https://wordpress.com/post/saksi.wordpress.com/845

Perjalanan Estetika Saya

22 Januari 2017

fullsizerender-4

Perjalanan Karya Dan Estetika Saya

Nama saya Daniel Rudi Haryanto

Sejak kecil saya gemar melukis. Melukis apa saja dan melukis di mana saya suka. Di Taman Kanak-kanak Bustanul Atfal IX Muhammadiyah di Semarang, saya sering ikut lomba gambar dan lomba melukis. Sampai hari ini saya tidak tahu beda menggambar dan melukis, saya hanya tahu kesamaannya, yaitu saya mencintai dua kegiatan itu. That’s all.

Di saat belajar di SD KIP Karang Ayu Semarang, guru saya, Pak Priambodo sangat mendukung bakat seni saya. Dia mengarahkan saya sebagi seorang murid penembang Mocopat. Saya pernah menjadi finalis lomba Mocopat se provinsi Jawa Tengah di masa Sekolah Dasar itu. Saya sering mengikuti perlombaan melukis, Ibu saya mengantarkan saya setiap kali saya berlomba.

Pada saat saya SMP (Sekolah Menengah Pertama) di SMP 30 Semarang, pelajaran yang paling saya suka adalah menggambar. Guru seni lukis kami namanya pak Tri, beliau sangat senang melihat tugas-tugas saya, nilai menggambar saya selalu bagus.

Buku Seni Rupa di masa SMP itu memperkenalkan saya kepada tokoh-tokoh seni rupa Indonesia. Saya mengenal Affandi, Soedjojono, Hendra Gunawan berikut organisasi yang mereka bikin pada masa revolusi kemerdekaan 1945. Catatan sejarah mereka begitu memukau saya.

Jika liburan tiba, saya pergi ke Jogja mengunjungi kakak saya. Semarang-Jogja ditempuh dalam waktu 3 jam dengan menggunakan bus antar kota. Saya senang mengunjungi Malioboro dan pameran seni rupa. Kakak saya seorang aktifis mahasiswa waktu itu, lingkaran pergaulannya turut membentuk peribadi saya dalam melihat, mengkaji dan memahami permasalahan sosial dan politik.

Mas Totok adalah mahasiswa Seni Rupa Taman Siswa, dia pandai membuat dekorasi, pada acara-acara seminar kebudayaan atau diskusi saya sering diajak mendekor. Saya sering lihat dia melukis sampai larut malam.

Dulu di Jogja ada Forum Intelektual Muda yang dibikin sama Lembaga Kebudayaan dan Lingkungan Hidup (LKLH) yang dikelola kakak saya.

Suatu kali di Perpustakaan Hatta di jalan Solo LKLH menyelenggarakan seminar kebudayaan, di situlah saya mengenal penyair Wiji Thukul.

Puisi-puisinya gampang saya pahami, bahasanya ringan tapi mudah menyadarkan manusia tertindas. Waktu itu saya masih SMP ya…hihihi

Di Jogja, saya mengenal teman kakak saya. Mereka melihat bakat saya melukis. Suatu hari Martono memberitahu saya tentang Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) yang ada di Jogja.

Saya tertarik dengan sekolah itu. Sejak saat itu saya ingin melanjutkan ke SMSR setelah saya lulus dari SMP. Cita-cita saya hanya satu, menjadi pelukis, seniman!

***

img_8444

Era Analog

SMSR mengajarkan banyak hal baru kepada saya. Pengalaman yang sangat menarik adalah mempelajari sketsa dan gambar bentuk. Pak Harto PR adalah guru sketsa yang selalu memberikan tugas. Setiap minggu kami harus menghabiskan 1 rim kertas HVS sejumlah 500 lembar.

Tugas membuat sketsa itu sangat membantu untuk meningkatkan kemampuan “menangkap” obyek yang ada di depan mata. Membuat sketsa sangat mempengaruhi proses seni rupa saya di masa berikutnya.

Saya sering keluar malam hari, nongkrong di Malioboro atau Pasar Bringharjo. Menunggu bongkaran sayuran dan membuat sketsa kejadian.

