makam tanpa bunga

Uncategorized

makam tanpa bunga

doa doa, kafan, tanah basah, mendung

manusia pulang kepada Sang Khalik

adakah yang lebih kekal daripada Tuhan?

adakah yang mampu menambahkan sedetik saja jalan hidupnya?

semua di bumi tak berdaya

adalah mahluk, ciptaan yang dikaruniai batas

Iklan

Pemakaman

Uncategorized

Sirene mengalun, rombongan mobil dan sepeda motor serta metromini bergerak dari Jl. Bunga Rampai IX. Siang ini langit Jakarta terik. Ambulance dan pelayat menyelusuri jalanan menuju arah Pancoran.

Sebuah lubang telah tergali, di pemakaman Bidakara yang terletak di wilayah Tebet Jakarta Selatan. Ketika rombongan pelayat telah tiba, bergegas laki-laki usia dewasa membuka pintu ambulance. Keranda dikeluarkan, kami memikul tubuh yang terbujur, setiap langkah adalah doa bagi arwah yang jasadya kami pikul menuju peristirahatan yang terakhir.

Upacara pemakaman, langit mendung, seperti mendungnya perasaan kami yang hadir. Adzan dan Doa. Setiap orang diam dan merunduk, merenung pada diri masing-masing. Ketika jasad berkain kafan itu diturunkan ke dalam tanah, doa-doa mengiring. Di pemakaman ini, kematian adalah realitas, kebenaran yang absolut. Hidup adalah merangkai bekal, untuk hari akhir yang cepat atau lambat pasti tiba.

Tadi malam pukul 00:00, 30 maret 2007 dia berangkat. Meninggalkan kefanaan. Menuju Sang Khalik. Di rumah Sakit Jantung Harapan Kita.

Selamat jalan…

film indonesia

Uncategorized

Catatan sejarah film Indonesia menyatakan tanggal 30 maret sebagai hari film nasional. Menjelang dan pada tanggal itu, insan perfilman Indonesia merayakannya. Haji Usmar Ismail dinyatakan sebagai Bapak Perfilman Nasional. Sebab di tanggal tersebut Usmar dan kawan-kawannya melakukan shooting hari pertama untuk film mereka yang berjudul Darah dan Doa. Sebegitu bersejarahkah Usmar sehingga dalam sejarah perfilman Nasional dinobatkan menjadi Bapak Perfilman Nasional? Tentunya insan perfilman Indonesia tidak sembarang memilih Usmar sebagai sosok yang layak mendapatkan gelar itu.

Usmar adalah generasi yang terlibat dalam kancah revolusi 45, sebagai angkatan yang diyakini melahirkan Indonesia, begitu pula Usmar memiliki pemikiran-pemikiran tentang nasionalisme, tentang “bayi” yang ikut dilahirkannya, tentang Indonesia dan tentang memperjuangkan film sebagai media revolusi dan nasionalisme. Dari pernyataan film sebagai media budaya dan pengejawantahan Nasionalisme itulah maka Usmar layak dinobatkan sebagai Bapak perfilman Indonesia. Demikianlah cerita dosen saya dalam diktat kuliah Sejarah Film Indonesia. Selain Usmar, setelah masa revolusi, Sejarah film Indonesia tak lepas dari nama Djadug Djajakusuma, Djamaludin Malik, Asrul Sani, Misbach Yusabiran. Nama-nama lain yang terlibat dan kurang terkenal seperti Soemardjono di bidang editing film, Chalid Arifin dalam bidang tata artistik, Soetomo Gandasubrata dalam bidang kamera dan DA. Peransi dalam bidang kritik Film. Hampir mendekati generasi mereka, Mochtar Singodimedjo, Sjumandjaja, Ami Priyono, lantas Teguh Karya, Arifin C Noor kemudian memasuki generasi Slamet Rahardjo Djarot.

