April di Pena 98

Uncategorized

APRIL DI PENA 98

When the power of love overcomes the love of power the world will know peace. -Jimi Hendrix-

Malam ini sudah agak larut, jam 11 ketika kepada kawan Adian Napitupulu, kawan Desmon J Mahendra, kawan Olisias Gultom, Raymon, Eli Salomo, Noel, Yayan Boteng, dll aku berpamitan pulang ke rumah. Grup Band yang vokalisnya mengenakan kaos Jimi Hendrix masih seru melantunkan Child in Time, lagu Deep Purple tahun 1970an. Suara lengkingan dan deru musik rock mengembalikan kenangan eksponen 98 itu kepada masa 20 tahun lalu. Tak terasa tubuhku bergoyang, kepalaku manggut-manggut, tapi rambutku sudah tak sepanjang dulu, sekarang rapih, setiap bulan aku rutin ke barbershop langggananku di jalan Benda.

Sebelum bepamitan pulang, aku dan benerapa kawan menyempatkan melihat lihat dinding di lantain dua gedung di bilangan Kemang Utara 22 itu. Kami menyaksikan foto-foto dalam frame, yang merupakan rekaman peristiwa “pemberontakan” kaum muda melawan otoritarianisme Orde Baru di bawah kendali Presiden Soeharto kala itu. Foto-foto itu sebagian besar merupakan karya Firman Forkot (Forum Kota).

Menyaksikan frame demi frame foto-foto itu darahku berdesir, sudah 20 tahun lalu berlalu peristiwa-peristiwa itu, di permukaan foto anak-anak muda mahasiswa membeku sebagai gambar dan kita sudah menua kawan!

Bagiku, foto-foto itu menyegarkan kembali kenangan pada masa muda remaja, ketika darah dapat mendidih seperti ketel uap mesin diesel lokomotif yang mampu menggerakkan sejarah.

“Teman di hari tua adalah persahabatan” demikian kalimat Bung Desmon saat membuka acara reuni sekaligus memperingati ulang tahun LBHN JAKARTA. Ridwan yang sedari dulu berbadan besar itu menyulut lilin. Setelah menyanyikan Indonesia Raya kue tar dibelah, Bung Desmon memberikan kue itu pertama kali kepada Bung Adian, sang sahabat.

Kemudian berturut-turut dengan wajah yang sumringah, Bung Desmon membagikan potongan-potongan kue kepada para sahabat tanpa terkecuali. Masing-masing piring berisi potongan kue itu punya cerita, kisah indah dari masa lalu yang bisa jadi mulai terlupa jika dicatatkan.

“Sahabat di hari tua adalah kenangan” kalimat ini melengkapi kata kata Bung Desmon, demikian Bung Adian menyampaikan kata sambutan sambil menikmati manisnya kue tart berwarna merah itu. Kedua kata sambutan dari Bung Desmon dan Bung Adian membuat setiap mata yang hadir seolah menerawang kembali ke masa lalu ketika mengakrabi jalanan, ketika idealisme dan kenekatan jadi satu dipertaruhkan menghadapi hujan peluru aparat Orde Baru.

Nyatanya, tidak sia-sia. Perjuangan pemuda, rakyat, dan mahasiswa berhasil melahirkan perubahan. Membongkar ketakutan dan merayakan kemenangan. Walaupun akhirnya kembali lintang pukang diterjang kebutuhan jaman dan situasi masing-masing.

Aku sering lewat gedung ini. Di depannya ada penanda bertuliskan Pena 98. Kini aku tahu, gedung itu bukan sekedar warung kopi, akan tetapi jika bukan kelangenan, maka merupakan sebuah ruang pertemuan ngopi-ngopi dan bercengkerama, bersilaturahmi dan saling membayar kerinduan dari pergulatan pertarungan dalam dinamika kehidupan.

Pertemuan malam ini, yang dihadiri para “mantan mahasiswa bengal” ini begitu terkesan sederhana. Kawan-kawan tidak banyak berubah, tetap menjadi karakter masing-masing. Tidak ada pembicaraan politik, hanya kisah-kisah kelucuan demi kelucuan yang kita tertawakan dari masa lalu yang penuh gemilang tapi juga mukzizat.

