Membaca Indonesia

6 Juni 2009

membacamu adalah meniti huruf demi huruf tanpa gambar,membacamu dari Sabang sampai Merauke adalah berjuta juta buku dalam perpustakaan yang padat. Menghapal ikan ikan dan pulaumu,menghitung bermil mil garis pantaimu. Membaca Indonesia padi menguning panen raya,ikan ikan bersuka terumbu karang bernyanyi, Lamalera berpesta,Papua menari, Paser Utara memanen Madu, Bukit 12 memetik buah hutan, Atjeh dan obrolan warung kopi,keluarga berfoto di halaman rumah, Toba memuji Tuhan,Halmahera melayari Pasifik, jika aku membaca Indonesia,maka aku tak akan tuntas membacanya,aku pengen lahir lagi dan pengen lahir lagi.

Bung Karno, aku tengah ditemani secangkir kopi Toraja yang hangat ketika menulis surat ini kepadamu. Pedih sekali rasanya jika kesadaran hadir dan di hadapanku nampak berbagai kesalahan penguasa dalam mengelola negara. Tetapi lebih pedih lagi ketika menyadari bahwa generasi yang semestinya melanjutkan tongkat estafet dalam mengelola negara ini ternyata lebih bodoh dari angkatan sebelumnya. Jika kamu masih hidup pada jaman ini, Bung. Barangkali kamu sudah sangat tua dan akan marah-marah setiap hari. Merasakan betapa keadaan semakin buruk. Kamu akan mengumpat terus menerus, bicara betapa njlimet dan sontoloyonya para penguasa negeri ini. Barangkali kamu akan turun ke jalan-jalan, kamu akan masuk ke gedung-gedung pemerintahan dan marah pada segala kebijakan yang keblinger. Barangkali, kamu akan terus menerus marah-marah menyaksikan penguasa negara yang asyik bermain politik tanpa melahirkan kenyataan kenyataan baru yang berguna bagi pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Bagi Rakyat yang empunya negara.

Bung Karno, Jawablah pertanyaanku, apakah kenyataan yang terjadi saat ini adalah warisan dari perilaku kekuasaan di masa lalu?

Angkatan 28, angkatan 45, angkatan 66, angkatan 70an, angkatan 80 an, angkatan 98 adalah angkatan-angkatan yang menorehkan sejarah perubahan di negeri ini. Masing-masing angkatan mengusung cita citanya sendiri, menciptakan ismenya sendiri sendiri. Entah angkatan apa lagi yang akan lahir nanti?. Hingga detik ini, persoalan demi persoalan terus menerus merundung bangsa Indonesia, terus menerus tak pernah surut. Korupsi merajalela, untuk apa Komisi Pemberantasan Korupsi diadakan? Bukankah ini suatu langkah yang keblinger? Jika seluruh elemen negara melaksanaan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila secara murni dan konsekuen, bukankah tidak diperlukan lagi KPK dan sejenisnya? Apalagi Mahkamah Konstitusi? Bukankah jika semua elemen negara ini sadar hukum dan sadar kewajiban dan haknya sudah tidak perlu lagi Mahkamah itu?. Semuanya menjadi salah kaprah. Raja-raja kecil memanfaatkan pemilu sebagai judi rolet terbesar, memanfaatkan kekuasaan untuk politik penggelembungan modal tanpa mau berbagi untuk kesejahteraan rakyat, kaum intelektual menjadi arogan dan angkuh, suara rakyat tidak pernah didengar, ketidakbecusan penanganan korban PT.Lapindo Brantas, praktek pembodohan demokrasi di berbagai wilayah pedalaman, penggusuran, kerusakan lingkungan hidup akibat eksploitasi tambang dan kayu-kayu hutan, semakin bertambahnya keluarga miskin masih terus terjadi dan menjadi persoalan nasional. Akankah ini turun menurun kepada generasi ke generasi, Bung? Apa pendapatmu?

Indonesia adalah negara kepulauan, pulau-pulau dirangkai menjadi kesatuan geo politik, geo ekonomi, menjadi kesatuan kebangsaan. Laut menjadi pemersatu teritorial, di negara maritim ini, kami serasa tak memiliki pantai dan laut. Hasil laut berlimpah ruah, tetapi desa-desa nelayan kandas dalam kemiskinan struktural. Apa artinya kapal-kapal besar penangkap ikan jika nelayan hanya menjadi penonton mata rantai makanan industri besar? Anak-anak nelayan putus sekolah, sebab sekolah tidak memberikan harapan untuk hidup lebih baik. Mereka berguru pada luasnya lautan, samudera ilmu yang tak berkesudahan. Ketika mereka sadar dan menuntut haknya sebagai warga negara, dengan mudahnya suara mereka dibungkam.

Bung Karno, lihatlah itu, sepanjang pantai yang dicemari limbah mercuri. Tengoklah Bung anak-anak yang miskin papa seperti orang tuanya yang hidup hanya sebatas jaring dan perahu mereka yang terancam karam tanpa modal lagi.Sarjana dan sekolah tinggi hanyalah mimpi di waktu senggang, ketika orang-orang pasar sudah pulang. Berteman kucing-kucing pemakan kepala ikan, terjebak dalam anggur oplosan dan mati muda.

