Secangkir Kopi di Bandara Kuala Lumpur

Uncategorized

Secangkir kopi

Di dinding kaca-kaca kulihat pemandangan sore bandar udara Kuala Lumpur

Menanti keberangkatan

Kopi hitam

Seperti ruang sinema yang gelap

Tempat mampirnya kisah-kisah kehidupan

Yang terekam dari berbagai bangsa

Proyeksi di permukaan layar

Manusia dan segala yang dihadapi

Suka dan duka

Kegembiraan yang fana

Atau senandung dan tarian

Perayaan-perayaan atas pertanyaan

Kalau sudah begini, aku teringat pada kisah masa kecil, setiap liburan sekolah

Ikut ayahku berkeliling Jawa Tengah

Memasarkan mie instant produknya Om Liem

Bertemu masyarakat yang datang membawa tikar atau termos, kadangkala dibawa serta bantal dan guling

Sinema dan masyarakat

Lantas Bapakku mengajak mereka menyanyi sambil berdiri

Lagu kebangsaan Indonesia Raya

Sebelum film dimulai

Ayahku ahli propaganda

Dalam satu malam berkardus-kardus mie instan habis terbeli

Namun di belakang proyektor film Cingkang made in China

Ribuan pertanyaan berkecamuk di kepalaku

Bagaimana gambar bergerak?

Bagaimana gambar bersuara?

Mengapa harus menggunakan cahaya?

Film semacam doa-doa di ruang gelap

Yang menghantarkan manusia pada tawa canda, atau air mata, dan duka lara

Film semacam kartu pos pembawa pesan

Yang bisa mengajak merenungi makna

Ah… masa kecil itu, seperti Cinema Paradiso

Jika aku sudah besar kelak

Aku mau bikin film tentang ayahku

Demikian janjiku dalam hati

Dan kini

Pada setiap petualangan menyambangi ruang-ruang gelap sinema

Aku selalu teringat masa masa indah itu

Ketika setiap pertanyaan belum ada jawabannya

Aku mencari

Dan aku menemukan

Dari gerbang cahaya

Sinema menerangi kegelapan

4F684760-4159-4093-BCDF-EB2AD7CB0E16

Kacang dan kopi

Secangkir kopi

Kawan perjalanan

Hitam warnanya

Seperti ruang gelap sinema

Aku mau

Bikin film

Menggerakkan gambar-gambar

menghibur masyarakat dunia

Iklan

KUALA LUMPUR

Uncategorized

Bayang-bayang rebah

Di landasan pacumu

Menandakan hari telah sore

Dan aku menunggu

Bersama kacang dan kopi

Di Golden Launge yang tak terlalu ramai

Perjalanan lagi

Belajar lagi

Menjemput ilmu ke Penang

Ah… negeri jiran

Di pinggir selat Malaka

Yang ramai di masa lalu

Jadi kenangan masa kini

Pesawat jet itu masih istirah

Ia akan terbang lagi

Mengantarkan pada destinasi baru

Budaya Melayu…