10 Mei 2007

roim-263.jpg esek esek uduk uduk

esek esek uduk uduk

10 Mei 2007

pertama saya sampaikan salam dan hormat saya kepada Kelompok Pengamen Jalanan (KPJ), Kang Antok Baret, Iwan Fals dan kawa-kawannya yang menyampaikan lagu ini dengan sangat apik, menyentuh dan membuat saya tak dapat berkata lagi selain mengatakan ini satu karya terbaik, tentunya diciptakan sebagai ucapan syukur atas nikmat cptaan Tuhan dan kepriatinan mendalam atas semakin rapuhnya bumi manusia…

 Setahu saya, lagu ini mulai akrab di telinga saya saat saya masih usia Sekolah Dasar di Semarang. Dulu ada radio yang setiap malam menyiarkan pogram lagu Iwan Fals. Program Iwan Fals Mania itu begitu berpengaruh pada masa kecil saya, sehingga saya bisa mengenal lagu-lagu Iwan dan kawan-kawannya, salah satunya brjudul “Esek-esek Uduk-uduk”.

Kini ketika saya menggeluti dokumenter, dan mengalami perjalanan ke berbagai tempat di Indonesia, lagu ini begitu berarti menemani perjalanan saya. Tema lingkungan yang lekat di lagu ini menyadarkan saya akan pentingnya menjaga lingkungan hidup dari kemusnahan. Satu bait yang saya selalu nyanyikan dalam perjalanan adalah “…wahai kawan hai kawan masih banyak waktu untuk kita berbuat…buanglah mimpi-mimpi…”

Lagu ini membuat saya menangis, prihatin dan sedih. Lantas dalam ketidakberdayaan, saya berdoa untuk bisa berbuat sesuatu bagi penyelamatan lingkungan, bagi perdamaian dan bagi kemanusiaan. Sebab, mendengarkan lagu ini mengingatkan saya pada Borneo, Atjeh, Sumatra, Halmahera, Sulawesi, Jakarta, dimana persoalan lingkungan hidup dan manusia mencuat ke permukaan sebagai akibat dari penggundulan hutan yang membabi buta, polusi industri dan konflik politik yang mengorbankan kemanusiaan.

Esek-esek Uduk-uduk, syairnya sederhana, tetapi pada saat saya hadir di Borneo, merekam hutan yang gundul, saya hadir di Atjeh merekam tenda-tenda berbahan imitasi, saya hadir di jalanan Jakarta, Bajaj dan bus kota berlomba mengumbar polusi karbondioksida, delta sampah Muara Angke dan permasalahan limbah yang tak tertangani dengan baik, saya hadir di Taman laut yang rusak, pemakaman massal korban konflik di Halmahera…saya menyadari ada permasaahan besar ummat manusia. Pada kenyataannya konflik politik dan kepentingan kapitalisme teah menghancurkan perasaan manusia.

Seperti esek-esek uduk-udk, yang saya tak tahu artinya apa, kosakata yang asing, bisa jadi judul itu merupakan persembunyian makna, bisa saja kefrustasian yang tak tuntas, bisa saja cerita lirih penuh simbol, bisa saja cuma sekedar judul, tetapi iramanya harmonis, syairnya penuh makna…

Semua adalah pertanyaan, karena masih ada waktu untuk kita berbuat, luka di bumi ini milik bersama…masih ada waktu menjawab, membuang mimpi dan janji. Membuang bualan-bualan birokrasi dan omong kosong yang selama ini memenuhi relung telinga saya yang hadir lewat televisi, yang hadir lewat radio dan koran, lewat plastik-plastik bungkus deterjen dan mie instan, lewat papan-papan reklame raksasa di pinggiran jalan Jakarta…esek-esek uduk-uduk….