Indonesia adalah negara lumbung padi raksasa, tetapi anak anak desa terjerat hidup minder tanpa cita-cita.Di Negara Agraris ini, gunung berapi tersebar dari ujung Sumatra hingga Jawa dan seluruh kepulauan Nusantara. Memberikan pupuk kesuburan yang abadi. Bumi memberikan berkah, petani seharusnya sejahtera. Tetapi, program keluarga berencana sejahtera gagal total, hanya berupa romantisme statistik yang tercatat pada papan papan usang BKKBN yang tua renta. Tugu-tugu prasasti transmigrasi modern hanya menjadi saksi bisu yang menciptakan bosan kehidupan desa.

Bung Karno, tidakkah kamu menangis, ketika di bandara-bandara internasional, perempuan-perempuan desa yang muda-muda dicekam ketakutan mati disiksa di negeri orang, tidakkah kamu menangis mendapati perempuan-perempuan desa itu pulang membawa beban di rahimnya? Beginikah manusia Indonesia yang katanya hidup di lumbung padi kesejahteraan? Semua ini serasa tanpa harapan, petani menjadi miskin, urbanisasi merubah wajah desa menjadi kota. Televisi dan media massa mempercepat perubahan. Janji-janji ekonomi modern hanyalah tumpukan hutang luar negeri dan paket kebijakan internasional yang merugikan. Pemuda-pemuda desa hengkang ke kota, meninggalkan tanah dan upacara-upacara musim panen. Mengabdikan diri di ruang-ruang baru, menjadi sekrup sekrup industri yang tak berarti. Sebagian menjadi perampok kelas teri, hidup tersudut di terminal dan tong sampah peradaban. Hanya menjadi hiasan berita Pos Kota dan koran koran kriminal ibukota.

Bung Karno, ini negara Pancasila. Tetapi anak anak sulit kuliah karena biaya belajar di Universitas semakin mahal,bagaimana mungkin berpikir pendidikan jika perut menuntut kenyang? Rumah sakit menjadi musuh masyarakat, apotik serupa meja interogasi. Pertanyaan demi pertanyaan ditujukan kepada si Marhen yang miskin, kenapa tidak mampu beli obat? Apakah si Polan dan si Marhen malas hingga jatuh miskin tak mampu menebus obat atau ongkos rumah sakit? Betapa sedihnya kamu Bung? Melihat si Marhen antri jatah Bantuan Langsung Tunai? Tersungkur dan kehausan di siang terik yang panas?

Di Negeri Pancasila ini, manusia mempertanyakan kembali arti kemerdekaan. Apa Jawabmu, Bung?

Bung Karno, jika kau masih hidup hingga saat ini, kamu sudah pasti sangat tua dan renta, barangkali kamu membawa tongkat, kamu bisa tersenyum melihat tugu Pancoran, Tugu Selamat Datang, Tugu Manusia dengan di atas kepalanya, Tugu Pembebasan Irian Barat, Tugu Monas. Aku akan menuntun langkahmu, mendorong pelan kursi rodamu menyelusuri jalanan Jakarta yang macet. Tetapi aku yakin, kamu tidak akan tersenyum melihat tugu-tugu masa lalu itu, kamu akan terus marah disertai batuk batk, namun aku akan terus mendorong kursi rodamu pelan-pelan, Sambil mendengarkan setiap kemarahanmu.

Bung Karno, ini negeri zonder pemimpin lagi…

Bung Usmar yang baik,

Hari ini saya betul-betul gundah gulana. Percakapan demi percakapan perihal perfilman Indonesia yang saya alami selama ini membentuk persoalan di kepala saya. Membentur seperti bebatuan yang saling bertubrukan.

Saya teringat saat pertama kali memasuki ruang kuliah film di Institut Kesenian Jakarta. Bertemu dengan guru-guru saya yang bijak. Diantara mereka adalah Bapak MD. Aliff dan Bapak Chalid Arifin. Mereka mengajarkan kepada kami, murid-murid yang belia ini suatu nilai-nilai. Film dan semangat kebangsaan.

Di tengah gemuruh perubahan dan transisi-transisi yang menciptakan situasi gamang ini, barangkali pengajaran semacam itu tidak begitu penting. Atau tertinggal jaman, disebut old school dan kadaluarsa. Tetapi saya sendiri mengalami sebuah perubahan besar dalam berpikir, bekerja dan melakukan tindakan dalam kehidupan ini. Generasi sekarang hidup dalam kemudahan demi kemudahan, membuat film sudah sangat ringkas dan praktis terfasilitasi oleh teknologi digital.

Generasi digital… Mungkin semua ini menjadi lebih baik, mungkin saja tidak, karena semua kemudahan ini bisa saja menjadikan generasi ini tumbuh dalam kesombongan dan ketidakberdayaan, sebab semua dibangun atas nama individu dan kelompok, bukan bagi suatu cita-cita bersama. Ya bisa saja generasi ini menjadi sangat congkak dan sombong.

Saya teringat pak Alif pada suatu ketika menyampaikan cerita ketika pertama kali mebuat film bersama Bung Usmar. Membuat film pada masa itu sama beratnya dengan bergerilya melawan tentara Belanda. Sumber daya teknik film tidak memadai. Seorang Kameramen bernama Max Terra mesti menyiasati problem dengan membuat kamera kanibal. Harap maklum, kamera masa itu merupakan kamera rampasan perang dan Indonesia masih dalam masa Revolusi, harus berjuang dan mencipta dengan apa yang ada. Lampu petromaks menjadi penting, sebab lampu-lampu seperti yang terdapat di studio Hollywood tidak tersedia di sini.

