Sajak Malam Ketika Hujan Turun di Bulungan

Uncategorized


Gambar

Jika hujan

Bolehkah aku singgah

Pada taman kota dan pohon-pohon rindangkan malam

Di sudut gelanggang remaja

Masjid

Di kala isya empat raka’at kepada Mu

Dan kesenian

Obrolan soal-soal film

Sekretariat panitia yang kosong

Gelas-gelas kopi yang kandas 

Asbak dan puntung rokok jejak perdebatan dan diskusi sore

……………..aku ingin melukis…………………

Melukis hujan yang turun di Bulungan

Membasuh dedaunan

Mengobati dahaga tanah

Doa-doa

Malam semakin jauh merambat

Kesenian

Menyelam sampai dasar gelas-gelas kopi yang kandas

Film, kamu, hujan, malam

Tampias hujan 

Dedaunan menari

Aku, kamu, hujan, malam

Beribu mil ngobrol estetika…

DRH, 26 Maret 2012

Bulungan, menjelang pembukaan Festival Film Pendek Jabodetabeka 2012

Iklan

INDONESIA TANPA HOLLYWOOD

Uncategorized

Catatan asli dari OPINI yang diterbitkan REPUBLIKA, Senin, 7 Maret 2011

Gambar

 

 

SEANDAINYA INDONESIA TANPA HOLLYWOOD

Polemik yang terjadi antara Grup 21, MPA (Motion Picture Asociation) dengan Pemerintah telah menyeret polemic pendapat dan sikap para penggiat perfilman Indonesia. Pro dan kontra terjadi antara mereka yang membela kepentingan Grup 21 dan mereka yang membela kepentingan pemerintah, dalam hal ini Dirjen Pajak dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Masyarakat penonton penikmat film Hollywood di Indonesia dan sebagian penggiat perfilman menganggap penarikan film Hollywood di Indonesia sebagai pembunuhan terhadap dua hal:

  1. Pembunuhan apresiasi film. Hal ini beralasan karena masyarakat penonton telah terbiasa dengan kuantitas, kualitas teknis dan kualitas konten cerita film Hollywood. Sementara film Indonesia belum sepenuhnya mampu bersaing memenuhi kualitas dan kuantitas sekaliber film Hollywood. Film Indonesia tidak menumbuhkan apresiasi yang bermutu pada penonton karena film yang beredar hanya menyuguhkan kualitas teknis yang rendah dan cerita yang berkutat pada kisah hantu dan sex. Realitas ini memunculkan kondisi ketidak percayaan masyarakat penonton terhadap film Indonesia.
  2. Pembunuhan film Indonesia. Bagi penggiat produksi film Indonesia, studio 21 merupakan ruang distribusi vital. Penarikan film Hollywood dari peredaran pada satu sisi dapat dilihat sebagai peluang bagi penggiat perfilman Indonesia untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat penonton, namun pada sisi lain, ketidak percayaan publik terhadap film Indonesia akan menciptakan ruang ambiguitas untuk bisnis film Indonesia di bioskop 21. Selama ini posisi film Indonesia masih sebatas “Pendamping” film Hollywood.

Dua hal di atas memberikan gambaran yang nyata akan kondisi perfilman Indonesia yang belum memiliki pijakan kuat untuk bangkit dari keterpurukan. Kualitas dan kuantitas film Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan pasar di dalam negeri apalagi bersaing di percaturan perfilman global.

Thailand dapat menjadi contoh yang tepat dalam pelaksanaan kebijakan perfilman. Sebagai contoh selama tahun 2001 hingga 2002 Thailand mengalami peningkatan signifikan dalam produksi film. Kebijakan progresif otoritas perfilman Thailand membuka peluang bisnis film yang mampu meningkatkan anggaran produksi dari 450 juta baht mencapai 1,5 milyar baht. Sekitar 400-480 judul film diproduksi di Thailan pada periode itu. Negara tersebut berorientasi pada market global untuk mengedepankan kepentingan masyarakat perfilman di dalam negeri. Sehingga dalam bulan kedua di tahun 2003, sekitar 80 judul film diproduksi di negeri Gajah Putih tersebut.

Kebijakan progresif tersebut merupakan hasil ketegasan pemerintah Thailand sebagai garda depan pemangku kebijakan dan masyarakat penggiat perfilman yang mendukung kebijakan pemerintahnya. Selain itu, pemerintah Thailand mendukung penuh potensi perfilman dalam negerinya untuk meraih prestasi global. Munculnya film-film Thailand yang meraih penghargaan dan pengakuan di berbagai festival film internasional membuka prospek bagi bisnis film pada tataran global. Jika dibandingkan dengan pencapaian Thailand, di tahun 2010, data perfilman Indonesia hanya mencatat kuantitas produksi 100 judul film. Dari jumlah tersebut kualitas teknis dan konten belum mampu bersaing di tataran internasional.

Apa yang terjadi di Thailand tidak terjadi di Indonesia, modal pembangunan perfilman dari pajak film impor tidak terkelola dengan bijak.  Indonesia sangat tertinggal dalam pelaksanaan kebijakan di bidang perfilman. Jika melongok perfilman Thailand, semestinya Indonesia berpeluang  membangun perfilmannya dengan lebih baik. Pajak tontonan dan pajak keuntungan dari para pelaku bisnis film seperti Grup 21 semestinya dapat menjadi modal besar untuk mengembangkan potensi perfilman dalam negeri. Namun hingga saat ini pelaku perfilman harus berjuang sendiri untuk menghidupkan perfilman Indonesia dengan segala keterbatasan dana, teknis dan kontens.

Jika Indonesia tanpa film Hollywood, potensi apa yang dapat dikembangkan untuk mendukung perfilman Indonesia supaya menjadi tuan rumah di negeri sendiri?. Pertanyaan ini menjadi kekawatiran di kalangan penggiat perfilman di Indonesia, mengingat Grup 21 dan MPA adalah penyedia jasa ruang distribusi dan eksibisi utama di Indonesia. Dari kenyataan tersebut posisi tawar pemerintah sebagai penentu kebijakan perfilman pun menjadi dilematis. Dengan ketiadaan film Hollywood maka pemerintah menghadapi pekerjaan rumah yang sangat besar dan beresiko tinggi. Pekerjaan rumah tersebut adalah membangun Infra struktur dan supra struktur perfilman Indonesia.

Thailand merupakan negara yang luas wilayahnya hanya seperempat luas Indonesia, jumlah penduduknya sangat kecil dibandingkan dengan Indonesia yang telah mencapai 235 juta penduduk. Dengan demikian persebaran bioskop di Indonesia dan animo masyarakat penonton akan jauh lebih besar di Indonesia dibandingkan dengan Thailand. Semestinya kenyataan ini menjadi pijakan awal bagi negara untuk menentukan langkah ke depan yang lebih kongkret untuk membangun perfilman di Indonesia sehingga slogan film Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri menjadi keniscayaan.

