Kembali Ke Animisme dan Dinamisme

Uncategorized

Saya pernah tinggal sebulan di Morowali, kawasan hutan adat Suku Wana yang menyebut dirinya sebagai Kaum Ta’a. Di dalam hutan itu saya banyak belajar tata cara hidup dan adat istiadat yang telah mentradisi di dalamnya. Saya juga pernah tinggal di Suku Rimba Bukit Duabelas Jambi, di sana saya melihat perubahan yang sangat miris, saya seperti melihat kiamat peradaban. Ya, kiamat karena orang-orang sudah mulai berpakaian dan menggunakan uang, hutan berubah jadi kebun sawit dan karet, sementara Orang Utan dan Harimau Sumatra terancam kehidupannya.

Ada satu nilai yang saya pahami, hubungan harmonis antara manusia dan alam semesta melahirkan kesadaran imanen dan spiritualitas. Di sanalah manusia kemudian hidup dalam lingkungan alam dan tidak ada yang saling mengusik karena hukum adat yang dihormati dan dilaksanakan dengan baik.

Mesin-mesin modern merubah segalanya. Bahkan mesin-mesin modern hadir bersama misionaris agama-agama. Setiap orang yang tidak beragama, maka ia kafir dan hidup dalam kegelapan bersama setan dan iblis.

Namun di dalam hutan, di bawah lindungan pohon-pohon besar dan karpet lumut tebal yang menyejukkan, saya dapat belajar banyak, bahwa kaum adat menyelenggarakan berbagai upacara untuk merayakan kehidupan dan mengucapkan syukur kepada Sang Pencipta alam semesta. Kaum adat memandang alam semesta sebagai Karya Agung Sang Pencipta yang telah menghadirkan leluhur mereka hingga keberadaan manusia pada hari ini.

Kaum adat melaksanakan segala titah ajaran para leluhur yang diyakini langsung datang dari langit. Titah itu menjaga alam semesta supaya tetap asri, harmoni, tidak tercemar. Itulah ketakawaan manusia paling konsisten yang saya rasakan di dalam pelajaran hidup yang saya dapatkan dari kaum adat.

Dari Wana, Rimba dan dari berbagai wilayah adat yang masih terjaga, saya melongok jendela modernitas. Lantas saya bertanya, adakah yang bisa memberikan kepada saya bukti, bahwa mereka yang dikatakan sebagai kaum adat yang kepercayaannya menyembah pohon, tanah, gunung, angin, matahari, bulan atau benda-benda itu telah membuat kerusakan besar di dunia ini? Bukankah mereka yang melaksanakan adat istiadat menjaga alam semesta ini sebaik mungkin?

Misionaris dan alat-alat modern mengajarkan ilmu pengetahuan, Saya teringat asal muasal manusia terlempar ke Bumi. Ya karena buah Koldi, buah pengetahuan itu, baik dan benar. Ketika manusia pertama memakannya maka ia menjadi dosa. Saya merasakan dunia yang carut marut sekarang ini adalah hasil dari peristiwa itu.

Melihat kemajuan teknologi seperti menyaksikan dosa manusia yang telah sedemikian jauh. Ya, modernitas membawa manusia pada suatu tujuan tanpa pemberhentian. Seperti Foerstgum yang terus berlari hingga berjenggot. Dan kemudian ia lelah lantas kembali sambil menyampaikan satu kata “Aku lelah…”

Jika kaum adat dipandang sebagai kafir, bid’ah, musrik dan primitif. Maka saya menyaksikan merekalah yang mampu mebawa keharnomisan hubungan manusia dan alam semesta karena mereka melaksanakan titah Sang Maha Pencipta Alam Semesta dengan cara menjaga alam semesta ini sekuat tenaga, pikiran dan akal budi mereka. Saya berdiri pada sebuah batang pohon yang tumbang, ketika kesadaran itu hadir. Jika kaum adat dipandang sebagai musuh agama, saya lebih baik kembali kepada animisme dinamisme, karena di sanalah saya dapatkan kesetiaan mengemban amanah kehidupan dari Sang Hyang Pencipta Alam Semesta…..

Iklan

NEGARA SYARIAT AGAMA?

Uncategorized

Jika anda datang ke Indonesia, maka tidak perlu pusing mencari rumah ibadah. Ada enam agama di Indonesia yang diakui pemerintah dan dijamin keberadaannya di dalam Undang-undang. Antara lain; Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu. Semuanya memiliki tempat ibadah di setiap kota. 

