pipit

25 Februari 2007

pipit itu nama burung yang suka berkoloni…terbang ke sana kemari mencari sawah petani.

bangsa ini harus cerdas

25 Februari 2007

aku bertemu sebuah rumah

tanpa halaman

rumah itu berada di pinggir rel kereta

lebih tepat gubug namanya

penghuninya suami istri dan empat orang anaknya

satu anaknya bernama Bunga Arafah

remaja yang ingin melanjutkan sekolah

cita-citanya jadi guru

aku berdoa untuknya

mencapai cita-cita

mencerdaskan bangsa yang surut ini***

Ada sebuah katalog Film Indonesia yang memuat satu foto adegan film Max Havelar. Seorang bocah, anak petani naik di punggung seekor Kerbau yang gemuk. Aku terkesima melihat foto itu. Kisah jaman Revolusi.

Kerbau gemuk, yang namanya Kerbau pasti binatang dungu, apalagi gemuk. Hanya dipakai untuk menggaru sawah. Tenaganya memang luar biasa. Tetapi Kerbau adalah simbol kebodohan. Begitulah Bangsa Indonesia ini. Gemah ripah lohjinawi hanyalah slogan, kemakmuran yang diterjemahkan sebagai swasembada pangan hanya sekedar membuat rakyat gemuk karena karbohidrat. Dan kini, ketika negeri yang katanya sejahtera ini tak mampu lagi mencukupi kebutuhan berasnya sendiri. Berhutang adalah cara mudah bagi negara untuk memenuhi kebutuhannya. Gemuk-gemuk memang pejabat itu. Gaji besar kerja kurang.

Semacam kerbau. Bangsa ini kini seperti barisan ratusan juta kerbau yang digiring ke  penjagalan pabrik daging. Disembelih karena dagingnya banyak, didagangkan karena pasrah, pasrah karena dibodohkan. Aku berjumpa Bunga Arafah dan Joko. Dua remaja yang sekolah di Sekolah Rakyat Ancol I dan II. Mereka tinggal di kawasan miskin Jakarta Utara. Di tempat mereka tinggal, rasanya kebahagiaan adalah sesuatu yang mahal. Lebih mahal dari harga apartemen dan ruang komersial yang mengelilingi tempat tinggal mereka. Max Havelar, film yang tidak boleh diedarkan di Indonesia itu sama seperti cerita tentang Joko dan Bunga Arafah.

Ketika hidup semakin sulit dimana perayaan ulang tahun? Di mana foto berbingkai tempat ibu, ayah dan anak diabadikan sebagai keluarga? Tak ada kue tar yang hadir di gubug Bunga atau bedeng si anak Yatim Joko. Kesedihan dan ketidakberdayaanlah yang selalu setia mengunjungi mereka. Menyapa ketika bangun tidur, ketika kencing, di atas kasur yang lembab atau buku-buku yang hanya jadi kayalan belaka.

Sungguh aku gelisah. Mungkin Chairil penyair angkatan 45 itu benar. Hidup hanyalah menunda kekalahan…sebelum akhirnya menyerah…kurang lebih begitulah puisi yang dia pernah tulis. Semacam tanda bagi bangsa ini. Menunda kekalahan. Kekalahan hingga titik nadir. Dihantam ombak Tsunami, digoncangkan gempa di atas 6 sr, digulung angin puting beliung, dibakar kepentingan renovasi pemodal, dibunuh flue burung dan demam berdarah, dihanyutkan banjir dan dikubur tanah longsor, diperabukan di antara jilatan api hutan terbakar dan teracuni asap polusi industri.

Seperti neraka jahanam negeri ini, kematian sama dengan upacara massal. Harus antri satu-satu. Di ruang Adam Air, di lambung-lambung kapal roro atau tergenang lumpur Lapindo yang merambat ganas.

Bangsa ini harus cerdas. Bangkit! Baca! Tulis! tercerahkan!

belalang tempur

23 Februari 2007

Sore ini Jakarta bener-bener macet!

Perjalanan dari Jakarta Utara ke Setia Budi Jakarta Pusat adalah perjalanan yang panjang dan melelahkan sore ini. Mendung hitam yang menggelayut di langit Jakarta tak sanggup meredam polusi karbondioksida yang membuat gerah dan panas di tengah kemacetan menjadi peristiwa yang luar biasa. Bajaj, Bus Kota, kendaraan pribadi, sepeda motor, truk dan aneka angkutan berjejal memadati neraka jalanan Jakarta.