SMSR mengajarkan olah rasa, olah batin, olah ketrampilan tangan. Menghubungkan dan menyelaraskan batin, pikiran dan skill. Tinta, kuas, kertas menjadi media yang sangat murah untuk berkarya.

Di SMSR, kami diajarkan mengenal perkembangan seni rupa dunia melalui sejarah seni rupa. Di kelas 1 kami sudah mengenal Van Gogh, Picasso, Pit Mondrian, Matise, Paul Gauguin, Leonardo da Vinci dan tokoh seni rupa dunia lainnya. Sejarah mereka memotivasi saya untuk bermimpi menjadi seniman besar. Seniman yang tidak berhenti untuk berkarya sampai mati. Sejak SMP saya telah mengenal Raden Saleh, bagi saya Raden Saleh tidak kalah sama pelukis kelas dunia yang saya sebutkan di atas.

Motivasi dan mimpi itu membuat saya gelisah. Gelisah untuk menemukan bentuk dan gaya dalam berkarya. Lebar kertas dan kanvas ternyata tidak cukup luas untuk menampung gelisah saya.

Sebagai seorang yang sering membuat sketsa di lapangan, tentu saya sering berinteraksi dengan masyarakat. Mereka banyak bercerita tentang persoalan sosial dan politik.

Orde Baru di bawah rejim Soeharto sangat kuat, penguasa Negara menyelenggarakan pemerintahan dengan pendekatan otoriter. Di kanvas dan kertas saya menuangkan gelisah, di jalanan saya mewujudkan gelisah itu sebagai demonstrasi.

Era analog memberikan pilihan yang terbatas dalam bidang media berekspresi. Pada tahun 1998, setelah Rejim Soeharto jatuh, saya mendaftar kuliah di Institut Kesenian Jakarta.

Saya membaca sebuah catatan yang memuat tentang sebuah quote, itu diucapkan Lenin saat peresmian sebuah laboratorium film di Rusia pasca revolusi Bolsyevic. “ Di antara semua bentuk seni, film adalah yang utama”.

Saya tertarik dengan pernyataan itu, saya ingin membuktikan apakah perkataan Lenin itu benar? Pada saat itu saya sedang membutuhkan sebuah media yang  mampu menampung semua gelisah saya.

Sebelum meninggal tahun 1994, ayah saya bekerja sebagai karyawan pemasaran sebuah produk mie instan di Jawa Tengah. Ayah saya memasarkan mie instan dengan menggunakan armada mobil film layar tancap. Saya sering mengikuti ayah saya memutar film. Dari pengalaman itu ayah saya mengajarkan bagaimana sebuah film bekerja dengan sebuah produk mie instan dan berhubungan dengan konsumen yang adalah masyarakat yang membeli produk itu. Film, bisnis ternyata sangat terkait.

Era Digital

Tahun 1998, saya masuk kuliah sebagai mahasiswa film di Institut Kesenian Jakarta.

img_8448

Di sekolah film, saya menemukan tantangan yang berat. Saya tidak mengenal teknologi selain kuas, cat, kanvas, kertas, pastel, pencil, dan tinta. Di film saya mulai mengenal kamera, seluloid, lensa, proyektor film, proses kimia laboratorium film, teori cahaya dan sejarah sinema dunia.

Saya sering salah ketika menjawab soal tentang teori warna cahaya. Di SMSR sebelumnya saya telah hapal dan mengalami sendiri pewarnaan. Tetapi di film, ternyata berbeda. Sederhana saja, kesalahan itu menyangkut soal teori warna pigmen dan teori warna cahaya yang ternyata berbeda. Saya mulai memahami perbedaan itu.

Di Seni Rupa saya menggunakan kuas, cat dan dan kanvas atau kertas, di film saya menggunakan kamera, lensa dan seluloid. Dua dunia yang berbeda. Sungguh tantangan yang tidak mudah untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan di dalam kesadaran saya.