Namun jangan heran pula jika anda sering mendengar orang berdebat tentang agama. Di Indonesia, dengan jumlah populasi penduduk Islam terbesar di Indonesia, beberapa kelompok mengusung wacana negara syariat, sementara di pulau lain terdapat pula kelompok Kristen dan agama lainnya mengusung wacana syariat menurut agama yang dominan di daerahnya.

Ini sungguh aneh memang. Mereka dijamin keberadaannya oleh suatu asas Pancasila, tetapi banyak yang menentang asas Pancasila. Ada yang menganggap Pancasila adalah berhala, burung garuda yang disembah. Sementara, saya yakin betul, jika orang-orang yang mengusung syariat agama itu kemudian mampu menggantikan Pancasila tentu bangsa-bangsa di seluruh kepulauan Nusantara ini akan terpecah belah dan sibuk mempertahankan keyakinan masing-masing.

Semestinya setiap orang yang mengusung gagasan negara syariat agama itu belajar dari kegagalan demi kegagalan umat yang menyelenggarakan negara syariat agama dan pada akhirnya berakhir dengan tragis. Jikapun berlaku suatu negara dengan asas agama, banyak sekali tradisi leluhur yang kemudian diterjemahkan sebagai bid’ah dan kekafiran ketimbang dijadikan pelajaran berharga sebagai jejak pengetahuan dari masa lalu. Lantas dimusnahkan.

Tulisan ini memberikan gambaran betapa masyarakat Indonesia saat ini mengalami suatu benturan yang dahsyat. Tidak ada ruang baru yang mampu menjembatani keresahan sosial karena persoalan-persoalan politis yang beku. Agama dan rumah ibadah menjadi ajang dari pelarian umat, karena negara gagal mengemban amanah mensejahterakan dan meraih keadilan sosial.

Mobilisasi umat beragama semakin terasa sejak jatuhnya kekuasaan Soeharto dan Orde Baru. Berbagai aliran kemudian tiba-tiba muncul. Bukan merayakan demokrasi melainkan menentang demokrasi, tidak merayakan keragaman tetapi membangun sistem internal yang mono.

Suatu hari saya pernah menyampaikan pertanyaan kepada seorang kawan yang kebetulan ia sedang berjuang untuk syariat Islam. Demikian dialog saya

“Pernah nggak merasa susah beribadah?” Tanya saya

“Tidak…” Jawabnya

“Gampang nggak sih nemuin rumah ibadah?” Saya bertanya lagi

“Mudah, di mana mana ada rumah ibadah” Jawabnya

“Pernah merasa resah atau takut beribadah?” Tanya saya

“Tidak” Jawabnya

Lantas saya menyampaikan kepadanya begini:

“Mengapa anda tidak bersyukur atas semua berkah hari ini? Telah berdiri banyak rumah ibadah, hingga di gang-gang, di mall-mall, di instansi swasta dan pemerintahan bahkan di bandara, terminal, stasiun dan pasar. Tetapi kondisi bangsa ini tidak pernah lepas dari mata rantai kemiskinan. Mengapa anda masih memaksakan untuk memperjuangkan negara dengan asas syariat agama? Tidakkah berkah hari ini dengan adanya banyak rumah ibadah itu memberikan pekerjaan kepada anda untuk memperbaiki nasib bangsa? Memobilisasi umat untuk sama sama berjuang bagi kesejahteraan dan keadilan? Bukan malah diajak terlibat dalam eksperimentasi politik syariat agama yang sering anda gembar-gemborkan melalui TOA yang mono itu!”

Kawan saya termenung, lantas kami hanya saling diam. Saya tidak dapat membaca perasaan atau apa yang tengah ia pikirkan saat itu. Namun yang terpenting bagi saya adalah sudah menyampaikan ajakan kepadanya untuk  mensyukuri berkah hari ini. Entah dia memahami atau tidak. Itu sudah bukan hal penting lagi.

Saya menutup perbincangan dengan menyampaikan pertanyaan. “Tahu Kota Depok? Di sana sejak dua kepemimpinan partai yang mengusung ideologi agama tertentu, sudah pernahkan anda menghitung? Berapa jalur hijau habis untuk perumahan? Berapa ribu batang pohon ditebang? Berapa mall didirikan dan menghadapkan umat pada liberalisme ekonomi, menghancurkan pasar tradisional dan menghadapkan ekonomi umat yang terus dimiskinkan dengan kapitalisme berjubah agama?”¬†

Kawan saya masih merenung. Dia berkata lirih

“Iya, ya…masuk ke kota Depok sekarang tidak ada pohon di sepanjang jalan, semua tembok kayak di Arab!”

“Ya Arab yang tidak sejahtera adalah negeri yang dilanda perang terus menerus” demikian saya kemudian pamit pulang…