Sepeda motor memadati jalanan, zigzag di antara celah mobil dan bus kota, berebut dengan bajaj, berebut satu sama lain. Merengsek ke trotoar dan menyita hak pejalan kaki. Memacu gas kencang-kencang ketika lampu hijau bagaikan belalang tempur yang tengah berlomba terbang menuju sawah pak tani. Serang! Terjang! Sikat abis! sepertinya begitu. Jalanan adalah keliaran yang penuh dengan umpatan dan caci maki…

Di Lampu merah Halimun, deket Taman Lawang Jakarta Pusat. Traficlight menyala merah. Aku berhenti, tiba-tiba sepeda motorku di sundul-sundul dari belakang. “Maaf mas, merah lampunya…” aku bicara pada lelaki gemuk pengendara sepeda motor yang nyundul dari belakang. “Maju sedikit!!!”. hmmmm…dia malah marah padaku, matanya merah, melotot dan mencerminkan kemarahan yang luar biasa, aku terpaksa memajukan sepeda motorku, dia terus memelototiku. Aku yang ditanggapi dengan sikap seperti itu ya merasa nggak ada masalah, aku pandangi orang itu. “Maaf ya mas, saya yang salah?” aku bicara pada orang itu. Dia tambah melotot, trus bablas, melangar lampu merah dan tidak nampak lagi di antara padatnya lalu lintas di depan. Dari motornya yang ada kertas kardus diberi tali rafia, nampaknya dia tukang ojeg, aku merenung dalam hati. Mungkin dia sedang marah pada keadaan, mungkin belum makan seharian, mungkin belum dapat rejeki seharian. Biasanya kalau begitu manusia di ujung tanduk kemarahan. Emosi vertikal horisontal. Chaos dan amuk! wah bahaya!

Tetapi begitulah hidup di Jakarta, susah menebak situasi. Cuaca bisa saja diprediksi Badan Meteorologi dan Geo fisika, tetapi hidup di jakarta tak bisa ditebak. Emosi menyebar di jalanan. Jika lagi apes, seseorang bisa menjadi monyet di mata orang lain, atau babi, atau setan, atau ngen**t, atau Anj**g, atau kupret! Dan semua itu dapat saja terjadi di Jakarta pada segala cuaca, mendung atau hujan, cerah atau tidak cerah.

Belalang tempur, aku suka menyebut begitu. Aku sendiri adalah bagian dari belalang tempur, yang bertempur di jalanan Jakarta memecahkan rintangan kemacetan. Setiap kali lepas lampu merah, pengendara sepeda motor seperti melepas uneg-uneg, semuanya pakai helm, mirim kepala belalang. Akupun demikian. Pada saat berlomba di awal Start itulah aku merenungi. Aku adalah bagian dari keliaran jalanan. Ngebut! Serang!Terjang! Liar! Aku punya syairnya

Belalang tempur                                                                                                                            Deru campur debu                                                                                                                             helm hitam pelindung kepala                                                                                                    maju terjang pantang mundur

Monyet lu!                                                                                                                                           Anjing lu!                                                                                                                                                

Tai lu!                                                                   

Ah itu cuma umpatan jalanan. Tak gentar aku menghadapimu!***

Saya bener-bener sedang lelah. Perjalanan jauh. Langsung mampir warnet, pengen banget nulis blog. Numpahin kelelahan. Barusan ada seorang kawan nelepon. Pengen ajak bikin film. Mau ngobrolin idenya. Tentang Indonesia yang mau mampus!

ancur deh!

air on the G string

22 Februari 2007

seperti berada di suatu dunia yang tak ada peperangan. Dibawanya aku melamun dan berkhayal tentang burung-burung pipit pulang senja, atau dedaunan yang ditabuh angin menari-nari riang. gembala rindu domba yang hilang atau serasa di pantai pasir putih yang samuderanya biru. Kedamaian, meghayati hidup. Mungkin saja pernah ada sejarah peperangan panjang, tetapi itu serasa sudah jauh sebagai masa lalu. Hanya luka sebagai manusia yang teringat. Maka menghargai kemanusiaan dan kehidupan adalah penting. Musik itu membawaku ke aliran imajinasi yang mengalir…

 air on the G string… itu karya Johann Sbastian Bach (1685-1750). Aku tak berani menulis banyak berkaitan dengan musik ini. Luar Biasa! itu saja yang sanggup aku katakan ketika mendengar musik ini. Karya manusia yang memahami hidup dan kehidupan yang diciptakan Tuhan. Sungguh lagu ini manyampaikan aura ucapan syukur atas apa yag diberikan kepada manusia oleh Tuhan nya.

Jaman terus bergulir, lagu itu pastinya pernah mampir dalam sekian peradaban modern ini. Perjalanannya cukup panjang. Hingga akupun dapat dengan mudah mendapatkannya dari down load internet milik kawan yang punya data lagu itu. 

Aku mendengarkannya di jalanan, di antara kemacetan dan deru mesin-mesin, di antara polusi udara dari metro mini dan Kopaja. Aku mendengarkan air on the G string…melewati trotoar berdebu dan pedagang kaki lima. Imajinya terus mengalir, semakin pahit semakin menusuk.

