34# Count My Blessing!

Blogroll, Uncategorized

Gambar

17 April 2012…

HOPLAAAA! Aku hadir!

Segenap puji syukur dan sujudku kepada Gusti Allah Ingkang Murbeng Dumadining Jagad, segenap terimakasihku kepada Ibunda tercinta  atas doa-doa beliau, segenap terimakasihku kepada almarhum ayahku yang telah memperkenalkan keberanian dan kata berjuang kepadaku serta menanamkan bibit bakal semangat hidup. Terimakasihku kepada saudara-saudaraku, kepada perempuan yang mencintai dan berkenan mendampingiku, kepada sahabat-sahabat yang telah bersedia memahami segala gelisahku, segala gulanaku…

Secangkir teh dan sigaret menemaniku. Swami menyanyikan lagu HIO di Youtube.

Ketika mencari lagu yang tepat untuk retrospeksi, aku rasa lagu itu paling cocok untuk dini hari ini. Di ruangan kamar kontrakan, dengan headphone terpasang di kedua telingaku, itulah kemerdekaan.

Mengenang segala peristiwa perjalanan, membaca kembali catatan harian, mendata kembali kehilangan dan pertemuan, kemudian menulis. Tidak ada lain yang kulakukan kecuali memanjatkan segala puja dan puji syukur.

Segala duka, segala sukacita adalah berkah.

Segala manis, segala pahit kehidupan adalah dinamika.

Segala rasa itu hadir untuk mendidikku menjadi manusia yang seutuhnya.

34 tahun ini, telah banyak perjalanan yang memberikan pelajaran berharga dalam hidup. Pada setiap nafas menjadi ucapan syukur. Pada setiap denyut nadi adalah doa keselamatan. Dan aku terus mencari pencerahan demi pencerahan dari Mu.

Menjaga kehidupan. Aku mau

Mencintai kehidupan. Aku mau

Berjuang. Aku mau

Kebajikan, kebaikan. Aku mau

Berbagi. Aku mau

Aku teringat surat dari seorang sahabatku Philip Cheah sekaligus kritikus filmku. Ada sepenggal catatan di dalam suratnya yang berbunyi

“Count your blessing, Daniel”

Kalimat yang sederhana, singkat namun seperti pukulan samber geledek Wiro Sableng 212. Seringkali aku lupa untuk menghitung berkah kehidupan. Padahal itulah jembatan kepada tugas pribadiku sebagai manusia: mengucap syukur.

Gusti Allah, Matursembahnuwun…Terimakasih atas segala berkat selama 34 tahun ini…

Kepada Mu SEJATINYA KEMERDEKAAN itu!

Iklan

HAJI MISBACH YUSABIRAN

Uncategorized

Catatan Pagi Darurat Seorang Murid

Pagi ini sebelum saya melakukan ritual secangkir kopi dan sebatang sigaret, di pesawat seluler saya masuk sebuah pesan singkat dari Hafiz Rancajale yang menyampaikan pesan, Pak Misbach meninggal, pagi ini pukul 07.00. Sebarkan…

Pesan itu merupakan kejutan kecil pagi ini, setelah kemarin sempat berdiskusi lewat telepon dengan Bang Arturo GP dan Mas Garin Nugroho berkaitan dengan kronik sinema Indonesia. Bang Atung sempat menyampaikan kabar Pak Misbach sedang sakit. Saya juga ingat, ketika di suasana Malang Film Festival kemarin sempat begadang dan berdiskusi dengan beberapa komunitas film; Yaniel, Arfan, Nopek dari Kine Klub UMM Malang termasuk Ismail Basbet dan Suryo dari Hide Project Indonesia, salah satu nama yang kami sebut adalah Pak Misbach. Rencananya kami akan berkunjung dan melakukan perekaman gambar aktivitas pak Misbach di rumahnya.

Haji Misbach Yusabiran adalah sosok yang melintasi batas generasi. Ia bersentuhan dengan sejarah Usmar Ismail, ia berada di beberapa generasi film pasca revolusi kemerdekaan 1945.

Saya membagi masab perfilman Indonesia menjadi beberapa bagian generasi
1. Generasi 1945, pada masa Usmar Ismail dan Djamaludin Malik
2. Generasi Rusia pasca 50an yaitu generasi Sjumanjaja yang merupakan digagalkan oleh polemik kebudayaan 65 akibat pertikaian ideologis antara LEKRA dan MANIKEBU
3. Generasi post polemik kebudayaan post 65 saya sebut masab sanggar, seperti Arifin C Noor dan Teguh Karya yang bersanding dengan generasi film karir seperti Wim Umboh
4. Generasi post Sanggar yaitu post 70 an yang hanya sebentar seperti Slamet Raharjo dan Eros Djarot
5. Generasi Akademik 80 an seperti Garin Nugroho dan Gotot Prakosa yang bersanding dengan generasi film Bupati dan Sekwilda (Buka paha tinggi-tinggi dan sekitar wilayah dada) yang hadir pada masa carut marut kebangkrutan bioskop lokal dan hadirnya televisi sebagai pengganti media hiburan bioskop
6. Generasi post Garin yaitu generasi i sinema seperti Riri Riza, Rizal Mantovani, Nan T Achnas dan Harry Dagu Suharyadi
7. Generasi Komunitas film seperti generasi Hanung Bramantyo dan Ifa Ifansyah.

Pada pembagian generasi yang singkat tersebut, saya melihat kehadiran Haji Misbach Yusabiran sebagai bagian dari sejarah sinema Indonesia. Ia tak terpisahkan oleh dunia sinema Indonesia. Pengabdiannya di dalam ranah penulisan skenario film merupakan pengabdian yang luar biasa. Patut mendapatkan pengakuan yang setimpal dengan jasa-jasanya.

Di kampus saya, Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta, saya termasuk beruntung pernah mengasup ilmu dari Pak Misbach, mengikuti kelas penulisan scenario yang beliau isi dengan materi penulisan scenario drama. Kami sempat berdiskusi tentang banyak hal yang terkait dengan generasi Usmar Ismail. Dari beliaulah saya kemudian memahami arti penting sejarah sebagai jalan merunut kualiatas karya film dari jaman ke jaman.

Kini, pak Misbach berpulang kepada Sang Pencipta. Bertemu di alam sana bersama pak MD. Alief, dosen sejarah film Indonesia, pak Chalid Arifin dosen Sejarah Sinema Dunia, bertemu dengan Pak Sumardjono guru kuliah editing, bertemu dengan Pak Tom guru sinematografi nama-nama yang saya sebutkan tadi pasti jarang dikenal di perfilman Indonesia generasi kekinian, ya mereka tidak populer pada generasi ini, akan tetapi tanpa mereka saya bisa pastikan perfilman Indonesia tidak akan hidup berjuang seperti sekarang ini.

Berpulangnya Bung Misbach meninggalkan catatan-catatan dari masa ke masa, ia adalah roman itu sendiri dan kini, sepertinya aku mesti menziarahi Usmar, menziarahi Asrul Sani, menziarahi MD Alief, menziarahi Chalid Arifin, menziarahi Arifin C Noor, menziarahi G Dwipayana, menziarahi Tom Gandasubrata, menziarahi Sumardjono, menziarahi Sjuman, menziarahi perfilman Indonesia….

MERDEKA!