Sejarah film Indonesia seperti potongan-potongan cerita yang non linear. Ada berbagai peristiwa dan manusia yang tercatat tetapi tidak semuanya menjelaskan pandangan suatu jaman. Diskursus film Indonesia tidak terjadi secara dinamis. Garin Nugroho adalah nama tersendiri, sebuah loncatan sejarah yang hadir dalam krisis perfilman nasional. Angkatan i Sinema merupakan angkatan yang lahir dalam krisis yang lain, membawa dialog yang tak tuntas, sebab diskursus yang dibangun tidak tegas menunjukkan statemen suatu angkatan. Lalu setelah Orde Baru tumbang, film Indonesia menjadi hutan belantara cerita krisis yang takĀ  jelas konstruksinya. Inilah yang saya maksud tentang potongan-potongan cerita. Menyampaikan suatu kenyataan yang tak berhubungan tetapi sebenarnya memiliki keterkaitan sebagai cerita yang bersambung.

Menjelang hari film 30 maret ini, saya menulis kegelisahan tentang fakta sejarah yang selama ini dikonstruksikan oleh penentu sejarah film Indonesia. Saya lahir pada saat ketika Slamet Rahardjo telah membintangi berbagai film, sedagkan Teguh Karya telah membuat sekian film, lalu Sjumandjaja, Wim Umboh dan sutradara-sutradara film Indonesia seangkatan mereka tengah menghadapi suatu masa keemasan di jumlah produksi film. Kini sebagai generasi film yang terlahir dalam masa tak menentu dalam perfilman Indonesia ini, saya ingin mempertanyakan segala catatan yang dikonstruksikan (dalam bentuk sejarah) oleh angkatan-angkatan yang telah lalu.

Generasi film Indonesia yang terlahir akibat clash Belanda II, lantas generasi film yang lahir setelah konflik ideologis tahun 1965 memiliki pengaruh besar pada perfilman Indonesia dewasa ini. Saya membaca ada perubahan mendasar sebagai akibat polemik yang luar biasa dampaknya dalam fase tersebut. Adakah jawaban yang bijak dari pertanyaan saya: Apakah sejarah film Indonesia dibuat hanya untuk memenuhi libido kontrol politik sejak Orde Baru berdiri sebagai kekuasaan tiran yang berdiri selama 32 tahun? Ataukah sejarah film Indonesia memang lahir secara alamiah dan merupakan konsekuensi diskursus yang terbangun secara sehat pada konteks permasalahan pada masanya?

Jawaban tersebut barangkali dapat memberikan gambaran bagi generasi kini dan masa datang, sebuah pertanggungjawaban sejarah tentunya. Sebab sebuah peradaban ditunjang oleh pernyataan yang ada dalam sejarah itu sendiri. Sebab masa depan suatu generasi dapat menjadi runutan dari sejarah generasi sebelumnya. Saya menemukan banyak kejanggalan dalam sejarah film Indonesia.

Sebagai catatan dan pernyataan banyak sekali nama-nama yang ditinggalkan. Mereka yang kalah dalam pertikaian atau polemik pemikiran kebudayaan, sebagai contoh pertikaian antara Lekra dan Manikebu. Mati kesepian dan sendiri, membawa luka sejarah. Mungkin itulah yang dirasakan oleh orang-orang seperti Bachtiar Siagian, Bachtiar Efendi…nama-nama yang saya ingat.

Menjelang hari film Nasional ini, semoga bukan perayaan belaka, seremonial untuk mengenang kejayaan semata, melainkan memahami akar permasalahan yang tengah kita hadapi sebagai bangsa, sebagai generasi yang ingin menjadikan film Indonesia tumbuh dan berkembang menjadi bagian dari catatan sejarah film dunia. Masihkah menjadi penting menjadi bagian dari sejarah film dunia? Bagi saya jawabannya sudah jelas, film dengan nama film Indonesia tentunya lahir bersamaan dengan lahirnya republik ini, lahirnya pemikrian-pemikiran yang menjadi landasan berdirinya republik ini, jadi bukan sekedar catatan romantika tentang seorang tokoh yang ditokohkan. Bukan hanya pembelaan dari satu kelompok yang memenangkan pertarungan dari sebuah polemik kebudayaan. Bukankah seorang Usmar Ismail mengedepankan nasionalisme sebagai pemikiran film juga merupakan hasil dari pergulatan bersama dalam melahirkan Republik? Bersama Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Syahrir, Amir Syarifudin, Ali Sastroamidjoyo, Aidit dan masih banyak lagi? Jangan-jangan…Bapak Perfilman
adalah suatu mitos, suatu konstruksi yang tahayul. Sebab membesarkan sebuah nama dan menamakan suatu kebesaran adalah pemurtadan terhadap sejarah itu sendiri. Barangkali Usmar Ismail juga tidak ingin dirinya dimitoskan, dia lahir sebagai anak revolusi bersama kawan-kawannya seperjuangan, dia mencoba mengisi kemerdekaan dengan melahirkan film sebagai bagian dari bentuk peradaban manusia Indonesia pasca revolusi, sebagai bagian dari jati diri kebudayaan Indonesia. Pemikiran ini tentunya bukan hanya milik Usmar, tetapi milik dan hasil dari suatu generasi, milik bersama.

