JAKARTA SUBUH

Uncategorized

Dini hari.

Nois kota besar.

Aku tenggelam dalam karya.

Impian dan harapan akan masa depan kesenian.

Sesekali Sanyo berdering.

Menghentikan dering jangkerik yang bersenandung di kegelapan pojokan gudang.

Aku dengar orang mengaji, suaranya mendayu dihantarkan angin.

Kusyuk dan dalam, jernih sampai ke batin,

aku belum bisa mengenali surah apa yang dibacakan malam di kejauhan itu,

aku tak tahu bagaimana menterjemahkan bahasanya,

hanya kurasakan teduh

Semacam ada di tempat yang tak terkenal,

yang sunyi tapi aman.

Aku tenggelam dalam karya

Impian dan harapan akan masa depan kesenian.

Pada suasana Jakarta subuh,

Sebagian tertidur,

Sebagian yang lain menunggu kumandang tugas sembahyang.

DIA,

tak pernah tertidurkah?

tak pernah terbangunkah?

Terjaga sepanjang masa,

DIA

Jakarta sudah memasuki subuh,

Aku segan menerjemahkannya.

Kemang Timur Raya, 10 Maret 2018.
Iklan

Rue Spontini

Uncategorized

Jakarta hujan…

Seperti gerimis yang jatuh pada teras teras bangunan di sepanjang Rue Spontini.

Di kaca yang menyublim aku melihat tanaman kering, berdialog dengan nasibnya sendiri. Klue di dalam penjaranya, menyambut musim dingin yang segera tiba.

Jakarta hujan…

Seperti gerimis yang jatuh membasahi dinding dinding bangunan di sepanjang Rue Spontini

Langkah kecil kakiku menapaki jalanan Paris, tersesat tak tahu di mana?

Di bulan November yang terasa beku…

Aku merindukannya…

Sungai Sein dan dingin baja Eifel,

Etalase galeri dan gula-gula, warung kopi

Kesibukan Metro dan lorong-lorong stasiun, Republik dan restoran China,

Kopi di wadah styrofoam, dan warung bir di seberang George Pompidou.

Aku merindukan alunan ukulele dari asrama mahasiswa Indonesia

Yang menyelipkan kisah cintanya di antara deretan catatan tesis dan merindu tanah airnya… wajahnya ikut menyublim pada bayang-bayang kaca jendela yang tipis mengembun.