Bung Usmar, dari cerita guru Alif itu, saya membayangkan suatu situasi yang tidak ideal. Namun dari situasi dan kondisi yang demikian itulah Darah dan Doa lahir sebagai film yang melampaui jamannya. Kemudian ada satu lagi cerita yang membekas dalam ingatan saya, ketika Bung datang sendiri ke Cukong pemilik bioskop Megaria untuk mengajukan pemutaran film Bung Usmar di bioskop yang menurut kelas sosial masa itu merupakan bioskop elite (dalam hal ini saya ingat Bung Pramoedya pernah bercerita, bioskop itu salah satu tempat favorit Chairil Anwar nongkrong).

Saya terkesiap manakala mendengar cerita dari Guru Alif bahwa Bung Usmar melakukan pemukulan fisik kepada cukong bioskop Megaria karena film Bung Usmar ditolak untuk ditayangkan, bukan karena kualitas yang buruk, melainkan karena ketidakadilan yang diciptakan oleh kapital sinema itu sendiri.

Sekali lagi saya merasakan betapa orang sekaliber Bung Usmar harus melakukan tindakan tersebut. Barangkali sudah merupakan hukum, manakala perjuangan dan revolusi memang membutuhkan kekerasan, satu diantaranya adalah untuk memperjuangkan film Indonesia. Ya Film Indonesia yang merupakan sokoguru Film Nasional.

Banyak lagi cerita perihal perjuangan Bung Usmar dan kawan-kawan yang saya dengar dari Guru Alif. Saya harus menghargai jasa-jasa Bung dan kawan-kawan. Tanpa generasimu, barangkali kami tidak dapat mengenyam pendidikan film, bahkan tidak mungkin film Indonesia mengalir dalam sejarah yang demikian berliku. Saya sangat terinspirasi dengan perjuangan Bung Usmar, hingga Indonesia dapat merajai pasar film di Singapura dan negeri-negeri jiran Asia Tenggara. Ini suatu prestasi yang luar biasa.

Hollywood pun berdecak kagum menerima Bung Usmar, manakala Bung memenuhi suatu undangan lawatan ke Amerika. Orang-orang yang merajai perfilman dunia itu heran, bagaimana mungkin Bung Usmar dan kawan-kawan dapat membuat film dengan segala keterbatasan?

Guru Chalid bercerita lebih luas lagi. Dari beliaulah saya mengenal sejarah film dunia. Saya jadi paham mengapa orang-orang Hollywood pada masa itu kagum pada Bung Usmar, sebab orang Indonesia yang baru saja merdeka seumur jagung, sudah mampu membuat film yang tidak kalah dengan Eropa dan bahkan Amerika. Pencapaian kualitas yang tidak main-main. Dari pak Chalid saya mengenal Neo realisme Italia, Bycicle Thief yang disutradarai Vittorio De Sica tahun 1948, film itu dibuat dalam kondisi pasca perang yang memilukan. Indonesia memiliki Bung Usmar, dengan semangat revolusi membuat film yang tidak kalah menariknya.

Satu hal yang senantiasa membekas dan tertanam dalam kesadaran saya adalah pernayataan pak Chalid di depan kelas yang menyatakan “film tidak lepas dari ekonomi dan politik”. Mata pelajaran Sejarah film dunia yang pak Chalid sampaikan membuka mata saya sebagai remaja belia yang tengah belajar film, film pada kenyataannya bukan sekedar teknis dan pembahasan-pembahasan estetika, melainkan lebih dari itu.

Film merupakan manifestasi daya nalar dan peradaban sebuah bangsa. Jika kemudian neorealisme Italia dikenal dalam catatan-catatan sejarah film dunia, mengapa Bung Usmar tidak? Bahkan pada sebuah buku The History of World Sinema terbitan Amerika, nama Bung Usmarpun tidak tercatat dalam sejarah film Asia?

Bung Usmar, perjuanganmu dan kawan-kawan pada masa itu sungguh hebat. Pencapaian kualitas filmmu sungguh di luar dugaan. Saya merasa jauh dan tertinggal. Merasa tidak pernah berbuat apapun dalam perfilman dewasa ini. Jika saya boleh bercerita, di tengah kondisi serba mudah saat ini, saya merasa kurang ilmu untuk dapat membuat film sekualitas anda. Bahkan saya berani menyatakan dalam surat ini, bahwa generasi film setelah 1998 pun belum ada yang mampu mengungguli karya Bung Usmar. Bukannya belum ada, barangkali tidak ada.

Dari realitas perfilman Indonesaia saat ini persoalan yang menggumpal dalam kepala saya. Generasi muda pembuat film Indonesia saat ini entah mengapa tidak dapat bersatu seperti di jaman Bung Usmar dulu. Bersatu untuk membangun perfilman Indonesia menuju pencapaian bersama. Saya tidak tahu lagi apa penyebab dari semua ini. Semua serba ruwet. Semua serba ingin menjadi yang terdepan. Saya ingin bercerita perihal komunitas film, rumah produksi film, lembaga pendidikan film, media massa film, organisasi karyawan film, badan pemerintah dan kemendterian yang mengurus kebijakan perfilman.

Semua itu serasa seperti berjalan sendiri-sendiri. Ceritanya akan sangat panjang dan rumit. Satu hal yang ingin saya sampaikan dengan sederhana adalah sebuah pertanyaan. Mengapa film Indonesia belum mampu tumbuh sebagai manivestasi mutu dan kualitas, serta mengapa industri film Indonesia tidak mencapai apa yang Bung Usmar dan Bung Jamaluddin Malik cita-citakan?

