ubud dan jakarta

30 Agustus 2008

aku tiba di jakarta lagi.  penerbangan dengan lion air pukul 17.10 wita dari bandara Igusti Ngurah Rai Denpasar, Bali. keluar dari pesawat sudah kurasakan kadar karbondioksida yang pekat. dan bandara ini menayangkan kesibukan yang luar biasa. sebelum mendarat tadi, dari ratusan meter di atas permukaan jakarta, kulihat kepadatan arus lalulintas. orang-orang mengendarakan mobil, memenuhi jalanan yang padat di sabtu malam ini. semua mungkin mencari uang. semuanya mungkin memburu uang. sementara dua malam yang lalu, aku masih di Ubud. mencium aroma tanah basah, melihat kunang-kunang terbang, atmosfer hutan yang bening serta obrolan seru tentang masa lalu di Jogja, tentang lukisan, tentang keglaan masa remaja melawan orde bau dengan kesenian dan cerita remeh temeh tentang malam yang senantiasa menyuguhkan libido untuk melukis.

Ubud dan jakarta tentunya sangat berbeda. di ubud kudapatkan ketenangan dan gelisah yang membuncah seperti gelombang yang keras. ingin melukis, hidup berkesenian. menikmati malam, kopi atau bredi dengan sempurna. sedangkan di jakarta, saat ini kutemukan pemandanga yang sibuk, terburu buru dan diburu. pekerjaan menumpuk dan lintang pukang. tidak ada kunang-kunang di Jakarta, hanya nampak lampu flip flop yang dipajang dinas pertamanan kota dki. Tidak ada aroma tanah basah di jakarta, yang tercium hanyalah karbondioksida saja, tidak kudapati kopi dan brendi atau lukisan yang membuatku bergelora, yang kudapati hanyalah bualan orang-orang menjelang pemilu 2009 di televisi.

ubud dan jakarta selalu berbeda. terkenang apa yang diutarakan si Wahyu, kawan yang kutemui di ubud dua malam yang lalu, dia bilang begini ” lukisan boleh abstrak, tetapi hidup itu realis” atau kalimat Mulyawan ” tetaplah kerja di film, tetapi melukis di Ubud, datang dan berlibur…”

dan pertemuan itu mengajakku pulang ke Ubud. sekedar melukis dan merekam dengan kamera video aktivitas kawan-kawanku di sana. Aku ingin menikmati hidup seperti dua kawanku itu, juga seperti Dendy asal Atjeh yang tinggal di ubud yang membuat lagu, berkesenian dan menikmati kopi di malam hari dengan sempurna…

kemerdekaan

17 Agustus 2008

setiap malam tujuh belas agustus seperti sekarang ini saya selalu gelisah. Gelisah perihal kemerdekaan. Ingatan kembali pada masa indah di usia Sekolah Dasar. Di kampung saya, di Gang 5 RT 5 RW 5 Karang Ayu Semarang Barat, suasana tujuhbelasan selalu rame. Bahkan beberapa minggu sebelum tanggal 17 berbagai macam lomba diselenggarakan dengan sangat meriah. Gerak jalan, lomba lari, lomba makan kerupuk, masukin pensil dalam botol, lomba mengambl uang dari buah pepaya dengan menggunakan bibir, balap karung, sedangkan orang dewasa dengan menggunakan daster bertanding sepakbola. pagi-pagi di setiap halaman rumah berkibar bendera merah putih. Seluruh jalanan hingga lorong-lorong perkampungan dihiasi merah putih. Dan dengan semangat setiap 17 Agustus Pagi, saya bersemangat berangkat ke sekolah untuk mengikuti upacara bendera. Televisi menyiarkan film-film perjuangan revolusi kemerdekaan. Semua terasa berlumuran makna kemerdekaan.

