NEGARA SYARIAT AGAMA?

Uncategorized

Jika anda datang ke Indonesia, maka tidak perlu pusing mencari rumah ibadah. Ada enam agama di Indonesia yang diakui pemerintah dan dijamin keberadaannya di dalam Undang-undang. Antara lain; Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu. Semuanya memiliki tempat ibadah di setiap kota. 

Namun jangan heran pula jika anda sering mendengar orang berdebat tentang agama. Di Indonesia, dengan jumlah populasi penduduk Islam terbesar di Indonesia, beberapa kelompok mengusung wacana negara syariat, sementara di pulau lain terdapat pula kelompok Kristen dan agama lainnya mengusung wacana syariat menurut agama yang dominan di daerahnya.

Ini sungguh aneh memang. Mereka dijamin keberadaannya oleh suatu asas Pancasila, tetapi banyak yang menentang asas Pancasila. Ada yang menganggap Pancasila adalah berhala, burung garuda yang disembah. Sementara, saya yakin betul, jika orang-orang yang mengusung syariat agama itu kemudian mampu menggantikan Pancasila tentu bangsa-bangsa di seluruh kepulauan Nusantara ini akan terpecah belah dan sibuk mempertahankan keyakinan masing-masing.

Semestinya setiap orang yang mengusung gagasan negara syariat agama itu belajar dari kegagalan demi kegagalan umat yang menyelenggarakan negara syariat agama dan pada akhirnya berakhir dengan tragis. Jikapun berlaku suatu negara dengan asas agama, banyak sekali tradisi leluhur yang kemudian diterjemahkan sebagai bid’ah dan kekafiran ketimbang dijadikan pelajaran berharga sebagai jejak pengetahuan dari masa lalu. Lantas dimusnahkan.

Tulisan ini memberikan gambaran betapa masyarakat Indonesia saat ini mengalami suatu benturan yang dahsyat. Tidak ada ruang baru yang mampu menjembatani keresahan sosial karena persoalan-persoalan politis yang beku. Agama dan rumah ibadah menjadi ajang dari pelarian umat, karena negara gagal mengemban amanah mensejahterakan dan meraih keadilan sosial.

Mobilisasi umat beragama semakin terasa sejak jatuhnya kekuasaan Soeharto dan Orde Baru. Berbagai aliran kemudian tiba-tiba muncul. Bukan merayakan demokrasi melainkan menentang demokrasi, tidak merayakan keragaman tetapi membangun sistem internal yang mono.

Suatu hari saya pernah menyampaikan pertanyaan kepada seorang kawan yang kebetulan ia sedang berjuang untuk syariat Islam. Demikian dialog saya

“Pernah nggak merasa susah beribadah?” Tanya saya

“Tidak…” Jawabnya

“Gampang nggak sih nemuin rumah ibadah?” Saya bertanya lagi

“Mudah, di mana mana ada rumah ibadah” Jawabnya

“Pernah merasa resah atau takut beribadah?” Tanya saya

“Tidak” Jawabnya

Lantas saya menyampaikan kepadanya begini:

“Mengapa anda tidak bersyukur atas semua berkah hari ini? Telah berdiri banyak rumah ibadah, hingga di gang-gang, di mall-mall, di instansi swasta dan pemerintahan bahkan di bandara, terminal, stasiun dan pasar. Tetapi kondisi bangsa ini tidak pernah lepas dari mata rantai kemiskinan. Mengapa anda masih memaksakan untuk memperjuangkan negara dengan asas syariat agama? Tidakkah berkah hari ini dengan adanya banyak rumah ibadah itu memberikan pekerjaan kepada anda untuk memperbaiki nasib bangsa? Memobilisasi umat untuk sama sama berjuang bagi kesejahteraan dan keadilan? Bukan malah diajak terlibat dalam eksperimentasi politik syariat agama yang sering anda gembar-gemborkan melalui TOA yang mono itu!”

Kawan saya termenung, lantas kami hanya saling diam. Saya tidak dapat membaca perasaan atau apa yang tengah ia pikirkan saat itu. Namun yang terpenting bagi saya adalah sudah menyampaikan ajakan kepadanya untuk  mensyukuri berkah hari ini. Entah dia memahami atau tidak. Itu sudah bukan hal penting lagi.

Saya menutup perbincangan dengan menyampaikan pertanyaan. “Tahu Kota Depok? Di sana sejak dua kepemimpinan partai yang mengusung ideologi agama tertentu, sudah pernahkan anda menghitung? Berapa jalur hijau habis untuk perumahan? Berapa ribu batang pohon ditebang? Berapa mall didirikan dan menghadapkan umat pada liberalisme ekonomi, menghancurkan pasar tradisional dan menghadapkan ekonomi umat yang terus dimiskinkan dengan kapitalisme berjubah agama?” 

Kawan saya masih merenung. Dia berkata lirih

“Iya, ya…masuk ke kota Depok sekarang tidak ada pohon di sepanjang jalan, semua tembok kayak di Arab!”

“Ya Arab yang tidak sejahtera adalah negeri yang dilanda perang terus menerus” demikian saya kemudian pamit pulang…

Iklan

2 pemikiran pada “NEGARA SYARIAT AGAMA?

  1. keren rud, betul banget tentang politisasi agama, pantesan foke kalah, tahun lalu buka puasa ama FPI. emang rakyat engga lupa ama imej itu apa? sementara apa yg terjadi di syria kok pada adem ayem semua ya? padahal udah ribuan korban termasuk anak-anak kecil yg di bantai, mana solidaritasnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s