Krisis sedang melanda Indonesia, perekonomian bangkrut. Mahasiswa film menghadapi kesulitan dalam prosesing film seluloid. Kahanan yang mendesak itu membawa kami untuk mulai mengenal media video.

Di tahun 1998- 2000, kami mulai menggunakan video untuk praktek. Editing menggunakan komputer. Saya mengalami kesulitan karena saya tidak pernah belajar komputer untuk keperluan semacam itu.

Teknologi yang saya pelajari adalah teknologi komputer untuk menulis dengan banyak perintah control yang harus dihafal, itupun sudah lama terjadi dan lupa semua kontrol. Ini komputer editing, adobe premiere yang bagi saya seperti mimpi buruk, waktu itu. Saya pernah belajar ngedit, lupa di save dan listrik mati, saya panik sampai mencret!

Dari pengalaman belajar itu saya semakin menyadari, teknologi sangat cepat berkembang. Saya mendengar dan mulai sering mendiskusikan sebuah kata: Digital!

Adik-adik kelas saya sering membicarakan animasi dengan software maya. Kawan-kawan di seni rupa sering mendiskusikan pembuatan grafis dengan menggunakan corel draw. Sementara saya hanya mengenal “drawing” menggambar dengan tangan. Bukan dengan komputer. Bahkan bikin poster filmpun saya masih pakai cat poster dan karton. Mengejar pengetahuan dan ilmu teknologi sering membuat kepala saya  “retak” waktu itu, saya belajar banyak dari pergaulan dengan kawan-kawan yang menguasai teknologi.

fullsizerender01

Film digital

Saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa ketika berhasil membuat film. Walaupun hanya merekam, kemudian memproses seluloid, atau mengeditnya ke dalam komputer editing dan kemudian saya sadar telah memiliki sebuah film!

Eksperimen-eksperimen kemudian saya lakukan. Ternyata sangat menyenangkan! Film membawa saya pada perjalanan besar, di antara teknologi, estetika dan ilmu pengetahuan.

Teknologi digital membawa dampak yang luar biasa di bidang visual dan audio. Saya tidak dapat menolaknya. Yang terpenting dari pengalaman itu adalah, saya dapat merasakan pengalaman yang dahsyat untuk mewujudkan kegelisahan saya ke dalam sebuah karya yang lengkap, visual dan audio!

img_7293

Digital

Saya lulus dari Fakultas Film dan Televisi pada tahun 2005. Teknologi informasi dan teknologi komunikasi sudah semakin canggih. Saya waktu itu menggunakan sebuah seluler merk Ericson. Komunikasi dapat dilakukan dengan sangat mudah dari jarak jauh dengan sms dan telepon.

Di film teknologi tata suara dan kamera semakin berkualitas. Saya merasakan perkembangan teknologi terjadi sangat cepat.

Warung internet telah menjamur waktu itu. Pertumbuhan dan perkembangan internet mulai mewarnai ke dalam budaya masyarakat. Game online dan Sosial media mulai hadir menjadi kebudayaan baru.

Pada saat saya masih kuliah, Warung Internet menjadi kebutuhan. Masyarakat merayakan teknologi informasi melalui email dan situs digital. Google mulai menjadi kebutuhan pokok untuk mengakses informasi. Kotak pos mulai ditinggalkan, orang mulai berganti dengan sms, email atau surat elektronik. Kios-kios cuci cetak foto analog mulai bangkrut berganti cetak digital. Dunia menuju kepada runtuhnya tembok-tembok kebekuan.

Dulu, ayah saya pernah membelikan sebuah radio yang terkemas dengan tape recorder. Saya bisa menggunakan tape untuk merekam radio, merekam lagu-lagu favorit. Biasanya lagu-lagu Slank dan Iwan Fals. Saya pernah memiliki jam tangan yang ada kompasnya, atau radio yang terkemas dwnhan jam weaker. Tetapi hari ini radio, tape, alat perekam suara, kamera, dan semua perangkat hiburan ada di sebuah kotak kecil bernama gadget.

Saya menggunakan iphone 5. Gadget ini disebut telepon cerdas. Semua kebutuhan informasi pandang dengar dapat di akses dengan smart phone tersebut.

