Ada Yang Harus Diperjuangkan dari Okinawa

Uncategorized

Seminggu di Jepang, para sahabat dari The Sasakawa Peace Foundation membawa saya ke dua tempat yang berbeda. Okinawa dan Tokyo. Kegiatan yang sangat padat, pertemuan dengan pegiat perdamaian, pemutaran film, dan diskusi. Semua menarik, menjadi pelajaran berharga untuk semakin mendalami dan memahami apa yang terjadi di Asia.

Sebuah lukisan Joko Tarub di sudut restoran Yama No Chaya RakusuiSebuah lukisan Joko Tarub di sudut restoran Yama No Chaya Rakusui

Kunjungan ke Okinawa sangat berkesan bagi saya. Ada pesan kultural yang saya dapat dari pulau yang pada masa lalu bernama Ryukyu. Saya menemukan sebuah lukisan terpajang di sudut restoran. Lukisan kisah Hogoromo yang memiliki kesamaan cerita dengan Joko Tarub di Jawa.

Kami bertemu dengan para pegiat perdamaian yang melakukan protes terhadap kebijakan pemerintah Jepang memberikan ruang bagi reklamasi pantai untuk pembuatan pangkalan militer Amerika Serikat yang membangun dua landasan baru bagi pendaratan armada militer di Okinawa.

Mereka lebih suka disebut Bangsa Ryukyu. Dulu ada kerajaan besar di pulau ini. Akan tetapi Kekaisaran Tiongkok dan Kekaisaran Jepang melakukan ekspansi sehingga Kerajaan Ryukyu mengalami surut peradaban.

Jaman terus berganti, ekspansi tentara Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II menjadikan Okinawa sebagai lokasi strategis bagi posisi bargain Amerika Serikat di kawasan Asia dan Timur Tengah. Hingga 73 tahun setelah Perang Dunia II selesai, Amerika masih menempatkan pangkalan militer di Okinawa.

Apa yang terjadi di Okinawa terkait dengan konflik pasca Perang Dunia ke II? Apa hubungannya dengan konflik di Vietnam, Laut Indonesia Utara, Timor Leste, Filipina, Korea Utara dan Korea Selatan, Timur Tengah, dan Jepang?

***

Museum Sakami yang terletak dalam wilayah Camp Militer Amerika Serikat di Okinawa menyimpan kesaksian-kesaksian tentang apa yang tengah terjadi di kawasan ini.

Maruki Toshi dan Iri dalam lukisannya berjudul The Battle of Okinawa, Teruya Yuken dengan karya Kimono dengan teknil batiknya berjudul You-I, dan karya-karya yang lain yang terdapat di museum itu menggambarkan kegelisahan seniman atas kepedihan manusia akibat perang dan potensi konflik yang terus menerus terjadi sepanjang waktu.

The Sasakawa Peace Foundation mempertemukan saya dengan seorang lelaki seniman yang mahir memetuk Sanshin (gitar tradisi Ryukyu) di Okinawa. Dalam pertemuan makan malam itu Miyagi (nama seniman tersebut) menyambut kami dengan petikan Sanshin dan melantunkan lagu-lagu tradisional bangsa Ryukyu.

Syair-syairnya menceritakan hubungan antara manusia, alam semesta, yang menyatu sebagai spiritualitas bangsa Ryukyu. Sama seperti syair-syair karya budaya bangsa Jawa di kawasan Nusantara yang sejak 17 Agustus 1945 menjadi Indonesia.

Saya terharu menyimak dan mendengarkan setiap bait yang melantun dari musik Miyagi.

Apa yang saya temukan di Okinawa sangat bertolak belakang dengan syair lagu Miyagi. Okinawa yang merupakan daratan dikelilingi laut dan samudera. Terjepit di antara laut Cina, dan Samudera Pasifik. Berbatasan dengan Taiwan dan semenanjung Korea.

Perang Dunia II menyeret Pulau Ryukyu dalam situasi yang tidak menguntungkan. Kekalahan tentara Jepang pada perang Dunia II dan terjadinya Perang Dingin yang cukup panjang, perang Vietnam pada 1970-1975, perang Afganistan di akhir 70-an, Perang Teluk pada tahun 90-an, dan konflik yang terus menerus terjadi di kawasan Timur Tengah yang melibatkan kepentingan Amerika Serikat telah menyeret kawasan Okinawa sebagai kawasan yang sibuk oleh aktifitas militer Amerika Serikat dan sekutunya.