PemerintahThailand mampu “mengendarai” Hollywood dan mengawinkan strategi bisnis dan strategi budaya untuk mengembangkan perfilman. Indonesia yang memiliki  potensi wilayah yang luas dan jumlah penduduk yang besar semestinya mampu mengelola perfilmannya secara mandiri, dengan atau tanpa film Hollywood sekalipun. Jika strategi bisnis dan strategi budaya dimiliki penentu kebijakan perfilman.

Kita sama- sama menunggu, strategi apa dan langkah-langkah kongkret apa yang akan dikerjakan pemerintah untuk menyelamatkan perfilman Indonesia berikut potensi yang ada. Seberapa siap dan seberapa berhasil pemerintah mengkonsolidasikan potensi perfilman Indonesia. Dengan demikian, jika MPA dan Grup 21 benar-benar menarik distribusi film Hollywood di Indonesia, dengan gagah berani kita dapat lantang bicara seperti halnya Usmar Ismail, Bapak perfilman Indonesia pernah berseru, Sinema Indonesia, Bung!

Daniel Rudi Haryanto

Koordinator pelaksana Lembaga Kajian Cinema Society

Peraih Director Guild of Japan Award, YIDFF 2011

 

HUTAN RIMBA LIAR PERFILMAN INDONESIA

Uncategorized

19 Februari 2011

Gambar 

 

(CATATAN  06 Juli 2010 yang diterbitkan kembali)

 

FADE IN

FADE OUT

 

OPENING:

Dari Youtube terlihat tayangan video klip BEATLES…

 

The wild and windy night

That the rain washed away

Has left a pool of tears

Crying for the day.

Why leave me standing here?

Let me know the way.

(The Long and Winding Road, BEATLES)

 

Barangkali JDR (John De Rantau) mengalami suasana dalam syair lagu itu pada malam-malam sepi setelah premiere film Obama Anak Menteng.

 

Malam yang berangin liar

Hujan tersapu angin

Meninggalkan jejak genangan air mata

Tangisan hari ini

Mengapa membiarkan aku sendiri?

Tunjukkan aku jalan

 

Maka, perasaan John sang perantau itu juga dirasakan oleh orang-orang film Indonesia yang dihadapkan pada suatu realitas kepentingan modal yang absolut. Film bukan lagi pembahasan dalam ruang kelas sinematografi, film tak layak lagi mendapat tempat dalam tradisi kritik intelektual, film bukan suatu pesan cultural, film tidak lagi suatu karya yang kusyuk, film lepas dari kejujuran ide, sama seperti wajah Indonesia hari ini, Film di satu sisi mengumbar “kemaluan” karena hilangnya martabat seorang kreator namun di sisi lain memenuhi kebutuhan perut yang terus menggelar konser kerontjong jaman edan.

 

Saya menamakan ranah perfilman Indonesia sebagai hutan rimba, alam liar yang dihuni homo homini lupus, binatang pemakan segala yang saling memakan sesama. Bagaimana tidak? Di dalam hutan rimba alam liar perfilman Indonesia ini pekerja-pekerja yang memiliki kemampuan berfikir dan olah rasa serta ide kemudian berhadapan dengan sistem yang brutal. Kasus OAM (OBAMA ANAK MENTENG) merupakan kasus paling mutakhir saat ini. Sutradara yang semestinya dihargai harkat (harga diri dan bakat-bakat) serta martabatnya, kini tiada lagi memiliki posisi tawar (bargain). Apresiasi itu dapat dilihat dari apa yang tertera dalam kesepakatan kontrak kerja.

 

Kasus OAM dan Sutradara tandem itu adalah pelajaran berharga yang kesekian kali bagi para penggiat perfilman. Produser, Sutradara, Direktur fotografi, Direktur Art, Penulis skenario, Penata suara, Penata lampu, Pembuat Behind The Scene, Editor, Penata Rias, Penata kostum, Pimpinan Produksi, Unit Produksi, penjaga genset, Pembantu umum. Tidak hanya yang profesional dengan garapan budget besar atau yang masih amatir menggarap Weding Cinematography.

 

Kontrak kerja merupakan dasar dari segala hubungan kerja yang menyepakati hak dan kewajiban dari beberapa pihak yang terlibat dalam kontrak tersebut. Jika muncul suatu permasalahan pada film tersebut. Dalam hal ini kita membahas kasus sutradara mendadak tandem antara JDR dan Damien Dematra. Jika JDR tidak pernah dikonfirmasi atau diajak bicara oleh Raam Punjabi selaku Produser perihal Damien, berarti JDR adalah pihak yang dizalimi. Maka wajib hukumnya, bagi kita semua untuk membela hak JDR di hadapan hukum. Namun akan berbeda jika JDR telah sepakat dengan Raam punjabi untuk menempatkan DD sebagai sutradara kedua dalam film itu, dalam hal ini kita tidak memiliki kewajiban untuk mengurusi persoalan internal perusahaan mereka.

 

Jika peletakan DD di film itu sebagai sutradara tandem bersama JDR tanpa kesepakatan, maka itu dapat disamakan dengan seseorang yang diberi gelar Profesor tanpa proses akademis. Kalaupun Doktor Honoris Causa disematkan kepada seseorang, itupun ada proses pengujian melalui dedikasi seseorang itu pada suatu bidang. Semisal pelukis Affandi almarhum, beliau mendapat gelar Doktor Honoris Cusa karena dedikasinya kepada dunia seni lukis Indonesia.

 

Raam Punjabi adalah “pemain bisnis film lama” dia boleh dibilang kawakan di bidang itu. Semestinya tidak disangsikan lagi kiprahnya dan kredibilitasnya. Hingga kasus sutradara tandem yang bermasalah ini muncul, satu pertanyaan besar yang muncul adalah; Bagaimana kesepakatan antara JDR, DD dan RP dalam masalah ini?

 

Perfilman Indonesia bukan soal itu saja, persoalan besar dan kecil masih banyak, semuanya belum tuntas. Dari urusan kontrak kerja, kesejahteraan karyawan film dan televisi, keselamatan kerja, hak cipta, organisasi karyawan film dan televisi, organisasi produser, organisasi bioskop, organisasi mahasiswa film, sekolah film, soal-soal di lapangan produksi, soal-soal bisnis film, soal-soal investasi film, peredaran film berikut monopolinya, kebijakan perfilman, BP2N, Sensor film, undang undang dan peraturan perfilman dan masih banyak lagi masalah yang tidak terbahas dan tak tuntas.

