HUTAN RIMBA LIAR PERFILMAN INDONESIA

Uncategorized

19 Februari 2011

Gambar 

 

(CATATAN  06 Juli 2010 yang diterbitkan kembali)

 

FADE IN

FADE OUT

 

OPENING:

Dari Youtube terlihat tayangan video klip BEATLES…

 

The wild and windy night

That the rain washed away

Has left a pool of tears

Crying for the day.

Why leave me standing here?

Let me know the way.

(The Long and Winding Road, BEATLES)

 

Barangkali JDR (John De Rantau) mengalami suasana dalam syair lagu itu pada malam-malam sepi setelah premiere film Obama Anak Menteng.

 

Malam yang berangin liar

Hujan tersapu angin

Meninggalkan jejak genangan air mata

Tangisan hari ini

Mengapa membiarkan aku sendiri?

Tunjukkan aku jalan

 

Maka, perasaan John sang perantau itu juga dirasakan oleh orang-orang film Indonesia yang dihadapkan pada suatu realitas kepentingan modal yang absolut. Film bukan lagi pembahasan dalam ruang kelas sinematografi, film tak layak lagi mendapat tempat dalam tradisi kritik intelektual, film bukan suatu pesan cultural, film tidak lagi suatu karya yang kusyuk, film lepas dari kejujuran ide, sama seperti wajah Indonesia hari ini, Film di satu sisi mengumbar “kemaluan” karena hilangnya martabat seorang kreator namun di sisi lain memenuhi kebutuhan perut yang terus menggelar konser kerontjong jaman edan.

 

Saya menamakan ranah perfilman Indonesia sebagai hutan rimba, alam liar yang dihuni homo homini lupus, binatang pemakan segala yang saling memakan sesama. Bagaimana tidak? Di dalam hutan rimba alam liar perfilman Indonesia ini pekerja-pekerja yang memiliki kemampuan berfikir dan olah rasa serta ide kemudian berhadapan dengan sistem yang brutal. Kasus OAM (OBAMA ANAK MENTENG) merupakan kasus paling mutakhir saat ini. Sutradara yang semestinya dihargai harkat (harga diri dan bakat-bakat) serta martabatnya, kini tiada lagi memiliki posisi tawar (bargain). Apresiasi itu dapat dilihat dari apa yang tertera dalam kesepakatan kontrak kerja.

 

Kasus OAM dan Sutradara tandem itu adalah pelajaran berharga yang kesekian kali bagi para penggiat perfilman. Produser, Sutradara, Direktur fotografi, Direktur Art, Penulis skenario, Penata suara, Penata lampu, Pembuat Behind The Scene, Editor, Penata Rias, Penata kostum, Pimpinan Produksi, Unit Produksi, penjaga genset, Pembantu umum. Tidak hanya yang profesional dengan garapan budget besar atau yang masih amatir menggarap Weding Cinematography.

 

Kontrak kerja merupakan dasar dari segala hubungan kerja yang menyepakati hak dan kewajiban dari beberapa pihak yang terlibat dalam kontrak tersebut. Jika muncul suatu permasalahan pada film tersebut. Dalam hal ini kita membahas kasus sutradara mendadak tandem antara JDR dan Damien Dematra. Jika JDR tidak pernah dikonfirmasi atau diajak bicara oleh Raam Punjabi selaku Produser perihal Damien, berarti JDR adalah pihak yang dizalimi. Maka wajib hukumnya, bagi kita semua untuk membela hak JDR di hadapan hukum. Namun akan berbeda jika JDR telah sepakat dengan Raam punjabi untuk menempatkan DD sebagai sutradara kedua dalam film itu, dalam hal ini kita tidak memiliki kewajiban untuk mengurusi persoalan internal perusahaan mereka.

 

Jika peletakan DD di film itu sebagai sutradara tandem bersama JDR tanpa kesepakatan, maka itu dapat disamakan dengan seseorang yang diberi gelar Profesor tanpa proses akademis. Kalaupun Doktor Honoris Causa disematkan kepada seseorang, itupun ada proses pengujian melalui dedikasi seseorang itu pada suatu bidang. Semisal pelukis Affandi almarhum, beliau mendapat gelar Doktor Honoris Cusa karena dedikasinya kepada dunia seni lukis Indonesia.