Inilah ya, kalau aku dengar musik ini, aku dapat melihat demikianlah jika seniman berkarya. Memaknai dan mewarnai dalam proses membangun peradaban baru. Aku dapat belajar dari musik itu. Bach!

 salam

Yogyakarta

22 Februari 2007

Di sore yang gerimis tadi, aku berteduh di depan masjid Pondok Indah. Menunggu kawan yang sedang sholat. Aku mendengarkan salah satu radio, ada lagu KLA berjudul “Yogyakarta”

Kota itu menyimpan banyak kenangan. Aku teringat ketika memutuskan pertama kali meninggalkan Jogjakarta. Saat itu selepas lulus SMA. Berangkat sore hari, dari Stasiun Lempuyangan, membawa bergulung-gulung lukisan kertas dan kanvas, serta beberapa lukisan berbingkai aku bungkus dengan koran. Dentang nada keberangkatan, “sepasang mata bola”. Serasa sepi sendiri meninggalkanYogyakarta.

Kereta berderit dan maju. Menuju Jakarta. Petromaks raksasa yang menyedot pemuda-pemudi desa pencari kerja. Yang menampung berbagai permasalahan kaum urban tanpa bisa menyelesaikannya. Ah…itu tahun 1996 yang lalu. Aku datang pada saat situasi Jakarta sedang memanas. Menjelang peristiwa 27 Juli 1996. Aku datang untuk menjual lukisan, aku juga datang untuk ikut berdemo, melawan kekuasaan rejim fasis Orde Baru. Soeharto masih kuat saat itu. Yogyakarta, remang perjalanan kereta. Lukisan-lukisan diam, kuselipkan di lorong-lorong bangku kereta kelas ekonomi***

Aku kangen Patangpuluhan, deretan kamar kos yang seringkali berisik. Aku kenal Pendopo Sekolah Menengah Seni Rupa di Bugisan, tempat nakal bersama kawan-kawan. Mabuk Lapen, diskusi lukisan, atau sekedar ngobrol tentang maestro-maestro lukis yang mengisi sejarah seni rupa dunia. Ada kenangan dengan Yustina Kristanti, atau Retno gadis manis yang tinggal di Serangan gampingan. Dulu aku punya sepeda balap warna merah yang selalu aku bawa kemana aku pergi. Teman setia yang menemaniku menelusuri jalanan Jogja saat aku gelisah mencari ide buat melukis.

Ada kenangan indah bersama Enjun dan Tri Suharyanto. Kawan satu sekolahan. Bersepeda ke Parang Kusumo, seusai jam sekolah. Hanya berbekal selusin onde-onde dan timus makanan dari ketela yang kami beli di mbok Jo warung depan sekolah. Hanya mengunjungi Parang Tritis, melihat senja dan membuat sketsa untuk tugas sekolah. Ahhh…sepedaku selalu lepas pedalnya setiap berapa puluh genjotan. Pulang malam, kehausan dan lapar. Musim panen tebu ternyata berguna juga. Kami hantam lapar dengan menyeruput air tebu dari sisa-sisa panen di pinggir jalan. Eh! Tebu itu gosong, sisa pembakaran. Rasanya hangat, airnya manis sekali. Jam sepuluh malam sampai kos-kosan. Air tebu menyisakan pekat di tenggorokan, sementara perut belum juga kenyang. Tak ada uang!

Ada banyak kawan, kawan bermain dan kawan diskusi. Kawan berkarya atau kawan ngamen. Kawan bermain biasanya kawan yang selalu ngajakin mabuk-mabukan, kawan berdiskusi biasanya selalu membuat tidur jadi larut dini hari dan terlambat ke sekolah. Kawan berkarya ya seringnya bikin sketsa bareng atau tukar bahan baku untuk berkarya. Susaaaaaaaah banget rasanya dulu hidup di Jogja. Serba terbatas. Ayahku meninggal dunia saat aku duduk di bangku kelas satu SMSR. Jadinya aku harus cari uang sendiri buat sekolah dan makan. Uang kiriman kakak selalu terlambat dan itupun tak cukup buat satu bulan. Biasanya kakakku mengirim uang melalui surat. Disisipkannya uang sepuluh ribu atau dua puluh ribu di dalam surat itu. Isi surat kakakku biasanya doktrin semangat, supaya aku tetap “revolusioner” menjalani hidup.

