30 tahun sudah

22 April 2008

tanggal kelahiran, aku di pondok halimun pada saat 30 tahun itu datang. bersama kawan-kawan crew film “pencarian terakhir”. tidak ada perayaan besar apalagi sekedar motong kue ulang tahun. si ewek kawanku menyiramkan air dingin pada saat aku baru saja terlelap tidur. kaget bukan main, tapi tersadar bahwa aku kini telah berumur 30 tahun.

beberapa hari sebelum tanggal 17, menjelang keberangkatan ke lokasi shooting, ilun menghadiahkan jam tangan g shock buatku. kado istimewa yang membuat aku terharu. hadiah ulang tahun, jam tangan yang akan mengingatkan aku pada waktu. tentunya 30 tahun bukan lagi untuk bermain-main. menentukan pilihan demi pilihan dalam hidup adalah keharusan.

di umur 30 tahun ini muncul bayangan-bayangan yang tidak pernah muncul sebelumnya. brumah tangga…

banyak orang mengatakan menikah dan berumah tangga itu adalah ibadah. tentunya yang dicari adalah amalan yang baik dan kebajikan serta hikmah dalam berumahtangga. membangun taman kecil bersama istri dan anak. menikmati kebahagiaan demi kebahagiaan, menghadapi tantangan demi tantangan. hidup kemudian tidak lagi sendiri. tidak lagi bisa leluasa berpetualang. hidup sudah harus tertata dan menjawab konsekuensi. ibadah, melaksanakan fitrah sebagai manusia.

cinta adalah modal awal untuk berumah tangga. cinta dan bekerja keras. inilah 30 tahun, hadirnya kejutan-kejutan yang muncul begitu saja tanpa undangan, menjadi menausia sejati, menempuh hidup yang beraneka warna…selamat ulang tahun rudi. tempuhlah hidup dan dinamikanya dengan gagah berani dan bersahaja.

terimakasih Gusti Allah yang memberikan hidup dan nikmat kepadaku. segala puji dan syukur aku panjatkan ke harirat MU

ayat-ayat cinta

17 April 2008

menembus tiga juta penonton indonesia, ini adalah satu prestasi besar dalam sejarah perfilman di indonesia. jumlah itu masih konon dan harus di periksa ulang apakah benar atau tidak?

tetapi film ayat-ayat cinta adalah fenomena. film yang dibiayai oleh manooj punjabi dan damoo punjabi itu seperti kacang goreng. garapan sutradara hanung bramantyo dan sinematografer muda berbakat faozan rizal ternyata mampu menghipnotis orang-orang untuk  hadir ke gedung bioskop. di tengah budaya televisi, internet dan media online saat ini, tentunya kehebohan ayat-ayat cinta adalah kejadian yang luar biasa.

barangkali hebohnya hampir sama dengan ayat-ayat setannya salman rusdie. di indonesia saat itu reaksi keras muncul dari berbagai pihak dari organisasi agama tertentu yang menentang novel yang difatwakan sesat itu. kali ini adalah ayat-ayat cinta, bercerita tentang cinta, bermain-main dengan cerita cinta dan menjual cinta melalui karcis-karcis sobekan di ruang-ruang bisoskop 21.

di tengah persoalan indonesia yang sumpek dan penat, harga minyak tanah, minyak goreng dan kebutuhan pokok masyarakat melambung tinggi, di ruang sinema itulah masih dapat terlihat orang menangis. yang menjadi aneh dan kuatnya sihir film ini ternyata mampu membuat mata presiden dan wakil presiden menangis, haru biru dalam kepiluan menghayati cerita. aneh karena rakyat lapar, anak-anak tak sekolah, rakyat sakit dan kurang giszi tidak membuat presiden dan wakilnya menangis. ini di ruang sinema mereka meneteskan air mata. rasanya indonesia ini seperti roman picisan, sekali tersentuh sudah itu nangis dan terharu, lupa realitas, lupa kerja harus selesai.

tetapi paling tidak ini adalah hiburan. drama yang menyajikan cerita cinta dan tragedi. apa sih yang tidak kontroversial di indonesia? film inipun jatuh dalam pembahasan yang kontroversi. beberapa pihak tak puas dengan ending filmnya yang dapat diartikan persetujuan pada poligami, ada pihak yang lain yang ngefans berat pada film ini sebagai alternatif yang baik daripada film-film hollywood yang dibuat oleh orang yahudi, ada juga yang biasa-biasa saja malah tidak menanggapi, alasannya semua ini nggak penting. di negara demokratis ala indonesia seperti ini wajar-wajar saja, semua orang boleh berpendapat, semua orang boleh bicara, boleh berbagi cerita dan apa saja bebas. termasuk mengapresiasi sebuah film bagus maupun jelek, termasuk mengkritisi film secara ilmiah maupun pengalaman sebagai penonton belaka. sah-sah saja.

