tapi dokter jauh dari sini…

kami ingin anak-anak kami sekolah,

tapi mereka bilang kami harus beragama…”

Itulah kalimat yang diungkapkan orang-orang suku Tak (To Wana) yang saya jumpai di sekitar kawasan cagar alam Morowali, Sulawesi Tengah. Saya dan kawan-kawan datang ke Morowali untuk melakukan penelitian terhadap suku Tak yang sebagian masih hidup berpindah dan mempertahankan budayanya di tengah arus modernitas dan perubahan dunia yang tumpang tindih.

Marisa

Marisa adalah sebuah areal ladang orang-orang Tak. Di tempat itu terdapat ladang yang cukup luas. Ada sejumlah rumah yang dihuni beberapa kepala keluarga. Rumah-rumah mereka terbuat dari atap daun rotan dan lantai kayu. dengan tinggi rata-rata satu meter di atas permukaan tanah. Rumah-rumah tersebut disangga dengan tiang-tiang kayu, lantainya terbuat dari batang pohon pinang hutan. Orang Tak menamakan tempat itu Marisa. Dulu sekali lokasi itu merupakan bekas ladang yang ditinggalkan. Banyak tanaman lombok atau Cabai yang oleh orang Tak disebut sebagai Marica. Huruf C dibaca oleh mereka dengan lafal S sehingga terbentuklah nama Marisa.

Hadir di Marisa seperti hadir di ruang sinema dan mendapati film sudah setengah main. Perubahan dapat terlihat dari pola konsumsi mereka yang sudah seperti pola konsumsi masyarakat kota. Om Jima adalah kepala suku. Waktu pertama berjumpa dengan Om Jima, kaos yang dikenakannya bertuliskan NIKE, peralatan dapur yang digunakan terbuat dari bahan plastik dan logam. Mereka telah membuka diri dengan dunia luar. Kota Kolonodale menjadi persinggahan mereka hampir sebulan sekali untuk mengenal dunia modern, berjual Damar dan berbelanja

Kayu Poli

Jutaan batu sungai berantakan menghampar tak bertuan. Rumah-rumah tersebar berjauhan. Di Kayu Poli ini, anak-anak dan remaja lebih banyak dibandingkan di Marisa. Barisan bukit dan pegunungan dengan hutan yang lebat bagaikan benteng kokoh yang menjadi garis pertahanan budaya Orang-orang Wana (suku Ta). Dokter sangat jauh, Rumah sakit apalagi. Jika orang jatuh sakit, Waliya atau Saman adalah harapan bagi kesembuhan si penderita sakit. Mamago adalah ritual penyembuhan. Gong dan Gendang bertalu-talu di malam hari. Roh-roh penyembuh dipanggil lewat mantra-mantra. Magis dan mendirikan bulu roma. Menari…menari dan bermantra semalam suntuk. Pongase adalah tuak yang memabukkan. Dibuat dari fregmentasi beras ladang. Lembut tapi menohok. Kayu Poli… hidup adalah menikmati Surga. Surga yang sering banjir sekarang ini, karena pohon-pohon yang mulai banyak ditebang. Dicuri dari Hutan Morowali tanpa melihat masa depan anak cucu. Di Kayu Poli, saya menyaksikan senja yang jingga. Terpantul di derasnya arus sungai Morowali.

TORONGGO

Satu jam perjalanan dengan ojek motor dari pelabuhan Batu rube. Pelabuhan Baturube adalah pelabuhan kecil yang dapat ditempuh semalaman dari Kolonodale. Di Toronggo orang-orang Wana menghadapi akulturasi yang besar-besaran. Pengembangan kawasan Transmigrasi dan kebun Sawit menjadi pemandangan pembangunan yang rutin. Di Toronggo, Orang-orang Wana sebagian sudah memiliki motor roda dua. Sebagian yang lain bekerja keras di Kebun Sawit yang sebagian masih terbilang tanah adat mereka. Sekolah adalah impian yang menjanjikan perbaikan nasib. Walaupun kemudian orang Wana harus melepas Agama Khalaiknya karena admisnistrasi sekolah mengharuskan anak-anak mereka memeluk salah satu agama yang ada dalam aturan Undang-Undang Negara. Toronggo adalah wajah Wana yang hancur. Transmigrasi, BKKBN, Kebun Sawit, modernitas yang dipaksakan.

Datang ke Morowali bagaikan datang ke gedung bioskop. Mendapati film yang sudah setengah main. Saya tidak tahu darimana ceritanya berawal. Yang saya bisa rasakan adalah adegan demi adegan, tangga dramatik yang memuncak. Sedangkan akhir dari ceritanya tak dapat ditebak. Seperti menonton Sinema Paradiso yang penuh teka-teki, apa isi kaleng warisan si orang tua? Potongan-potongan gambar bergerak yang masing-masing penggalannya menceritakan kisahnya sendiri-sendiri….

to maliwu bure

10 Maret 2008

aku datang ke morowali

menjelajah sebagian hutan dan sungainya

bertemu orang-orang pencari garam

yang menceritakan kisah hidupnya

Morowali… Morowali…

raksasa yang sekarat

menghadapi angin barat yang gemuruh

lari ke gunung sisa-sisa bom tentena

trauma…trauma

pemilu adalah masokisme kekuasaan

banjir nestapa

gereja hanya sebatas kolekte dan konspirasi

Morowali…Morowali…

kini tidak lagi garam laut yang asin

melainkan garam modernitas yang gagal

suara ketingting om Jima terdengar di kejauhan

menuju Kolonodale

Damar dan Rotan

penghias kehidupan