Lhok Bubon

3 Mei 2007

Saya dan kawan-kawan berangkat ke Melaboh, ada acara yang akan saya ikuti selama sebelas hari. Terhitungdari 21 April hingga 3 mei 2007. Dengan penerbangan Garuda, pagi itu kami ke Medan. Lantas bertolak ke Melaboh dengan penerbangan Riau Air. Tiba di Bandara kami dijemput kawan-kawan dari YPK Melaboh. Saat menginjakkan kaki ke landasan pesawat udara itu, kembali teringat perjalanan menyelusuri Bnda Atjeh, Pantai Barat, hingga Melaboh. Singgah di Lamno adalah singgah di surga yang hilang. Ketawa ketiwi setiap hari…

Melaboh tidak banyak berubah, Bandaranya hanya ada satu toilet, di luar ada toilet kembar yang joroknya minta ampun. Ini seperti sambutan tanpa upacara. Pemandangan ini seperti hendak mengatakan, proses Rehabilitasi dan Rekonstruksi Atjeh yang memakan biaya besar besaran ternyata melupakan kamar fasilitas buang air di pintu kedatangan. Lantas saya berpikir, orang-orang yang terbiasa hidup nyaman, dari berbagai belahan dunia datang ke Melaboh, mungkin mereka pada saat sampai di Bandara punya pengalaman sama. Enggan buang hajat, wah bisa mengganggu program selanjutnya dong hahahhahahahahaha

Sampai di Melaboh, suasana tidak seperti tahun lalu, toko-toko sudah buka, dengan berbagai barang dagangan. Tetapi seperti tahun lalu, pemandangan plastik warna warni selalu menarik perhatian saya untuk berkunjung ke pasar tradisional. Plastik menjadi barang pilihan, selain murah juga praktis, walaupun sampahnya tidak akan terurai sampai kapanpun. Bukannya nggak bisa, tapi susah terurai. Ada toko-toko yang menjual makanan kemasan plastik seperti Taro atau Cheetos, harga yang murah, kemasan seribuan tetapi kalau dilihat tanggal kadaluarsanya, saya menjadi terbelalak, karena ada ancaman yang lebih serius dari Tsunami, yaitu keracunan makanan kadaluarsa. Ada Toko yang jual makanan kadaluarsa, kalau ada satu toko berarti distribusinya juga ada di beberapa toko. Saya sempat menegor pemilik Toko yang seperti nggak terima saat saya tegor untuk menarik produk kadaluarsa itu. Akhirnya saya pakai sikap represif, saya ancam melaporkan ke aparat yang ngurus bidang makanan dan kesehatan. Saya sempatkan mengirim SMS ke kawan dari Unicef, walaupun tidak ada tanggapan berarti. Yang penting saya sudah mbacot, minta agar makanan itu ditarik oleh si empunya toko. Bukannya ngurusin urusan orang, tetapi saya tidak rela jika ada anak-anak yang keracunan karena makanan akibat tindakan mencari untung yang tidak pakai aturan moral dan dagang yang bener.

Di Melaboh tiga hari, berkumpul dengan berbagai komunitas yang datang untuk mengikuti workshop. Hana masalah kalau orang Atjeh bilang, Tidak ada masalah untuk melakukan interaksi dengan berbagai komunitas itu. Saya bisa ngobrol panjang lebar dengan kawan-kawan yang bergerak di berbagai bidang, mengisi program-program untuk mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi Atjeh.Dari yang bergerak di wilayah lingkungan, hingga yang menerapkan program ekonomi mikro. Saya merasa beruntung bisa sedikit banyak tahu tentang perkembangan Atjeh dari mereka.

Senang bisa melihat kawan-kawan memegang kamera dan merekam gambar. Ada yang sudah bisa tetapi itupun hanya beberapa orang. Yang lainnya baru kali pertama memegang kamera. Ada yang menarik perhatian saya, Bang Cot Ali dan Pak Nasarudin. Dua orang yang pertama pada awalnya adalah nelayan, yang ke dua adalah petani, yang tadinya alat produksinya terbiasa dengan jaring ikan dan cangkul, kini memegang kamera dan merekam banyak hal. Ada juga peserta dari Rimba, Pangendum dan Laman. Mereka hidup di belantara rimba Jambi. Setiap hari lihat hutan. Kini telah mengenal kamera. Canda dan pantun-pantun mereka mengingatkan saya pada kekayaan lokal Nusantara yang selalu menarik perhatian saya.

Di kelas workshop, para peserta lebih banyak pasiv, tetapi di warung kopi, ide-ide bertebaran dan berseliweran keluar dari mulut mereka. Tentunya warung kopi memang sangat berpengaruh bagi kawan-kawan asal Atjeh. Di warung kopilah segalanya ada, termasuk pelipur lara dari sekian banyak waktu yang dihabiskan dalam teror dan konflik bersenjata.