Aku suka naik gunung. Biasanya setiap malam minggu aku ikut rombongan naik gunung. Naik bus Baker. Tempat yang kami tuju pertama adalah Kinahrejo. Aku sering bertemu dengan Mbah Maridjan. Orang tua yang sekarang sangat populer setelah Gunung Merapi gonjang-ganjing mau meledakkan Jawa. Orang Tua itu hidup sehat bersahaja, sederhana penampilannya dan melayani sesama. Setiap kali aku datang ke Kinahrejo, saat itulah selalu aku bermalam di basecamp yang letaknya dekat dengan rumah Mbah Maridjan. Tak jarang aku makan jagung dan ketela atau pisang pemberian mbah Maridjan. Orang tua itu memang legenda sejak dulu, sejak dia belum populer. Dari dia aku dapat belajar kesederhanaan dan ketulusan. Orang tua yang baik.

Yogyakarta, kisah malam yang temaram. Cahaya lampu merkuri dan aku pulang dinihari. Senisono, Pagi dan Gudeg, Bugisan, Patangpuluhan, sawah dan keong mas beracun. Kemalingan dua kali dalam seminggu, sepeda balap dan kawan-kawan yang baik, perkelahian usia SMA, lapar dan miskin, ditangkap Polisi dan dipecat dari sekolah karena demo, lukisan dan puisi. Diskusi dan romantika, sego Kucing dan angkringan. Gerimis dan lembab kamar kos, bikin band yang jarang latihan…Bringharjo, Ngasem, Mbantul, Salak Pondoh, Lomba melukis, Putus cinta, perkenalan singkat, pelacuran, kelompok diskusi…pemberontakan!

Deru kereta ekonomi menuju Jakarta itu masih terngiang di telingaku. Sepertinya baru kemarin pagi aku tiba di Jatinegara…

pulang ke kotamu… ada setangkuk haru dalam rindu masih seperti dulu tiap sudut menyapaku bersahabat… penuh selaksa makna musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu ….

ditelan deru kotamu….

ah aku merasa sepi

film film film dan film

21 Februari 2007

Aku tidak tahu sejak kapan mulai menyukai film.

Yang aku ingat, bapakku adalah seorang pemutar film layar tancap. Dulu Bapakku bekerja di perusahaan Indofood dan membawahi satu unit film propaganda. Unit film ini dilengkapi dengan satu mobil box dan di dalamnya terdapat projector film. Setiap kali Bapakku memutar film, di sekitar Semarang, aku selalu ikut. Waktu itu aku masih duduk di bangku sekolah dasar.

Massa berkumpul, Bapakku pidato. Menawarkan produk Sarimi (waktu itu). Ribuan orang berbelanja Sarimi dalam waktu semalam, ribuan orang menyanyikan lagu karangan Bapakku. Ribuan orang menonton film, dengan TOA mono tanpa stereo dan deru generator portable di tanah lapang yang lembab. Jika hujan tiba, bubarlah pertunjukan. Bapakku pernah berlari-lari mengejar layar yang terbang, terbawa angin kencang. Sementara tali dan tiang layar tak sanggup menahan beban. Bapakku basah kuyup karena hujan dan angin yang entah dari mana datangnya tiba-tiba melanda tanah lapang. Padahal Pawang hujan telah disiapkan…

Itu masa lalu, tetapi membekas dalam ingatanku. Darto Helm…wah tokoh satu itu favoritku! Lalu ada lagi Iskak, Ateng, Dono, Kasino, Indro, Benyamin, Gepeng, Rhoma Irama, Barry Prima, Komarudin, tokoh di Janur Kuning yang menghadapi Serangan Tentara Belanda dengan Kentut!… Chip’s Dalam Kejutan, Rama Superman Indonesia, Untung Ada Saya, Pasukan Berani Mati, Janur Kuning, Koboi Cengeng, Drakula Mantu, Kejamnya Ibu Tiri tak sekejam Ibukota… apa lagi ya? banyak sekali film yang aku tonton. Ayahku muter film setiap sabtu malam minggu, jadinya aku selalu bisa ikut karena esoknya hari libur.

Masa-masa yang menyenangkan. Tapi itu dulu. Masa lalu yang hanya tinggal kenangan. Bapakku wafat tahun 1994, bulan April tanggal 18, sehari setelah hari ulang tahunku. Tetapi kenangan yang terbingkai apik dalam memoriku itu membekas dalam sekali. Aku memang sejak kecil terobsesi lakon-lakon lokal, kelucuan dan keluguan mereka. Setelah aku sekolah dan lulus dari Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta, aku bisa membayangkan. Luar biasa…seorang Darto Helm berada di depan kamera! Aku membandingkannya dengan Nicolas Saputra atau Anjasmara atau Dian Sastro Wardoyo. Tentu pada jaman yang berbeda.

Ada pertanyaan yang membuatku penasaran waktu itu. Adalah ketika pertama kalinya aku memegang pita film yang diambil dari dalam kaleng. Aku memang suka menemani Bapakku yang memotong beberapa sentimeter pita yang beliau sering sebut bernama film itu. Aku menarik dan memperhatikan gambar-gambar yang hampir sama di setiap kotak yang ada di pita itu. Aku dulu menyebutnya “mika” karena mirip dengan mika yang sering aku temui di toko foto kopi.