 

Raam Punjabi adalah “pemain bisnis film lama” dia boleh dibilang kawakan di bidang itu. Semestinya tidak disangsikan lagi kiprahnya dan kredibilitasnya. Hingga kasus sutradara tandem yang bermasalah ini muncul, satu pertanyaan besar yang muncul adalah; Bagaimana kesepakatan antara JDR, DD dan RP dalam masalah ini?

 

Perfilman Indonesia bukan soal itu saja, persoalan besar dan kecil masih banyak, semuanya belum tuntas. Dari urusan kontrak kerja, kesejahteraan karyawan film dan televisi, keselamatan kerja, hak cipta, organisasi karyawan film dan televisi, organisasi produser, organisasi bioskop, organisasi mahasiswa film, sekolah film, soal-soal di lapangan produksi, soal-soal bisnis film, soal-soal investasi film, peredaran film berikut monopolinya, kebijakan perfilman, BP2N, Sensor film, undang undang dan peraturan perfilman dan masih banyak lagi masalah yang tidak terbahas dan tak tuntas.

 

Persoalan ini menjadi blunder ketika orang-orang yang bekerja di perfilman Indonesia tidak memiliki kemauan untuk membahas dan menyelesaikannya. Dedikasi bagi perfilman Indonesia, dedikasi kepada karya, dedikasi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga; anak sekolah, susu dan kebutuhan dapur juga sama sama perlu, akan tetapi jika persoalan-persoalan di atas tidak terbahas dan tidak terselesaikan, maka orang orang film Indonesia akan terus mengeluh dan hanya sebatas grundelan orang film saja.

 

Tidak banyak buku atau artikel yang mengupas tentang soal-soal itu, hal ini bisa jadi karena tidak adanya relasi yang berkesinambungan antara praktisi film, pemikir film, penentu kebijakan film, pemberita film.

 

Seringkali di lokasi shoting banyak terdengar gerundelan tentang carut marutnya sistem produksi, distribusi dan eksibisi film indonesia. Namun seberapa jauh orang film mampu menjembatani dan menyelesaikan gerundelan itu? Tidak ada bukti soal-soal itu selesai dengan tepat. Jika dibandingkan dengan Hollywood, ya terlalu jauh, tetapi cobalah ambil contoh Cina, Korea Selatan, Thailand. Mereka selangkah demi selangkah berhasil mentransformasikan solusi perfilman mereka menjadi kontribusi yang baik dalam kultur sinema mereka. Maka layak jika negara-negara itu kemudian masuk dalam halaman buku besar The World Hostory of World Cinema. Sementara Indonesia, terseok-seok di pinggiran sejarah sinema dunia, tragisnya tidak pernah terbaca.

 

Saya hanya ingin menyampaikan, di hutan rimba liar perfilman Indonesia ini, kita dihadapkan pada suatu realitas pelik. Sebab organisasi perfilman mandul. Padahal organisasi itu adalah rumah tempat kita berkumpul, membahas soal-soal sebagai kesatuan keluarga besar orang film Indonesia. Sebenarnyalah orang-orang film Indonesia sekarang ini hanya melanjutkan dan memperbaiki sistem yang ada, itupun tidak pernah terjadi. KFT pecah belah, BP2N tak berdaya, Jero Watjik omong kosong, PH PH krisis uang, karyawan film bagai domba yang hilang, produser mumet bengkak budget, undang-undang perfilman tak melihat kondisi obyektif, komunitas film saling klaim, film film tanpa kualitas, para penonton film tidak tahu apa apa, mahasiswa film sibuk nyari kerja balikin modal kuliah, sekolah film asyik dengan autisnya, kurator film dimabukkan teori teori barat yang tidak membumi, film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film

 

film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film

 

film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film film

 

Maaf komputer saya ajah sampe kena VIRUS FILM!!!

Beginilah nulis tanpa kopi dan sigaret. ancur ancuran!

 

GUNUNGAN KI DALANG MASUK KE LAYAR

LAKON GAGRAK MATARAMAN

Goro goro selesai

 

FADE OUT

CREDIT TITLE

 

Daniel Rudi Haryanto

Pekerja Film Indonesia

Mahasiswa Crash Boom Bang eh maaf Crash Program FFTV IKJ angkatan 2

Anggota Karyawan Televisi (KFT) ( Udah bayar iuran 3 tahun lalu, kartunya belum jadi jadi)

 

 

Iklan

Satu pemikiran pada “HUTAN RIMBA LIAR PERFILMAN INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s