 

Persoalan ini menjadi blunder ketika orang-orang yang bekerja di perfilman Indonesia tidak memiliki kemauan untuk membahas dan menyelesaikannya. Dedikasi bagi perfilman Indonesia, dedikasi kepada karya, dedikasi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga; anak sekolah, susu dan kebutuhan dapur juga sama sama perlu, akan tetapi jika persoalan-persoalan di atas tidak terbahas dan tidak terselesaikan, maka orang orang film Indonesia akan terus mengeluh dan hanya sebatas grundelan orang film saja.

 

Tidak banyak buku atau artikel yang mengupas tentang soal-soal itu, hal ini bisa jadi karena tidak adanya relasi yang berkesinambungan antara praktisi film, pemikir film, penentu kebijakan film, pemberita film.

 

Seringkali di lokasi shoting banyak terdengar gerundelan tentang carut marutnya sistem produksi, distribusi dan eksibisi film indonesia. Namun seberapa jauh orang film mampu menjembatani dan menyelesaikan gerundelan itu? Tidak ada bukti soal-soal itu selesai dengan tepat. Jika dibandingkan dengan Hollywood, ya terlalu jauh, tetapi cobalah ambil contoh Cina, Korea Selatan, Thailand. Mereka selangkah demi selangkah berhasil mentransformasikan solusi perfilman mereka menjadi kontribusi yang baik dalam kultur sinema mereka. Maka layak jika negara-negara itu kemudian masuk dalam halaman buku besar The World Hostory of World Cinema. Sementara Indonesia, terseok-seok di pinggiran sejarah sinema dunia, tragisnya tidak pernah terbaca.

 

Saya hanya ingin menyampaikan, di hutan rimba liar perfilman Indonesia ini, kita dihadapkan pada suatu realitas pelik. Sebab organisasi perfilman mandul. Padahal organisasi itu adalah rumah tempat kita berkumpul, membahas soal-soal sebagai kesatuan keluarga besar orang film Indonesia. Sebenarnyalah orang-orang film Indonesia sekarang ini hanya melanjutkan dan memperbaiki sistem yang ada, itupun tidak pernah terjadi. KFT pecah belah, BP2N tak berdaya, Jero Watjik omong kosong, PH PH krisis uang, karyawan film bagai domba yang hilang, produser mumet bengkak budget, undang-undang perfilman tak melihat kondisi obyektif, komunitas film saling klaim, film film tanpa kualitas, para penonton film tidak tahu apa apa, mahasiswa film sibuk nyari kerja balikin modal kuliah, sekolah film asyik dengan autisnya, kurator film dimabukkan teori teori barat yang tidak membumi, film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film

 

film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film

 

film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film

 

Maaf komputer saya ajah sampe kena VIRUS FILM!!!

Beginilah nulis tanpa kopi dan sigaret. ancur ancuran!

 

GUNUNGAN KI DALANG MASUK KE LAYAR

LAKON GAGRAK MATARAMAN

Goro goro selesai

 

FADE OUT

CREDIT TITLE

 

Daniel Rudi Haryanto

Pekerja Film Indonesia

Mahasiswa Crash Boom Bang eh maaf Crash Program FFTV IKJ angkatan 2

Anggota Karyawan Televisi (KFT) ( Udah bayar iuran 3 tahun lalu, kartunya belum jadi jadi)

 

 

KOPI MALAM

Uncategorized

Apa itu rejeki?

Apa itu berkah?

Mengapa manusia meminta rejeki?

Mengapa manusia meminta berkah?

 

Hari ini sering terdengar orang berdoa kepada Tuhannya untuk meminta sesuatu:

 

“Tuhan, saya mohon berikan kepada kami berkah bla bla bla”

“Tuhan, saya mohon berikan kepada kami rejeki blab la bla”

“Tuhan, saya mohon  berikan kami jalan bla-bla bla”

“Tuhan, saya mohon berikan karunia kepada kami bla-bla bla”

 

Siapa manusia yang mau hidup miskin dan menderita?

 

Seringkali rejeki diterjemahkan sebagai uang

Seringkali berkah diterjemahkan sebagai harta benda dan kekayaan

Seringkali manusia meminta rejeki tanpa merinci kebutuhannya

Seringkali manusia meminta berkah tanpa merinci untuk apa berkah itu

 

Manusia meminta berkah, sementara di alam semesta ini telah disediakan berbagai macam potensi untuk memenuhi kebutuhan manusia;

 

–       Laut

–       Sungai

–       Danau

–       Hutan

–       Udara

–       Tanah

–       Sinar Matahari

–       Rembulan

–       Bintang-bintang

 

Di tempat-tempat yang disebutkan di atas telah tersedia air, tanah, tumbuh-tumbuhan yang memenuhi kebutuhan akan buah-buahan, makanan dan obat-obatan, udara, api dari sumber matahari, cahaya untuk menerangi kegelapan di malam hari dari rembulan.

 

Lantas manusia membutuhkan apa lagi? Dari apa yang telah ada itu semestinya manusia mengolahnya untuk kebutuhan hidup.

 

“Tetapi semuanya sekarang harus beli!” Kata seorang kawan

 

Mengapa harus membelinya? Milik siapakah segala potensi itu?

 

Hari ini manusia sibuk bayar kredit. Dari mulai kredit Bank untuk biaya menghidupi perusahaan dan bisnis, kredit rumah, kredit mobil sampai kredit rice cocker dan kredit handphone.

 

Kebutuhan manusia terhadap benda-benda itu ternyata merubah paradigm doa. Kalau dulu sebelum adanya benda-benda itu manusia berdoa dengan permintaan sederhana, minta keselamatan, minta pengampunan atas segala kesalahan dan bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan dalam bentuk segala potensi alam semesta, tetapi kini manusia berdoa supaya dapat rejeki, dalam bentuk uang untuk bisa membayar kredit atau utang.

 

Barangkali Tuhan tersenyum mendengar setiap saat manusia berdoa meminta sesuatu. Semakin bertambah jumlah populasi manusia, semakin manusia menganggap peradabannya semakin maju, semakin banyak pula permintaan pada doa-doa.

 

Bill Gate adalah orang terkaya di dunia. Apakah dia pernah berdoa? Lantas bagaimana doanya?. Ada satu pemimpin agama tertentu mengatakan bahwa doa orang kafir tidak akan diterima oleh Tuhan. Dalam agama tertentu itu bisa jadi Bill Gate adalah orang kafir, tetapi mengapa dia “mendapatkan” posisi sebagai orang terkaya di dunia?

 

Jika Tuhan Maha Kaya, maka Tuhan memiliki segalanya. Tuhan bukan Maha Kikir, dan saya rasa sifat Kikir tidak ada pada Tuhan. Alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan untuk diolah sebesar-besarnya kebutuhan manusia. Namun pada akhirnya kerakusan manusia menenggelamkan dirinya sendiri.

 

Memang menjadi lucu mendengar di setiap rumah ibadah, manusia selalu menyampaikan permintaan kepada Tuhannya. Manusia tidak pernah mendengar suara Tuhan dan tidak pernah melihat karya Tuhan.  Sehingga ada pertanyaan begini

 

‘Suara Tuhan yang bagaimana?”