Baru aku tahu jawabannya ketika aku masuk sekolah film di Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta. Itu dihasilkan oleh hukum gerakan mesin jahit atau  intermitent movement. “Mika” itu ternyata bernama Seluloid! Pak Moentoro Hadi, seorang veteran pejuang kemerdekaan adalah dosen sinematografi kami pada saat itu. Beliau selalu menerangkan di depan kelas tentang berbagai teori dasar sistem kerja kamera film. Gambar-gambar itu dihasilkan dari gerak “mesin jahit” yang mampu melahirkan imaji di permukaan pita seluloiD. Ah…. Ajaib! Lebih ajaib dari pengalamanku sebelumnya di Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta belajar melukis!  Melukis dengan cata dan kanvas adalah kegiatan yang aku geluti sebelum masuk sekolah film. Kemudian sekarang melukis dengan cahaya! Luar Biasa!

Film, Suara dan gambar, Massa, Propaganda, uang dan barang…ijin pertunjukan. Aku menyadari film pada kenyataannya tidak sendirian…ia adalah mata rantai, hasil teknologi, jadi komoditas perdagangan, tetapi juga dapat menjadi cermin kebudayaan. Ah…sinema!

Ada pengalaman berkesan ketika aku mendengar dan melihat sebuah film berjudul Cinema Pradisso…ingatanku kembali ke masa indah itu…

Film!

kabar dari Atjeh

11 Februari 2007

atjeh-pantai-barat.jpgatjeh-2006.jpg

Malam Sabtu kemarin saya terkesiap. Ada nomor tak dikenal misscall saya. Saya merasa belum mengenal nomor tersebut. Saya segera menelpon. Betapa terkejut saya, itu nomor Ayu, dari Lamno yang jauh dari Jakarta. Lamno terletak di kecamatan Atjeh Jaya.  Ayu adalah peserta workshop yang diselenggarakan oleh UNICEF dan Miles Films. Saya sebagai mentor dan dokumentator pada saat acara tersebut. Ayu tinggal di Barak Lamno. Dia bersama keluarganya menjadi korban Tsunami tahun 2004 yang lalu.

Luar biasa! Saya mendapat kabar yang membuat saya lebih bersemangat lagi untuk hidup. Ayu mengatakan bahwa dengan workshop itu Ayu menjadi lebih percaya diri menghadapi pelajaran sekolahnya. Ayu sekolah di Sekolah Dasar. Pada pembagian raport kemarin Ayu mendapat ranking satu. Tentunya ini prestasi yang luar biasa! Saya belajar dari peristiwa ini.

ini adalah penggalan sms Ayu.

(ayu sangat senang sekali, karna waktu pembagian rapor ayu sangat senang bng rd tau nggak ayu dpt rangki.ayu nggak mau blng sm bng rd, ayu malu sm bng rd) . bng rd=Bang Rudi

waah saya terharu dengan SMS itu. Apa yang pernah saya kerjakan di Atjeh ternyata tidak sia-sia. Saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa yang akan saya simpan sampai saya mati.

Saya baru datang ke Atjeh setelah setahun Tsunami. Saya hadir di Atjeh pada saat Atjeh masih dalam tahap membangun kembali. Saya mendapati ribuan pengungsi di barak-barak, dari Banda Atjeh hingga Meulaboh. Saya melakukan perjalanan pendokumentasian setiap hari selama kurang lebih 2 minggu. Melakukan perjalanan dari Banda Atjeh menyelusuri Pantai Barat hingga Meulaboh dan kembali melalui pegunungan Geumpang-Tangse-Sigli adalah pengalaman yang tak pernah saya lupakan. Berjumpa dengan anak-anak dan keluarga korban Tsunami, memutar film “Untuk Rena” bersama kawan-kawan satu team merupakan kebahagiaan yang tiada tara. Atjeh membekas betul dihati saya.

Dan SMS itu adalah abar dari Atjeh. Kabar bahagia yang datang. Yang mengajak saya pulang kembali ke Atjeh. Negeri ribuan barak yang terserak, negeri jutaan kesedihan yang tak pernah usai. Tetapi kabar sms dari Ayu itu adalah harapan. Pada masa depan generasi Atjeh yang akan bersinar gemilang.

ah…saya rindu kapal apung Punge, saya rindu debu Pantai Barat, saya rindu Banda Atjeh dan lampu-lampu mercury pijar malam hari. Saya rindu Lamno, biru malam dan bintang yang besar-besar, sungai dan desa Sabit yang ramah,  Tempat kebun durian dan mata air orang Sholeh, juga sahabat Dendy Montgomery serta jeep CJ 7 nya yang tangguh…

Teriring salam dari Jakarta dan kerinduan yang dalam.

service handphone

11 Februari 2007

Sabtu ini saya dan pacar saya ke Roxy Jakarta Barat untuk menservis handphone. Handphone saya merk Sony Ericsson type w550i, pacar saya handphonenya merk Nokia buatan Korea jenis CDMA. Jadinya, kami menservis pada tempat berbeda. Sama-sama counter resmi untuk service handphone.