Tentunya ada banyak hal yang rumit untuk diurai. Konflik kepentingan dari masing-masing kelompok sama halnya situasi ketika terjadi rasionalisasi laskar-laskar dan milisi setelah revolusi 45. Boleh jadi kekonyolan-kekonyolan yang ada dalam adegan-adegan film Naga Bonar nya Bung Asrul Sani sama persis dengan apa yang tengah terjadi dalam situasi kondisi perfilman Indonesia saat ini.Terjadi pada generasi perfilman Indonesia saat ini.

Bung Usmar, setelah perubahan terjadi di tahun 1998, situasi bukan makin baik tetapi makin buruk. Jika tahun ini menurut kabar burung ada seratusan lebih judul film diproduksi, apakah semua itu merupakan film yang dipikirkan kualitasnya? Saat ini ada banyak orang membuat rumah produksi film, banyak pula setelah membuat film mengatakan rugi.

Saat ini muncul komunitas-komunitas film dengan berbagai macam fokus program kegiatan, seperti jamur di musim penghujan, tidak semua komunitas tumbuh dalam konsistensi, sekarang ini ada beberapa anak muda yang menjadi praktisi perfilman membangun oposisi terhadap penguasa kebijakan, namun dengan mudah beberapa di antaranya kemudian menjadi kolaborator kekuasaan itu sendiri, sekarang ini banyak orang dengan mudah bekerja sebagai crew film, namun setiap hari mengeluh karena kesejahteraan yang tidak memadai, sekarang ini banyak sekolah-sekolah menyelenggarakan pendidikan film atau audio visual, namun tidak semua menghasilkan anak didik yang mumpuni.

Saya tengah mencari jawaban dari semua persoalan ini, Bung. Mungkin Bung Usmar dapat menuliskan catatan balasan kepada saya. Saya percaya, bunga-bunga akan tumbuh dan berkembang aneka warna dan aroma dalam taman perfilman Indonesia, dan biarlah semua itu menghiasai taman besar bernama Indonesia ini. Semua memang butuh perjuangan, semua butuh rendah hati, semua butuh penyikapan dan semua itu. Masihkah Bung Usmar mau berbagi, pun dalam ruang imajiner ini?

Aku berjalan menyelusuri jalanan kota Jakarta. Galian tanah nampak terbengkelai di beberapa tempat. Senja hari ini aku sampai pada selembar halaman. Depan stasiun Senen. Sebidang tanah batu semen berdiri di atasnya konstruksi monumen patung. Ada seorang memegang bambu runcing nampak kepayahan, dipapah seorang lelaki berseragam tentara. Patung patung itu hendak berbicara. Menyampaikan cerita masa lalu berkaitan dengan daerah ini. Senen, ya Senen. Sore ini kereta datang dari Jawa, kereta listrik mengangkut orang-orang dengan siluet di wajahnya.

Bayang-bayang kelelahan usai mencari nafkah seharian. Deru lokomotif dan suaranya, seperti genderang dan terompet perang menuju front-front perlawanan. Mungkin di jaman ini berbeda. Senen bukan lagi dipenuhi anak-anak muda yang tampang dan gesturnya urakan. Yang berkerumun mencari jawaban dari kata modern, seni, revolusi, realisme, drama turgi, aksi panggung dan berbagai macam pencarian peradaban. Senen sudah banyak berubah. Tugu yang terdapat pejuang-pejuang yang jadi batu itu sudah cukup banyak bercerita. Masa lalu adalah cerita usang, tugu itupun compang-camping sana sini. Beberapa anak berbaju lusuh tiduran dan bermain di sekitarnya.

Apa yang terlupa dari Senen? Apa yang pernah dilahirkan dari Senen? Gedung pertunjukan ketoprak dan wayang orang itupun tenggelam di antara kaki lima dan kepulan asap kendaraan bermotor. Sore berubah senja. Aku menyelusuri jalanan Jakarta yang tambah murung. Teringat “kawan” lama yang pernah aku temui dalam catatan-catatan seniman senen. Dia adalah Sjumandjaja. Bung Sjuman, fotonya fenomenal, dengan topi gaya koboi dan sigaret pipa di tanggannya, meliriklah ia. Ah, Bung Sjuman, lirikan anda itu menembus batas waktu generasi ke generasi perfilman Indonesia.

Dari Senen hingga Moscow. Tak dapat membayangkan perjalanan Bung Sjuman. Tidak banyak catatan yang mengisahkan kawan yang satu ini. Tetapi All Union State Institute of Cinematography, Moskow, Rusia mencatat perjalanan pemuda yang sering nongkrong di Senen ini sebagai pelajar yang jenius.Mengerjakan tugas karya akhir berjudul Bayangan yang diangkat dari karya penulis novel Amerika Erskin Caldwell. Dengan karya itu, Bung Sjuman konon lulus cumlaude. Aku membayangkan betapa enerjiknya pemuda Sjuman pada masa itu. Belum ada internet, belum ada google, belum ada Facebook. Tetapi persentuhannya dengan dunia luar Indonesia sudah sedemikian dekat. Karyanya gemilang.

Suatu ketika aku melihat “Atheis” di acara Jakarta International Film Festival. Film yang tanpa credit title itu masih ada logo TVRI di pojok kanan frame. Walaupun kualitas gambarnya kualitas kopian, namun ceritanya membuat aku berdecak kagum. Sudah sejauh itu orang Indonesia membuat film di tahun 1974? Drama dan pembabakan yang matang, cerita yang dituturkan dengan baik. Walaupun nampak pengaruh realisme sosial Rusia, namun Bung Sjuman dengan sangat apik memperkayanya dengan gaya ke Indonesiaan. Atheis tentunya menjadi film favoritku.