ayat-ayat cinta bukan menarik sebagai film, bagi saya di luar film ternyata ada sisi menarik. santri-santri perempuan dan lelaki, remaja dan dewasa berbondong-bondong datang kegedung bioskop beli tiket, yang nggak kebagian menunggu giliran. film ini seolah adalah penyegar dahaga, mungkin akibat situasi yang monoton. mononton dalam pengertian film hanya menyajikan cerita drama biasa, horor yang tidak serem, atau komedi yang tidak lucu dan malah terjebak dalam persoalan klasik film indonesia di sekitar bupati (buka paha tinggi-tinggi) atau sekwilda (seputar wilayah dada)*

indonesia butuh alternatif, ayat-ayat cinta mungkin dianggap berpihak pada ruang alternatif itu, tetapi mesti hati-hati juga mempersoalkan alternatif. bagaimana mungkin menjadi alternatif kalau md pictures ternyata adalah rumah produksi yang sama dengan mesin uang, dagangan yang diperjual belikan sama dengan kacang goreng atau kerupuk kaleng. tentunya ini juga bukan alternatif, karena alternatif harus berani menjadi ruang sepi dan menyendiri.

lalu apa itu ayat-ayat cinta? mungkin tidak jauh dari kehebohan-kehebohan belaka. tak ada bedanya dengan riuh rendah infotainment yang tiap hari mampu mengombang-ambingkan massa kepada gosip-gosip yang produktif. produktif pada pelupaan. bahwa ada yang sedang menggejala, penyakit sosial yaitu demam film dakwah. itu saja…

to mompalivu bure

11 April 2008

inilah kisah orang-orang pencari garam…

to mompalivu bure adalah ungkapan bahasa wana, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia berarti orang-orang pencari garam. akhirnya film itu ditayangkan perdana di aksara bookstore kemang, dihadiri sekian orang yang senang menonton film dokumenter. sebagian besar dari mereka adalah pekerja lembaga swadaya masyarakat dan lembaga founding. setelah pemutaran film dilakukan diskusi dan suasananya jadi cukup meriah. saya agak kesulitan menjawab pertanyaan dari ikwan Wahid dan ikwan dari universitas islam nasional, semuanya harus saya jawab dari sudut pandang keagamaan dan demokrasi…lhah??? nyambung apa nggak ya?

film ini mengisahkan kehidupan yang tengah dijalani orang-orang wana yang tinggal di marisa, kayupoli dan toronggo. tiga wilayah tersebut merupakan wilayah di dalam dan sekitar cagar alam morowali sulawesi tengah. saya, erwan effendi, ari rusyadi dan seorang relasi dari yayasan shabat morowali bernama ali tinggal hampir satu bulan di pedalaman sulawesi tengah untuk mengumpulkan data audio visual berkaitan dengan kehidupan, aktivitas dan apa yang tengah dihadapi orang-orang wana.

pengalaman yang luar biasa manakala saya bertemu dengan orang-orang suku wana. sebagai penghormatan terhadap eksistensi mereka, saya setelah ini akan menulis mereka sebagai suku Ta. di dalam hutan belantara morowali, saya dapat belajar banyak tentang pola hidup mandiri, mengolah alam dan menghormati alam, mengembalikan apa yang alam berikan dengan menjaga alam. berperilaku jujur dan sederhana. bekerja dan bernyanyi, bergembira setiap hari. walaupun kemudian pada kenyataannya ketika mereka bersentuhan dan menjalin hubungan sosial ekonomi dengan dunia luar wana, pilihan yang harus diterima adalah hidup dalam situasi modern yang menggerus apa saja yang mereka pertahankan. pola ekonomi modern dan konsumsi membawa mereka pada pilihan yang gamang.