Selamat merayakan hari film Usmar Ismail 30 maret 2007.

Borneo, Raksasa yang sekarat

Uncategorized

Kemarin saya melakukan perjalanan ke Borneo untuk urusan pembuatan film kampanye bersama salah satu NGO yang bergerak untuk penyelamatan hutan degan ketentuan pengelolaan hutan bersertifikat dan produk kayu olahan yang berlebel.

Saya berkunjung ke Kalimantan. Tepatnya di Bengalun, berada di Kota Kabupaten Malinau, 4 jam perjalanan Boat dari Tarakan Kalimantan Timur. Saya mendatangi sebuah tempat dimana sebuah perusahaan HPH beroperasi. Di Bengalun, saya bersama team memasuki wilayah desa tempat komunitas suku Dayak Brusu dan Tidung tinggal. Perjalanan seharian dengan mobil double kabin. Saya lebih suka di luar, bisa ngobrol dengan pekerja di perusahaan HPH, Mendengarkan cerita-cerita mereka tentang hutan di masa awal penebangan. Malinau rapat dengan pohon-pohon besar, binatang yang aneka macam. Suku Dayak yang masih menganggap pendatang serasa asing. Itu ketika awal kedatangan di tahun-tahun pertengahan 70an.

Saat saya berkunjung ke Malinau, di hutan kawasan Bengalun, saya mendapati pohon-pohon remaja, tidak ada orang hutan di sini. Seperti apa yang saya bayangkan ketika hendak berangkat, bertemu Orang utan di habitatnya?

Senja itu, saya menemui elang bertengger di dahan yang lapuk. Seperti gelisah mencari makan. Lapar dia. Lama termangu di dahan kering itu. Lalu terbanglah dia, mengepakkan sayapnya, terasa malas untuk hidup, menghadapai hutannya yang telah hilang. Tak ada lagi pohon-pohon besar tempat bersarang. Hutan lindungpun tak luput dari pencurian.

Burung ENggang yang mengepakkan sayap perkasanya menyeberang dari pohon satu ke pohon lain. Perkasanya dia. Terbangnya mantap, Tapi Enggang itu nampak murung.Seperti elang yang pergi ke negeri senja.

Borneo nama pulau besar itu. Di kala senja kudapati serangga hutan menyambut datangnya malam, derai daun dan bisik pohon-pohon membentuk siluet yang kelam. Di Barak tempat saya menginap, saya menyadari tengah berada di tubuh Raksasa yang tengah sekarat. Boreneo seperti Samson yang digunduli bulu keteknya oleh Delila.

polisi tidur

Uncategorized

Pernahkah merasakan di siang yang terik, macet di jalanan Jakarta yang pengab, mencari jalan alternatif, keluar masuk kampung, eeeeh…tiba-tiba knalpot kebentur gundukan dari pasir, semen dan batu? Knalpot langsung bocor, karena ada komponen yang bocor. Bunyi motor jadi menderu membuat telinga nggak nyaman. Kejadian itu bisa terjadi karena gundukan polisi tidur berpangkat sirtumen (Pasir batu dan semen).

Di kota Jakarta, yang pembangunannya begitu pesat, sangat mudah dijumpai Polisi tidur. Ukuran dan bentuknya bermacam-macam. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, Polisi tidur tidak memiliki standar bentuk dan komposisi. Walaupun bahan bakunya sama, tetapi sering kita jumpai tinggi yang berbeda. Ada yang tingginya sampai mentok di body mobil, ada yang hanya setinggi 2 atau 3 sentimeter saja.