Ini bulan April 2018, dan 20 tahun lalu kami masih muda remaja, dianggap oleh pemerintah Orde Baru sebagai generasi nekat dan berbahaya. Bagaikan kera-kera mungil yang menyerang Astina, sebagian terbakar dan sebagian lainnya mampuntiba di destinasi perubahan.

Jika kerinduan itu memuncak, maka bisa jadi itulah kejenuhan atas realitas yang semu dan beku. Apapun dan siapapun yang mengenyam kue kekuasaan saat ini tidak pernah bisa terlepas dari sejarah kawan kawan pejuang 98 yang berkumpul malam ini. Suka atau tidak suka, dipahami atau tidaknya sebuah perubahan, gagal atau berhasilnya reformasi, dinamika itu kawan kawan isi sejarahnya dengan kontribusi masing-masing. Ya, seperti halnya tugas sejarah yang terjadi 20 tahun lalu.

Jika flash back ke belakang… Pertemuanku dengan sahabat pergerakan ini terjadi di bilangan Cisanggiri, Kebayoran Baru- Jakarta Selatan. Saat itu aku masih usia SMA. Kulihat setiap malam anak anak muda dan setiap yang hadir melakukan diskusi, bisa sampe larut malam. Bisa berhari-hari, mengerjakan tugas kuliah sambil mengakrabi alat tulis memproduksi selebaran untuk penyadaran rakyat. Di rumah seorang profesor yang kami akrabi dengan panggilan Om Sampengan. Orang tua yang kritis dan cerdas yang rumahnya menjadi sarang pergerakan generasi 90an. Satu di antara mereka adalah Bung Adian.

Di Cisanggiri I itu setiap hari mahasiswa datang dan pergi. Kalau bukan anak anak Untag, Unas, Pijar, ya anak anak dari berbagai kampus di Jakarta atau daerah lain. Tempat itu adalah tempat yamg aman dan nyaman bagi para mahasiswa untuk berkumpul dan mengasah “pandangan ideologi” pergerakan. Di tempat ini, aku tak lama karena harus kembali ke Jogja. Namun konon di tempat itulah satu inkubator gerakan yang membuat berangsur-angsur gerakan mahasiswa terkonsolidasi, membesar dari berbagai lini lantas tak terbendung, menjebol dinding tiran yang telah 32 tahun berkuasa dan masih ingin berkuasa lagi seumur hidupnya, yaitu Orde Baru.

Aku mencatat peristiwa, di halaman Universitas 17 Agustus 1945 di Sunter. Sewaktu itu seingatku aksi tentang advokasi korban Sutet (Saluran Tegangan Tinggi). Penampilan sosok yang dari dulu khas sekali, kepala yang tidak banyak ditumbuhi rambut, kacamata, dan pandangan-pandangan yang slow tapi tajam. Berikutnya aku bertemu pada seputar peristiwa 27 Juli 1996, dan peristiwa reformasi 1998. Satu di antara mereka adalah Bung Desmon.

Aku kira merasa patut berterimakasih kepada angkatan masa itu yang telah menghadirkan ruang kesadaran untuk menyambut perjuangan setiap pemuda dan mahasiswa yang gelisah mau membela rakyat.

Waktu terus berlalu. Sebagian kawan-kawan yang lain aku kenal ketika kami mendirikan organ kesatuan aksi, Front Jakarta. Kesatuan aksi ini kemudian berkembamg menjadi Dewan Mahasiswa Jakarta ( DMJ ), Dewan Rakyat Jakarta (DRJ), Dll. Kami sering melantunkan lagu internasionale dan darah rakyat apabila turun ke jalanan. Rasanya waktu itu bagaimana begitu, senang tidak, susahpun tidak. Kita kini berkumpul kembali mengenang penggalan peristiwa yang masih teringat. Tercatat rapih di buku harianku.