 

Saya merenungkan pertanyaan itu, pada saat saya melihat laut berikut kekayaan yang terkandung di dalamnya, saya berada di dalam hutan belantara dan menjumpai kekayaan di dalamnya, saya memandang rembulan di kala malam dan menemukan cahayanya pada permukaan kulit saya, saya berteduh di bawah pohon dan menemukan bias cahaya matahari di permukaan danau yang tenang serta permukaan air yang mengalir dan di dalamnya ikan dan udang. Suatu kali saya mengikuti pelayaran dan menemukan pemandangan nelayan bergembira mendapatkan banyak ikan dan rumput laut. Burung-burung terbang bebas, segala ungags di permukaan bumi. Angin menghantarkan perjalanan, musim berganti dan begitu pula tanaman berbuah sesuai dengan musimnya.

 

Buah jeruk dan anggur banyak terdapat di tempat yang tandus, buah kelapa menyebar di seluruh pantai bumi, pohon-pohon kayu keras menjadi perahu dan kapal-kapal besar. Dari sanalah saya menemukan keajaiban hidup.

 

Manusia berkelana di seluruh bumi, belajar tentang banyak hal. Keajaiban hidup yang saya temukan itulah bahasa yang mesti diterjemahkan melalui pendengaran dan melalui cara pandang.

 

Hari ini, banyak doa minta rejeki, minta berkah. Alangkah sibuknya Tuhan mendata utang bulanan umat manusia. Dari mulai sebatas kebutuhan bayar kos sampai kebutuhan bayar apartemen.

 

Mengapa banyak yang mengeluh doanya tidak terjawab?

 

“Kan sudah disediakan semua? Mau rumah tinggal bikin, mau makan tinggal tanam, mau minum tinggal ambil, mau ikan tinggal pancing, mau apa lagi? Semua sudah ada”

 

Saya menemukan itu pada sebuah masyarakat Wana yang tinggal di hutan Morowali, Sulawesi Tengah.

 

“Di mana mata memandang hamparan hutan, sungai, danau itulah tanah kami”

 

Itulah orang Wana, kaya raya luar biasa.

 

Namun saya menemukan kenyataan, ketika orang Wana kemudian menetap di sebuah kampung, tanahnya tidak begitu luas, mereka kerja di kebun Sawit dan menjadi buruh, lantas keluar suara-suara keluhan, sebab kulkas yang dibeli sekian tahun yang lalu belum lunas bayar kreditnya.”

 

Saya merasa itulah persoalan umat manusia hari ini.

 

“Jalan itu sudah ada, cahaya itu sudah ada, rejeki itu sudah tersedia, berkah itu sudah ada”

 

“Kuncinya hanya satu, berucap syukur dan jangan pernah punya banyak hutang!”

 

Saya terpukau dengan bisikan yang dibawa angin malam semilir pembawa gerimis mala mini. Seberapa pandai manusia menterjemahkan tanda-tanda semesta?

 

Ingin rasanya segera pergi mencari tempat sepi, mengolah tanah, menanam, menuai dan menikmati rejeki dan segala berkah itu tanpa memikirkan apakah masih perlu listrik, laptop, kamera, atau nonton film layar lebar yang lakonnya saling membunuh seperti Kain dan Habil…

 

Nah!

 

 

 

 

 

 

Aku Tengah Berbincang dengan Kalashnikov

Uncategorized

19 Maret 2011

 

 

Aku tengah berbincang dengan Kalashnikov, Molotov, Antonov dan Dziga Vertov, Bersama Vodka. Aku bertanya kepada mereka

 

“Ada nggak sih research tentang Doa, Rasa Syukur dan Cinta Kasih? Kalau ada mana literaturnya?”.

 

Mereka bilang, “Ledakin aja! Beres!”.

 

Aku melihat aneka macam gorengan dan oseng oseng asu di hadapan REKPUBLIK INDONESIA!

 

Yuri Gagarin nimbrung membawa sebotol bir, ia duduk. Lantas, ia bicara ” Ada nggak sih obrolan yang lebih menarik dari sekedar kekawatiran? Aku telah sampai di luar angkasa “

 

Yuri Gagarin melempar botol bir ke jalanan. Sekelebat kemudian Taxi Kalong melindas botol bir jadi pecah berantakan. Suaranya nyanyian angsa.Ia mengambil buku dari balik punggungnya, sebuah novel Anton Cekov.

 

Ziga Vertov berkata “Aku lebih suka Leo Tolstoy!”

 

Aku berkata lagi ” Leo Tolstoy? Apa bedanya dengan Esenstein dan Pudovkin?”

 

Kalashnikov berdiri. Ia mengelus senjata laras panjang. Lantas memeluknya. “Aku mencintai lukisan Pablo Picaso, Guernica!” Ia mengatakan kalimat itu dengan suara merdu, rentetan peluru dan amok.

 

“Bisa jadi Leo Tolstoy atau Anton Cekov jadi Bom!” Suaraku membentur dinding

 

Molotov keluar dari dalam botol, berbentuk sumbu dan berisi cairan api. Ia terlempar dari kursinya dan berdebum. Menyambar berapi-api mencari musuhnya.

 

Dari kejauhan terdengar suara Armalet menyanyi merdu, sebagai lagu tembok ratapan. 

 

Dan anak-anak berlari-lari tuggang langgang, perempuan histeria, orang-orang tua lanjut usia berteriak kesetanan.

 

” Di mana kemerdekaan? Di mana kemerdekaan?”

 

Antonov baru saja tiba dari perjalanan panjang, ia menggendong para pengungsi yang matanya kuyu kurang tidur. Antonov haus dan lapar. Lambungnya muntah, dari mulutnya tumpah manusia perahu. 

Aku tengah berbincang dengan Kalashnikov, Molotov, Antonov dan Dziga Vertov, Bersama Vodka. Aku bertanya kepada mereka “Ada nggak sih research tentang Doa, Rasa Syukur dan Cinta Kasih? Kalau ada mana literaturnya?”. Mereka bilang, “Ledakin aja! Beres!”. Aneka macam gorengan dan oseng oseng asu di hadapan REPUBLIK INDONESIA!

 

Semua teori mengurai air mata putri duyung. Aku terjun bebas bersama PROSA. Lantas kau menyiram api, dari TOA terdengar nyalak senapan, peluru berhamburan, luka bergelombang, manusia jatuh, langit biru bertebaran senjata. 

 

Gunung berapi meletus, manusia berlibur ke bulan,gelombang samudera berkirim telegram, penyair mencatatkan keresahan pada pipi gadis pemalu.

 

Asam lambung, limbung dan ganas. Kepala diisi dengan dogma, lalu engkau menceburkan diri dalam lidah api. Aku tak paham, panggung mementaskan lakon-lakon kekalahan.  