Hak sipil masyarakat lokal Ryukyu berbenturan dengan kepentingan global. Seringkali terjadi kesalahpahaman dalam melihat posisi Ryukyu. Mengapa ada basis militer Amerika Serikat di Okinawa? Apakah Jepang benar-benar memberikan fasilitas kepada Amerika untuk melancarkan operasi militernya di Asia dan Timur Tengah? Jika tidak ada Okinawa, apa dan bagaimana masa depan ekonomi dan politik Jepang dalam percaturan dunia internasional? Semua pertanyaan tersebut seringkali mendapatkan jawaban yang bias apabila kita tidak mendapatkan cerita langsung dari masyarakat Ryukyu yang seharusnya mendapatkan hak sebagai pewaris adat bangsa Ryukyu yang berhak menentukan masa depan tanah air mereka.

Persoalan yang dihadapi bangsa Ryukyu mengingatkan saya pada apa yang telah terjadi di Timor Leste di masa Portugis dan di masa pendudukan Indonesia. Mengingatkan pada apa yang tengah terjadi di Papua Barat dan Atjeh Sumatra. Mengingatkan pada situasi yang terjadi pada suku-suku bangsa di Indonesia seperti Bangsa Dayak, Bangsa Sumatra, Bangsa Sulawesi yang kini tengah berhadapan dengan berbagai kepentingan yang sangat rumit terkait dengan bargaining posisi mereka dengan Jakarta, antara kepentingan nasional, korporasi, dan kepentingan global.

***

Hogoromo kisah Joko Tarub mengajak saya untuk menterjemahkan bahasa simbol (Sastra Jendra dalam bahasa Jawa). Kisah 7 Bidadari yang turun dari Kayangan ke bumi untuk mandi di sebuah mata air, tanpa disadari selendang seorang bidadari dicuri oleh seorang pemuda. Ketika 6 bidadari sudah terbang kembali ke Kayangan, seorang bidadari harus tinggal di bumi, menikahi pemuda yang mencuri selendang itu. Kemudian mereka menjadi suami istri dan beranak pinak. Namun, ketika bidadari tersebut menemukan selendangnya kembali, yang disimpan di dalam tempayan terakota, maka ia kemudian memutuskan untuk terbang kembali ke tempat asalnya, Kayangan.

Kisah tersebut merefleksikan sejarah Okinawa dan sejarah bangsa-bangsa lain. Seperti kisah pendaratan pasukan Amerika ke pantai Okinawa pada Perang Dunia II dan kekalahan Jepang yang menduduki Okinawa jauh sebelumnya. Selendang itu menjadi media bargaining posisi bagi bangsa Ryukyu untuk mendapatkan kembali haknya. Namun cerita menjadi terbalik, ketika Amerika Serikat tidak pernah menarik kembali pasukannya dari Okinawa. Ada sejarah tawar menawar dalam kisah Hogoromo di Okinawa. Kisah tawar menawar yang tidak pernah selesai. Maka kisah Hogoromo menjadi semacam kutukan yang selalu tertancap di bumi Okinawa, tanpa ada yang dapat mencabut paku kutukan itu sebelum ada kesadaran sendiri bagi mereka yang terlibat dalam persoalan.

***

Saya belajar banyak dari Okinawa dan Tokyo. Kedisplinan, ketepatan waktu, penyambutan dan keramahan, kegigihan, kekuatan tradisi yang melekat di era masyarakat modern.

Akan tetapi saya juga menyadari. Di Okinawa dan di Jepang, yang semuanya dapat dikerjakan tepat waktu, presisi, presisten, dan disiplin, ada hal besar yang harus diperjuangkan, adalah perdamaian dan persamaan.

Demokrasi sebagai cita-cita yang agung dipercaya dapat membawa perdamaian, kesetaraan, keadilan, dan kebahagiaan. Demokrasi dipercaya dapat menghentikan potensi peperangan di masa yag akan datang.

Namun semua kedisiplinan, dan ketepatan waktu dalam melahirkan demokrasi dan kesetaraan hak bagi bangsa Ryukyu menghadapai tantangan besar. Oleh sebab seringkali perdamaian datang terlambat dan kita tidak dapat memprediksi apapun tentang kapan perdamaian, demokrasi dan kemuliaan atas cita-cita terhadap kesetaraan itu akan hadir tepat pada waktunya.

Perdamaian harus diperjuangkan sebab dunia tidak dapat dibangun di atas landasan peluru dan mesiu. Untuk itulah kesenian, kebudayaan, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi bangsa-bangsa yang beradab dapat menjadi alarm, membangunkan kesadaran umat manusia untuk segera bangun dari mimpi-mimpi buruk, kemudian berbuat sesuatu, bagi keadilan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial untuk kebahagiaan semesta raya.

Jika di Fukushima terdapat reaktor nuklir

Dan kecelakaan Chernobyl menyadarkan kita pada bahaya kemanusiaan

Jika hutan di Borneo, Sumatera, Sulawesi, dan Papua terancam industri Sawit dan menghilangkan nilai budaya leluhur manusia. Kenapa tidak dibangun reaktor perdamaian, berbahan baku energi kebudayaan? Untuk menjaga bumi dari kehancuran akibat perang dan polutan?