Di dalam film itu, wajah Indonesia tergambar dengan jelas. Benturan demi benturan, anak-anak revolusi lahir “prematur”kemudian mati karena TBC atau penyakit kelamin, atau tertembus peluru nyasar aparat pangkat rendahan. Jika di Hollywood dan Amerika pernah melahirkan film Noir, Atheis adalah film yang lebih dari Noir, film ini sungguh kelam. Sekelam Indonesia pada masa Bung Sjuman baru pulang dari Moscow di tahun 1965.

Senja ini saya berjalan menyelusuri jalanan Jakarta bersama bayang-bayang Bung Sjuman. Saya mendengarkan banyak cerita dari alumni Moscow ini. Ketika melewati gedung bioskop di bilangan Senen, Bung Sjuman nampak murung. Tidak banyak bicara. Gedung bioskop itu menyimpan banyak cerita. Duka lara dan suka duka. Ya, bioskop Mulia Agung dan Grand Teatre? Seperti raksasa tua yang kelelahan, usur dan berdebu. Menunggu nasib yang tak pasti.

Sejarahnya lebih dramatik ketimbang film-film drama yang diputar di dalamnya. Aku terus melangkah bersama bayang bayang Bung Sjuman. Kali ini tidak banyak pembicaraan. Melewati gedung bioskop Rivoli, tidak banyak obrolan. Konon dulu Chairil pun suka nongkrong di sini. Senen, tidak ada beda antara film, perdebatan seni, pedagang kaki lima, kesibukan kota dan sipilis yang membonceng seperti NICA.

Senja ini lampu-lampu merkuri mulai berpendar. Matahari sudah tenggelam di balik gedung-gedung perkantoran. Secangkir kopi dan sigaret melepas obrolan imajiner dengan Bung Sjuman. Aku sudah sampai di sini, di depan sebuah warnet, nanti malam aku akan menulis surat buat Bung Sjuman. Apa kabar Bung, apa pendapat Bung tentang perfilman Indonesia saat ini?

Bung Sjuman, setelah perpisahan secangkir kopi dan sigaret senja tadi, lewat tengah malam ini aku memenuhi janji, menulis surat kepadamu.

Suatu ketika aku mencarimu, bertemu cerita perihal rumah yang memberikan banyak inspirasi kepadamu. Di sana ada kursi dan meja tempatmu melahirkan karya-karya besar.Dan kau selalu memandangi pilar-pilar rumah yang kokoh dengan kolam penuh ide dan gagasan.

Bung Sjuman, alangkah indahnya hidup mengenyam jaman revolusi. Penuh dengan gelora semangat. Sungguh terasa indah, di usia muda menemukan film sebagai ruang berbagi pengalaman hidup. Hingga ke Moscow kau tempuh perjalanan mencari film. Selain dirimu, akupun menemukan cerita,perihal Fes Tarigan muda, Mochtar Soemodimedjo muda, Ami Priyono muda menempuh ribuan mil menuju ruang-ruang eksperimen Esenstein, Pudovkin, Kuleshov. Kawan-kawan muda di era 60an itu disambut sejarah.Betemulah mereka pada sejarah Bolsevik.

Bung aku ingin mendengarkan ceritamu, perihal pergulatanmu menjalani kehidupan sebagai pelajar muda di Moscow. menggelti teori teori dialektika, mendengarkan kuliah kuliah materialisme dan logika, Perihal pertemuanmu dengan Internationale dan nyanyian-nyanyian Lapangan Merah.Aku ingin mendengar ceritamu perihal poster-poster raksasa revolusi yang menghiasi dinding-dinding kota. Dan aku ingin mendengar kamu berkisah perihal pertama kali membuat film.

Anak-anak muda Revolusi, pemuda-pemuda yang berjalan maju dalam derap langkah revolusi itu pulang ke Tanah Air. Disambut peristiwa duka nestapa.Ah, jika peristiwa itu tidak terjadi, perfilman Indonesia barangkali tidak akan seperti sekarang ini. Dalam hal ini Bung, akupun ingin mendengarkan ceritamu pada tahun-tahun sulit 1965.

Bung Sjuman, malam ini aku ditemani secangkir kopi Timor yang hangat. Alangkah senangnya jika aku bisa berdiskusi denganmu membicarakan Battleship Potemkin. Kita membicarakan teori montase dan membangun perdebatan intelektual montase.Seperti Pudovkin dan Esenstein. Ah…pasti ruang diskusi kita akan penuh dengan kepulan asap sigaret, puitis sekali…dramatic.

Ruang sinema selalu membawaku pada pengembaraan imajinasi yang tak berbatas. Ruang sinema adalah ruang gelap yang diliputi imaji-imaji bergerak, imaji-imaji yang membawaku berlari dan membawaku pergi pada pengalaman estetika tak berkesudahan.

Mira Sato pernah menulis begini: “Bioskop tetap menjadi kuil gelap yang diziarahi dengan penuh kepercayaan, dan makin kukuh dengan segenap spektakel audio-visual serba spektakuler, yang tak akan pernah tercapai layar gelas seajaib apa pun. Jadi, medianya memang selamat, begitu juga film Amerika. Kenapa film Indonesia tidak? Aku hendak membicarakan film, kuil gelap dan imaji-imaji bergerak itu bersamamu, Bung.