Saya menyadari di awal tahun 2017 ini, dunia sudah tidak tersekat jarak dan ruang. Mau cari info apa saja ada di google. Referensi sejarah seni rupa, film, musik, dan bentuk kesenian apapun ada di google.

Bisa saja dunia hari ini tidak lagi membutuhkan dinding untuk memajang lukisan. Tidak terlalu membutuhkan bioskop untuk menonton film, tidak perlu panggung untuk menyelenggarakan pertunjukan.

Dengan teknologi digital manusia semakin sibuk dengan gadget. Arus informasi dan komunikasi semakin deras. Tontonan berdurasi panjang tergantikan dengan tayangan pendek yang cukup membuat tertawa.

Berbagai paradigma lumer. Saya semakin gelisah. Seni Rupa yang saya geluti, film yang saya tekuni, pencarian dan pengalaman-pengalaman estetika bergulat dengan situasi dan keadaan. Kahanan manusia tidak lagi seperti dulu. Saya merasakan kini, dengan gadget manusia tampak kehilangan ruang kontemplasi. Dengan gadget ruang sosial malah berjarak. Semua berubah cepat, teknologi merasuki ruang-ruang private. Dari gadget orang mampu membongkar rahasia-rahasia. Dialektika terjadi secara acak tak ada waktu merenung, barangkali inilah apocalypse? Chaos?

Sejak tahun 2010, saya mulai melakukan perjalanan ke berbagai film festival di berbagai negara. Suatu pengalaman yang menarik. Saya menyaksikan perubahan dan perkembangan dunia dari dekat.

Saya berada pada lintasan kebudayaan, lintasan ruang dan waktu serta diskursus yang asing bagi saya. Atas kenyataan itu, saya mendapatkan banyak inspirasi dan saya menterjemahkannya ke dalam karya-karya saya.

Perjalanan estetika saya sampai di kekinian. Saya tidak tahu sampai di mana perjalanan estetika saya akan tiba pada destinasinya. Saya menjalani dialektika atas perubahan dan kejadian-kejadian di sekitar saya ini.

fullsizerenderr

Merespon dengan karya, merespon dengan gambar yang saya ciptakan dari hasil renungan saya yang singkat, kemudian saya berbagi, saya tidak berani menyebutnya sebagai kegiatan exibisi karya, saya merasa ada tuntutan untuk berbagi kepada publik, kepada dunia maya yang penduduknya tidak saya kenal namun sering memberikan suka dan jempol maupun komentar mereka.

Saya memahami, hari ini dunia sedang lumer, seperti es krim cokelat di bawah terik matahari. Saya merekamnya, saya melukisnya, saya menyaksikannya.

Mama Amamapare

14 Januari 2017

Film Dokumenter dan Pembangunan di PapuaDitulis oleh: Daniel Rudi Haryanto

Bagaimana rasanya berada di tengah suasana persalinan yang remang, minim cahaya di suasana 71 tahun Indonesia Merdeka? Apa yang terpikirkan ketika menyaksikan sebuah pulau yang dihuni suku Kamoro tidak memiliki akses listrik, sehingga suasana gelap gulita, sementara di seberang terang benderang, mesin industri tak pernah berhenti bergemuruh mengolah emas? Tidak ada tenaga medis yang hadir berjadwal, rumah sakit jauh, apa yang terpikirkan dari suasana semacam ini?

Pulau Karaka berdampingan dengan pelabuhan PT. Freeport Indonesia, tempat kapal bersandar menjemput emas yang dikapalkan menuju Amerika. Wilayah ini berada dalam wilayah adat Suku Kamoro yang menyebar di pesisir selatan Papua. Sebagian penduduk Pulau Karaka bekerja sebagai buruh atau petugas sekuriti PT. Freeport Indonesia. Sebagian yang lain menggantungkan hidup dari hasil laut yang sangat berlimpah di Amamapare berupa ikan, udang, dan Kepiting yang dalam bahasa Kamoro disebut Karaka, demikianlah nama Pulau Karaka berasal.

