“Mas, bagaimana ya menggambarkan suasana Ubud tahun 60 an, saat Om Aristides Katoppo pertama kalinya ke Ubud?” Pertanyaan tersebut terlontar dari Soe, seorang remaja peserta workshop.

 Gambar

Hari itu kawan-kawan kedatangan Bung Aristides Katoppo, wartawan senior dan tokoh pers Indonesia yang hadir di kelas workshop dokumenter di Campuhan College, Ubud, Bali. Bung Tides menceritakan pengalamannya saat di tahun 60 an datang ke Ubud dan terkesan dengan pemandangan alam yang asri dan indah seperti kisah Surga. Sepanjang mata memandang sawah yang membentang. Manusia, desa dan alam bersanding harmoni.

 

“Kawan-kawan punya ide apa?” Tanya saya kemudian

 

“Ambil dari Youtube ada nggak ya?” Jawab Soe

 

“Kalau dari Youtube, resolusinya kecil, ntar kualitasnya jadi kurang bagus?” Jawab saya mencoba mengajak berdiskusi kawan-kawan muda di kelas kami.

 

“Kalau foto-foto dari google?” Tanya Soe lagi

 

“Coba saja, tapi kualitasnya bagus gak? Kalau di sekitar sini nggak ada ya tetangga atau saudara yang punya bahan itu?” Tanya saya

 

“Resolusinya kecil, mas. Wah nggak ada mas. Paling gampang di Youtube?” Jawab Soe.

 

“Kalian punya kakek atau paman yang pelukis tradisional, atau paling tidak lukisannya aja ada yang punya?” Tanya saya

 

“Wah, pelukis Ubud yang melukis tradisional udah nggak ada kayaknya, mas?” Soe nampak sedikit gusar.

 

“Di Galeri aja cari lukisan Ubud, mungkin kalian bisa menemukan lukisan Nyoman Lempad. Atau di Pasar, itu kan masih ada toko souvenir memajang lukisan Ubud?” Saya mencoba memancing semangat eksplorasi kawan-kawan.

 

“Takut, mas…lagipula masuk galeri mbayar limapuluh ribu” Jawab beberapa kawan Soe hampir bersamaan.

 

Dialog di atas terjadi saat kami sedang menikmati santainya jedah makan siang. Kawan-kawan itu adalah peserta workshop dokumenter yang diselenggarakan oleh festival Screen Below The Wind yang berlangsung dari tanggal 16-18 November 2012 di Campuhan College, Ubud, Bali, Indonesia.

 Gambar

Di dalam workshop pembuatan film dokumenter ini, kami sepakat membagi kelompok melalui undian menjadi dua kelompok. Kelompok 1 terdiri dari 5 peserta; Ririn sebagai sutradara, Budi sebagai kameramen, Desi sebagai produser, Chixs sebagai editor dan Ngurah sebagai Penulis scenario. Mereka menamakan kelompoknya Sumping Sela Production, nama ini diambil dari makanan kesukaan Budi (Salah satu anggota kelompok). Sumping Sela adalah makanan tradisional Bali yang terbuat dari Sela atau Ubi.

 

Sedangkan kelompok 2 terdiri dari 5 peserta; Soe sebagai sutradara, Restu sebagai kameramen, Bintang sebagai penulis, Mulya sebagai editor dan Yogi sebagai produser. Mereka memberi nama kelompok ini dengan sebutan “Pasrah Production” yang artinya Pasukan Pantang Menyerah.

 

Masing-masing kelompok mendiskusikan cerita yang hendak mereka produksi. Kelompok 1 bersepakat memilih cerita tentang siswa Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) di Gianyar. Lokasi SDLB dapat ditempuh selama 20 menit menggunakan sepeda motor dari Campuhan. Kelompok 2 memilih cerita tentang perubahan sawah di Ubud yang telah menjadi tembok villa, hotel, restaurant dan café.

 

 

Sebagian kawan-kawan itu adalah siswa Campuhan College, sebagian lagi adalah siswa dari SMK di sekitar Ubud. Mereka telah mendapatkan pengetahuan dan praktek dasar computer, termasuk menggunakan kamera video maupun SLR dan alat editing video. Dialog seperti ini menjadi ruang interaksi antar peserta yang sebelumnya belum pernah saling mengenal.

 

Dialog terakhir yang saya catat tadi membuat saya terkejut dan menyadari sesuatu yang tengah terjadi di Ubud dan sekitarnya. Saya tidak menyangka akan menemukan kata takut, segan, sungkan atau sejenisnya dari para peserta workshop ini. Bagi saya pribadi kata segan atau takut masuk galeri dan museum hanya karena angka limapuluh ribu itu adalah keadaan yang berbahaya. Seperti menemukan tembok tebal nan tinggi yang menyekat ruang pembelajaran.

 

“Ini kamera, ibarat pusaka. Nah pusaka ini memiliki pamor Samsung. Ini pusaka sakti di jaman digital. Kawan-kawan dapat memanggil Mario Blanco pewaris museum Antonio Blanco datang ke Campuhan College untuk kalian wawancara seputar sejarah Pak Blanco. Dengan pusaka Samsung ini, kawan-kawan bisa masuk galeri gratis hanya dengan menyebutkan maksud kawan-kawan untuk belajar dan merekam wawancara dengan pemilik galerinya.” Saya mencoba memompakan semangat kepada kawan-kawan baru saya yang masih usia SMA itu untuk tidak menyerah pada angka 50.000!

 

Ternyata motivasi itu berhasil. Sore harinya, kawan-kawan kembali ke ruang kelas dan mempresentasikan hasil riset dan rekaman dari lapangan. Kawan kawan dengan bangga bercerita bisa masuk galeri dan museum tanpa bayar.

