Menziarahi Malam

31 Mei 2013

talk

Sudah lewat tengah malam…

Yang dapat ia lakukan lewat tengah malam ini hanya memasang headphone dan mendengarkan sebuah lagu berjudul “Glourios Sun”. Entah mengapa ia begitu menyukai lagu ini sehingga hanya lagu ini yang dia dengarkan berkali-kali, terus menerus. Oh iya…lagu ini  adalah sebuah lagu dari proyek film dokumenter musikal yang dikenal dengan nama “Proyek Laya”. Cukup mudah menemukannya di Youtube atau klik aja layaproject.com.

Lelaki ini ingin menulis, ia telah lama tidak menulis, padahal menulis adalah tradisi yang ia geluti semenjak remaja. Seperti anggota sekte agama tertentu yang murtad, begitulah yang ia rasakan ketika ia menyadari telah berhenti lama, nggak nulis.:)

Ah…Laya! Ah…lagu ini ternyata memberikan kesan estetik tersendiri baginya. Kesan estetik? Yang bagaimana itu? Malas jawabnya. Ia sedang dilanda kemalasan untuk menjelaskan apa yang ia rasakan sebagai kesan estetik itu. Nampaknya malam ini ia hanya ingin mengalir,  mengikuti irama dan menikmati lagu itu  begitu saja. Tidak perlu banyak mencari apa kesan itu dan apa dampak lagu itu. Nggak penting katanya.

Insomnia…

Setiap malam lelaki ini selalu didatangi sahabatnya yang senang menemaninya. Ia tidak ingat kapan pertama kali mengenal sahabatnya itu. Pada suatu malam yang terasa panjang, belasan tahun lalu, mungkin sejak ia menyukai secangkir kopi, mungkin sejak ia mengenal kesenian, atau bisa jadi sahabat itu datang begitu saja. Sosok aneh yang disebutnya sebagai sahabat ini bernama memperkenalkan diri bernama Insomnia. Ia tak punya KTP, tidak ada tempat tinggal. Ia tak memiliki agama.

Insomnia inilah yang pertama kalinya menunjukkan sebuah tempat. Tempat inilah pada suatu peristiwa yang tragis, Sang Malam terbunuh. Dulu banyak orang berbondong bondong menziarahi makam Sang Malam. Masing-masing peziarah membawa bunga-bunga kopi yang putih dan harum aromanya.

Namun, sudah lama lelaki ini tidak menziarahi tempat itu. Ia pernah memiliki sebuah ruang tersendiri pada sudut malam. Jika berada  sana ia selalu asyik sendiri. Ada saja yang ia kerjakan. Sesuatu yang nggak penting.  Membaca bintang bintang, mengamati rembulan, mendengarkan gesekan daun-daun bambu, menyimak suara aliran air sungai, atau sekedar mencoba menterjemahkan suara burung-burung yang sesekali muncul terdengar aneh.

Setiap kali menziarahi malam, setiap kali itu pula ia mengumpulkan banyak sekali bahasa asing yang terdengar aneh. Dan… biasanya yang ia lakukan adalah mencoba merekamnya ke dalam lukisan, hitam putih di atas kertas. Sehingga ia temukan makna dari bahasa-bahasa semesta malam yang asing itu.

Terbunuh…

Tetapi malam ini ia kehilangan kertas, ia kehilangan warna, ia kehilangan kuas-kuasnya. Ia terbunuh…

Gantian sekarang, malam yang menziarahinya…

Sunyi yang Bergolak

31 Mei 2013

Rembulan menjaga malam

Insomnia menemani lampu neon

Ombak menyambangi pantai

Perjalanan mata air mencapai muara

Penyair mencatatkan gelisahnya

Lensa menangkap cahaya

Matahari menerangi alam semesta

Perjalanan ini

Udara yang basah

Membaca halaman demi halaman

Syair-syair kesunyian yang bergolak

Kaum buruh pulang kerja

Jalanan masih basah 

Reruntuhan gerimis di atas pabrik

Wajah-wajah siluet

Menyiratkan harapan hidup

Merekam bahasa dari kedua kelopak mata

Gelombang pasang berbagai perasaan

Pada layar yang lebar, layar kehidupan

Pertemuan menumbuhkan harapan

Secangkir kopi 

Buku-buku

Film dan percakapan-percakapan malam

Teras rumah dan tanaman-tanaman 

Siluet pohon Palm

Mendengarkan ceritamu

Kesunyian yang bergolak

 

 

 

 

DOA

29 Mei 2013

Gusti Allah Ingkang Maha Welas Asih…

Saya lelah…

 

 

Bersama Malam

29 Mei 2013

Aku mengarungi malam

Kesendirian itu hadir

Di Bulan Mei

13 Mei 2013

Jika boleh kembali pada 15 tahun lalu, hari ini aku hanya ingin kembali mengenang.

Peluru, tubuh dan darah yang mengucur, simpang siur berita kematian martir, orasi tak berkesudahan sejak hari pagi, toko-toko yang dijarah, jalanan yang terbakar.

Gadis-gadis cantik manis menyisipkan tangkai-tangkai bunga di moncong senjata tentara.

Saat itu aku di usia 20

Jalan Gatot Subroto, Tri Sakti, karangan bunga 

Maka Mei hanya jadi kenangan

Aku tak mau lagi mengenang amok 

Aku ingin mengenang, hari itu sejarah bergulir, harapan dan cita-cita

Jadi carut marut Indonesia hari ini.

Adakah sejarah berpihak? Pada siapakah?

Tuhan?

Mungkin tidak…