kerumitan dan tumpang tindaih persoalan kami dapati di morowali, benturan tradisi dan modernitas, benturan kepentingan komunitas dan kepentingan di luarnya. praktek demokrasi modern yang timpang, ekspansi organisasi agama-agama luar wana yang terus menerus marayu dengan segala propaganda keselamatan. keterlibatan lsm (lembaga swadaya masyarakat) yang dominan, kemudian saya dapat melihat dari segala kerumitan itu bahwa komunitas wana kemudian harus merelakan segala potensi dan kekayaannya untuk menjadi bagian dari sebuah imajinasi: INDONESIA.

sebagai suku bangsa minoritas, pilihan untuk terlibat dalam percaturan sosial dan negara adalah pilihan yang berani. pada awalnya adalah hasrat akan rasa untuk mencari garam, bertemu dengan sarung dan kemudian sarung menjadi sarana adat mereka. perjumpaan yang instens dengan dunia luar wana membawa pengaruh besar, garam kemudian bukan lagi sebagai garam yang asin, rasa itu kemudian berkembang menjadi sekolah, keikutsertaan dalam oraganisasi agama luar wana, bekerja di perkebunan, pemilihan umum dan berbagai bentuk realitas atas nama modern.

garam adalah sejarah yang runut dari keinginan, hasrat, rasa, kebutuhan dan keterlibatan di dalam modernitas. pada akhirnya benteng pertahanan tradisi yang tertutup semakin terbuka dan lumer. garam bisa saja diterjemahkan sebagai dosa peradaban, garam seperti buah koldi yang ketika dimakan mengakibatkan manusia terbuang dari eden, terperosok ke bumi. menjadi bagian dari ruang dan waktu yang terus menerus menggerus manusia dalam penderitaan. garam adalah dosa peradaban. saya sendiri merasa menjadi bagian dari runutan sejarah peradaban yang kemudian hidup dalam alam modern yang gagap. saya adalah runutan dari mata rantai pencari garam yang kini hidup di antara garam dunia. hidup di antara kebutuhan yang praktis dan pragmatis. saya dapat belajar banyak dari orang-orang wana, merunut sejarah nenek moyang saya, merunut sejarah peradaban yang berbenturan satu sama lain. seringkali hasrat mengakibatkan manusia lumer dalam pragmatis tindakan…

to mompalivu bure adalah kisah orang-orang pencari garam, dunia terus berputar dan arus berbalik. kerinduan untuk pulang pada alam yang menyediakan segala kebutuhan manusia semakin saya rasakan semakin jauh. arus balik peradaban itu mungkin terjadi setelah kutub es antartika semua lumer mencair…

saya terkejut ketika di warung tegal mendapati harga gorengan begitu mahal. dua lembar tempe tepung goreng kini berharga seribu lima ratus rupiah. kerupuk bulat seribu rupiah, kerupuk dalam kemasan plastik yang hanya terdiri dari beberapa keping kini sudah berharga limaratus rupiah. saya juga melihat warteg itu kini tengah berbenah. mereka mengganti kompor minyak tanah dengan kompor gas elpiji warna hijau. sungguh luar biasa keadaan di tahun 2008 ini, harga kebutuhan pokok terus membumbung tinggi, beras, telur, minyak goreng, tepung, cabe…

di pom-pom bensin terpajang spanduk dengan berbagai tulisan yang mengajak rakyat membeli bahan bakar non subsidi. ada yang tertulis begini : BAHAN BAKAR BERSUBSIDI HANYA UNTUK MASYARAKAT YANG TIDAK MAMPU”.lantas saya bertanya, seberapa banyak masyarakat yang tidak mampu? bukankah orang-orang sekarang ini mengambil kredit motor karena untuk menghemat pengeluaran untuk kebutuhan transportasi mereka sehari-hari? spanduk-spanduk itu sepertinya tidak berarti apapun sebagai bentuk aksi penyadaran rakyat, kesannya malah melakukan intervensi, logika yang dipakai adalah kekuasaan belaka!

sekarang ini dapur dan meja makan dalah gambaran penderitaan masyarakat yang pendapatan perkapitanya di bawah standar. orang lebih memilih makan di warung tegal daripada memasak di rumah, karena memasak di rumah lebih boros daripada beli makanan yang sudah matang. apa yang tengah dipikirkan dan dilakukan pemerintah dalam mengelola negara ini? naiknya harga-harga dan berbagai persoalan ekonomi dalam ranah sosial saat ini menjadi buklti ketidakbecusan pemerintah melakukan manajemen pemerintahan, pemerintah gagal melaksanakan mandat rakyat dan amanat undang-undang dasar negara. seperti yang selalu digembar-gemborkan pemerintah kepada rakyatnya untuk menghemat pemakaian bahan bakar, tetapi di jalanan jakarta, pembangunan pom bensin (spbu) terlihat semakin marak, bisnis penjualan bahan bakar bensin dan solar serta bahan bakar gas bersanding dengan maraknya bisnis penjualan motor dan mobil. tentunya ini adalah praktek dari sebuah kebijakan yang salah kaprah.