Merdeka dan kemerdekaan. Dua kata ini yang hingga saat ini,( ketika usia saya sudah 30 tahun) selalu membuat saya gelisah. Mencoba terus mencari apa itu merdeka dan kemerdekaan. Soekarno membacakan naskah proklamasi, di sampingnya Bung Hatta dan dikelilingi tokoh-tokoh pergerakan masa itu. Berapa hari sebelumnya, Soekarno dan Hatta diba ke Rengasdengklok. Suatu pergerakan yang misterius ketika kemudian di bawah tekanan situasi perang dunia ke 2, mereka, kaum pergerakan itu, yang muda maupun yang tua memutuskan untuk memproklamirkan kemerdekaan. Menyuarakan kepada dunia international akan lahirnya sebuah negara baru, berbendera merah dan putih bernama Indonesia. Suatu pergerakan yang membawa gelombang besar pada jatuhnya kolonialisme di negara-negara yang dikangkangi kolonial, menjadi insppirator bagi negara yang memperjuangkan haknya sebagai bagian dari umat manusia yang tidak mau dijajah.

Kini semangat itu masih menderu di dada saya. Sejarah yang gemilang dari putra-putra Bangsa yang rela mengorbankan apa saja yang mereka punya untuk melahirkan jabang bayi revolusi bernama kemerdekaan Republik Indonesia. Suatu cita-cita yang utuh untuk membebaskan nusantara dari belenggu penindasan kaum kolonial dan imperialis. Suatu semangat yang mengajak manusia untuk terlahir utuh, hidup baru sebagai manusia yang merdeka. Yang bersatu dalam sebuah wadah bernama Indonesia.

Saya di Bali saat ini, sedang ikut dalam satu project shooting film. Film buatan orang Indonesia. Tentunya berbahasa Indonesia. Pemainnya dari dua negara. Selain dari Indonesia juga dari Malaysia. Malam saya menjumpai orang-orang berpawai di jalanan. Dari yang sederhana hingga dengan atribut kemewahan. Dari arak-arakan manusia ingga pawai motor besar Harley Davidson. Semua orang mau merayakan menjadi merdeka. Musik menderu di Kuta dan kawasan Seminyak. Bendera merah putih terpajang di mana-mana. Indonesia ternyata adalah keniscayaan. Kongkret.

Menjadi Indonesia memang butuh pengorbanan. Proklamasi 17 Agustus 1945 bagi saya adalah pintu gerbang dari sebuah jalan yang panjang, yang berliku yang terjal yang rawan. Proklamasi kemudian memunculkan masalah baru yang banyak nan luas yang menjadi pekerjaan rumah yang terus menerus membutuhkan penyelesaian. Seperti hari ini, bukan pemandangan pawai arak-arakan saja, bukan pawai harley davidson yang bergelora, bukan pidato kenegaraan dari Presiden, bukan iklan-iklan partai di televisi yang membualkan janji kesejahteraan. Bagi saya , Proklamasi adalah jalan yang harus saya tempuh. Buat saya sendiri itu adalah jalan yang lapang. Memberikan banyak pilihan. Selain tantangan yang menhadang di jalan itu tentunya. Kemerdekaan bagi saya adalah suatu pemandangan maha luas, yang menyediakan saya banyak lahan yang harus digarap. Yang menjadikan saya harus terus belajar dan bekerja. Bukan untuk diri sendiri tetapik banyak orang. Kemerdekaan adalah berkah dan berkah itu harus dirayakan untuk banyak manusia yang merdeka.

17 Agustus 1945-17 Agustus 2008, adalah rentang waktu yang panjang. Indonesia banyak berubah. Malam ini saya menyadari. Terlahir sebagai manusia Indonesia tentunya merupakan kebanggaan. Saya sudah pergi ke berbagai tempat. Hampir seluruh Kota besar di Sumatra Raya saya pernah Singgah, Seluruh kota besar di Jawa saya sudah pernah hadir, Bali, Lombok, Halmahera Utara, Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur dan Barat. Semua tempat itu saling berjauhan. Setiap kali datang ke tempat yang jauh itu, saya merasa bangga. Saya masih di Indonesia. Jika di dalam pesawat terbang, saya sempatkan melongok ke Jendela. Lautan luas, kadangkala tidak nampak pulau sama sekali. Ini masih di Indonesia.