Okinawa terlihaat tenang, ombak samudera menepi ke pantai yang indah, ada yang diperjuangkan dari Okinawa, perdamaian abadi masyarakat dunia. Entah kapan perdamaian itu hadir tepat waktu.

Semoga semua bangsa yang mencintai perdamaian dipertemukan kembali dalam kedamaian di halaman besar Okinawa.

Iklan

Pesan dari Lukisan Maruki Toshi dan Maruki Iri

Uncategorized

Foto: Berpose di depan museum dan pagar perbatasan fasilitas US MARINE CORPS di Okinawa (koleksi pribadi). 

Apabila diibaratkan sebagai Perempuan, maka dalam imajinasi saya bumi Okinawa bagaikan seorang Ibu, yang di dalam tubuhnya terdapat relung rahim yang mengandung kisah kesedihan dampak peperangan.

Museum Sakima terletak berdampingan dengan Futenma Marine Corps Air Station di Ginowan, Okinawa. Lokasi museum merupakan bagian dari wilayah militer Amerika Serikat yang diperuntukkan sebagai pangkalan udara.

Sakima Art Museum dirancang oleh arsitek Yoshikazu Makishi, dibuka pada tahun 1994, yang bertujuan untuk menyampaikan pesan perdamaian melalui karya seni.

Tiket masuk Museum Sakima (Koleksi pribadi).

Pengunjung dapat berkeliling museum hingga menemukan di ruangan utama terdapat lukisan yang menceritakan tentang dampak perang yang melanda Okinawa pada awal April 1945. Perang yang membawa Okinawa jatuh ke tangan tentara Amerika Serikat dan membuat Jepang mengalami kerugian besar akibat Perang Dunia II.

Lukisan tersebut mengingatkan saya pada karya Pablo Picasso berjudul Guernica (1937) yang berukuran 3, 49 meter tingginya dan 7.76 meter lebarnya. Lukisan yang menceritakan tentang kekejaman perang yang brutal dan kejam terjadi di Guernica. Lukisan itu kini tersimpan di The Museo Nacional Centro de Arte Reina Sofía (MNCARS, atau Museo Reina Sofía, Queen Sofía Museum, El Reina Sofía, atau sering disingkat El Reina)

Duduk di depan lukisan besar berjudul The Battle of Okinawa karya Maruki Toshi dan Iri. ( Foto oleh: Yui Nakamura, The Sasakawa Peace Foundation)

Sejak ekspansi Amerika, Okinawa yang tadinya dikenal dengan nama Ryukyu menyimpan banyak kenangan pahit. Saya menyaksikan buih-buih ombak menyapa pantai, menepi dari samudera raya Pasific. Buih ombak yang sepanjang masa bercampur dengan peluh dan air mata manusia yang menjadi korban peperangan.

Hingga 73 tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II, masyarakat Okinawa masih merasakan perang belum berakhir. Aktifitas militer Amerika di pulau terdepan yang menghubungkan laut China dan Samudera Pasifik itu terus mengingatkan masyarakat sipil di Okinawa pada kisah-kisah sedih yang terus menghantui tidur malam mereka.

Mariko san dan Miyagi san yang sedang memetik gitar menyanyikan lagu berbahasa Ryukyu (Foto: Koleksi pribadi).

Bangsa Ryukyu paling mendalam merasakan kepahitan hidup akibat perang. Hingga kini mereka terus berjuang membebaskan pantai dan laut dan perasaab mereka dari kepentingan militerisme Amerika Serikat. Masyarakat Okinawa bekerja bersama untuk menjaga perdamaian dan memperjuangkan hak-hak sipil mereka. Akan tetapi dunia belum banyak mengetahui persoalan yang tengah dihadapi masyarakat sipil di Okinawa. Kenyataan ini mengingatkan saya pada sejarah Timor Leste, Atjeh Sumatra, dan Papua.

Dari lukisan The Battle Of Okinawa, saya dapat melihat perasaan seniman Maruki Toshi dan Maruki Iri mewakili perasaan orang Jepang dan Ryukyu. Kepedihan yang kelam, warna-warna hitam yang keras, merah yang berantakan, biru yang kusam, manusia-manusia dengan mata berkornea putih. Kejadian mengerikan di dalam goa-goa bawah tanah yang memilikan pada awal April 1945, ketika bumi Okinawa dibombardir dari laut, darat, dan udara.

Suasana pengamanan oleh petugas keamanan di depan fasilitas militer US MARINE di Schwab Okinawa.

Sebuah tank amphibi sedang melakukan pendaratan ke pantai di lokasi camp militer US di Schwab, Okinawa

Sebuah tulisan besar di kawasan militer US di Schwab, Okinawa. Yang dibuat oleh masyarakat Ryukyu untuk menolak reklamasi pebangunan camp militer Schwab di kawasan ini.