Saya di counter Sonny Ericson lantai tiga. Harus ambil nomor antrian dulu. Nomor antrian saya 38. Lamaaaaaaaaa saya menunggu. Hanya ada dua orang petugas front office yang melayani puluhan orang. Saya menunggu ada sekitar 1 jam lebih. Saya bertemu dengan petugas bernama Rina. Dia ramah dan cantik. Dia nampak sibuk sekali dan nggak pernah lepas dari komputernya. Rina mengatakan kepada saya bahwa handphone saya baterainya palsu alias tidak original. Saya kaget, ketika beli bulan sembilan tahun 2006 yang lalu, tidak ada pemberitahuan dari counter handphone (sama letaknya di ROXY juga) bahwa baterai yang ada di hp saya itu bukan original. Ah! Penipuan! harga satu baterai original sekitar 300 ribuan. Wah ini bener keterlaluan. Saya baru sadar, beginilah kalau beli di toko aspal. asli tapi palsu. kena getahnya juga. Tak ada jaminan asli.

Pacar saya punya pengalaman lain. Dia di urutan 76, lebih lama nunggu satu jam lagi ketimbang saya. Di counter Nokia itu lebih banyak operator, ternyata hanya tiga orang saja yang nampak aktif melayani consumen. Baru duduk, menyerahkan handphone, langsung ditolak dengan alasan Nokia tidak mengeluarkan produk tersebut. Audzubillah min zalik!!! apa yang terjadi pada dunia ini?

Saya bertanya kepada petugas Nokia, “Lhoh mbak, bukannya ini produk Nokia?”.Jawaban mbak itu ” Iya, mas tapi ini buatan Korea dan tidak bisa diservis di sini, suku cadangnya lain”. Saya bilang lagi “Tapi sebagai konsumen saya punya hak untuk diberikan pelayanan service oleh Noki”.” Ketentuannya sudah begitu, mas” jawab mbak itu. Saya berpikir keras. Apa yang tengah menimpa saya hari ini?

Ada produk yang “tidak diakui” oleh trade marknya? Ada produk palsu yang dijual di tempat penjualan terbesar di Jakarta?

Saya tidak mau berdebat panjang dengan mbak itu, saya hanya minta solusi dari masalah saya ini, mbak itu memberikan alamat service pusat Nokia. Saya menerima secarik kertas kosong yang ditulisi alamat itu.Walaupun kata mbak itu, di pusat juga belum tentu dapat dilayani. Kalau demikian, di mana hak konsumen sebenarnya?

Saya ingin sekali menyampaikan hal ini ke YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) siapa tahu dapat gambaran dan solusi yang jelas. Tapi tentu saya menyadari, kalau saya saja sebagai konsumen terkecil mendapat persoalan seperti itu, pastinya YLKI setiap hari sudah sibuk dengan ratusan atau ribuan pengaduan. Sayapun mengurungkan niat saya melapor. Semoga ada aktivis YLKI yang baca bog saya ini hehhehehehe

Saya merenung di Roxy sambil berjalan menuruni escalator menuju parkiran dan pulang. Saya merenung, betapa konsumen di Indonesia ini belum mendapat pelayanan yang bener. Belum merasakan jaminan keamanan maupun jaminan kualitas yang bener. Barang bajakan memang murah, tapi resikonya memang kita tidak dapat jaminan apapun dari barang bajakan itu. Produsen anonim, merk dagang terdaftar. Atau sekalipun membeli barang dari agen yang resmipun sama saja. Barang bergaransi yang rusak seringkali tidak mendapat pelayanan yang memadai sehingga penjelasan yang didaptpun tidak memuaskan. Misalnya, Handphone saya Sony Ericsson, display blank, walaupun tidak dapat beroperasi untuk komunikasi lagi, semestinya saya dapat penjelasan yang detail berkaitan dengan teknis maupun non teknisnya. Saya hanya mendapat penjelasan standart sama dengan konsumen lain yang saya dengar problem kerusakan hp nya di meja petugas. Mungkin karena softwarenya, mungkin karena kena air, mungkin karena jatuh, mungkin karena udah lama, mungkin karena salah pencet…mungkin…mungkin…mungkin.