Rumah penduduk dibangun di atas tiang kayu besi dan kayu Mangi-mangi (Bakau). Penduduk memanfaatkan sampah dari PT. Freeport berupa triplek, terpal, plastik, besi bekas untuk atap dan dinding rumah.

Penduduk Pulau Karaka adalah pekerja keras, mereka bangun di pagi hari, pergi ke sungai, laut, atau hutan mangi-mangi (Bakau) untuk menangkap Ikan, udang, dan Karaka. Di sore hari mereka pulang ke rumah, menjual ke pengepul dan membelanjakan uang untuk membeli beras, gula, garam, sagu, telur, sabun, atau kebutuhan pokok yang lain.

Di Pulau Karaka terdapat sebuah Puskesmas Pembantu yang didirikan pemerintah pada tahun 2014. Namun keberadaan Pustu tersebut belum dirasakan manfaatnya secara maksimal oleh masyarakat dikarenakan kelangkaan tenaga medis.

Di awal berdirinya, Pustu membuka Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) untuk Ibu hamil dan Balita (Bayi di bawah usia lima tahun). Selain pendataan, Posyandu menyelenggarakan penyuluhan kemitraan dengan dukun-dukun bayi di Pulau Karaka. Diantara dukun-dukun bayi itu terdapat Mama Yakoba dan Mama Maria. Keduanya merupakan kader bidan.

Tenaga medis tidak tinggal di Pustu. Masyarakat tidak pernah mengenal kepala Pustu. Tidak ada penjadwalan pelayanan kesehatan, Bidan dan Suster pada awalnya datang dua kali dalam satu bulan, kini tidak dapat diharapkan kedatangannya.

Kepala kampung Amamapare berupaya melakukan koordinasi untuk mengundang tenaga medis menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi warganya, namun jarak, sarana transportasi, biaya, air bersih, dan logistik menjadi kendala bagi tenaga medis untuk hadir di Pulau Karaka.

Di Pulau Karaka belum ada fasilitas air bersih. Penduduk mendapatkan air bersih secara cuma-cuma dari dock port milik PT. Freeport Indonesia. Untuk mendapatkan air bersih mereka harus menyeberangi sungai sejauh lima ratus meter dengan menggunakan sampan. Di musim penghujan, mereka menampung air ke dalam jerigen-jerigen atau ember plastik.

Sebuah klinik kesehatan untuk karyawan terdapat di kawasan pelabuhan PT. Freeport Indonesia. Walaupun klinik tersebut membuka pelayanan kesehatan untuk masyarakat Pulau Karaka, namun dengan berbagai alasan masyarakat merasa segan datang berobat.

Pulau Karaka dihuni sekitar 1.094 jiwa dengan 350 kepala keluarga. Setiap rumah belum memiliki fasilitas mandi, cuci, kakus yang memenuhi standart kesehatan. MCK berupa bedeng seukuran dua meter persegi dengan pembuangan langsung ke tanah. Kotoran larut bersama air laut yang pasang menggenangi Pulau Karaka. Anak-anak bermain di air yang mengandung sampah rumah tangga. Kenyataan ini memicu potensi penyakit kulit, pernafasan, dan pencernaan menjangkiti penduduk Pulau Karaka.

 

Film Dokumenter dan Indikator Pembangunan

Eagle Awards Documentary Competition (EADC) 2016 mengusung tema Indonesia Sehat. Tema tersebut merupakan sebuah upaya dalam melihat dan menafsir dinamika serta kompleksitas persoalan kesehatan di Indonesia, guna terlahirnya sebuah film dokumenter yang inspiratif, menggugah emosi dan mengubah prespektif.

Satu di antara lima proposal yang lolos berasal dari Timika, Papua yang membawa cerita tentang Mama-mama di Pulau Karaka, Amamapare yang membantu persalinan secara tradisional di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan modern.

Dua filmmaker muda dari Timika Yonri Revolt dan Fabian Kakisina, peserta EADC 2016 hadir di Pulau Karaka pada pertengahan Agustus 2016. Mereka melakukan observasi untuk pembuatan film dokumenter berjudul Mama Amamapare.