sepuluh tahun silam, di bulan april seperti ini, jakarta dilanda demam sosial, setiap hari terus menerus mahasiswa melakukan aksi, mulai aksi di kampus hingga di luar kampus. puncaknya adalah 21 mei 1998. setelah kerusuhan merebak di jakarta selama hampir satu pekan, soeharto mengundurkan diri dari jabatannya selaku presiden republik indonesia yang telah berkuasa selama lebih dari 3 dasawarsa. 1998 adalah tonggak sejarah dari cita-cita indonesia yang lebih baik. tetapi apa lacur? setelah sepuluh tahun berlalu? rakyat semakin terjepit persoalan-persoalan ekonomi yang rumit. mahasiswa indonesia, di mana kamu?

dulu awalnya adalah ibu-ibu turun ke jalan membawa berbagai peralatan dapur, menjadikannya perkusi sebagai sarana menuntut pemerintah menurunkan harga-harga. kemudian mahasiswa-mahasiswa turun ke jalan, menuntut penguasa memperhatikan nasib rakyat yang semakin terjepit krisis ekonomi nasional. padahal masa itu, gorengan tempe dan tahu masih seharga seratus rupiah? mahasiswa itu, seperti di film dokumenternya tino saroengalo (STUDENTS MOVEMENT IN INDONESIA) berteriak mengacungkan tinju ke langit. meneriakkan sumpah mahasiswa indonesia. begidik bulu roma saya jika melihat adegan film itu. begidik karena momentum yang heroik atau karena editing filmnya yang dramatik, entahlah… tapi saat itu saya terlibat aktif dalam pergerakan pemuda. saya turut dalam parlemen jalanan. tetapi bukan untuk indonesia yang seperti sekarang ini.

saya mencita-citakan indonesia yang lebih baik, indonesia yang bermartavat, adil makmur sentosa, aman tentram kertaraharja. demokratis di segala bidang, pembangunan merata bagi seluruh rakyat indonesia. tetapi setelah 1998, roda sejarah melenceng bersamaan dengan euphoria demokrasi yang kebablasan. aktivis-aktivis, penggiat partai, eselon-eselon di teras kekuasaan, penguasa politik, bupati, presiden, kabinet dan dpr semuanya keblinger. muntah saya merasakan semua ini. jijik dengan perilaku binatang kekuasaan yang terus menerus setiap hari mereka praktekkan. ini adalah penyakit revolusi. yang bisa saja menghinggapi setiap manusia yang terlibat dalam perubahan sosial. bisa saja menjangkiti setiap manusia yang bahkan tidak terlibat dalam perubaha itu sendiri.

sekarang ibu kita, kakak kita, saudara kita, tetangga dan handaitaulan kita di pelosok kampung dan lorong-lorong kota yang remang sedang mreasakan harga-harga kebutuhan semakin mahal. antri dalam daftar persoalan bulanan yang harus dipenuhi setiap rumah tangga. kini mahasiswa-mahasiswa yang sepuluh tahun lalu turun di jalanan, barangkali sudah lulus atau mungkin do dan tidak lagi aktif di kampus. kini generasi baru yang muda-muda, yang masih berkobar semangatnya memenuhi ruang-ruang kelas yang usang. apakah tidak sadar bahwa kita sedang dalam permasalahan yang besar? makan buku saja tidak cukup… lalu di mana mahasiswa indonesia hari ini?

Saya cinta film Indonesia, bagi saya kebanyakan film Indonesia dapat saya cerna secara ringan, seperti keripik singkong atau tempe mendoan.

Mencintai film Indonesia berawal dari kesukaan saya mengikuti ayah saya memutar film keliling ketika liburan sekolah.

Dulu saat saya usia Sekolah Dasar, Ayah saya bekerja sebagai kepala Divisi propaganda pemasaran produk mie instan di perusahaan Indofood Citra Makmur di Jawa Tengah.

Divisi ini memiliki armada mobil dan seperangkat peralatan projector film dan beberapa stok ken judul film. Malam hari, di tanah lapang yang hiruk pikuk, ayah saya serupa membuka perayaan pasar malam.

