Renungan hari ini

Uncategorized

hari ini aku kelebihan beban. Bukan beban barang, tetapi beban pikiran…Film, film dan film serta realitas dunia yang absurd ini membuatku sadar. Saat senja merayap memasuki wilayah Jakarta yang mendung. Aku menyadari ada di suatu tempat yang hiruk pikuk oleh keramaian berbagai macam kepentingan.

Dan aku menyadari sedang terjebak pada situasi yang kurang menyenangkan. Mendung dan gerimis, sepi dan dingin. Ah…bahasa kiasan yang tak mudah dimengerti

salam

Iklan

hari pertama di blog

Uncategorized

Hari ini tanggal 23 Januari 2007, atau 4 Suro Tahun Saka1428 hijrah. Saya mendapat hadiah dari dua orang sahabat, namanya mas Roim yang baru tiba dari Atjeh Tamiang dan Mas Wandi yang baru saja hadir selepas senja bertemu saya. Keduanya spesialis komputer dan punya wawasan yang luas seputar teknologi informasi dan lingkungan hidup. Mereka adalah aktivis dan pekerja kemanusiaan di Air Putih sebuah lembaga nirlaba yang berkantor di wisma Nariba dan selalu iba jika melihat orang kesusahan seperti saya.

Sedikit bercerita tentang mas Roim yang selama sebulan lebih dari akhir tahun 2006 hingga awal pertengahan Januari 2007 mengabdikan diri untuk melayani korban bencana di Atjeh Tamiang. Perlu diketahui Atjeh Tamiang baru saja dilanda bencana banjir bandang, mengakibatkan 50.000 manusia mengungsi, menelan28 korban jiwa dan harta benda serta dampak kerusakan lingkungan yang luar biasa, 12 kecamatan terendam banjir bandang, 2000 rumah di 12 kecamatan hanyut terbawa air bah. Dari peristiwa tersebut saya kilas balik, saya sering merasakan kehilangan. Ayah saya meninggal dunia karena sakit dan keluarga tak berdaya karena biaya pengobatan yang selangit dan beberapa kawan meninggal karena keadaan yang sulit. Kepasrahan adalah luka dan kesadaran itu menjadikan saya selalu berpikir kenapa bencana? Kenapa tragedi?

Banjir di Tamiang memang tak seperti Tsunami di Atjeh akhir tahun 2004 yang menelan ratusan ribu korban jiwa atau gempa bumi tahun 2006 di Jogja yang menelan ratusan korban jiwa. Bagi saya, satu manusia mati karena bencana adalah tragedi. Satu jenis binatang atau tanaman punah adalah dosa setiap manusia, dosa saya juga. Seringkali kita hanya membandingkan angka-angka dan mendata kerugian dalam angka-angka tanpa mengerti arti dari angka-angka kerugian itu. Bukankah angka adalah petunjuk supaya kita selalu mawas diri?. Sebab dalam angka-angka itu ada sejarah tragedi. Dari mas Wandi dan mas Roim itulah saya menyadari bahwa belajar dari angka saya bisa memahami bukan hanya kenapa tragedi mesti disesali tetapi menjadikan tragedi sebagai awal kesadaran untuk bergerak, dari situ saya berangkat dengan hati nurani untuk berbuat semampu saya. Seperti syair Esek Esek Uduk Uduk yang kalau gak salah (mohon dikoreksi) lagu itu diciptakan mas Antok Baret dan dinyanyikan Iwan Fals. Begini cuplikannya

…wahai kawan hai kawan bangunlah dari tidurmu

masih banyak waktu untuk kita berbuat

luka di bumi ini milik bersama

buanglah mimpi-mimpi

buanglah mimpi-mimpi …

Bercerita tentang mas Wandi, mas Wandi adalah kawan saya yang baru saya kenal di tahun 2006. Pertemuan kami dengan Mas Wandi ini terjadi di Aksara bookstore Kemang Jakarta Selatan. Saat itu sahabat saya Nicolas Saputra memperkenalkan saya dengan Mas Wandi dan juga Mas Wibi. Dua orang tersebut yang memberikan inspirasi saya untuk mengenal lebih dalam tentang persoalan lingkungan hidup dan bagaimana mencari solusi dari lingkungan paling dekat dan hal terkecil yang ada di lingkungan saya.

Saya bersyukur dengan perkenalan saya dengan mereka. Anak-anak muda yang gelisah dan pemberani. Idealis tulen dan pemikir yang cerdas. Yang dapat merealisasikan kegelisahan serta konsep hidup menjadi aksi nyata. Pertemuan tersebut berlanjut dengan perjalanan kami mengunjungi hutan di Tangkahan, Medan, laut Sabang di ujung barat Indonesia dan Pantai Barat Atjeh.

Hari ini saya dibuatkan blog di wordpress oleh mas Roim. Blog ini adalah hadiah yang sangat berharga Semoga tulisan-tulisan saya dapat mengalir terus. Memberikan hiburan bagi anda yang sedih dan kesepian, gundah gulana dan kasmaran. Saya bersedia berbagi. Dengan tulus dan iklas mari kita melayani sesama manusia.

Hidup adalah untuk melayani dan biarlah niat yang menentukan sejarahnya sendiri.

Ora et Labora = Berdoa dan Bekerja

salam