Tiba-tiba di jalanan berkelebat kalimat PASAR BEBAS di depan mata saya. Ini sudah era pasar bebas. Pasar bebas itu kan persaingan dagang yang gila-gilaan. Produsen sesama produsen bersaing meningkatkan mutu kualitas produk, konsumenpun bersaing untuk mendapatkan pelayanan yang seimbang dengan barang yang dikonsumsinya. Konsumen juga berlomba untuk mendapatkan produk yang berkualitas dan bermutu. Berdaya guna yang memadai. Beberapa teman yang pernah tinggal di Singapura bercerita pada saya, betapa di negerinya Lee Kuan Yew itu, konsumen betul-betul diperhatikan,dilayani dan di service. Ada pepatah yang bener-bener diterapkan bahwa konsumen adalah raja.

Di Jakarta ini bukan hanya persoalan handphone rusak yang saya alami, permasalahan kartu anggota belanja pasar swalayan, kartu ATM, suku cadang sepeda motor, delivery service makanan siap saji dan banyak lagi pelayanan publik seringkali kacau.

Kemarin sewaktu banjir, saya berjaga-jaga bersama tetangga kampung. Kebetulan ada tiang listrik yang kabelnya berpijar mengeluarkan asap dan api serta bau gosong. Kekawatiran kami saat itu adalah bahaya kebakaran. Kekawatiran itu beralasan karena hujan turun sangat lebat dan di sekian wilayah banjir masih menggenang. Sebagai warga negara kami punya kewajiban untuk melaporkannya ke Dinas atau petugas yang bersangkutan. Kami menelepon PLN, Polisi, Pemadam Kebakaran, Dinas Penanganan Banjir Jakarta Selatan (karena kami tinggal di Pasar Minggu). Semua telepon tidak dapat dihubungi. Kami mendapatkan nomor-nomor itu dari buku agenda. Hingga akhirnya kami menelepon pemadam kebakaran dan nyambung. Itupun pemadam kebakaran di wilayah Lebak Bulus. Janjinya akan segera dikoordinasikan. Kami kemudian telepon 108, kami mendapat informasi online PLN, kami telepon, operator mengatakan akan ada petugas yang memeriksa. Hingga pagi hari jam 5 tidak ada tuh petugas yang datang. Nah bayangkan, jika kekawatiran kami kemudian terjadi. Ada efek samping yang menimbulkan kebakaran atas peristiwa itu? Semuanya akan terlambat bukan?

Dari permasalahan service hanphone, pikiran saya ngerambyang kemana-mana. Saya baru sadar ketika saya tiba di Megaria. Setelah parkir, saya dan pacar saya masuk kedai makanan. Lapar menyerang, haus meronta. Kekecewaan saya terobati manakala es teller mendinginkan tenggorokan saya. Kelapa, tape, nangka, susu dan es….hmmmmmmmmm sampai kapan republik ini akan bener???????

air dan kehidupan

7 Februari 2007

Banjir selalu membawa renungan.

Banjir kali ini mengingatkan saya pada suatu persoalan besar, persoalan lingkungan hidup. Hutan, Tanah, Tumbuhan, Hewan, Tanaman, Laut, sungai, danau, mata air, humus, hujan dan manusia.

Ekosistem! Satu kata ini begitu penting. Mengandung berbagai pembahasan dan merupakan rantai panjang kehidupan.

Banjir adalah akibat. Banyak orang menarik pembahasan ini ke arah kegamaan. Orang hanya percaya bahwa Tuhan sedang menguji atau Tuhan sedang memberikan balasan yang setimpal kepada umat manusia, ada juga yang menarik permasalahan banjir ke persoalan politik untuk menjatuhkan penguasa saat ini.

Saya tidak tertarik dengan pembahasan Agama maupun Politik. Saya hanya memahami bahwa Tuhan menurunkan hujan sebagai berkah setelah musim kemarau. Manusia semestinya senang musim hujan datang, seharusnya petani dapat memulai  masa tanam, rumput-rumput bersemi ria. Anak-anak bermain air dan yang kering menjadi basah, dahaga menjadi pulih. Tuhan menciptakan hujan sebagai siklus, dengan hitungan yang tepat. Kuantitas air yang dibutuhkan bumi itulah yang dicurahkan. Tetapi manusialah sumber segala bencana.

Sekarang ini manusia sering sibuk membangun Mall dan pusat perbelanjaan, tembok dan beton. Perumahan didirikan di atas sawah, Bangunan villa dan pemukman berdiri di daerah bantaran danau atau sungai. Sementara Pantai adalah wilayah yang dieksploitasi secara komersial. Tambak diuruk, sawah dan ladang diganti semen.

