pesan dari kamar 1808

18 Juli 2009

Sore ini aku mampir di warung kopi, menikmati secangkir kopi hangat sambil membaca koran. Berita hari ini masih seputar Bom Marriott. Di halaman koran terdapat foto, suasana yang porak poranda, kehancuran. Sungguh ini berita yang tidak menarik untuk dibaca. Bisa jadi merusak isi kepala dan hatiku.

Sebatang sigaret aku bakar, harum aroma asap tembakaunya. Apinya mengkretek kritik kritik bunyinya. Pemilik warung kopi ini nampaknya tahu suasana hatiku, dia memutarkan lagu jazz latin. Aku membaca berita, satu satu. Aneh…tidak ada berita cinta.

Berita di televisi semua masih mengupas bom, korban bom, jaringan peledak bom, analisa bom, seolah semua orang yang ada di televisi itu sepontan jadi ahli bom. sekali lagi kenapa tidak mengupas cinta?

Kemarin pagi tanggal 17 Juli 2009, sekitar pukul tujuh, Bom meledak di dua hotel kelas elit JW. Marriott dan Ritz Carlton. Dua hotel itu terletak di kawasan bisnis Mega Kuningan. Di tempat itu aku punya pengalaman tersendiri. Pernah suatu ketika aku lewati jalanan di kawasan itu.  Jika melewati jalanan itu selalu saja was-was. Aparat satuan pengamanan dari berbagai jasa penyedia sekuriti bertebaran di masing-masing wilayah penjagaan. Kadang ada aparat berbaju hijau loreng yang berjaga atau petugas Brimob yang juga mendapat tugas jaga. Kawasan itu sangat ketat pengamanannya. Tidak ada gembel satupun terlihat di siang atau malam hari. Gembel tidak boleh lewat ataupun masuk ke halaman kompleks bisnis itu.

Suatu hari, saya bertemu seorang kawan di Hotel JW. Marriot. Saya kemudian tahu, sungguh nggak enak datang ke tempat itu dengan menggunakan motor. Apalagi membawa ransel. Setiap mata Satpam serasa mencurigaiku. Diperiksa dari ujung sepatu sampai ujung rambut. Wajah dan perawakan mereka sangar-sangar. Mungkin pendidikan satpam menjadikan mereka nampak angker dan menakutkan.

Sejak tahun 2002, tepatnya sejak peristiwa peledakan Bali 12 Oktober, kehidupan di Jakarta tak senyaman sebelumnya. Perkantoran, gedung-gedung bertingkat dan pusat keramaian dijaga semakin ketat. Hampir bersamaan semua tempat dipasang alat deteksi logam. Hidup di Jakarta menjadi sangat penuh dengan kecurigaan. Dulu aku berambut gondrong, makin nggak enak jika punya rambut gondrong, pake kaos masuk ke gedung bertingkat. Menghadapi rasa curiga dari orang lain selalu membuat tak nyaman. Memang aneh, sejak peristiwa Bom Bali, jasa penyedia sekuriti jadi menjamur. Mudah ditemui mobil-mobil mereka bertebaran di jalanan Jakarta. Logo-logo dari perusahaan jasa sekuriti itu menunjukkan simbol-simbol militer, entah ada kaitannya atau tidak. Tapi pada akhirnya saya tahu, dari sekian banyak jasa sekuriti itu biasanya ada orang-orang tertentu yang pernah bertugas sebagai tentara dengan pangkat perwira tentunya.

Dari peristiwa pengeboman kemarin, yang paling menarik perhatianku adalah kamar 1808. Menurut kabar berita media, di kamar itu terdapat bom rakitan. Terdiri dari racikan black powder dan bahan peledak lainnya. Sedangkan yang meledak di loby hotel disinyalir merupakan rakitan dari bahan potasium klorat. Pertanyaanku, bagaimana caranya materi tersebut bisa masuk ke dalam hotel yang 24 jam dijaga ketat oleh anggota pengamanan yang ketat dan terlatih?

Ada sebuah pesan dari kamar 1808. Entah pesan apa. Aku kira pesan itulah yang membuat peristiwa pengeboman kemarin menjadi lebih istimewa dari peristiwa-peristiwa bom sebelumnya. Mengapa menjadi sangat istimewa? Pengeboman Marriot, pengeboman kedutaan Australia, Pengeboman di Senen, dan pengeboman lain, kecuali bom Bali 1, tidak sampai membuat Jakarta siaga satu. Hari ini kita semua menjadi tercekam rasa takut dan was-was. Bukan pada peristiwa pengeboman, tetapi ada apa di balik peristiwa istimewa ini? Sekian pasukan organik dimobilisasi dan ditempatkan ke berbagai titik rawan dan vital, sekian operasi digelar di jalanan. Ini aneh, ada pesan yang lebih besar dari sekedar pengeboman. Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sehari yang lalu, memberikan pernyataan dan tanggapan atas peristiwa ini. Ada fakta yang diungkapkan. Banyak materi pernyataan. Yang sangat menarik bagiku adalah pernyataan pendek yang nyempil, kurang lebih bunyinya begini, …” jika di masa lalu, ada di antara kita yang pernah melakukan tindakan pembunuhan dan penghilangan orang-orang tertentu, dan sekarang mereka menyebar ke seluruh pelosok menjadi drakula-drakula…”. Pertanyaanku adalah, siapa yang pernah membunuh dan melakukan penghilangan? Siapa yang menjadi drakula? Ini menjadi menarik, sebagai pernyataan pertama yang ditunggu sekian banyak orang, sejak 27 Juli 1996, sejak 13, 14 Mei 1998…pernyataan pertama, yang samar tapi jelas memberikan sinyalemen. Bahwa ada pihak-pihak tertentu yang dulu pernah terlibat dalam pembunuhan dan penghilangan, menebar teror dan maut. Tersebar di seluruh pelosok negeri. Desersi dari kesatuannya. Membelot dari negara kesatuan Republik Indonesia. Anti Pancasila dan UUD 1945. Mereka harus bertanggung jawab, harus memb pertanggungjawabkan di hadapan hukum.

Peristiwa pengeboman kemudian menjadi sangat biasa, menjadi sangat menarik ketika dikonstruksikan sedemikian rupa oleh media massa sebagai komoditas dagangan informasi yang sangat laku. Lebih menarik lagi adalah pesan yang terbangun dari semua konstruksi peristiwa dan berita ini.

Bagaikan sebuah film, alur dan plotnya jelas. Kita tinggal melihat, siapa sutradara yang bentuk dan gaya filmnya seperti itu?