Beliau berpidato memasarkan produk Sarimi di hadapan ribuan orang, sementara bunyi generator pembangkit listrik menderu, suara ayah saya keras terdengar dari speaker mono merk TOA.

Orang-orang ramai datang, membawa tikar, termos, bahkan bantal buat menikmati hiburan.

Film diputar, cahaya menerobos kegelapan malam bercampur dengan asap rokok para penonton.

Hingga hari ini saya masih mengingat dengan jelas, dari belakang projector di dlaam mobil box ayah saya itu. Fenomena sinema, produk, dan masyarakat yang menikmati hiburan saat itu.

Seluloid…saya jatuh cinta pada pita bergambar yang berpitar dan meraung di alat projectior bercahaya terang itu.

Saya mengagumi gambar-gambar yang ada di permukaan pita itu, herannya kok gambarnya hampir sama ya? Di mesin bercahaya itu gambar-gambar bergerak! Jutaan pertanyaan hinggap di kepala saya waktu itu!

Semua pertanyaan itu jawabannya saya dapat ketika saya duduk sebagai mahasiswa film di bangku semester satu Fakultas Film Institut Kesenian Jakarta FFTV IKJ.

“Intermiten movement”, gerakan mesin jahit dan 24 frames per second! Rasanya bahagia sekali mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang tersimpan sejak kecil itu.

Membuat saya semakin cinta kepada media sinema yang dapat menampung kegelisahan dalam perjalanan pencarian ruang estetika baru.

Sinema adalah imaji yang bergerak. saya mengenalnya sebagai gambar hidup, akrab disebut film!

Sebelum masuk ke FFTV IKJ di tahun 1998, saya sempat menjadi buruh di beberapa rumah produksi film dan sinetron seperti; Imaniar production, Star Vision, Multi Vision, Jatayu Production, Indika Production, atau rumah-rumah produksi kecil yang tidak terkenal sama sekali.

Saya bekerja buat cari makan bertahan hidup di Jakarta dan juga mengirim Ibu dan adik saya di Semarang.

Saya bekerja serabutan, jadi pembantu umum, gulung kabel, lalu naik kelas sebagai property man yang mengurusi segala tetek bengek urusan tata artistik sinetron.

Saya suka menulis dan sempat menjadi penulis skenario di tahun 1998 an. Bagi saya periode tahun 1995-1998 itu adalah periode yang dapat menjadi pelajaran berharga bagi saya dalam mengenal media film, audio visual, video…

Kemudian media itu betul-betul menyita perhatian saya. Setelah kekuasaan Soeharto Orde Baru tumbang, saya memutuskan memasuki dunia perkuliahan.

FFTV IKJ adalah dunia kecil yang memberikan pengalaman estetika tersendiri pada diri saya. Sedikit banyak membentuk pemahaman saya pada arti penting media gilm, kesenian, dan kebudayaan.

Dari kampus kecil di dalam kompleks Taman Ismail Marjuki di bilangan Cikini Raya Jakarta Pusat itulah saya mulai mengenal orang-orang besar yang berpengaruh pada  perfilman  di tingkat nasional.

Orang-orang yang dulu hanya saya kenal dari tulisan dan filmnya atau berita di koran dan majalah. Bapak Soemardjono seorang editor kawakan dan pejuang revolusi kemerdekaan, Bapak Chalid Arifin seorang penata artistik lulusan sekolah film Prancis yang mendedikasikan hidupnya mengajar kuliah sejarah film dunia, Bapak MD Alief seorang pejuang revolusi kemerdekaan angkatan 45, produser dan sutradara film yang seangkatan dengan Usmar Ismail yang tercatat sebagai Bapak Film Indonesia, DA Peransi melalui buku-buku catatan filmnya, Soetomo Gondosubroto dengan tata sinematorgafinya yang luar biasa, mbah Rudjito yang akrab dipanggil mbah Djito seorang yang handal di bidang desain produksi film, Djadug Djajakusuma seorang pejuang dan nasionalis yang karya-karyanya merupakan perwujudan kegelisahannya dalam dialektika kebudayaan nasional dan tradisi. Pak Moentoro Hadi, pejuang revolusi kemerdekaan dan seorang guru sinematografi yang sederhana.