Beberapa kawan turut naik ke lantai dua dan menyaksikan foto-foto peristiwa. Menjadikan masing masing semacam Intersetelar menyeberangi kembali masa lalu. Mereka seperti tercekat, sudah 20 tahun terjadinya reformasi. Mungkin di benak kawan kawan terbersit pertanyaan apakah keadaan berubah lebih baik? Apakah kemapanan telah menjadi kenikmatan yang membelenggu? Atau malah semakin menjadikan gelisah dan ambigu? Sejarah yang akan menjawabnya.

Seiring berakhirnya Child in Time nya Deep Purple yang dinyanyikan grup band dengan vokalis yang berkaos Jimmi Hendrix itu aku pamit kepada kawan-kawan. Bung Desmon menanyakan kepadaku apakah sanggup

Membuat film tentang generasi 98? Aku mengangguk. Dan Bung Desmon kelak mengajak bertemu membahas film itu. Aku pikir pikir romantisme perlu menjadi nyata, film satu di antara media menyatakan romantisme itu. Paling tidak monumen hidup buat anak anak kelak.

Aku kepikiran sesuatu, foto-foto yang terpajang di dinding lantai dua itu menjadi lukisan lukisan dengan warna warni peristiwa. Aku mau bikinkan mural seperti Leonardo Da Vinci melukis kapel, semoga keinginanku terwujud.

Ketika kubuka pintu dan meninggalkan warung kopi Pena 98, di parkiran kendaraan aku masih mendengar lamat-lamat lantunan lagu Deep Purple. Lagu itu semacam memanggil kembali semangat muda remaja.

Bulan April ini film yang kukerjakan berjudul Maha Guru Tan Malaka versi 33 menit memulai program roadshow Merdeka 100%. Film yang difasilitasi oleh Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia itu akan menyambangi setiap muda mudi remaja di berbagai wilayah di Indonesia.

Pagi tadi di bulan April ini, istriku Yolinda Puspitarini menunjukkan test pack kepadaku, sebuah kabar bahagia kubaca dari dua strip merah di batang test pack, itu pertanda istriku mengandung. Kamipun berpelukan dan berbahagia, pagi tadi kami segera memeriksakan temuan itu ke Saint Carolus untuk memastikan kabar bahagia ini. Ya, benar saja. Dokter menyampaikan kabar bahwa istriku mengandung. Kado indah buat kami berdua.

Di rumah sakit yang sedang berbenah itu, 20 tahun yang lalu, kenangan itu seperti baru kemarin terlewat. Peristiwa yang sekelebat demi sekelebat menjadi flash back adegan demi adegan. Ya… Anakku, kelak aku akan menceritakan kepadamu betapa sejarah reformasi pernah mampir di tempat yang bersejarah itu. Dan Ayahmu ini satu di antara saksi hidup peristiwa besar yang merubah haluan negara ini menuju pandasan pacu reformasi 1998.

Aku keluar dari parkiran, kebetulan rumahku yang sekaligus studioku yang kunamakan Sarang Berang Berang Studio sangat dekat letaknya dengan Pena 98. Sepanjang perjalanan yang singkat itu, di atas kendaraan tak kudengar lagi Deep Purple. Tetapi, sayup-sayup kudengar kembali suara mahasiswa di halaman Gedung DPR/MPR di bulan Mei tahun 1998 itu, atau suara-suara kaum muda yang lantang serta nyanyian Padamu Negeri yang kolosal itu, kembali fade in di telingaku…

Ah… bulan April, begitu banyak kabar bahagia kudapatkan. Terimakasih Gusti Allah.

Daniel Rudi Haryanto

Alumnus Fakultas Film dan Televisi

Angkatan 1998

FRONT JAKARTA

Iklan

Usmar Ismail, Tan Malaka dan Platform Baru Distribusi Film Indonesia

Uncategorized

Guys… dalam rangka memperingati Hari Film Nasional perhimpunan pelajar dan mahasiswa Indonesia di Belanda mengadakan pemutaran film Maha Guru Tan Malaka dan diskusi khusus membahas peranan Tan Malaka dan KH Hasyim Asyari dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia hingga merdeka. Acara putar film ini diselenggarakan di Universitas Van Amsterdam, negeri Belanda.