 

Joyoboyo menggugat, Ronggowarsito terbahak-bahak, Raja Jawa terbengkelai. Rembulan padam, gelap gulita! Shinta minggat dari sang Rama. Pertunjukan bubar, penonton senang.

 

Aku berdiri. Di penghujung jaman edan. Ketika Black Berry lebih sering dibaca daripada kitab para Nabi. Facebook lebih sering dikunjungi daripada rumah ibadah. Bagaikan lokalisasi sarang para penyamun dan pelacur bertransaksi. Aku melihat kotbah dari twitter, sebagaimana halnya dari kaki bukit Sinai sebagian Israel mendirikan Lembu Emas yang bersuara.

 

Armaleta merayu Kalashnikov, ia bilang begini ” Mari bereskan meja makan dari remah-remah peradaban!”

 

Aku tengah berbincang dengan Kalashnikov, Molotov, Antonov dan Dziga Vertov, Bersama Vodka. Aku bertanya kepada mereka “Ada nggak sih research tentang Doa, Rasa Syukur dan Cinta Kasih? Kalau ada mana literaturnya?”. Mereka bilang, “Ledakin aja! Beres!”. Aneka macam gorengan dan oseng oseng asu di hadapan REPUBLIK INDONESIA!

 

 

 

FILM INSOMNESIA

Uncategorized

21 Februari 2011

Gambar  

Berbatang sigaret 

Menyeduh kopi 

Layar datar 

Tanpa gambar 

Catatan malam dan hati gusar 

Pikiran menerawang perbatasan benua 

Insomnesia benua baru 

Luas dan sepi 

Menikmati catatan malam sendiri 

Bicara tiada yang mendengar 

Bergaung di tebing-tebing terjal 

Layar diterbangkan angin 

Teronggok di permukaan pasir pantai 

Proyektor menyala 

Tanpa gambar 

Hanya berbatang sigaret 

Kabar malam 

Catatan gusar 

Kisah di benua Insomnesia 

SURAT TERBUKA KEPADA PENENTU KEBIJAKAN PERFILMAN INDONESIA

Uncategorized

19 Februari 2011

Sinema Indonesia sebagaimana dicita-citakan para pejuang sekaligus pembuat film Indonesia seperti Usmar Ismail dan Djamaludin Malik hari ini patut berbangga. Sistem bisnis film yang monopolis selama puluhan tahun hengkang dari Tanah Air Nusantara Indonesia. 

 

Selama puluhan tahun Motion Picture Amerika dan Bioskop 21 berikut gurita ruang eksibisinya telah meraup keuntungan finansial yang besar namun tak terhitung kerugian yang diderita penggiat perfilman Indonesia. Bioskop-bioskop lokal bangkrut. Ruang eksibisi tunggal 21 tidak akrab dengan film Indonesia karena tiadanya social responsibility terhadap perfilman Indonesia. 

 

Sejarah perfilman Indonesia mencatat compang camping dan keterpurukan sistem produksi, distribusi dan eksibisi film Indonesia. Penentu kebijakan perfilman seperti menutup diri terhadap realitas hancurnya Perusahaan Film Negara, berikut aset-asetnya. Otoritas perfilman Indonesia seperti menutup mata akan kondisi sekolah film, subsidi negara bagi pengembangan film dikuasai segelintir orang yang menduduki peta kekuasaan, persoalan-persoalan finansial, kontra profesionalisme merundung organisasi-organisasi penggiat film. Sinema Indonesia tidak lagi di ambang pintu kehancuran, melainkan sudah beralienasi menjadi kebebalan kebijakan yang tidak kongkret melahirkan kondisi kondusif di rumah sendiri. Pemilik kapital secara pragmatis menyuguhkan film-film berkadar kualitas rendah yang tidak mampu bersaing sebagai komoditas global! Untuk menutupi semua kekuarangan dari pelaksanaan sistem tersebut, isu sensor, moralitas selalu mengedepan atas nama sensor dan kamuflase legalitas undang-undang perfilman.

 

Negara dalam hal ini penentu kebijakan perfilman Indonesia harus mempertanggungjawabkan di hadapan publik. Publik memiliki hak untuk meminta pertanggungjawaban para penentu kebijakan perfilman Indonesia atas kegagalan melaksanakan amanat Undang-undang perfilman dalam hal ini melindungi dan mengembangkan aset perfilman, termasuk insan perfilman yang semestinya mendapat perhatian penuh dari Negara.

 

Hari ini, adalah kesempatan untuk bangkit dari keterpurukan. Kebijakan pajak bea dan cukai terhadap semua film Import menghadirkan suasana, situasi dan keadaan baru dalam ranah perfilman Indoensia. Penggiat perfilman Indonesia yang selama ini selalu terpuruk dan mengais pangsa pasar di negeri sendiri semestinya bangkit untuk menyambut era baru perfilman Indonesia.

 

Peningkatan kualitas dan kuantitas film Indonesia adalah kewajiban penentu kebijakan perfilman Indonesia. Menterii Kebudayaan dan Pariwisata, Menteri perdagangan dan perindustrian, Menteri Keuangan dan segenap jajaran pemerintahan harus bekerja keras untuk melakukan segala upaya demi perbaikan film Indonesia. Presiden berkewajiban mendukung upaya peningkatan kualitas dan kuantitas film Indonesia.

 

Film adalah bagian yang amat penting dalam usaha penguatan civil society. Sebagai media pandang dengar, film tidak hanya merupakan media hiburan semata, melainkan cerminan daya nalar, budaya dan identitas suatu masyarakat dan nilai-nilai kebangsaan. Mari kita sudahi polemik yang kontraproduktif.

 

Surat terbuka ini mengajak segenap penggiat perfilman Indonesia, masyarakat dan Negara (Pemerintah dan segenap rakyat) untuk bergandeng tangan menyikapi era baru perfilman Indonesia. 

 

HIDUPLAH SINEMA INDONESIA!

 

SINEMA DAN PERGULATAN ATAS SEGALA KEGELISAHANKU

Uncategorized

11 Oktober 2011

 

 

PRISON AND PARADISE adalah pergulatan panjang. Sebagai sebuah film dokumenter, ia menemukan sejarahnya sendiri. Ia memasuki ruang-ruang yang tidak terbayang sebelumnya. Merembes menjadi bagian dari pergaulan dan pembahasan isu-isu global. Selama 7 tahun berlaku pergulatan proses berkarya. Selama itu pula saya berada pada pinggiran, sehingga dapat melongok setiap fenomena yang terjadi di ranah kreatifitas sinema Indonesia dan sinema dunia pada umumnya, pada setiap ruang industri, pada setiap ruang apresiasi festival film.