Saya dapat melacak jejak kebudayaan melalui film dan naskah drama serta pemikiran maestro Djadug Djajakusuma yang keras prinsip dalam membangun film Indonesia yang berbasis pada nilai tradisi. nama-nama itulah yang berpengaruh pada diri saya dalam mengenal film.

Walaupun di antara nama-nama itu, ada sekian banyak yang tidak sempat saya temui karena sudah meninggal, namun pada akhirnya saya bersedih hati, karena Bapak Soemardjono, Bapak Chalid Arifin dan Bapak Md Alief pada akhirnya harus berpulang sebelum saya sempat mengucapkan kalimat terimakasih pada acara wisuda saya setelah menyelesaikan pendidikan film pada tahun 2004.

Dari guru-guru  kami itu saya dapat belajar banyak,beliau beliau selalu menekankan film bukanlah sekedar film. Film adalah dinamika, dinamika yang memberikan pengaruh besar pada manusia dan membawa peristiwa-peristiwa besar dalam peradaban manusia yang tidak saja meliputi aspek teknologi, namun juga estetika dan keilmuan.

Saya sungguh berterimakasih dapat mengenal mereka melalui banyak catatan yang saya baca, baik yang sudah dibukukan maupun yang masih dalam bentuk lepas yang terhimpun dari beberapa bunga rampai tulisan yang berkaitan dengan film.

Dari merekalah saya belajar banyak bahwa film Indonesia selalu lahir dalam krisis. Saya dapat melihat runutan abstrak sejarah film Indonesia dari Usmar Ismail dengan PERFINI nya hingga post i sinema.

Usmar Ismail dan angkatannya sebagai angkatan pengusung nasionalisme sinema, Sjumanjaja dan angkatannya sebagai usaha melanjutkan gelora film nasional untuk dapat terlibat dan sejajar dalam percaturan sinema dunia, angkatan Arifin C Noor, Teguh Karya sebagai angkatan sanggar yang tidak lelah mencari identitas film indonesia, angkatan Slamet Rahardjo yang harus menghadapi represi kekuasaan dan kapitalisme orde baru, Garin Nugroho yang berdiri sendiri di saat film Indonesia jatuh dalam tema drama sensual picisan dan aksi silat murahan.

Garin mampu membawa estetika baru dalam film Indonesia ke kancah international film festival, angkatan i Sinema yang memproklamirkan semangat independen yang lantas merayakan revolusi digital teknologi audio visual, serta angkatan post i sinema yang saat tulisan ini tengah ditulis tengah berhadapan dengan globalisasi serta kapitalisme baru dan kolonialisme baru, suatu angkatan yang lahir dalam kekacauan dunia yang makin absurd dalam kubangan digitalisme.

Saya belajar dari kisah generasi Usmar dan kawan-kawannya, ketika hijrah ke jogja tahun 1948. berjuang dalam medan revolusi tetapi tidak lepas berpikir pengen bikin film, Sjumanjaya dan angkatannya melanjutkan nasionalisme dan gelora revolusi, menuntut studi film di rusia, lulus cum laude sebagai karya terbaik, angkatan 65 yang diberangus sejarahnya, seperti Bachtiar Siagian, Basuki Resobowo dkk. Saya belajar deri angkagab Arifin C Noor dan suasana politik di sekitar proses kreatifnya, Teguh Karya yang memperjuangkan estetika dramatik serta naturalisme sinema, Slamet Rahardjo dan tema-tema sosial yang selalu kena sensor, Garin dengan lobi internationalnya, generasi i Sinema dan setelahnya seperti Riri Riza, Harry Suharyadi, Nan T Achnas, dan angkatan setelahnya yang meraba-raba siapa “musuh” dan apa sasaran estetika sinema  yang dihadapinya….  melihat kenyataan ini saya menyadari betapa dinamis situass film indonesia?

Saya menyadari film indonesia selalu lahir dari krisis, selalu lahir dalam kekacauan. Hanung Bramantyo saya sebut sebagai Wim Umboh yang lahir kembali. film apapun yang dia buat selalu laku. siapapun Hanung, ia mampu mendekatkan film dengan kapital.  sebagai pembuat film, ia lahir dalam krisis film Indonesia yang bermutu. Pertemuannya dengan Manooj Punjabi membawa energi besar.