Lhok Bubon adalah tempat selanjutnya, setelah tiga hari mengikuti kelas yang membahas persoalan teknis, kami berpindah ke desa Lhok Bubon, empat puluh lima menit perjalanan dengan motor yang berjalan santai. Terletak di Kecamatan Samatiga. Pertama tiba di Lhok Bubon, pemandangan yang khas adalah meunasah (masjid) yang memiliki sejarah panjang. Menurut kawan-kawan yang berasal dari Lhok Bubon, masjid itu dulunya tempat Teuku Umar singgah di pagi hari, sebelum tertembak di Meulaboh. Atjeh Barat sarat dengan cerita perjuangan Teuku Umar melawan Penjajah Belanda. Cerita rakyat begitu antusias dan beragam tentang tokoh yang membuat Belanda menghabiskan banyak dana dalam peperangan panjang itu.

Lhok Bubon terletak di pinggir pantai, dulunya di sini permai dan lestari, ikan dan padi bersanding dalam kesejahteraan. Walaupun Atjeh dirundung konflik berkepanjangan dan masyarakat ditekan teror dan horor, Lhok Bubon selalu berkecukupan. Ikan ada, nasi ada, kelapa, warung kopi…Ibu-ibupun menghiasi hari-harinya dengan menyulam kain dengan benang emas. Sungguh, saya bisa membayangkan Lhok Bubon yang indah permai. Kini semua musnah, Tsunami lebih daripada konflik bersenjata, merubah bukan hanya wajah Lhok Bubon, tetapi wajah Atjeh terutama yang berada di pesisir.

Tak terasa waktu terus bergulir. Sebelas hari adalah waktu yang singkat. Hari-hari kami di sana sungguh sperti pramuka yang berkemah lama di sebuah tempat terpencil. Air bersih sulit didapat, jika malam tiba, nyamuk datang seperti ribuan batalyon serbu yang ganas. Sampai sampai kelambu harus dikirim dari Melaboh. Itupun belum tentu menjamin bisa tidur nyenyak. Kami tidur di balai desa, nyamuk Lhok Bubon adalah”tentara yang gagah berani”. Tanpa menyerah mereka bisa mengepung kelambu dan menyusup dari lubang-lubang kecil. Tak takut mati mereka. Saya pernah berseloroh, saya bilang tengah malam itu, kepada nyamuk yang jumlahnya jutaan itu. “Eh, masak kalian nggak ingat perjanjian Helsinsky. Ah nyamuk, sekali lagi tetap nyamuk. Tak pandang Atjeh sudah damai, nyamuk tetap saja cari darah, bukankah itu makanannya, kamipun jadi sasaran.

Tetapi semua tantangan itu menjadi terobati, ketika kelompok-kelompok workshop Video Komunitas telah merampungkan film 7 menitnya. Penduduk dan aparat desa serta adat kami undang untuk menonton. Anak-anak pun tak ketinggalan. Lelaki dan Perempuan berbaur di sore yang panas itu, karena semua pintu harus tertutup dan jendela pun mesti ditutup dengan terpal. Supaya projeksi LCD Projector dapat dilihat dengan baik. Tema kayu, Sulam Emas dan Abrasi diputas. Penduduk yang melihat film itu seperti bercermin, ada senyum dan ada tawa, yang ibu-ibu tertawa ketika melihat ada wajah tetangga yang ada di film. Anak-anak berbisik-bisik ketika melihat gambar desanya. Pak Keucikpun tertawa lebar manakala melihat kelucuan yang ada di film-film itu. Hanya Pak Mukijo, berpangkat Kapten dengan baju dinas TNI nya yang selalu berwajah tegang, hisap roko terus menerus ketika menyaksikan video tentang pemakaina kayu untuk kebutuhan kapal dan almari. Tanpa senyum wajahnya nggak asyik.Dasar tentara….

Kini saya kembali ke peradaban Jakarta lagi. Saat keluar dari pintu Bandara Soekarno Hatta, penyedia jasa transportasi berebut menawarkan taxi dan seperti memojokkan saya dan beberapa kawan rombongan. Lelah yang ada di badan ini menjadi semakin lelah manakala harus menolak satu persatu dari mereka.

Lhok Bubon desa yang permai. Ada bakar ikan ada mie lobster. Wajah-wajah mereka muncul satu-satu. Mengajak saya untuk bercengrama sambil bakar ikan lagi. Semoga apa yang saya lakukan dalam sebelas hari kemarin dapat berbuah baik bagi Lhok Bubon dan warganya. Salam dan doa dari Jakarta.