Hadir di festival film tingkat internasional bukan suatu hal yang mudah. Kehadiran itu bukan untuk bersenang-senang dan berbelanja. Hadir dalam ruang apresiasi itu bagaikan memasuki suasana pada ruang ujian di kampus pagi, ketika setiap mahasiswa diuji tesisnya untuk dipertanggungjawabkan secara akademis dan dibongkar segenap pengalaman belajarnya. Pulang dari festival adalah memasuki ruang kontemplasi, bahwa sebuah karya masih membutuhkan perbaikan-perbaikan karena masih banyak kekurangan. Begitulah ijazah bukan suatu penghargaan, kemenangan bukan suatu tujuan tetapi suatu proses pengenalan diri.

Pada kamar hotel yang sepi, saya selalu merenungi perjalanan dan pertemuan-pertemuan. Hanya bisa curhat tentang keadaan bangsa pada bantal yang diam dan dingin. Hanya bisa melongok kulkas yang berisi makanan dan minuman yang tak bisa saya beli karena tidak memiliki uang saku yang cukup. Hanya bisa membaca daftar jasa layanan hotel dan nomer-nomer kode telepon internasional yang saya tak paham harus menghubungi siapa. Pada ruang sempit toilet pesawat yang terdapat cermin, saya selalu bercermin dan menyegarkan wajah untuk membasuh segala penat diskusi dan pembahasan tentang perubahan dunia, pergolakan manusia dan geliat pertempuran global yang merundung dunia saat ini.

Gambar

Sinema telah memperkenalkan saya pada suatu keterbukaan berpikir dan berpendapat serta menghargai setiap karya yang hadir, suka ataupun tidak suka saya dapat belajar pada setiap gambar hidup dan mendengar suara yang saya baca di ruang apresiasi sinema.

Hari ini saya di Bali, setelah tiba dari perjalanan panjang Narita-Jakarta- Denpasar. Tadi malam Prison and Paradise diputar secara terbatas pada ruang komunitas Taman 65 di Denpasar Bali. Berbagai tanggapan, kritik dan saran membukakan wawasan serta ruang diskursi kepada saya. Kami melintasi sejarah kekejaman rejim Soeharto dari 1965 hingga 1998 serta merta melintasi persoalan kekerasan serangan bom atas nama perjuangan agama yang terjadi setelah reformasi lahir sebagai peradaban baru di Indonesia.

Pada setiap ruang apresiasi di festival seperti Dubai, Korea Selatan, Jepang dan ruang-ruang apresiasi di Palu, Tentena, Poso, Gorontalo, Makassar, Yogyakarta, Bandung dan Bali yang sedang kami selenggarakan saat ini saya dapat berbagi pengalaman dari pertemuan-pertemuan dengan setiap orang yang hadir dari berbagai bangsa. Kita seringkali salah kaprah membahas revolusi Islam, revolusi Kristen, Revolusi Hindu, Revolusi Budha, gerakan ideologis agama-agama, sekulerisme dan religiusisme, kita seringkali terjebur dalam diskusi alot sehingga berkubang pembenaran ideologi masing-masing, bahkan tak dapat dipungkiri segala konstruksi propaganda nilai-nilai yang sering didengar, dibaca dan dilihat di media massa seringkali berbendturan dengan realitas yang sesungguhnya, tidak jarang kita berada dalam posisi anti pati dalam menghadapi suatu pembahasan yang tidak menyenangkan hanya karena tidak suka pada tema yang tidak populer. Dalam setiap pengalaman “Hijrah” menggendong Prison and Paradise ke mana-mana itu, saya mendapati suatu pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya: seluas-luasnya membuka cakrawala kesadaran pada sesuatu yang tidak diketahui menjadi tahu dan sadar untuk memperbaikinya pada diri sendiri.

Saya merasa bahwa berkarya merupakan jalan satu-satunya yang mutlak untuk menghadapkan diri sendiri pada pemahaman-pemahaman baru. Berkarya dan membawa karya itu sampai di tataran global adalah menguji diri sendiri untuk berlaku jeli dalam mengkaji dan membongkar segala pemahaman yang seringkali menjadi konstruksi sampah di kepala dan kesadaran saya.

Sinema membawa saya pada pergulatan terus-menerus atas segala kegelisahan saya dalam melihat persoalan-persoalan yang terjadi dalam realitas dunia ini. Bukan hanya pada lingkungan sekitar saya yang berbatas akan tetapi merengsek dan menembus segala batas pergaulan yang sebelumnya saya tidak pernah bayangkan akan hadir pada wilayah itu. Lantas saya terus menerus memanen kegelisahan dan memulung pesan-pesan.

Dalam obrolan sarapan pagi dengan Saleem asal Libanon, Shahin Parhami asal Iran dan Ameen Kamel dari Mesir di Washington Hotel, Yamagata, Jepang  kami tidak membicarakan halal dan haramnya Suhsi, kami membicarakan bagaimana berkarya. Ketika bertemu Vladimir dari Serbia, Moon Byon Hyun dari Korea Selatan dan Nargiza Mamatkulova dari Kirgistan, saya mendapati guyonan-guyonan satir tentang konflik batas negara dan peperangan yang mencerai beraikan keluarga, ketika saya bertemu dengan Tetsuke dari Jepang, ia menceritakan pengalamannya belajar musik di Brazil. Pema Tseden dari Tibet menyampaikan cerita gembala Biri-biri yang mempertahankan tradisi ketika menghadapi serbuan kebudayaan modern China berikut segala propagandanya, Sanjeeva Pushpakumara dari Srilanka berkisah tentang masakan Ibunya yang enak selalu menemani para crew ketika jam makan seusai shooting film.

Tentu saya tidak hanya puas sampai di pencapaian ini. Seperti naik gunung, saya mesti bisa sampai di puncak dan berhitung pada setiap perjalanan sehingga tidak terlambat melihat matahari terbit di fajar yang merekah indah. Pun demikian, saya mesti dapat pulang dengan selamat sampai di kaki gunung untuk menceritakan segala pengalaman perjalanan menjumpai matahari yang bersinar cerah menerangi masa depan. Sinema mengajarkan banyak hal seperti buku gambar, gambar yang bergerak, bersuara, suaranya lantang, pun buku itu telah ditutup seribu tahun lamanya….:)

Ubud, 11 Oktober 2011

INDONESIA FILM MAKER, NASI BUNGKUS, AIR MINERAL ISI ULANG DAN PRESTASI INTERNASIONAL

Uncategorized

Gambar

 

19 Februari 2011

 ( CATATAN  15 Januari 2010 jam 14:59 YANG DITERBITKAN KEMBALI)

Awal tahun ini, kita dapat melihat wajah perfilman Indonesia lebih semarak lagi. Beberapa anak muda mendapat perhatian dunia internasional. Film-film mereka mampu menembus perhelatan akbar kelas global, satu di antaranya adalah Rotterdam Internasional Film Festival. Joko Anwar, Yosep Anggi, Chairun Nissa dan Paul Agusta menunjukkan prestasi yang luar biasa.