Tetapi di malam 17 Agustus ini, saya teringat kemarin malam. Shooting dari pagi ke pagi lagi. Di lokasi, saya mendengar sopir-sopir mengeluh karena tidak sejahtera. Temen-temen suntuk karena kerja selalu tanpa hitungan jam yang pasti. Di televisi berbagai masalah ekonomi, politik, kriminalitas, korupsi, kerusuhan massa, ketidakpuasan publik pada hasil Pilkada, harga kebutuhan pokok rakyat semakin mahal, menjadi hiasan audio visual yang miris.

Merdeka, kemerdekaan, proklamasi. Gerbang yang membuka jalan panjang, terjal dan berliku. Samar-samar saya teringat bait-bait penyair Chairil Anwar…

wayan singid

16 Agustus 2008

Namanya wayan singid. tinggal di desa panglipuran, Bangli, Bali. aku datang di panglipuran pada suatu kesempatan ikut rombongan shooting film.

di desa itu ada sebuah pendopo yang menyerupai balai tempat orang berkumpul. tidak terlalu besar, akan tetapi cukup nyaman untuk nongkrong. tempatnya di depan Pura. ketika aku datang ke tempat itu, seorang nenek menyambut kami dengan senyum. namun nampaknya ada yang janggal, anak-anak muda di desa itu namaknya kurang akrab dengan si nenek. Hingga suatu waktu aku ngobrol dengannya. Namanya Wayan Singid. Tidak tahu berapa umurnya. Seorang Sudra yang papa. Dia tinggal di rumah anaknya, suaminya sudah meninggal. Keseharian Dadong Singid ( demikian aku memanggilnya) mencari daun Paku dan sayuran di kebun yang bisa dijual di pasar. Penghasilannya lima tali uang yang jika diterjemahkan sekarang sama nominalnya dengan lima rIbu. Dadong Singid bercerita tentang hidupnya yang menderita, akan tetapi dia tidak mau mengeluh.

“manusia hidup antara nirwana dan bumi pertiwi, maka berdoalah kepada Shang Hyang Widhi, supay keselamatan dan berkah…” demikan satu kalimat yang membekas di hariku. Kemudian Dadong Singid juga menyampaikan kepadaku supaya terus setia pada kejujuran. Aku tentu banyak belajar dari Dadong Singid selama beberapa hari shooting di Panglipuran. Yang aku dapatkan adalah ilmu hidup, tentang manusia dan apa yang semestinya dilakukan. Kesederhanaan, saling menghargai satu sama lain, gotong royong dan kejujuran tanpa melupakan kasih Sang Pencipta. Sungguh pelajaran yang sangat berharga.

Di tengah keadaan jaman yang cepat berubah saat ini, ketika manusia kecanduan produk teknologi dan terus meerus menguasai alam serta mengeksploitasinya tanpa ampun, aku dihadapkan pada banyak pilihan dalam menjalani hidup. Pilihan berikut resikonya. Apa yang disapaikan Dadong Singid kepadaku memberikan petunjuk yang tulus lagi jelas tentang tantangan yang aku tengah hadapi. Melanjutkan hidup, memahami proses, memahami kesengsaraan sehingga menghargai hidup. Hidup bukan untuk diri sendiri atau hanya kepada orang tertentu yang aku kenal, melainkan buat sebanyak mungkin manusia.

Di Panglipuran, pertemuan dengan Dadong (Nenek) Singid adalah pertemuan yang indah dan membekas dalam hidupku. Kejujuran dan kesederhanaan untuk tidak takut mati hanya karena lapar dan tertindas!

jenuh

3 Agustus 2008

seperti hari ini, jenuh menyergap seperti setan di kegelapan malam

Jenuh pada aktifitas tanpa penemuan. jenuh pada rutinitas pengambilan gambar dengan kamera, jenuh dengan standarisasi.