Apakah film itu hanya gambar bergerak yang berisi orang ngobrol? Apakah hanya master shot, medium shot, close up, apakah film itu hanya sekedar perkelahian dan sambungan-sambungan potongan film yang direkonstruksi begitu saja? Apakah sesederhana itu?

Aku menemukan pengalaman yang luar biasa sebagai penonton.Akupun menemukan pengalaman yang luar biasa ketika memegang kamera dan merekam banyak peristiwa. Bioskop adalah dunia kecil, ruang sinema yang mengajarkan kepada saya kenyataan-kenyataan baru. Bung, Sjuman aku ingin membaca pengalamanmu, memasuki perpustakaan-perpustakaanm

u dan mendengarkan lagu-lagu yang kau dengarkan. Aku ingin tahu bagaimana karya-karya heat itu lahir dari Bung Sjuman.

Bung Sjuman, jika Montage adalah proses penyatuan, apakah perfilman Indonesia berikut manusia-manusia yang terlibat di dalamnya merupakan satu kesatuan montage? Apakah teori montage dapat dipraktekan untuk membangun kesatuan menjadi bentuk yang bermakna? Perfilman Indonesia? Manusia film Indonesia? Adakah dialektika perfilman Indonesia yang menciptakan dinamika perfilman Indonesia?

Hingga dinihari ini, Bung tak juga datang. Secangkir kopi sudah tandas sejak tadi, berbatang batang sigaret menjadi debu, menumpuk di asbak dan di paru-paruku. Aku terus menunggumu, pengen membuat film bersamamu. Aku ingin memutarnya terus menerus di dalam ruang sinema kepalaku.

Malam ini masih bersama secangkir kopi hitam dan asap sigaret, aku mencoba menulis surat kepada Bung Gufran Dwipayana. Bung Gufran, apa kabar? Malam ini entah mengapa di antara sekian orang-orang film yang ingin kukirim surat, hanya anda yang paling dekat hadir pada ruang imajiner saya. Saya ingin bercerita kepada Bung Gufran dan barangkali sedikit berkeluh kesah.

 

Suatu hari, saya bertemu seorang pencerita. Dia menceriterakan kepada saya perihal sosok anda. Saat itu menjadi sangat berharga bagi saya yang masih muda ini, mendapati cerita besar tentang orang yang memiliki sejarah besar seperti anda. Terangkum seluruh kekaguman saya ada anda.   Segala upaya anda di dunia perfilman Indonesia adalah visi jauh melampui jaman yang tidak tentu generasi saya saat ini dapat mewujudkannya kembali. Sebelumnya saya ingin mengurai ingatan, manakala saya masih usia anak-anak.

 

Saat itu televisi hanya satu kanal nasional. Televisi Republik Indonesia (TVRI). Hari Minggu selalu saya tunggu, karena di hari minggu, saya bisa nonton film televisi bersama kawan-kawan sekampung. Film di televisi, cerita Boneka si Unyil selalu membuat saya tidak mau beranjak dari rumah dan televisi. Bahkan, si Unyil lebih kuat dari acara sekolah minggu di Gereja. Saya selalu senang menonton si Unyil. Sayapun seringkali tidak pergi ke Gereja karena pengen nonton Unyil. Di kemudian hari, saya mendengar cerita, konon tokoh pak Lurah yang bijak dan salah satu tokoh favorit kami itu merupakan personifikasi dari Bung Gufran sendiri?

 

Bung Gufran, nama anda selalu hadir di setiap seri tayangan Si Unyil. Biasanya hadir setelah lambang PFN dengan scoring musicnya yang khas. Masa-masa itu, saya selalu bangga nongkrong di depan televisi, saya akan merasa tertinggal dalam pergaulan jika tertinggal satu seri saja dari cerita si Unyil itu. PFN menanamkan gelora cinta film Indonesia dalam diri saya. Dan tibalah masa-masa perubahan dalam kesadaran ini. Ketika film G 30 S/PKI ditayangkan di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia. Tak terkecuali di Semarang, kota kelahiran saya.

 

Saat itu, saya masih ingat, anak-anak sekolah seperti kami dimobilisasi. Ditarik iuran dan mendapatkan tiket bioskop di suatu masa di akhir bulan September.   Saya masih ingat saat itu tidak mau turut bersama kawan-kawan ke gedung bioskop.Saya hanya memandangi kawan-kawan saya dengan seragam merah putih sekolah dasar berbaris berjalan lewat depan rumah saya, menuju gedung bioskop. Sejak setelah peristiwa mobilisasi saat itu, obrolan kami di sekolah pada jam-jam istirahat bukan lagi cerita Unyil saja, melainkan cerita tembak-tembakan.

 

Saya hampir tidak pernah bisa mengikuti obrolan kawan-kawan karena pada saat itu saya tidak turut serta nonton massal di bioskop. Cerita Unyil ditinggalkan. Kawan-kawan bercerita betapa ngerinya film G 30 S/PKI itu.   Diantara kawan-kawan saya selalu saja ada yang memperagakan adegan yang ada di film itu. Biasanya mereka teriak-teriak ” Darah itu meraaaaaaaaah, Jenderal “, atau sekedar memperagakan adegan tembak-tembakan Cakrabirawa dan Tentara pak Harto. Ya, entah mengapa kawan-kawan itu menyebut tentara Pak Harto.