Generasi manusia Okinawa mulai berganti, tetapi kisah sedih itu terus terpahat, tercatat, dan diceritakan, bukan untuk mengajak anak cucu untuk kembali ke dalam peperangan, melainkan mengingatkan untuk selalu menjaga perdamaian dan keharmonisan.

Para sahabat dari The Sasakawa Peace Foundation mengajak saya mengunjungi museum Sakima. Kami berjumpa dengan Kurator museum yang mengantarkan kami sambil menceritakan latar belakang kisah dari karya-karya yang terpajang.

Sehari sebelumnya, kami berkunjung ke museum Haebaru Town Museum dan museum Himeyuri. Museum tersebut merupakan goa bawah tanah yang merupakan tempat berlindung dan rumah sakit bagi masyarakat Ryukyu saat Amerika membombardir Okinawa pada April 1945. Goa yang luas dan memiliki relung membentuk lorong bercabang yang panjang. Tidak ada cahaya di dalamnya. Saya tidak dapat membayangkan secara visual, penderitaan apa yang dialami manusia saat perang terjadi. Dingin dan lapar, kesepian dan ketakutan.

Sebuah artefak perang di museum Haebaru Okinawa

Artefak perang di museum Haebaru Okinawa.

Kami sedang mendengarkan kisah yang diceritakan Nariko san, di antara benda benda sisa sisa Perang Okinawa di museum Haebaru Okinawa.

Lukisan Maruki Toshi dan Maruki Iri memberikan gambaran yang jelas dan detail perasaan dan pengalaman manusia yang mengalami derita akibat peperangan. Goresan tinta hitam yang lugas, ekspresi wajah-wajah, detail pakaian, kesakitan, ketakutan, semua tergambar dari lukisan itu. Mengerikan sekaligus mengagumi setiap kisah manusia di dalamnya untuk bertahan hidup atau melakukan harakiri ketika disadari telah berada di jalan buntu kehidupan akibat ancaman musuh di depan mata.

Terlalu banyak kisah yang saya dengar. Itu saya sadari merupakan sepenggal kecil dari cerita besar tentang Perang Okinawa. Catatan ini adalah oleh-oleh kecil dari pengalaman yang saya sebut pengalaman besar dalam hidup saya mengunjungi Okinawa.

Saya sudah tiba kembali di Tokyo, namun telinga saya masih mendengar Pak Miyagi memetik Sanshin, gitar dengan tiga dawai asli Okinawa, orang-orang berkumpul menolak pembangunan pangkalan militer baru di Schwab, Mata saya masih terbayang suasana goa-goa bawah tanah, besi baja yang lumer di atap goa karena serangan bom api yang melanda para pengungsi korban perang, benda-benda yang tersisa di dalam goa.

Di atap Museum Sakima kita sapat melihat pemandangan yang mengarah ke pangkalan udara militer US dan pantai yang merupakan lokasi pendaratan militer US pada April 1945.

Awan berarak di atas langit Okinawa

Seorang aktifis dengan mobilnya sedang melakukan orasi sendirian, dia adalah bagian dari gerakan yang mengkritisi kebijakan militer US di Okinawa

Tugu Perdamaian di monumen korban Perang Okinawa

Kami berada di mulut goa kars yang merupakan tempat bekas rumah sakit di masa perang Okinawa, di dalamnya penuh cerita duka. Seperti goa goa bawah tanah di pesisir selatan Jawa, kenangan konflik 1965, pembantaian manusia oleh rejim Soeharto.

Nama-nama korban terpahat di monumen Perang Okinawa.

Kliping berita di koran yag mengabarkan perjuangan pembebasan rakyat Ryukyu dari eksistensi fasilitas militer US di Okinawa.

Dan lukisan besar itu, kesaksian atas perasaan yang mendalam. Namun, saya lebih merasakan kesedihan. Melihat beberapa bagian lukisan telah mengelupas dan terjadi iritasi pada permukaan kanvas dan tintanya.

Akankah kenangan dan harapan hancur terkikis waktu? Lukisan The Battle of Okinawa itu adalah rekaman besar tentang penderitaan akibat perang. Ingatan itu sedang berjuang menghadapi waktu. Akankah kita dapat merawat lukisan itu? Apakah kita dapat terus merawat kenangan dan harapan bagi perdamaian, kebahagiaan, kesejahteraan hingga masa depan yang tak terhingga?

Masih terngiang di telinga daya, suara lirih pak Miyagi menyanyikan lirik berbahasa Ryukyu… ” Mengirimkan air mata… Mengirimkan air mata”.

Saya bertanya, “Quo vadis, Okinawa?”

Ke mana arah umat manusia hari ini di masa depan?