Bandar Udara yang Sepi…

Uncategorized

Ini bandara Cengkareng, terminal 1 B, pintu masuk untuk check in pesawat Batavia air. sebenarnya masih beberapa jam lagi. Rombongan crew casting┬áKetika Cinta Bertasbih belum datang. tetapi aku memang ingin datang lebih awal. pengen menghirup udara pagi bandara udara yang sepi…

Perjalanan hari ini ke Pontianak. ini adalah perjalanan pertamaku ke Kalimantan Barat. Aku pernah beberapa kali ke Kalimantan Timur, Balikpapan, Malino dan Paser Utara, tentunya perjalanan kali ini akan membawa pengalaman tersendiri.

Ketika Cinta Bertasbih menyelenggarakan casting di sembilan kota. Aku kebagian merekam momentum di Surabaya, Padang, dan kini Pontianak. Pengalaman yang menyenangkan bisa terlibat dalam sebuah produksi film seperti KCB ini. Belajar dari pengalaman orang-orang yang lebih awal berkecimpung di dunia film seperti Mas Chairul Umam, Om Rudi Kurwet, Mas El Badrun, Imam Tantowi, pak Wiryo, mak Wieka dan lain-lainnya serasa berada dalam ruang kelas yang bebas untuk mengikuti pelajaran yang berharga. Aku diajak Ismail Fahmi Lubis alias Ezther alias Ete. Kakak kelas yang baik memberikan kesempatan kepadaku untuk bekerja dan belajar dalam proses pembuatan Behind the Scene film ini.

Sendirian datang ke bandara, naik taxi tanpa argometer karena si sopir maunya gak pake argo. huh! Jakarta! di dalam taxi yang melaju santai aku ajak ngobrol pak Ujang Bendi si sopir taxi. Obrolan yang ditanggapi keluhan persoalan ekonomi. harga bensin naik, setoran yang sering gak memenuhi target, kemudian ngobrolin jalan tol yang harga tiketnya terus menerus naik. Ini realitas pagi Jakarta. bahkan sebelum matahari terbit di ufuk timur, orang masih saja ngobrolin persolan bensin naik dan uang setoran.

Bandar udara ini masih sepi, satu dua orang turun dari taxi atau kendaraan pribadi, membawa tas dan barang bawaannya. Wajah mereka siluet terkena cahaya lampu tungtsen. Di satu sudut beberapa pekerja bangunan sibuk dengan pekerjaannya merenovasi lantai marmer dengan mesin pemotong yang berisik, nampak sekian orang tertidur di bangu-bangku panjang teras terminal 1B.

Ahhh…alangkah merdeka mereka tertidur dibuai mimpi metropolitan Jakarta. Sedangkan aku sendirian terserang insomnia.

kawan-kawan rombongan crew casting belum nampak juga. sudah pukul empat pagi kurang sepuluh menit. bandar udara masih sepi. Satu dua orang datang. Wajah mereka siluet. Perjalanan…

Iklan

mahasiswa, bbm dan riot

Uncategorized

Dua bulan ini berita media massa haru biru oleh berita mahasiswa, kenaikan bbm dan berbagai amok. saya jadi ingat tahun 1998. tahun dimana semangat dan idealisme berkobar-kobar lebih dari apapun. Disulut oleh semangat kaum pergerakan sebagai mahasiswa dan sebagai pemuda yang rindu pembebasan.

kini setelah sepuluh tahun berlalu dan persoalan demi persoalan bangsa semakin tumpang tindih, sebuah pertanyaan besar muncul. bukan sebagai protes, bukan sebagai manivesto melainkan sebagai gugatan yaitu: kemana arah reformasi mau dibawa?

Indonesia adalah cita-cita maha besar dari suatu perjalanan sejarah manusia yang berhimpun dalam satu bangsa. membentuk dan mendirikan negara, mempergunjingkan perbedaan dan sekaligus menerimanya sebagai keragaman. dan kini semua cita-cita besar itu semakin mendapatkan ujian yang tidak kalah besar. ujian untuk terus melanjutkan perjalanan atau berhenti untuk kemudian merekonstruksi kembali tujuan dan segala cita-cita itu.

menciptakan keadilan sosial, kesejahteraan sosial barangkali untuk saat ini adalah utopia belaka. menciptakan masyarakat yang berdasarkan Pancasila dan undang-undang dasar 1945 tentunya adalah kesepakatan yang harus dipahami sebagai tirakat besar. tirakat dari seluruh elemen negara, tidak hanya pemerintah melainkan juga seluruh rakyat dari sabang sampai merauke, dari kota laut hingga timor.

namun penciptaan itu bukan kemudian menjadikan Indonesia sebuah ladang besar tempat eksperimen kebijakan negara diberlakukan secara membabi buta tanpa mengetahui kebutuhan dua ratus juta lebih massa rakyat. harga bbm naik, harga kebutuhan pokok naik, analisa ekonomi dan politik menghiasi media massa, sulit menemukan bentuk kongkrit (nyata) dari perilaku kekuasaan yang setia pada janji dan sulit mendapati kebijakan negara yang kemudian berpihak pada rakyat.