Menurut beberapa orang yang saya tanya, Polisi tidur dibuat untuk menghambat laju pengendara kendaraan bermotor supaya tidak ngebut di kampung. Larangan tertulis, “Jangan Ngebut” atau “Ngebut Benjut, Banter klenger” seringkali tidak mempan. Maklum, mentalitas pengendara motor seringkali membuat penghuni sebuah pemukiman menjadi gusar dan bikin naik pitam. Tetapi memang sangat efektif keberadaan Polisi Tidur di perkampungan atau perumahan. Bahkan jika melewati Pondok Indah, pemukiman elit yang berada di Jakarta Selatan pun, Polisi Tidur selalu akrab di jalanannya.

Polisi tidur menjadi semacam budaya, karena setiap kampung, orang selalu menyediakan anggaran, waktu dan tenaga untuk membangun Polisi Tidur. Pertumbuhan pembangunan Jakarta yang pesat oleh pusat pertokoan dan real estate serta pusat perbelanjaan entah dimana hubungannya selalu bersamaan dengan pesatnya pembangunan Polisi Tidur untuk menekan angka kecelakaan di kampung-kampung dan komopleks perumahan akibat tindakan kebut-kebutan pembalap kelas teri.

Setelah saya renungkan, selain bagian dari budaya, Polisi Tidur menjadi representasi dari mentalityas masyarakat kita. TErjadi luapan ketidak percayaan terhadap sesama manusia, terhadap sesama warga negara akibat ketidak nyamanan yang pada permasalahan paling terkecil diakibatkan oleh pengendara motor atau mobil yang tidak bisa menyesuaikan kecepatan dengan medan jalanan yang dilalui.

Dengan Polisi tidur, orang-orang merasa nyaman, bisa tidur nyenyak atau tak perlu bersumpah serapah gara-gara ada orang ngebut pake motor di depan rumahnya. Polisi Tidur bagi saya pada akhirnya menarik untuk dikaji, ditelaah, direnungi. MEnjadi refleksi bagi saya. JIka suatu saat nanti punya rumah, saya nggak ingin ada polisi tidur di depan rumah saya. Sebab Polisi Tidur ternyata ujung-ujungnya, selain representasi dari ketidakpercayaan terhadap sesama, kebebalan, juga mewakili sifat dasar manusia yang takut. Ketakutan itu kemudian merebak menjadi ketidaknyamanan, menjadi tidak komunikatif. Menyelesaikan masalah dengan jalan pintas. Bikin Polisi Tidur, sedangkan permasalahan yang akan timbul dari Polisi Tidur akan lebih besar yaitu kerusakan motor. BUkankah Motor Bagai Manusia? menurut sebuah iklan.

INDONESIA

Uncategorized

Satu Nusa

Satu Bangsa

Satu Bahasa

Tri Koro Darmo, Budi Utomo lalu Sumpah Pemuda.

Tahun 1928 dikonstruksikan sebagai sejarah kebangkitan semangat kebangsaan. Konon di sebuah gedung asrama mahasiswa Stovia, sejarah lahir. Dr. Soetomo dan teman-temannya mempelopori gerakan bumi putera. Suatu gerakan yang bertujuan menyatukan kembali rumpun bangsa yang selama ini terpecah belah oleh kepentingan Belanda penjaja. Sebagai gambaran, gedung tua itu, kini tenggelam oleh meriahnya pembangunan Jakarta. Tak terlihat kemegahan sejarah yang lahir dari tempat itu. Orang datang ke Jakarta lebih tertarik dengan gedung-gedung tinggi pencakar langit, rumah kaca yang megah. Malah lebih parah lagi, gedung tua itu kini sungguh tak menarik, setiap hari diliputi kemacetan dan pedagang kaki lima, tukang cat mobil dan penjual gado-gado.