Ingin membawa kamera ke hutan atau lautan lepas. bertemu dengan hal-hal baru yang sunyi. yang belum terlalu banyak terjamah tangan manusia modern. modernitas membawa kesadaranku pada jenuh. bagiku modernitas berikut segala bentuknya adalah rutinitas dan standarisasi yang menjenuhkan.

Ingin merekam peristiwa-peristiwa sederhana. ingin membuat film yang sederhana. ingin bekerja bersama cinta dan rindu. ingin ngobrol dengan alam yang menunjukkan segala tanda kehidupan yang baik sebagai ilmu hidup. Di Kota aku jenuh, di Bali aku terkurung dalam rutinitas kerja. Sama saja. Aku pengen bawa kamera ke tempat yang jauh, bertemu lagi dengan Om Nanju, lelaki tua di hutan rimba Morowali yang mengenal semua jenis kayu di hutan itu. Aku ingin merekam Om Jima atau Om Janggo yang tengah berhadapan dengan perubahan peradaban. yang menentang arus modernitas kota yang terus menggerus nilai-nilai tradisi rang Wana.

Jika jenuh seperti ini, kemarahan datang begitu menyesakkan. Pengen segera pulang ke Semarang, belanja bahan lauk pauk ke pasar bersama Ibu, membantu Ibu memasak di dapur dan makan bersama di rumah Ibu yang sederhana sambil memandangi fotoku berpakaian Toga dengan mengempit gulunan ijazah Lulus dari Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta…

di sudut lokasi shooting

3 Agustus 2008

di sudut lokasi shooting terjadi pertemuan yang tiada dikira sebelumnya

seorang datang padaku dan langsung bilang ” eh! mantan aktivis kok sekarang kerja komersial?” aku terkejut campur tanya seribu kali. Siapa gerangan kawan yang menyapaku ini?

Namanya Brilly, jebolan universitas Satya Wacana Salatiga. Dia tahu aku dulu aktivis dari cerita saudaranya yang bekerja satu tim production denganku. Tutut namanya, perempuan tangguh line produser film “Teman Selamanya” yang disutradarai Rako Prijanto. Film ini diproduksi oleh investor film dari Malaysia.

terjadilah di suatu sore yang penat dan padat karbon dioksida itu. di pinggiran kali besar di Bilangan Kota Tua Jakarta. Dua orang anak muda mojok di sudut lokasi shooting ngobrol theology pembebasan.

sebenarnya obrolan itu terjadi di ruang yang tidak tepat dan di waktu yang tidak tepat. Bagaimana tidak? di tengah mengerjakan project film komersial, eh ngobrolin tentang missionaris, kekristenan dan tetek bengek yang berkaitan dengan pembebasan manusia dari belenggu dosaunia? hahahahahhahahaha serasa jadi anak altar yang baru keluar dari seminari dan kejebur ke diskotik seribu satu malam aku ini.

Di pinggir kali yang airnya hitam dan berbau busuk penuh sampah plastik dan sampah kota itu kami diskusi. tentang alkitab dan isinya. tentang firman Tuhan Allah Yang Ma Suci. Kami diskusi tentang kegelapan, tentang terang, tentang kasih dan kejahatan tentang dunia hitam putih serta warna. Di Pinggiran kali itu aku dengan penuh pengharapan menghibur Brilly yang sebentar lagi akan berangkat ke medan missionaris dengan membawa segala konstruksi yang masuk dalam kepalanya.

Obrolan itu tidak sempat tuntas. Lantas pertemuan kami lanjutan di sebuah Pub. The Place di kompleks Swalayan Sarinah. Bukan lagi ngobrol, melainkan masing-masing tenggelam dalam bir, Jack Daniels dan musik Rock yang menderu. Aku menikmati wrap party itu. Usai shooting dan meluruhkan segala lelah mengumpulkan scene demi scene serta teriknya lokasi satu dan lokasi berikutnya.