Sehari sebelumnya, guys.. pada tanggal 29 Maret malam hari pukul 20.00 wib, film Dokumenter berjudul “Maha Guru Tan Malaka” diputar perdana di Gazebo Literasi, Malang, Jawa Timur untuk memeriahkan peringatan hari Film Nasional. Antusias publik penonton terasa dari kunjungan yang membludak. Sekitar seratusan penonton berkumpul dalam 2 gelombang sesi pemutaran yang disertai dengan diskusi. Kedua kegiatan tersebut mengawali road show film Maha Guru Tan Malaka ke seluruh Indonesia.

Ini merupakan awal yang menggembirakan untuk program roadshow yang kami selenggarakan untuk memeriahkan hari film Nasional 29 Maret 2018. Pada road show pertama di Gazebo Literasi para penonton menyumbangkan uang sukarela sebesar 365.000 rupiah sebagai modal awal kami dalam usaha melanjutkan proses pembuatan film Layar lebar berdurasi 73 menit, sebagai kado untuk merayakan 73 tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2018 tahun ini.

Tentu pengalaman ini merupakan pengalaman berharga bagi saya sebagai filmmaker untuk belajar mendistribusikan film dengan jalur independent. Kami menyebut kegiatan ini sebagai road show Merdeka 100 %. Oleh karena kemerdekaan pembuat film dan kemerdekaan penontonnya menjadi semangat untuk menjadikan film sebagai sarana belajar sejarah bersama.

Guys… Mengangkat tema Tan Malaka bukan suatu hal yang mudah. Banyak bangeeeet tantangannya, guys. Selain dana, juga tenaga, dan juga stigma komunis yang melekat pada sosok yang diberi gelar Pahlawan Nasional dan Bapak Republik Indonesia ini.

Hah?! Kalian pda belum tahu siapa Tan Malaka? Oohhh ok ok… ngga papa Guys… tahu ngga tahu kayaknya ga penting deh…. yang penting sekarang, kita mau ajakin kalian menziarahi sejarah super hero Indonesia yang keren ini.

Guys… Keinginan membuat film Tan Malaka telah terbersit sejak duduk di bangku kuliah semester dasar Institut Kesenian Jakarta. Bagi saya pribadi, Tan Malaka adalah sosok yang menarik untuk difilmkan dan menjadi isnpirasi Indonesia.

Eeehhh… bentar bentar… iya baru inget kalok banyak yang belum tahu ya siapa Tan Malaka itu? Hihihi… jadi kepo yeeee?

Guys… Bapak Tan Malaka itu seorang guru, pendidik untuk bangsa Indonesia. Bersama Ki Hajar Dewantara bahu membahu mendirikan sekolah untuk rakyat. Gratiiiissss guys!

Apa? Kualitas pendidikannya? Wahhh jangan ditanya guys? Indonesia merdeka ini juga perjuangan murid-murid aki Hajar dan Tan Malaka! Keren banget ya…

tan Malaka telah mendedikasikan hidupnya untuk perjuangan memerdekakan tanah jajahan Hindia Belanda dari cemgkeraman Imperialis Eropa, akan tetapi sejarahnya tertutup kabut misteri akibat stigma komunis yang melekat di kehidupannya.

Aku ga tahu guys, kenapa di era Pak Harto nama Tan Malaka dan sejarahnya seoralh terkubur jaman di tanah air yang beliau perjuangkan seumur hidup.

Film berjudul Maha Guru Tan Malaka ini merupakan film pendek berdurasi 33 menit. Film ini menceritakan tentang petualangan seru Marko (Rolando Octvio Purba, pelajar Indonesia di Paris) menziarahi sejarah Tan Malaka (seorang pelajar Indonesia di Haarlem, Belanda pada 1913-1919). Dalam petualangan itu Marko memasuki lorong waktu masa lalu. Melalui Harry A Poeze yang menceritakan kisah Tan Malaka berikut arsip arsip Tan Malaka yang berada di Haarlem dan Leiden. Guys, tahu gak gimana caranya ya kalok peristiwa sudah terjadi, ga ada dokumentasinya? Nah… ini nih, animasi jadi solusinya. And di film Maha Guru Tan Malaka ini, ada animasinya lhoh!

