Pak Rahim dan Film Indonesia

Uncategorized

Aku berjumpa dengannya di sebuah ruang, di dalam kantor dosen Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Dalam kesempatan ngobrol yang sungguh berkesan.

Namanya pak Rahim, itu yang diperkenalkannya padaku. Usianya mungkin sudah di atas enam puluhg. wajahnya menggambarkan orang ini keturunan dari negeri yang jauh. Pakistan, atau India. Bagiku itu nggak penting, yang menarik dari orang tua ini adalah bicara ceplas-ceplos, logat Surabayanya khas. Yang terpenting bagiku adalah apa yang kemudian dia sampaikan kepadaku. Cerita tentang distribusi film Indonesia. Kisahnya di waktu yang silam sebagai distributor film, tepatnya sebagai orang yang berkecimpung dalam bisnis film. Pak Rahim menjelaskan kepadaku secara detil dan terperinci berkaitan dengan seluk beluk bisnis film di Indonesia. Diceritakannya kepadaku perihal bioskop Menteng disamping lapangan IKADA. Bioskop papan atas yang dinikmati oleh kebanyakan orang kaya di jakarta. Cerita yang lain adalah film Sudjata yang oleh Usmar Ismail diimport dari India. film itu mampu menandingi film-film Hollywood yang telah mencapai box office sebelumnya. Cerita yang lain berkisar tentang betapa jahatnya kelompok Subentra dalam andilnya menghancurkan jaringan bioskop film lokal karena monopoli usaha perbioskopan yang diberlakukan mereka. Cerita yang tak kalah seru adalah persoalan yang dihadapi orang-orang film dalam berproduksi di masa Orde Baru berkuasa.

Pak Rahim adalah wajah lama yang saat ini sangat penting untuk menjadi guru. Di tengah hiruk pikuknya perfilman nasional, dengan pemain-pemain baru yang lahir, atau pemain-pemain bisnis yang notabene pemain lama dalam percaturan bisnis film di Indonesia, keberadaan pak Rahim ini dapat menjadi petunjuk arah hendak kemana orang film Indonesia hendak berjalan.

Dari apa yang telah disampaikan pak Rahim, aku semakin sadar, film ternyata sangat dekat dengan relasi politik maupun kebijakan ekonomi sebuah negara. Jika aku melihat realitas perfilman di Indonesia saat ini, tentunya masih jauh harapan bahwa film Indonesia akan menjadi satu industri seperti di Amerika maupun di India. Masih banyak yang harus dibenerin, ditata ulang dan dibangun kembali. Baik sumber daya manusianya, sumber daya teknologinya, asosiasi pekerja film, asosiasi penguasaha film, rumah produksi, kebijakan negara dan lain-lainnya.

Maka aku kemudian mahfum, jika kemudian ada kawan pulang dari Bangkok lantas bercerita tentang perkembangan perfilman di Thailand yang maju pesat. Indonesia tentunya jauh sudah dari Thailand, tetapi paling tidak cerita pak Rahim memberikan semangat kepadaku untuk terus bekerja dalam film film film film film film film film film film film film dan film…..

Iklan

Ramadhan

Uncategorized

aku berjumpa ramadhan yang gegap gempita tak bisa tidur, karena televisi terus gemuruh dan iklan bertebaran bagai seribu bulan. semalam listrik mati. satu kelurahan. gelap gulita. tak ada persiapan lilin atau petromaks. di malam ramadhan, adzan terputus karena listrik mati. ah…memanggil Tuhan jadi terbengkelai karena PLN.

setiap sahur, aku membaca isi kitab Mu. terbentang ilmu di depanku. bagaikan bertemu hamparan padang luas pengetahuan. bagaikan dibuka pintu jawaban dari perselisihan yang semakin hari semakin rumit. membawaku berdiri pada pijakan yang kokoh. diterangkannya padaku pelajaran Tauhid. kemarin malam ada perdebatan di televisi, perihal demokrasi, perihal syariah, perihal tetekbengek masalah duniawi yang memuakkan. bukankah jika manusia membaca dan memahami makna kalam, sudah tak ada lagi perselisihan? jika menyadari demikian kenapa harus ada perdebatan?

ramadhan membawaku pada kesadaran. membaca, memahami dan pencerahan. bagaikan bertemu sejuta rembulan. sujud aku di lantai baitullah…