Krisis identitas, krisis ekonomi dan krisis sosial, krisis kepercayaan terhadap pemangku kekuasaan negara mendorong gerakan sineas di Indonesia.  Aria Kusumadewa, Rudi Sujarwo dan generasi yang lahir dari komunitas film pasca 1998 memanfaatkan teknologi digital untuk menciptakan ruang eksplorasi baru dalam sinema Indonesia, menerobos batas-batas kekakuan yang tercipta di masa lampau.

Dari generasi ke genarasi sejarah film Indonesia  memiliki kesamaan, sejarah film indonesia yang lahir dari krisis, yang lahir dari drama kehidupan yang sumpek, remang dan pengap. Seperti kereta KRL yang mengantar penumpang pulang di kala senja, berhimpitan manusia di dalamnya.

Setiap kekacauan dan krisis melahirkan film indonesia, melahirkan kesumpekan yang ringan dinikmati sambil berbincang di warung kopi dan atau sambil menonton televisi, terkadang sulit menterjemahkan situasinya.

pfn-reel.jpgpfn-logo.jpgpfn-tkp.jpg

Beberapa hari ini saya merenung tentang film Indonesia. Orang-orang yang terlibat dalam perfilman nasional sibuk menyelenggarakan acara peringatan Hari Film Nasional yang diperingati setiap tanggal 30 Maret. Saya menulis di milis Masyarakat Film Indonesia (MFI). Saya mempertanyakan apakah Film Nasional itu benar-benar ada? Lantas, jika benar ada, apa yang bisa dibanggakan dari perfilman nasional itu? Apa bedanya dengan Film Indonesia?

Pertanyaan itu berdasarkan fakta bahwa semua yang berlaku pada perfilman Nasional dan perfilman Indonesia sudah hancur luar dalam. Apa lagi yang bisa dibanggakan untuk peringatan hari film semacam itu? Bukankah pada akhirnya itu hanyalah romantisme masa lalu yang pernah singgah sejenak? Karena setelah peringatan hari film yang gegap gempita, tidak pernah ada perubahan signifikan dari orang film itu sendiri.

Generasi digital saat ini sedang merayakan euphoria teknologi digital dengan salah satu kredo yang pernah mereka sampaikan ” bikin film itu gampang!”. Akan tetapi dalam suatu euphoria, antara yang merayakan dan menikmati segala sesuatu rasa instan digital itu, perfilman Indonesia serasa jauh dari sejarah film Indonesia itu sendiri.

Saya merasakan, peringatan itu hanyalah seremoni belaka terhadap cerita tentang Usmar, Djadug Djajakusuma, Sjumanjaya dll. Itu hanyalah semacam ingatan terhadap generasi pendahulu, ingatan yang saya rasakan sebagai ingatan orang-orang film yang dangkal. Dalam konteks semangat kekaryaan, semangat ideologi dan gagasan. Tidak berlakunya diskursus film di Indonesia mengakibatkan pemahaman generasi hari ini menjadi jauh dari akar film dan sejarah.

Generasi digital ini rentan oleh persekongkolan dan gontok-gontokan dengan praktek pertikaian yang tidak elegan oleh sesama orang film sendiri. Terutama soal kepentingan perut dan eksistensi sebagai orang film. Atau mungkin situasi semacam ini sudah merupakan tradisi?

Perusahaan Film Negara (PFN) hancur, tidak ada data otentik yang dapat diakses publik berkaitan dengan produksi dan kerja-kerja di masa lalu yang padat dan didominasi oleh kepentingan politis. Sejarah dihilangkan, gedung tua di bilangan Otista, Jakarta Timur itu semacam rongsokan yang enggan dipoles lagi. Lantas apa usaha orang film Indonesia menyelamatkan aset negara itu? Apa tugas Negara sudah dilaksanakan untuk berupaya menghidupkan PFN untuk kepentingan publik saat ini?

Production House swasta tidak dapat mensejahterakan crew nya, atau jangan-jangan memang bukan tugas PH untuk mensejahterakan pekerja? Itu dapat terbukti jika di lokasi shooting, crew film atau sinetron mengeluh tidak adanya fasilitas yang memadai bagi mereka.

Jadinya perusahaan film hanyalah memproduksi film dan mengekploitasi tenaga kerja manusia. Ruang eksibisi film Indonesia hampir selama 20 tahun berlaku tunggal. Kalaupun kini ada Blitz megapleks itu tidak pernah akan mewakili kepentingan apresiasi masyarakat penonton secara luas dikarenakan orientasi daripada keberadaannya dan lokasinya yang berada di mal-mal besar yang enggan diakses oleh masyarakat kebanyakan.