mahasiswa tentunya adalah kekuatan massa aksi yang kritis. kekuatan massa aksi yang mampu menjebol benteng tirani sekuat apapun. kekuatan mahasiswa adalah kekuatan garda depan rakyat, mahasiswa lahir dari rahim rakyat. mahasiswa adalah representasi dari kekuatan rakyat, mahasiswa adalah suara rakyat itu sendiri. jika kemudian beberapa hari yang lalu mahasiswa melakukan pemberontakan di jalanan, melakukan pembalasan terhadap sarana pemerintah, merobohkan pagar gedung DPR/MPR, mengulingkan dan membakar mobil avansa pat merah, menghancurkan mobil karavan polisi lalulintas dan mensabotase jalur transportai utama jakarta, itu bukan suatu tindakan yang biadab, melainkan sebagai saluran aspirasi yang buntu yang coba disalurkan. anak-anak muda itu ingin bicara, memberikan peringatan kepada penguasa bahwasanya jalan kekuasaan ini sudah korup dan penuh dengan lendir-lendir dosa sejarah yang mencatat perilaku busuk para pejabat dan perilaku busuk para birokrat.

pemerintah dan penguasa negara tidak mampu melindungi rakyatnya dari dampak krisis global, mereka gagal memberikan ketentraman kepada rakyat karena berbagai kasus korupsi dan konspirasi politik yang memuakkan, pemerintah gagal mengemban amanat undang-undang dasar dan undang-undang negara sehingga rakyat kini berada di ujung tanduk penderitaan yang kekal. dalam hal ini mahasiswa turun ke jalan dan mengkritisi, mengingatkan bahwa jalan kekuasaan para penguasa negara republik Indonesia ini sudah menyeleweng. pemerintah tentunya keblinger.

Indonesia tidak boleh dijual dekepada pasar bebas , kepada kesepakatan dunia WTO. Indonesia mesti menjadi negara berdaulat, dengan demikian kedaulatan ini hanya dapat dicapai jika pemeintah dan penentu kebijakan berlaku revolusioner. tidak canggung untuk membela rakyat.

mahasiswa, kenaikan harga bbm dan amok adalah wajah Indonesia hari ini. wajah yang penuh dengan pergulatan. quo vadis?

permata dan indra

Uncategorized

Tempo hari saya pulang ke jogja, menempuh perjalanan dengan mengendarai mobil pribadi: corona dl 1981 2000 cc. perjalanan 12 jam menuju jogjakarta. berangkat lewat jalur utara melalui semarang dan pulangnya melalui jalur selatan. ke jogja untuk datang ke bioskop lokal. bioskop itu adalah indra theater dan permata theater. tentunya menjadi pengalaman yang luar biasa. bisa datang ke ruang sinema, bebas duduk, bebas merokok dan menonton film semi blue buatan cina atau hongkong? dan serasa menyau dengan filmnya. nonton bersama puluhan orang yang setia menunggu sampai adegan terakhir dalam film. sesekali di dalam keremangan ruang sinema itu asap sigaret menyala, sesekali korek api terlihat berkilat, di dalam bias projector chingkang 4 produk cina yang dikanibalin itu, asap sigaret slow motion melahirkan pemandangan yang romantik.

bioskop permata, dulunya bernama Luxor berdiri tahun 1952. saya bertemu dua orang projectionis bernama pak sugeng dan pak haryono. mereka sudah 30 tahun menjadi projectionis, pencatut tiket masuk atau ikut sebagai tukang parkir. ngobrol dengan mereka serasa kembali pada kurun waktu yang sudah lewat, dimana kejayaan bioskop lokal berikut film-film indonesia di dalamnya. pak haryono dan pak sugeng bercerita banyak tentang bioskop itu. kami diajak ke rang projection, pemandangan yang luar biasa. kusam dan usang oleh waktu. kabel dan sarang laba-laba, alat potong seluloid steenback dan potongan frame, fotokopian pakualam terlihat di antara potongan-potongan film. kabel di sana sini, jumper-jumperan nggak karuan, yang tahu bagaimana menghidupkan proector buatan cina itu ya pak sueng dan pak haryono saja. hidup itu so must go on…begitulah barangkali kedua kawakan projectionis itu menikmati hidup. bioskop Permata, jika di lihat dari hotel wilis di seberangnya, nampak tua dan rapuh, hanya mural yang menghias dirinya nampak muda.

Bioskop indra terletak di seberang pasar beringharjo. bioskop dengan ruang screening yang besar. nampak sisa-sisa kebesarannya. seorang projectionis kami temui, sebelum tugas mas projections itu melakukan sholat dulu. ruangan di bioskop idra ini lebih semrawut. kabel malang melintang jumper sana jumper sini. dan senja itu film yang main masih sama dengan yang kami tonton kemarin bloodiy beast. dan mas projectionis memberitahu tentang reel seluloid yang berwarna hitam, artinya di situlah letak adegan syur itu. oooohhhh begitu? yayyayayya? aku baru tahu sekarang ternyata itu trik yang cukup baik buat jualan. yang aneh dari semua kejadian di kedua bioskop itu adalah setiap film hendak selesai, selalu saja ada orang datang, membawa film dalam bungkus terpal. ternyata setiap film selesai di bioskop permata, seorang “jhony” mengantarkan film itu ke indra begitu pula sebaliknya. traffic film berlaku dengan sepeda motor ataupun sepeda ontel. luar biasa.

saya melihat orang-orang nonton bioskop, saya melihat budaya sinema. orang datang, parkir motor atau sepeda, membeli tiket, menunggu dan masuk satu-satu. duduk dengan imajinasi masing-masing, lalu film diputar. tiket 5000 rupiah membawa mereka plesiran ke berbagai scene, ke dalam ruang-ruang action dan persetubuhan…film sepertinya tidak tuntas, saya menghitung ada sekian kane hilang. mereka menonton film yang tidak lengkap…