lima kota aku singgah

17 Juli 2008

di lima kota aku singgah

surabaya, padang, pontianak, makassar dan jakarta. mengikuti perhelatan audisi film “ketika cinta bertasbih”. ada cerita demi cerita yang aku kumpulkan. aku bertemu dengan banyak pemuda dan pemudi yang rindu jadi bintang film. ada cerita tentang fauzi dari surabaya. seorang pemuda yang menempuh perjalanan panjang dari surabaya, jogjakarta, semarang hingga jakarta. demi mengikuti audisi, dia rela meninggalkan pekerjaannya untuk mengejar meng di audisi. pekerjaannya sebagai juru masak di sebuah restoran di surabaya. terakhir ketemu fauzi di jakarta. saat itu dia menyapaku dan memperkenalkan dirinya yang mengaku pernah bertemu di audisi surabaya. fauzi pemuda yang sederhana. keinginannya cuma satu, ikut main di film ketika cinta bertasbih.

tetapi impiannya kandas. berbagai kota dia datangi tak tembus juga si fauzi ini. hingga musibah memaksanya untuk bertahan di jakarta beberapa hari. musibah pertama dia kehilangan uang ketika tidur di masjid samping gor ragunan, kedua adalah ketika dia hendak pulang ke surabaya dari stasiun senen. belum sampai di stasiun dompetnya kecopetan. dompetnya dicopet orang jahat di stasiun dukuh atas. kemudian dia kembali ke gor ragunan. dua hari tak makan, mau ngutang malah dimarahi pemilik warung. ” ngutang? gak bisa ngutang! ini jakarta!” begitu fauzi cerita tentang pemilik warung yang menghardiknya.

hari itu aku tergerak meneleponnya, ternyata dia sudah dua hari di masjid samping gor ragunan, belum makan, cerita di atas berdasarkan cerita yang disampaikan fauzi kepadaku. tragis dan begitulah jakarta. lalu ada seorang peserta audisi yang gagal, pemuda asal padang bernama fandi, dia aku telepon untuk menjemput musafir bernama fauzi itu. fandi ini baik sekali, dia rela menjemput fauzi dan dibawanya ke rumah singah di matraman. aku baru bisa menemui mereka tengah malam seusai aku shooting. kami usahakan bantuan supaya fauzi bisa pulang ke surabaya dengan kereta.

ini cerita yang tragis, gegap gempita audisi film ketika cinta bertasbih menyisakan kesedihan seorang anak muda yang gagal. ada pula cerita tentang sadad, iema atau ivda. mereka mengalami nasib yang sama. gagal meraih impian untuk lolos audisi dan berharap besar untuk bisa menjadi azam atau husna.

fauzi adalah satu diantara mereka yang gagal. kegagalan yang seharusnya dari awal sudah diantisipasi. film pada kenyataannya tidak seperti kesederhanaan yang ada dalam imajinasi mereka. sebagai peserta audisi semestinya mereka mengukur kemampuan serta persyaratan yang semestinya berlaku. kalaupun gagal, semestinya menjadi bagian dari pelajaran yang berharga. toh hidup bukan sesuatu yang merugi. masih ada bidang lain tempat berprestasi.

aku singgah di lima kota. mendapati kesedihan dan kegembiraan. ada yang sedih lantaran tidak sukses masuk semi final audisi, ada yang gembira karena sukses masuk ke babak berikutnya. tetapi ada yang membuatku lebih sedih. hampir semua peserta yang masuk dalam tahap ke dua audisi ternyata banyak yang tidak bisa melafalkan ayat suci alquran. ketika mereka ingin menjadi husna, mereka diminta untuk melafalkan satu ayat alquran, atau mempresentasikan sesuatu dengan bahasa arab atau inggris, mereka kebanyakan gagap dalam hal itu. kebanyakan membaca alfatiah saja. apakah ini realitas yang menarik dipelajari? ada apa dengan generasi muda? sejauh mana kesadaran keagamaan mereka di era modernitas yang absurd sekarang ini? aku hanya menggugat satu kenyataan, ketika banyak orang mengmbargembiorkan indonesia sebagai negara muslim terbesar, indonesia sebagai negara dengan jemaah haji terbesar, pada kenyataannya itu tidak aku temui di lima kota yang aku singgahi. seperti di kota yang disebut-sebut sebagai pelaksana kebijakan daerah dengan syariat islam, pada kenyataannya banyak hanyalah claim dan propaganda belaka.

aku singgah di lima kota, tulisan ini adalh kesaksian bahwa dari proses ini aku belajar dan menemukan fakta-fakta baru. indionesia tiak seperti yang orang seringkali pikirkan. banyak kejutan-kejutan dan itu ralitas yang dapat dijadikan pelajaran berharga