Dari sejak sekolah menengah, aku selalu bertanya, apa memang ada gerakan nasionalisme bumi putera yang lahir pada masa itu? Ataukan sejarah yang tercatat di buku pelajaranku ini hanya kleim atau sekedar memenuhi kebutuhan buku pelajaran belaka? Bahwasanya manusia memerlukan superhero atau pahlawan yang dapat menjadi suri tauladan anak-anak sekolahan?

Pertanyaan itu menggelitik pikiranku sejak aku mulai mempertanyakan kebenaran sejarah bangsaku.

KEBUDAYAAN

Ada yang berpendapat kebudayaan sebagai himpunan kebudayaan daerah. Pada 1928, ketika Jong Java, Jong Betawi, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Sumatra, Jong Maluku, Jong Borneo dan Jong-Jong yang lain berkumpul disepakati Nusa, Bangsa dan Bahasa yang satu. Artinya suku-suku melebur jadi satu dalam kesatuan Indonesia. WR. Supratman sang pemusik yang piawai memainkan biola menyumbangkan sebuah lagu yang hingga kini kemudian menjadi lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Saat ini, Indonesia diliputi kekacaaun dan kekerasan. Golongan golongan muncul sebagai bentuk dari kesukuan. Di setiap daerah muncul ormas-ormas lokal yang mengangkat nilai kesukuan yang kuat. Di Jakarta terkenal ormas FBR (Forum Betawi Rempug). Kegiatan mereka sering terlihat di jalanan atau mendirikan pos-pos di sudut-sudut jalur hijau kota kosmopolitan ini. Biasanya mereka punya acara sendiri yang terorganisir oleh pengurus kelompoknya. Keliling jalanan Jakarta konvoi motor dan dakwah serta pengajian di kalangan mereka.

Aku sering berpikir dan bertanya: Apa sih Indonesia sesungguhnya? Apakah kumpulan penduduk pulau-pulau yang berkumpul dan bersepakat? Ataukah kumpulan kesenian tarian, lagu, drama dan senirupa yang digabung jadi satu? Atau tempe goreng yang merindukan?

Selalu aku berpikir jika Indonesia adalah peleburan dari kebudayaan lokal, menjadi kebudayaan nasional. Jadi jika bicara Indonesia, gak ada lagi Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, Papua, Maluku… Yang ada adalah hari ini dan seterusnya manusia Indonesia hidup di alam kemerdekaan. Sulit menemukan Indonesia pada praktek berbangsa dan bernegara saat ini…

Rumah Sakit

Uncategorized

Sendirian di rumah sakit adalah kesepian yang menggetarkan. Rasanya aku jadi sakit juga. Takut sepi. Tapi ada cerita masa lalu yang membuatku trauma. Dulu sewaktu aku masih sekolah SMSR di Jogja. Ketika suatu siang di saat pelajaran, kakakku yang pertama mendatangiku untuk mengajak pulang ke Semarang. Ayah sakit keras. Aku bersamanya pulang ke Semarang, menumpang bus. Setiba di rumah, Ayah nampak semakin kurus saja. Tanggal 16 April 1994, sehari sebelum hari ulang tahunku ke 16 tahun. Malamnya kami bawa Ayah di Rumah Sakit. Malam itu sungguh gelisah. Sedih, bingung dan tak berdaya. Tak ada uang untuk pengobatan, tak ada yang cukup berharga untuk di jual untuk biaya pengobatan. Ayahku terbaring saja, naik taxipun kami harus berhutang pada tetangga. Keluarga kami benar-benar tak berdaya. Miskin sekali waktu itu!

Malam itu Ayah masuk ruang periksa, seperti adegan-adegan film, lazimnya pasien masuk Rumah Sakit, aktivitas dokter langsung memeriksa penyakit apa gerangan yang ngendon di tubuh pasiennya. Pake alat itu…aku lupa namnya, yang sering di pakai dokter untuk ditempelkan ke dada pasien. Dokter geleng-geleng kepala, Ayahku tenang-tenang saja. Tapi aku melihat wajah cekung yang pucat, cuma bisa melihat keberadaan kami dengan kuyu. Dokter dengan jari pukul-pukul perut Ayah. Sekali lagi dokter geleng-geleng kepala. Dengan berat Dokter berbisik, sudah terlambat. Berdasarkan keterangan kakakku yang sempat ngobrol dengan Dokter di ruang rahasia, Ayahku mengalami komplikasi. Amat sulit. Liver dan ginjal serta sakit kuning. Ayahku pendukung PDI yang setia, kok terkena sakit kuning? Kuning kan Golkar? sungguh tidak cocok! Ah…intermezo.

