cairo21egypt

Mataku tak bisa tidur, ingin menikmati perjalanan malam. Ku tatap dari balik jendela kaca bus kota. Sepanjang perjalanan dari Alexandria menuju Cairo, imajinasiku menerawang kemana-mana.Perjalanan malam selalu asyik. Berkelana dalam imajinasi dan renungan.

80 km per jam. Tidak boleh lebih dari itu. Karena kamera pemantau kecepatan terpasang secara rahasia di sepanjang jalan. Siapa yang melanggar pasti akan terkena sangsi. Aku menyaksikan kabut menyelimuti jalanan bypass Alexandria menuju ke Kairo. pohon-pohon perdu berbayang siluet, terbias dari lampu-lampu mercury yang berlari. Debu di kaca, membeku di awal musim dingin yang serasa menggigit ini. Ah…Mesir, negeri yang menyimpan sejarah masa lalu yang gegap gempita. Dari mulai kisah Firaun si raja lalim, kisah Musa dan perjalanan pembebasan bangsa Israel, kisah Yusuf hingga Hasan Al Bana. Hingga Gamal Abdul Naser hingga Anwar Sadath… sejarah yang dihiasi gelora pergulatan intelektual dari pemuda pemudi yang tirakat ilmu Agama di Al Azhar hingga kisah keseharian di sekitar sungai Niel yang tak pernah kering.

80 km perjam, bayang-bayang ang berlari. Kisah kopi Turkey seharga 10 ponds yang menemaniku terjaga sepanjang perjalanan. Perjumpaanku dengan kawan-kawan dari Indonesia yang tirakat menuntut ilmu di Al Azhar dan diskusi-diskusi di luar jam shooting menerbitkan cahaya pencerahan untuk mengenal Tauhid serta mendalaminya. Aku serasa menggali bebatuan yang tertimbun pasir dan menemukan jawaban demi jawaban atas berbagai misteri yang selama ini menggelisahkanku. Aku membaca halaman demi halaman buku bernama Mesir ini.

Malam dihiasi bintang-bintang…

cairo dan perjalanan

9 November 2008

cairocairo2cairo3

Cairo…

Jalanan yang sibuk, kehidupan lewat tengah malam, awal musim dingin yang menusuk tulang, aparat keamanan di mana-mana, ribuan menara berdiri kokoh, kota tua yang semakin uzur, sisa peradaban kuno yang tertinggal, adzan berkumandang, coca cola, pepsi dan makanan instan, asap siza yang menyihir, el khalili, universitas al Azhar, kaum muda yang energik, taxi ngebut di jalanan, sampah di mana mana, matahari yang berjalan condong, hiruk pikuk dan musik, perdagangan, pembangunan, pergerakan…paradoks.

saya tiba di Cairo, untuk suatu pekerjaan. Bergabung dalam sebuah proyek pembuatan film. Ketika tiba pertama kali di Bandara, sudah terkena masalah. Kamera SONY dsr 150 saya ditahan aparat keamanan bandara. dua hari tertahan, dan saya harus rela untuk berpisah sementara dengan “Pacar” pertama saya itu. Ini awal musim dingin yang terasa kering. Saya dan teman-teman crew beangkat dari jakarta pukul 14.00 wib. Menumpang pesawat Etihad. Ini perjalanan panjang pertama saya. Ketika tiba di Cairo dan singgah di Wisma Jawa Tengah, saya segera menyadari bahwa di Cairo suasana terasa masih di negara sendiri, bertemu dengan saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang menuntut ilmu di Universitas Al Azar Cairo dan tergabung dalam crew film yang sedang kami kerjakan ini.

Menuju Cairo adalah perjalanan yang panjang. Di Abudhabi ketika singgah untuk transit, suasana begitu asing. Bandara Abudhabi cukup ketat. Tas Kamera yang saya bawa sempat diperiksa petugas Bandara. Indonesia cukup dikenal luas. Setiap orang yang bertanya dari mana dan dijawab Indonesia, mereka segera mahfum.

Beberapa hari sudah saya mengikuti shooting. Senang punya pengalaman shooting di negeri orang. Di tempat yang jauh, yang berbeda bahasa maupun perilaku hidup budayanya. Cairo barangkali masih satu sisi dari Mesir yang besar ini. Banyak hal baru saya dapati di sini. Bertemu dengan mahasiswa universita Al Azar adalah kesan tersendiri. Mereka usia muda, namun gemar menuntut ilmu dan sederhana. Nampak cerdas perilaku mereka. Intelektual yang akan segera lahir dan Insya Allah berguna bagi bangsa dan masyarakat Indonesia yang saat ini sedang tenggelam dalam krisis di segala bidang.

Di jalanan produk makanan dan minumanlisensi Amerika bisa ditemukan dengan mudah. Cairo, Merlboro, Pepsi, Cola, Burger… bersanding dengan seribu menara setiap lima waktu mengumandangkan adzan…

catatanku baru sampai di sini. masih sebagian kecil saja.