Bioskop 21 adalah bisnis eksibisi film yang dibangun di atas landasan politik dagang dari orang-orang di sekitar kekuasaan Orde Baru yang kolusif dan korup. Jaringan Bioskop 21 memiliki jasa besar pada hancurnya distribusi dan eksibisi film Indonesia yang diputar di bioskop-bioskop lokal.

Kebijakan penyiaran yang kapitalistik mengakibatkan perfilman nasional semakin luluh lantak karena tayangan audio visual kemudian menjadi sangat beragam namun hanya diposisikan dalam perspektif kapitalistik di layar televisi swasta.

Masyarakat penonton dihujani eksibisi film asing Hollywood lewat televisi. Iklan yang merajalela mengakibatkan konsumsi film lokal semakin surut bahkan hilang sama sekali di peredaran publik.

Undang-undang perfilman tidak pernah dijalankan oleh pemerintah secara konsekuen. Kehancuran perfilman nasional adalah bentuk kegagalan pemerintah yang tidak dapat melaksanakan amanat daripada undang-undang perfilman.

Pengkebirian hak dan kreatifitas pembuat film di masa Orde Baru telah mengakibatkan minimnya tema dan eksplorasi filmi dalam tema dan kekayaan cerita. Pada akhirnya film Indonesia tidak dapat bersaing dalam kualitas percaturan dan persaingan perfilman dunia.

Organisasi perfilman dibentuk untuk menyokong satu partai tertentu (Golkar) sebagai mesin politik yang mampu memobilisasi massa untuk kepentingan politik kekuasaan. Sekolah film hanya ada satu dan itupun awalnya adalah subsidi pemerintah daerah DKI Jakarta.

Adalah Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Fakultas Film dan Televisi (FFTV) yang kemudian melahirkan alumnus-alumnus ahli madya perfilman yang mengisi tenaga kerja di bidang perfilman. Namun tidak ada upaya pemerintah untuk membawa IKJ menjadi bagian dari kualitas sekolah film dunia. Minimnya fasilitas dan terbatasnya kurikulum, telah membawa sekolah ini sebagai sekolah tua yang bukan hanya tua gedungnya namun tertinggal dari pergaulan sekolah film internasional.

Organisasi karyawan televisi semacam KFT (Karyawan Film dan Televisi) tidak memberikan kontribusi besar yang seharusnya organisasi berikan kepada anggotanya. Kompleksitas permasalahan dalam perfilman Indonesia tersebut di atas hanyalah sebagian saja dari persoalan yang ada dalam realitas Indonesia.

Sekarang ini orang banyak nonton film, seperti film Ayat-ayat Cinta yang konon sudah menembus angka tiga juta lebih penonton. Film yang kemudian diapresiasikan secara tunggal, dibumbui dengan strategi promosi, pastinya orang bilang sebagai film yang bagus. Namun film yang bagus bukan hanya sekedar jatuh pada ruang apresiasi publik penonton yang awam, melainkan melalui kritik dimana kualitas sebuah film masuk dalam perdebatan-perdebatan estetik. Disinilah kemudian penilaian itu dapat berlaku menjadi seimbang.

Dari dulu penonton disuguhkan pada ruang yang tidak majemuk. Seperti diperkosa dalam ruang sinema untuk mengatakan film itu bagus. Anehnya, ada film yang ngawur kemudian dibilang bagus, tanpa apresiasi, tanpa kritik. Pokoknya bagus, karena penonton menyukai dan fanatik pada satu orang bintang filmnya. Padahal selama lebih dari tigapuluh tahun, penonton Indonesia diharu biru kualitas film Hollywood yang terdiri dari berbagai kelas kualitas dan genre. Kenapa kemudian ketika menghadapi apresiasi film Indonesia tidak seperti ketika mengapresiasi film Hollywood? Ya nggak apa-apa sih…sah-sah saja. Akan tetapi quo vadis masyarakat film indonesia yang majemuk itu? Mau ke mana?

Inilah wajah perfilman Indonesia, wajah yang sulit dan gamang

Selamat mengingat Usmar Ismail, yang konon dicatat sebagai pembuatan film dengan semangat nasionalis pertama di Indonesia. Lantas, apa betul di kepala setiap filmmaker Indonesia saat ini ada kata nasionalisme seperti semangat Bung Usmar dkk?

Lalu apa sebenarnya film Indonesia? Nasionalisme yang lintang pukang?