Wilayah resapan menyempit. Manusia masih bangga berbelanja. Manusia Ekonomi membuat ekosistem menjadi tidak seimbang. Ketika hujan datang, banjir adalah konsekuensi yang harus ditanggung. 70 persen wilayah Jakarta tergenang Banjir, begitupula yang terjadi di Bekasi, Tangerang, Banten dan Karawang. Belum lagi di daerah lain. Berdasarkan pengamatan, banjir di kota-kota yang tersebut di atas terjadi karena tidak mampunya manusia menjaga keseimbangan ekosistem. Sehingga Hujan menjadi ancaman. Di daerah yang tergenang banjir parah, persoalan lingkungan yang menjadi pemicu banjir nampak sebagai kebodohan manusia dan penentu kebijakan.

Air penting bagi kehidupan, kehidupan menjadi mustahil tanpa air. Jika manusia kota-kota besar tak lagi menyadari persoalan ini, lantas hanya mengkaji dan mereka-reka belaka…toh banjir tak bisa diselesaikan dengan omong kosong atau janji politik. Sudah saatnya Umat menyelamatkan hidup. Bukannya sudah jelas dalam setiap kitab suci? Manusia harus menjaga alam, untuk kehidupan. Banjir adalah bukti bahwa manusia tidak pernah mensyukuri nikmat Allah.

Banjir kali ini luar biasa

4 Februari 2007

Seharian saya berkeliling mendokumentasikan keadaan yang semakin hari semakin susah akibat banjir di Jakarta saat ini.Pagi tadi ketinggalan kawan-kawan yang berangkat ke Muara Kamal dan Angke untuk melakukan evakuasi dan distribusi bantuan. Menyesal karena saya terlambat. Tetapi koordinasi memang agak kacau karena telepon selular juga terkena imbas dari banjir yang begitu besar akibatnya tahun ini. Untuk mengurangi dosa karena tidak ikut kawan-kawan le Jakarta Utara, saya melakukan apa yang bisa saya lakukan dan sesusai dengan kemampuan saya sebagai pembuat film dokumenter.

Manggarai, Kampung Melayu, Klender, Kali Malang dan Cawang, Pasar Minggu dan Kalibata, Matraman dan Pramuka. Masuk dalam rekaman kamera saya.

Banjir kali ini memang luar biasa. Air di pintu air Manggarai,pada saat saya menulis ini sudah melebihi batas. Lebih dari 110 m dan melampaui batas yang tertulis. Ini luar biasa. Hujan di Bogor yang hampir tidak memberi jeda serta luapan air di kota hujan itu, memberikan hadiah tahunan yang mengerikan…Banjir.

Sampah ada di mana-mana, selalu menjadi pemandangan yang akrab dengan banjir.Sampah-sampah yang tersebar itu membuktikan perilaku manusia Jakarta yang tak pernah kapok membuang sampah di sungai. Sampah menggumpak di jembatan-jembatan dan pertemuan sungai. Ini membuat aliran air menjadi tidak lancar dan ikut memberikan andil semakin sulitnya penanganan banjirdi Jakarta ini.

Anak-anak bermain dan berenang di air yang cokelat keruh, perahu-perahu karet disiagakan untuk evakuasi. Pada kenyataannya warga juga enggan untuk hengkang dari rumahnya.Mungkin masih berpikir kalau banjir ini tak akan sampai menenggelamkan rumahnya.

Sukarelawan berjaga siang dan malam. Aparat menunggu perintah komandan. Dapur umum terus menerus memasak untuk memberikan bantuan makanan bagi yang membutuhkan. Beberapa mall dan Salon masih buka seperti tak terpengaruh oleh banjir. belum aja kaleeee….heheeeeh

Banjir kali ini luar biasa, berdasarkan berita 70 persen wilayah Jakarta telah terendam Banjir. Lantas mau lari kemana? Mau mengungsi ke mana?

Patut direnungi, apa yang telah kita lakukan kemarin-kemarin? Membuang sampah di kali, menebang pohon, menutup daerah resapan dengan Mall atau Perumahan, mendirikan bangunan tanpa mikirin penghijauan, membakar hutan dan menebang tanpa perasaan. Apa yang telah kita lakukan itu mesti kita renungi bersama… KITA??? Aku ngak kali ya?

Semoga banjir Jakarta cepat surut. Anak-anak kembali ke sekolah dan belajar lagi, Ibu dan Bapak kembali ke Kantor dan bekerja lagi, Pak Haji pergi ke Mushola dan berzikir lagi, Penjara-penjara WCnya berfungsi lagi karena banjir telah surut dan para Napi bergembira bisa buang air lagi, Bang Yos bisa tersebyum lagi dan menggusur lagi, Calon Gubernur bisa datang lagi dan kampanye lagi, Tentara bisa latihan lagi nonton bioskop geratisan lagi…

Kalau banjir surut…kamu senang aku senang…kita semua akan senang. Tapi ada satu yang tidak akan surut…apaan tuh?

Banjir caci maki di kawasan Bang Yos dan sekitarnya dari rakyat masih sebulan lagi kaleee….haaahahahahahahhahahahahahhahahahahhahahaaaah