Begitulah, ayah masuk Rumah Sakit, Ibuku dengan setia menunggu, membawakan bantal guling berisi kapuk dari rumah. Aku tak berani mendekati Ayahku, tak tega dengan penderitaan. Aku sempat datang dan berdiri di samping Ayah, nampak Ayah berdoa dan berdoa. Malam itu aku dan Kakakku pulang ke Jogja, besoknya aku harus sekolah. Sial memang. Di Magelang busa tak berlanjut ke Jogja, kami harus bermalam sampai subuh di Kota getuk itu, baru kemudian naik colt L300 ke Jogja. Lelah dan capek, seharian kena sial terus. Aku naik sepeda balapku yang warna merah, menabrak motor. Parkir di Ngupasan, kartunya sobek, harus ngurus ke RT, RW ampe Lurah kalau aku memang penduduk Sonosewu, sebagai syarat mengeluarkan sepeda…

Waktu berjalan cepat. Malam itu aku kelelahan tetapi perasaan tak menentu. Dalam galau aku tertidur. Tengah malam, seorang saudaraku dari Semarang datang. Mengetuk pintu dan dari balik kaca nako, aku mendengar kabar. Ayah meninggal dunia. Hancur luluh lantak perasaanku. Membuka kunci rumah kontrakan untuk masuk saudarakupun aku tak mampu. Menangis, menangis keras. Menggugat Tuhan. Kenapa mengambil Ayahku pada saat kemiskinan menyelimuti kehidupan kami! Yesus!!! Yesuuus!!! Kenapa Engkau ambil Ayahku pada saat miskin! Begitu teriakku waktu itu.

Nampaknya Rumah Sakit adalah rumah terakhir Ayahku. Menurut cerita ibuku, Ayah meninggal dengan tenang. Meninggalkan kami dalam kesendirian. Sepertinya ayah mau pergi sendiri saja. Tak mau meninggalkan kesedihan kepada kami, kepada Ibuku sekalipun. Sebab Ayah berpulang pada saat Ibuku pulang sebentar ke rumah mengambilkan pakaian ganti. Masih menurut cerita Ibuku, pada saat-saat terakhir itu, Ayahku sempat mengatakan, telah melihat Yesus, sang pembebas. Ayah sudah siap, kalaupun ajal menjemput Ayah sudah bersama Yesus. Alangkah bahagianya Ayahku. Dia melihat Yesus. IsA aL Masih yang dihadirkan Allah bagi keselamatan seluruh Umat Manusia. Mesiah, Almasih yang datang membawa kabar sukacita Juru Slamat yang mengabarkan kasih.

Tapi ketika itu aku merasa gagal dan tak berdaya. Belum sempat memberikan sesuatu yang dibanggakan buat Ayah. Makanya saat itu aku menggugat Tuhan.

Selalu aku kesepian jika di rumah sakit. Merasa ada masa lalu yang datang lagi. Ketidak berdayaan dan sepi. Kegagalan dan Kemiskinan. Apalagi sendirian. Waduh…

Tadi malam aku antar Ilun, pacarku ke rumah sakit jantung Harapan Kita. Ayahnya Kritis, jantungnya lemah, ginjalnya tak berfungsi dengan baik. Dokter menyatakan harus dilakukan cuci darah. Aku tak bisa ikut Ilun ke Kamar Ayahnya. Aku merasakan kesepian yang amat sangat! Kesepian yang menggetarkan. Aku berdoa bagi keselamatan dan kesembuhan dan kesehatan Ayahnya Ilun. Selang beberapa waktu ada kabar baik, Ayah Ilun kembali normal. Alhamdulillah. Di sampingku beberapa kawan yang kujemput untuk menemaniku;Puput, Risang dan Ade.

Rumah Sakit, masa lalu dan kesepian bagiku.