 

Hari ini, kita dapat melihat wajah perfilman Indonesia. Gedung-gedung bioskop 21 diwarnai berbagai judul film Indonesia, bersanding dengan film-film Hollywood. Kenyataan ini tidak kita jumpai sepuluh tahun atau selama kurun 10 atau 15 tahun yang lalu.

 

Festival Film Internasional, berikut segala pernak-pernik acaranya adalah puncak dari suatu proses kreatif, merupakan perayaan dan penghargaan bagi mereka yang layak mendapatkannya. Dalam hal ini, suatu pertanyaan muncul, sejak kapan, Indonesia hadir dalam kancah festival film internasional?

 

Gotot Prakosa adalah sosok penggemar festival film pendek. Jejak langkah kakinya telah menapaki halaman-halaman gelanggang film festival internasional. Di tahun 80 an, ketika Gotot masih mahasiswa di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta, fakultas sinematografi, kegelisahannya telah mendorongnya untuk hadir di berbagai festival film internasional di Eropa terutama di Oberhousen dan Kanada. Itulah awal Indonesia dikenal oleh dunia internasional sebagai negara yang memiliki budaya film pendek, budaya film alternatif.

Selanjutnya Garin Nugroho melakukan perjalanan-perjalanan besar menapaki ruang-ruang sinema ke berbagai belahan dunia untuk hadir dalam kompetisi-kompetisi film intenasional. Hingga hari ini kita dapat menyaksikan Garin yang asyik dengan jadwal-jadwal festival film internasional yang tak pernah putus sepanjang tahun.

Nanang Istiabudi pernah menyabet penghargaan dan juara 1 kategori Independent Profesional Filmmaker pada B 16 Brno internasional Film Festival di Republik Ceko di awal tahun 2000 an, selanjutnya Edwin dan film-film pendeknya mampu menembus perhatian juri-juri film internasional dari Pusan, Korea Selatan hingga Eropa. Nama-nama selanjutnya yang layak dicatat adalah Hary Suharyadi, Joko Anwar, John De Rantau, Riri Riza,Faozan Rizal, Paul Agusta, Chairunissa, Yosep Anggi dan Steven. Barangkali pembaca dapat menuliskan nama tambahan yang lain.

 

Sejarah film Indonesia tidak pernah lepas dari sejarah pergerakan kaum muda dalam menentukan kemerdekaan. Usmar Ismail, Sumarjono, Djadug Djajakusuma, MD Alif, Bachtiar Siagian dan orang-orang Republiken lainnya telah menorehkan pondasi dasar pada jiwa perfilman Indonesia. Mereka telah berani menentukan sikap dan pilihan pada masanya, pada keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki bangsa ini, untuk mendirikan sekolah film untuk mengkader generasi muda melanjutkan visi perfilman Nasional. Indonesia memang kalah dengan Hollywood, kalah dengan Bollywood, kalah dengan Korea Selatan dalam hal sistem dan kuantitas produksi film. Para pembuat film kita terseok-seok berjuang mengibarkan panji-panji perfilman nasional. Akan tetapi kita mesti sadar, bahwasanya pondasi perfilman Indonesia itu terletak pada semangat pencarian nilai-nilai kebudayaan dan semangat gerilya dalam arti yang sesungguhnya. Tidakkah kita mengingat, Usmar Ismail di awal pembuatan film, bersama kameraman Maz Terra menggunakan kamera kanibal rampasan perang? Tidakkah kita ingat bahwa di awal sejarah perfilman Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan, Usmar muda dan kawan-kawannya terbebani pekerjaan mengkonstruksikan sinema Indonesia masa depan yang sesuai dengan arah revolusi Indonesia?

 

Saya rasa, semangat gerilya itulah yang ada dalam jiwa dan semangat kaum muda perfilman Indonesia saat ini. Teknologi film telah berkembang sedemikian pesat. Analog terintegrasi ke dalam digital. Teknologi film digital telah merasuk ke dalam kebudayaan kita sehari-hari. Namun, teknologi hanyalah sebuah alat, kita tertinggal setiap saat dalamhal teknologi. Apa yang kita pakai saat ini bisa jadi teknologi kualitas nomer 3. Namun, walaupun di lokasi shooting berbekal nasi bungkus, air mineral isi ulang dan gorengan tahu tempe, toh anak-anak muda kita mampu meraih prestasi internasional di berbagai festival.

 

Tadi malam, saya berdiskusi dengan seorang kawan. Dia baru lulus dari New York Film Akademi. Pilihan minat utamanya Penyutradaraan, kepada saya dia bertanya, “Mengapa film Indoensia tidak masuk dalam peta bisnis film Dunia?”. Pertanyaan itu bukan lagi mengejutkan bagi saya.

 

Prestasi kaum muda perfilman Indoensia memang diakui di berbagai festival internasional, semangat dan dedikasi mereka dalam membuat film adalah “darah dan doa perfilman nasional”.* Akan tetapi, untuk terlibat dalam kancah bisnis film dunia, sebuah pertanyaan muncul dari realitas perfilman hari ini. Apakah sudah ada sistem produksi, distribusi dan eksibisi film di Indonesia yang layak? Yang mampu melahirkan sebuah sistem perfilman yang saling berkesinambungan antara filmmaker, production house, kebijakan pemerintah di bidang perfilman, sekolah film, media massa, masyarakat dan lebih luas lagi sistem jaringan film internasional?

 

PFN bangkrut, asetnya laboratorium film negara dijual ke pengepul besi loak, sekolah film tanpa subsidi negara, kebijakan perfilman hanya menjadi aset politis dari penentu kebijakannya, organisasi perfilman dari mulai KFT, GPBSI, PERFIKI, GPFI, BP2N impoten. Apa yang diharapkan dari perfilman Indonesia? Bukankah ini dilema yang diciptakan oleh situasi yang tidak becus dari para perumus dan pelaksana kebijakan dalam hal ini negara?

 

Anak-anak muda berprestasi itu kemudian pada akhirnya memasuki labirin industri film rumahan yang berdikari sendiri menjawab tantangan-tantangan di depan mereka. Sekali lagi, anak-anak muda Indonesia para pembuat film itu dengan gagah berani melakukan gerilya dengan caranya sendiri. Merembes hingga festival Internasional, zonder bantuan kekuasaan. Maka, haruslah berbangga kita ini, di Cannes, Berlin, Yamagata, Pusan, Toronto, Singapore, kita dapat menyaksikan jejak-jejak bungkus nasi dan air mineral isi ulang itu ditonton juri-juri intenational bersanding dengan makanannya estetika barat padat diskursus teori film. Sungguh, drama yang pedih…

 

Selamat dan sukses gerilyawan sinema Indonesia!