 

 

Dengan Pusaka Samsung EX200 itu dan mantra “Belajar” itu mereka dipersilahkan masuk museum dan galeri dan diperbolehkan merekam beberapa lukisan tradisional Bali yang sebelumnya hanya mereka dengar dan mereka baca dari guru-guru mereka di pelajaran seni rupa di sekolah.

 

Kelompok 1 mempresentasikan tentang pengalaman selama berada di SDLB dan berinteraksi dengan murid-murid SDLB. Ririn dan  kawan-kawan kelompok 1 mengalami kesulitan saat menterjemahkan bahasa narasumber dari SDLB karena mereka menggunakan bahasa isyarat. Kameraman Budi sempat mencoba belajar singkat bahasa isyarat itu dan akhirnya menyerah karena ternyata tidak semudah belajar bahasa inggris.

 Gambar

Dari dua pengalaman riset dan perekaman gambar dan suara di lapangan secara langsung tersebut, kawan kawan menceritakan bahwa mereka merasa mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Mereka menjadi lebih bersemangat untuk melanjutkan perekaman gambar dan suara pada esok hari.

 

 

***

 

Setelah masing-masing kelompok menyelesaikan proses riset dan perekaman di lapangan, mereka memasuki tahap selanjutnya yaitu editing. Masing-masing kelompok memilih piranti editing yang berbeda. Kelompok 1 menggunakan Vegas dan kelompok 2 menggunakan Adobe Premiere. 

 

Dari proses workshop yang berlangsung selama empat hari tersebut lahirlah dua film berjudul; “The Power of Defable” dari kelompok 1 dan “Sawah Batu” dari kelompok 2. Dua film dokumenter tersebut masing-masing memiliki perbedaan gaya bertutur. Kelompok 2 lebih eksperimental, sedangkan kelompok 1 lebih tersrtruktur.

 

Pada saat proses editing saya menanyakan kepada Ririn dari kelompok 1, apakah suka menonton film dokumenter? Ririn mengatakan ia senang menonton film dokumenter dari chanell televisi seperti National Gograhic atau Discovery Chanell. Dari hasil editing yang dikerjakan Ririn dan kawan-kawannya memang nampak pengaruh tayangan dari televisi dokumenter ke dalam bentuk dan gaya penyampaiannya.

 

Membaca dan Menterjemahkan Teknologi

 

Teknologi digital merubah perilaku umat manusia. Ia telah menciptakan situasi revolusi pada segala lini kehidupan. Audio Visual digital tidak hanya mampu merekam tetapi mampu mendistribusikan gagasan dengan sangat cepat dan efektif melalui teknologi informasi.

 

Belajar membuat film dokumenter bersama kawan-kawan di Campuhan adalah pengalaman yang memberikan pengetahuan dan kesadaran kepada saya. Dari dua kelompok workshop tesebut, saya menyaksikan par peserta yang relatif berusia SMA itu  menggunakan kamera untuk mempresentasikan gagasan mereka yang bagi saya tidak hanya sekedar gagasan, melainkan statemen yang berangkat dari diri mereka sendiri.

 

Kamera mampu menjembatani relasi antara kawan-kawan dari kelompok 1 dengan murid-murid SDLB. Kedua belah pihak dapat saling belajar  dan berinteraksi. Lebih dari itu hasil yang dikerjakan kelompok 1 memberikan ruang komunikasi yang lebih luas dengan para penonton. Di dalam “Power of Defable” penonton dapat melihat rekaman murid-murid SDLB sedang menari Gangnam Style.

 

Kelompok 2 dengan filmnya “Sawah Batu” memperlihatkan wawancara dengan murid-murid sekolah dasar  yang bercerita bahwa Ubud sekarang macet dan panas. Lebih banyak Bule daripada Capung, Sekarang mencari Capung lebih sulit.

 

Di sisi lain film dokumenter ini juga menyampaikan seorang pelancong Bule menyampaikan keindahan Ubud, di sisi lain terdapat rekaman sungai-sungai yang penuh dengan sampah plastic dan sampah rumah tangga dan juga iklan penjualan lahan sawah oleh penduduk lokal. Dalam hal ini kelompok 2 menampilkan sisi paradoks pariwisata. Tentunya film kedua menjadi bahan menarik untuk  menjadi bahan diskusi bagi para pemerhati kebijakan lingkungan hidup, kebudayaan dan pariwisata.

 

 

Kawan-kawan muda muda peserta workshop ini  memiliki kekuatan yang luar biasa dalam mengkolaborasikan gagasan mereka melalui teknologi audio visual.

Dua karya tersebut merupakan karya pertama. Menjadi monumental dan memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menyampaikan pesan tentang masa depan kita dalam membaca dan menterjemahkan teknologi dan posisi umat manusia saat ini dalam perilaku berteknologi.

 

Sering kita mendengar sebagian pihak sangat kawatir akan kemajuan teknolohi digital dan dampak negatifnya terhadap generasi muda. Namun, dua film di atas menjawab kekawatiran tersebut. Paling tidak, kawan-kawan kami yang masih duduk di bangku SMA itu telah membuktikan kemampuan membaca teknologi sebagai alat yang dapat menjembatani gagasan-gagasan serta menterjemahkannya menjadi sebuah karya yang mengajak setiap penonton memulai membahas materi yang ada di dalam tayangan audio visual tersebut.

 

Bolehlah para penonton menjemput pesan dari tanah suci Campuhan….

 

 

Daniel Rudi Haryanto

Ubud, 19 November 2012