Sehari kemudian kami bertemu di Bintaro. satu hal yang aku temukan dalam diskusi dengan tema pembahasan yang sama. Kesaksian yang terpenting bukanlah kesaksian tentang kekristenan yang dikonstruksikan kepada manusia-manusia yang hidup di pedalaman itu, melainkan kesaksian tentang mereka yang hidp di pedalaman serta segenap yang mereka hadapi untuk disampaikan sebagai kesaksian kepada seluruh bumi. bahwa manusia mesti kembali pada kemanusiaannya, bukan larut dalam persoalan dunia. Dan…perjalananku ke berbagai kota dan daerah pedalaman mengajarkan aku pada sebuah terang: modernitas dan segala bentuknya menjadikan manusia gagal sebagai manusia….

aku di Bali Lagi

3 Agustus 2008

Om Swastiastu…

aku di Bali lagi. Sore tadi aku dan beberapa crew berangkat dengan penerbangan Lion Air dari Bandara Cengkareng. Seperti biasanya pesawat sedikit terlambat boarding.

aku heran, setiap kali bepergian hampir selalu bertemu kawan di setiap pemberhentian. Entah itu Terminal, Bandara, Pelabuhan atau Stasiun. Kali ini aku bertemu dengan kawan yang beberapa tahun yang lalu pernah bersama di Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK). Si Galih namanya. Yang membuatku ingat adalah brewoknya yang mirip Alex Komang aktor yang sering bermain di film Teguh Karya. Dia kaget ketika mendengar ada yang memanggil namanya. Ketika dilihatnya aku, dia berserapah nggak karuan. ya…beginilah kawan lama jika rentang waktu yang panjang nggak ketemu. Sejak selesai mobilisasi bantuan untuk Tsunami Atjeh, kami memang jarang bertemu. Sudah dua setengah tahun ini dia di Denpasar, bekerja sebagai Photografer. sebuah profesi yang unik.

Aku kembali ke Bali. untuk bekerja. Kali ini shooting film berjudul ” Saos Kacang”. Penulisnya kakak kelas sewaktu kuliah di IKJ. Lintang Pramudya Wardani namanya. Kalau aku perhatiin dari karya film pendek hingga Saus Kacang ini, scenario yang dia tulis tidak jauh dari benda dapur. Dulu Secangkir Kopi, kini Saos Kacang. Dulu sewaktu mahasiswa, aku sering membantu Lintang dan kawan-kawan seangkatannya dalam mengerjakan tugas karya praktika maupun Karya Akhir. Kini setelah sekian lama nggak bertemu akhirnya ditakdirkan berada dalam satu produksi. aku mengerjakan behind the scene untuk film ini.

Saos Kacang, jika aku baca scenarionya cukup menggelitik untuk merangsang ketawa. lelucon simbolik yang ada di dalam scenario film ini kadang absurd, kadangkala konyol. Bayangkan jika Saos Kacang kemudian menjadi penting untuk menjadi benang merah cerita ini. Serasa mengalir alurnya dan tidak terlalu berat untuk dimakan. Seperti popcorn dan cocacola…

Bali, pulau yang layak untuk liburan. tapi tetap saja di sini kerja. kerja dan liburan tidak ada bedanya jika orang shooting film. kerja dan iburan adalah setali mata uang. hahahhahahahaha

Sudah lewat tengah malam, aku belum mau tidur. menulis catatan ini adalah ritual untuk suatu kegiatan yang baru. Shooting kali ini atas nama rumah produksi Sinemart. Rumah Produksi yang banyak mengerjakan sinetron dan juga film bioskop. Semoga shooting berjalan dengan baik tanpa kekurangan suatu apapun. om shanti…shanti…shanti…