 

Setelah Nonton Hugo, Aku Rindu Mengenang Usmar

Uncategorized

Gambar

Malam ini aku nonton Hugo, film yang disutradarai Martin Marcantonio Luciano Scorsese. Nonton Hugo membuat aku teringat kembali masa awal kuliah di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Hari pertama masuk kelas Sejarah Film Dunia, seorang dosen berdiri di depan kelas memberikan pertanyaan

“Mengapa kalian bikin film?”

Setelah mendengar pertanyaan itu, tidak ada satupun suara yang terdengar. Bahkan bisikpun tak ada. Kami mahasiswa-mahasiswi jurusan film angkatan 1998 tidak ada yang menjawab. Otakku berputar mencari jawaban.

Kalau bagaimana bikin film, jawabannya gampang. Kami mahasiswa film sudah mendapat pelajaran dasar kamera dan bikin workshop visual bikin film pendek. Bikin film itu gampang!. Tetapi menjawab mengapa bikin film?

Lelaki usia 60 an itu, rambutnya putih, kumisnya putih, tetapi sorot matanya tajam menatap mahasiswa di hadapannya. Ia adalah guruku, Chalid Arifin, alumni akademi film Perancis, seangkatan dengan Godard, Trufault dan Bazank aktifis Cahier Du Cinema penggerak gerakan sinema New Wave 1968 yang terkenal itu. Dari seorang guru Chalid, kami mengenal nama Lumiere dan Melies. Dua tonggak sejarah film dan bioskop dunia.

Hugo seperti membongkar kepalaku, kenangan kuliah dan belajar sejarah dan kajian film. Di kelas telah kami makan itu Lumiere, Melies, Fritz Lank, Esenstein, Pudovkin, Kulesov. Kami baca itu apa yang dinamakan pain with light theory, tiap hari kami melahap seluloid dan video. Lumutan di laboratorium film hitam putih, berburu gambar sampai gorong-gorong kota.

Di saat kuliah film, aku ziarahi ruang-ruang gelap sinema yang oleh Mira Sato sering disebut sebagai kuil gelap itu. Estetika Bird of Nation hingga Rebel Without a Cause kami kunyah sebagai obrolan warung kopi sambil makan mie dan gorengan. Tentu tak lupa ngrasani generasi post Garin Nugroho yang disebut generasi i Sinema yang melahirkan tonggak “Kuldesak”.

Di setiap praktek bikin tugas kuliah kami membayangkan Steven Spielberg Muda atau Zang Yi Mao, sementara Wong Kar Wai menjadi momok di dalam setiap pemahaman teori film di kelasnya Marseli Sumarno. Mahasiswa-mahasiswi ingin seperti George Lucas, Francis Ford Copolla! Atau Jafar Panahi dan Abbas Khairostami! Bahkan kami sering menonton film-film produksi Vivid untuk menganalisa shot dan style serta kualitas tata cahaya dan pengadeganan adegan bercinta!

Kalau Jakarta International Film Festival dimulai, rame-rame datang jadi volunteer, kalau sudah jadi volunteer milih jadi ticket door check  biar bisa nonton gratis sambil bawa teman yang pengen nonton tanpa punya tiket!

Gambar

Itulah sinema! Vrederic Illich Lenin pemimpin revolusi proletar Rusia pernah menyampaikan statemen “The most important of all arts is cinema”. Pernyataan itulah yang menantangku untuk membuktikan seberapa penting dan berpengaruhnya sinema kepada dunia?

Hugo memaparkan berbagai macam tanda kesenian. Di dalamnya Salvador Dali dan mimpi-mimpinya sebagai penciptaan surealisme dalam bentuk jam meleleh. Hugo menguras isi kepala Martin Scorsese yang juga menggunakan intelektual montase karya para veteran sineas masa Bolsyevic, di dalam Hugo aku membaca tanda-tanda yang menyiratkan berakhirnya perayaan jaman seluloid dan memasuki perayaan baru bernama digital dengan “dosa” paling mutakhir temuan manusia yaitu kamera 3D!

Terus terang, menonton Hugo adalah menonton “pameran” gagasan seorang sutradara gila yang sukses dengan “Taxi Driver” yang fenomenal itu. Bagiku, Hugo adalah sosok Martin Scorsese muda yang berani menjebol tatanan estetika Hollywood untuk kemudian menciptakan ruang kekuasaan estetika, gaya dan bentuk baru dalam industry sinema Hollywood dan sinema Amerika Serikat.

Aku menonton Hugo hingga habis kredit titelnya. Pengen tahu siapa saja yang telah berhasil menciptakan tayangan sedemikian mengesankan itu. Pulang dari nonton, aku terserang rindu pada Usmar Ismail, Tan Tjou Hok, Wong Bersaudara, Sjumanjaja, Djadug Djajakusuma, Ami Priyono, Nya Abbas Acup, DA Paransi, Sumardjono, Bachtiar Siagian, Teguh Karya, Arifin C Noor, Benyamin Suaeb, MD Alief, Basuki Effendy, Wim Umboh,  Chalid Arifin.

Jika sejarah film dunia mencatat Lumiere dan Melies, di Indonesia ada Usmar Ismail, pada 30 Maret 1950, hari pertama shoting film Darah dan Doa ia nekad menggunakan lampu petromaks dan beberapa kru film sibuk mendiamkan kodok di kolam belakang lokasi shooting. Sementara Max Tera dengan kamera kanibal sisa perang dunia ke dua berjuang mendapatkan gambar terbaik.  Ada pula  cerita tentang Djamaludin Malik, tokoh yang tidak hanya bicara film berkualitas, tetapi juga memikirkan bisnis filmnya. Dua sosok idealis dan produktif, seperti yang pernah di ceritakan sahabat Usmar Ismail, yaitu Pak MD Alief seorang pejuang revolusi kemerdekaan 1945 dan dosen kami di FFTV IKJ.

Gambar

Hugo…seperti bicara kepadaku dengan sebuah pertanyaan

“Kapan bikin film lagi?”

Jawabku akan sama seperti dulu, ketika awal menjadi mahasiswa film

“Mari kita bikin film terus bikin film terus bikin film!”

Dini hari ini, di dalam kepalaku gambar-gambar bergerak, warna warni, hitam putih, suara mesin proyektor film Chingkang 4 buatan China bergetar, cahaya menerobos gerbang rahim peradaban modern. Martin Scorsese…ya aku tangkap gagasanmu, sinema sebagai anak yang dilahirkan dari puncak revolusi industri. Sinema tumbuh sebagai bisnis bangkrut pasca perang dunia. Di dalamnya segala cerita suka duka, berbagai jenis akhir kisah itu memaparkan kerinduan masa lalu untuk pulang sebagai manusia. Ya…sebagai manusia…seperti Max Havelar dalam satu catatan mengatakan

“Tugas manusia adalah menjadi manusia” Dialah kerinduan itu…