 

Ketika TVRI menayangkan film itu setiap akhir September, saya kemudian mengerti dan memperoleh kepercayaan diri untuk terlibat dalam obrolan-obrolan bersama kawan-kawan berkaitan dengan cerita film itu.   Perubahan terjadi pada diri saya. Si Unyil dan film G 30 S/PKI itu menumbuhkan pohon -pohon pertanyaan di kepala saya yang masih anak-anak usia sekolah dasar.Mengapa judul film harus ada garis miring dan PKI? Mengapa film itu diputar setiap malam akhir bulan September? Bung Gufran, tahun 1998, setelah jatuhnya kekuasaan Soeharto dan ambruknya tatanan politik Orde Baru, saya memasuki jenjang perkuliaan di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta.

 

Saya bertemu lagi dengan film G 30 S/PKI di sudut perpustakaan. Saya menontonnya berkali-kali, saya mengamatinya berkali-kali. Film yang hebat! Tahun 2007, saya datang ke PFN di bilangan Dewi Sartika Jakarta Timur. Yang saya temukan adalah sebuah kompleks, terdiri dari gedung dan gudang. Disana-sini ada bagian yang ambruk.Saya sempatkan melongok laboratorium film yang konon merupakan yang terbesar di Asia Tenggara pada jaman Bung memimpin PFN. Sebagian mesin lab dijual ke besi loak hanya seharga sekian puluh juta.

 

Saya terkesiap, seperti mendapati suasana ending film G 30 S/PKI. Mendapati lobang buaya yang ditinggalkan penghuninya. Hadir di PFN saat itu bagaikan hadir di “Lobang Buaya” sepi dan angker. Di sebuah ruangan, saya mendapati film-film seluloit terbengkelai hancur tak terawat. Bercampur dengan semak belukar. Saya mengalami de javu peristiwa 65, pada saat RPKAD menemukan sebatang pohon pisang yang di bawahnya tertanam tubuh perwira-perwira Angkatan Darat.

 

Film-film itu saya pungut, sebagian yang masih dapat dilihat saya pisahkan.   Saya rentangkan satu demi satu seluloit itu, saya melihat frame demi frame gambarnya lumer. Nampak AH. Nasution lumer, DN. Aidit lumer, Soeharto lumer, Kol. Oentoeng lumer, Yani lumer, Suprapto lumer, Sarwo Edie lumer, Tendean lumer, cakrabirawa lumer,Soekarno lumer… Bung Gufran, gedung dan gudang PFN yang usur itu kini betul-betul serupa Lobang Buaya, terkubur di dalamnya cerita-cerita besar sejarah produksi film Nasional. Di mana lagi saya harus mencari si Unyil? Di mana lagi saya hendak mencari Cakrabirawa? Aidit? AH. Nasution? Soeharto? di manakah data-data film Indonesia yang kucintai ini?

 

Semua lumer oleh waktu dan ketidaksanggupan mengelola aset negara, semua karya gemilang itu berhadapan dengan kepentingan pembangunan mall dan fasilitas komersial. Aku mendengar cerita dari seorang Satpam PFN, gedung itu akan dijual dan akan didirikan mall. Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini? BUMN? Departemen Budaya dan Pariwisata? atau Departemen Kominfo? Ruwet betul urusannya.Bung Gufron Dwipayana, ini cerita dari masa kanak-kanak hingga sekarang ini aku menulis surat kepadamu.

 

Ini hanyalah cerita pencarian si Unyil, dari seorang anak kampung yang terinspirasi pak Lurah. Ketika saya bertemu Mas Goen di Utan Kayu, saya sempat bertanya, perihal anda. Tidak banyak cerita. Mas Goen hanya bercerita saat membawa Bung Arifin bertemu anda di saat Bun Gufran mencari sutradara unuk Film G 30 S/PKI. Setelah itu tidak banyak lagi cerita tentang anda. Ah dunia serasa menelan sejarah Bung Gufran. Malam ini, di warnet pojok kota, saya masih mencari Bung Gufran, sedang pengen ngobrol saja. Saya mencari-cari anda ke sana kemari, tidak banyak ketemu cerita. Pada akhirnya saya menyadari, di batas ruang sepi ini, saya mendapati Lobang Boeaya di dalam kepala saya. Sepi dan kelam sejarah itu…

Kamar itu remang-remang, malam itu aku, AG, dan Kau ngobrol tentang cita-cita ke depan setelah lulus SMA. Masing-masing punya keinginan untuk pergi belajar ke luar negeri. Soeharto memang masih sangat kuat berkuasa. Siapa tahu kalau belajar di luar negeri seperti Australia, kita bisa melakukan perjuangan-perjuangan Klandestin melawan Orde Baru semisal bergabung dengan kelompok new left .

Hari-hari kita dipenuhi diskusi, dari Marhenisme hingga Marxisme. Dari Timor Leste, Atjeh dan Irian Jaya hingga Castro, Che, Alende, Mao, Sun Yatsen. Kita memamah itu cerita-cerita klasik Jogjakarta tentang sastrawan jalanan macam Umbu Landu Paranggi hingga Willy Surendra. Kita ngrasani Cak Nun di pojok-pojok remang warung penjual Lapen. Aku sendiri kadang mentertawakan Profesor Damarjati Supajar dalam siaran radio paginya. Kita maki-maki manivesto humanisme universal, walaupun seringkali terinsprasi LEKRA. Aku dan kau tak mau kalah sama Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka. Buku-bukumu beberapa aku pinjam dan tidak aku kembalikan. Kau ini lebih tepatnya bukan anak sekolah SMA, aku bilang kau ini agitator propagandis yang ulung. Menyusup bagai kuman, membelah diri bagai amuba, panas bagai api, maka kau sebut Dobrak, pantaslah. Unik betul kau ini, kau kenalkan aku pada kawan FNL, yang di kemudian waktu memproklamasikan dirinya Gay. Kawan kita itu kemudian dekat dengan kelompok gerakan pembebasan kaum Gay. Ada DN yang kemudian aku dengar kabarnya, dia menikah dengan seorang Polisi pangkat rendahan. AG, DN, FNL dan Kau hahahahahahah datang seperti hantu dalam pertemuan awal awal itu.

