Kehidupan diburu //

Membaca karyamu bagaikan melongok gelombang //

Yang berdebur di pantai bebatuan //

Melintasi jaman //

Membongkar! //

Bukan berarti tubuh celaka yang hilang //

Bukan berarti harus menjadi bagian kisah sejarah //

Perjalananmu sepi saja sendiri //

Melenggang pada lintasan sejarah yang memukauku //

Tentu tak banyak kisah diceritakan //

Di balik peristiwa-peristiwa besar //

Dari Bayah hingga Pegangsaan Timur pada jam 10 tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta //

Hingga Peking, Moscow dan Jerman, kembali ke Sumatra Deli yang tandus oleh pemiskinan //

Menginjakkan kaki pada batas-batas wilayah pelarian //

Di ruang kelas dan belantara gerilya //

Ah…pagi ini aku menyelam di antara pekat ampas kopi hitam //

Terbata-bata aku menjemput sejarahmu //

Gambar

Revolusioner