Platform Baru Distribusi Film

Guys, kayaknya aku dapat inspirasi nih setelah dua pemutaran film kemarin. Pengumuman lewat sosial media; website, dan kanal-kanal digital ternyata efektif yesss.

Permintaan memutat film di berbagai daerah segera memenuhi email, inbox, sms setelah teaser dan poster film Maha Guru Tan Malaka aku posting di Fb.

Koordinasi roadshow jadi lebih ringan dan asyik. Ini menarik ya Guys ternyata manfaat sosial media sudah sedemikian baik hingga mengundang luber para peserta roadshow.

Guys, aku pengen ketemuan sama kalian semua yang suka nonton film. Kemarin kan hari Film Nasional 29-30 Maret ya kan Guys. Nahhh kenapa sih hari itu jadi hari film?

Kalok menurut dosen ku dulu waktu kuliah di IKJ ( Institut Kesenian Jakarta ) tanggal itu adalah hari dimana Usmar Ismail shooting film Darah dan Doa! Masih hitam putih lho guys filmnya, lagi pula ngga pake digital kayak kita guys… ribet dah pokoknya kalok lihat shootingnya jaman Usmar Ismail. Tahu seluloid, guys? Iya pita film kayak punya nenek dan kakek itu… analog era guys… ribet.

Bayangin ya, ribey begitu masih aja mau bikin film, tapi keren guys! Film itu jadi jejak visual dan audio pada masanya, kisah yang dekat dari pelaku perang kemerdekaan. Usmar Ismail itu guys, bukan hanya bikin film, tapi angkat senjata membela tanah air Republik Indonesia yang diproklamirkan Bung Karno dan Bung Hatta pada 17 Agustus 1945!

Yesssss… trus hubungannya sama Tan Malaka apa? Soal prinsip nih guys, mereka sama sama keras kepala. Banyangin ya… itu di deket stasiun Cikini Jakarta pusat kan ada Bioskop Megaria, pada jaman itu Usmar gaplokin pemilik bioskopnya gara gara nggak mau nayangin filmnya Usmar atawa film Indonesia. Nahhhh… tuhhh kan… emang keterlaluan sih pemilik bioskopnya, masak nggak mau putar film Indonesia? Itu cerita dari dosen-dosenku guys.

Nih soal distribusi alternatif, aku lagi belajar nih guys, nggak sama sih sama Usmar yang gaplokin pemilik bioskop. Aku mau belajar roadshow filmku, guys. Kenapa? Yaaahhh kayak Tan Malaka lah bisa dekat sama penonton. Dan sekaligus mau mohon doa dan restu penonton buat nyelesaikan layar lebarnya, guys…

Nah platform distribusi melalui roadshow dan jejaring komunitas ini sebenernya udah pernah aku lakukan dulu jaman kuliah, namanya Sinema Ngamen. Sekarang nih aku kangen muter film road show menyambangi penonton. Guys, tunggu di kotamu yesssss…

Bung Usmar semangat banget membangun film Indonesia, Tan Malaka semangat banget jadikan Indonesia merdeka dan jadi inspirator Bung Karno dan tokoh-tokoh legendaris para super hero Indonesia di era revolusi 1945.

Nah semangat mereka itu guys jadi inspirasi untuk tidak menyerah mencoba sesuatu yang baru dan membangun. Semoga platform baru roadshow dan distribusi melalui sosial media digital ini dapat dilancarkan dan mendapatkan barokah dari Gusti Allah Maha Pengasih dan Penyayang ya guys!

Jangan nonton teasernya doang, guys… abis nonton trus hubungi Panitia Roadshow Merdeka 100%. Yuuuuk…

Panitia Roadshow: Panji Nandiasa Mukadis, nih nomernya +62 813 10122404 . Okey ya guys silahkan dihibungi. Terimakasih guys sampainjumpa di sinema!

Salam hangat