Sendowo dan kolam ikan depan teras kamar-kamar petak itu bagaikan rumah HOS Cokroaminoto. Madilog, buku-buku Pram yang kau beli di pasar gelap, mesin ketik, rencana-rencana aksi, antologi puisi dan kamar gelap…semua pernah lahir dari tempat itu. Aku lupa kapan kita terakhir ketemu. Barangkali pertemuan kita terakhir adalah selepas kau bikin aksi seribu Lilin di Bulaksumur itu. Beritanya di posting di ruang cyber apa kabar. Atau mungkin pertemuan kita terakhir adalah di Bentara Budaya Jogja, ketika aku dan kawan-kawan sanggar lukis Minggu Kliwon menyelenggarakan pameran lukisan. Kapan itu kita bikin antologi puisi BECAK, kepanjangan dari Bedah dan Cakar, tahun berapa itu? Sekitar 1995 hingga 1997? Ah itu tidak penting. Aku lupa kapan terakhir kita bertemu.

Tahun-tahun itu aku merasa mendapatkan teman seperjalanan. Selepas aku dibuang dari sekolah Seni Rupa karena melawan Orde Baru itu, aku kesepian di jalanan. Pertemuanku denganmu adalah pertemuan sejarah. Namun kemudian semuanya berubah. Kita tak pernah lagi bertemu. Sejak Peristiwa 27 Juli, aku lebih banyak di Jakarta. Melawan dari dekat kekuasaan Orde Baru Soeharto. Akupun mengambil kerja, sebab tidak mungkin hidup dalam pergolakan dan perlawanan tanpa makan. Aku kerja cari uang, kerja apa saja. Kadangkala aku jadi tukang Ojek, kadang berjualan batu akik, tukang parkir di Hotel Jati Tanah Abang, kadang aku bikin kartu ucapan Natal atau lebaran, melukis dan membuat komik. Aku juga mulai mendapat kerja di Sinetron sebagai crew penata artistik.

Kawan, aku dengar kau pergi ke Australia dan melanjutkan kuliah di sana. AG masih di Jogja,setelah nikah, DN entah di mana, FNL mati karena tidak kuat melawan rejim HIV yang menggerogotinya sekian lama. Aku kemudian menikmati kota petromaks raksasa ini hingga saat aku menulis ini. 1998 adalah perubahan besar. Soeharto tumbang, Orde Baru runtuh. Timor Leste Merdeka terlepas dari NKRI. Akupun memasuki babak baru. Masuk kuliah di Institut kesenian di Jakarta. Menggeluti kuliah film. Aku masih melukis, masih menulis, masih terus bergerak.

Jogjakarta sudah banyak berubah. Kapan itu aku datang ke Jogja.Tetapi pada saat kita bertemu, tidak banyak yang kita obrolkan. Kita hanya bertemu dalam denting botol bir dan cafe pinggiran. Setelah itu tidak banyak percakapan lagi. Mungkin akan sangat lain jika kita bertemu saat Soeharto masih berkuasa.

Hingga tiba waktunya Jakarta memanggilmu. Kau bawa lumut-lumut Jogjakarta ke kota ini. Suatu ketika kita bertemu di sebuah cafe di bilangan Jakarta Pusat. Obrolan kita ketemu di ruang-ruang cerita film, tatto dan perjalanan-perjalanan. Kau tidak berubah, masih seperti orang Batak pada umumnya. Kau pernah menyesal menjadi penyair yang gagal. Tetapi aku tidak melihat kau banyak berubah. Kau tetap agitator dan propagandis. Ditambah lagi kau menyebut dirimu sekarang sebagai Hedonis radikal. Busyet!!! mahluk apa lagi yang kau sebutkan itu? Seperti dulu, kau pandai betul melahirkan kata-kata. Setiap kali bertemu, selalu lahir kata baru, makna baru.

Dunia terus berubah, Kawan. Dunia bisa saja tiba-tiba merubah manusia menjadi apa saja.Tukul belum juga kelihatan batang hidungnya. Aku sering bertanya, apakah Tukul juga berubah? Wani sudah besar, kini dia terus membaca kehidupan. Setiap sore dia menatap carawala timur menanti bayang-bayang Bapaknya. Pemilihan Umum sudah beberapa kali terselenggara, beberapa orang yang dulu kita kenal kini sudah menduduki kursi-kursi parlemen, sebagian jadi menteri dan duduk di lingkaran presiden, sebagian yang lain sibuk jualan koran sambil sesekali melawat ke luar negeri.

Kawan, aku selalu tertawa setiap kali ketemu kau muncul di Facebook. Sebab kau tidak pernah berubah. Selalu lucu dengan umpatan dan caci maki dengan agitasi dan propagandamu sebagai hedonis radikal. Aku kirimkan sebotol bir dingin untukmu malam ini. Suatu saat nanti, alau kita ketemu, jangan lupa kau ganti bir itu, bawakan kepadaku kata-kata baru, makna baru. Titip salamku kepada Wani anak Tukul.