Selama 10 Hari di Pulau Karaka, filmmaker melakukan observasi dan proses pembuatan film. Film ini hendak menceritakan bagaimana Mama Yakoba sebagai dukun bayi tradisional membantu persalinan Mama Ance dan Mama Marsela di tengah minimnya fasilitas kesehatan di Pulau Karaka.

Kenyataan yang terdapat dalam keseharian masyarakat di Pulau Karaka terekam dalam kamera Yonri dan Fabian. Pada perayaan peringatan 71 tahun proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, filmmaker merekam pidato gubernur Papua yang menguraikan keberhasilan pemerintah daerah dalam implementasi anggaran belanja daerah untuk pembangunan di Papua. Satu di antara pembangunan tersebut adalah fasilitas kesehatan berikut pelayanan kesehatan di seluruh Papua.

Mendengar pidato Gubernur Papua dan merekam kenyataan yang terjadi di Pulau Karaka yang berdampingan dengan PT. Freeport Indonesia merupakan dua hal yang berbeda sangat kontras. Data statistik keberhasilan pembangunan di atas kertas tidak sesuai dengan kenyataan yang terekam di dalam media audio visual.

EADC membuka kemungkinan adanya jembatan komunikasi dan jendela informasi bagi para penentu kebijakan, pemangku dan pelaksana kebijakan di tingkat pemerintahan dengan masyarakat yang merasakan dampak kebijakan negara.

Dua filmmaker muda dari Timika peserta EADC 2016 tinggal bersama masyarakat, dan merasakan apa yang dirasakan masyarakat Pulau Karaka. Mereka merekam realitas yang utuh sehingga apa yang dirasakan oleh masyarakat adalah apa yang disampaikan di dalam film dokumenter.

Dalam hal ini, hasil observasi dan partisipasi filmmaker dan film dokumenternya memungkinkan menjadi media yang mampu mendistribusikan pengetahuan dari wilayah paling bawah dari pelaksanaan kebijakan kepada wilayah paling atas dari para perumus kebijakan, pemangku dan pelaksana kebijakan untuk mengevaluasi keberhasilan pembangunan.

Film dokumenter mampu memaparkan dan menggambarkan seberapa jauh dampak pelaksana kebijakan pembangunan di masyarakat, sehingga film dokumenter menjadi data yang penting dalam membaca indikator pembangunan untuk mengkritisi pelaksanaan pembangunan di lapangan.

Dua belas tahun penyelenggaraan Eagle Awards telah menghasilkan film dokumenter berkualitas dari berbagai wilayah di Indonesia. Film dokumenter yang dihasilkan tidak saja tayangan yang menghibur, namun mampu membuka cakrawala pengetahuan bagi penontonnya dalam upaya membaca dan menafsir keindonesiaan dan memahami keragaman Indonesia dari perspektif audio visual yang terinspirasi dari realitas.

Papua memiliki kekayaan sumber daya manusia, budaya, dan alam yang luar biasa. Pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya kebudayaan menjadi tantangan yang tidak mudah. Otonomi daerah yang dilaksanakan sebagai upaya pemerataan dan percepatan pembangunan di wiayah-wilayah yang sulit terjangkau, tidak hanya membutuhkan laporan data statistik di atas kertas belaka. Film dokumenter membawa suara masyarakat, menjadi media yang tepat untuk mengawal pembangunan.

Jakarta, Agustus 2016

Daniel Rudi Haryanto

Alumnus American Film Showcase (AFS) 2016

University of Southern California (USC)

Peraih Director Guild of Japan Award, Yamagata International Documentary Film Festival 2011,

Peraih Special Jury Mention Cinemasia Amsterdam 2014,

Melakukan lawatan ke beberapa festival di; Dubai, Jepang, Korea Selatan, Roma, Montreal, Australia, Singapore, Vibgyor, Belanda, Prancis, Los Angeles,  dll

Mentor dan supervisor tim Papua, EADC 2016.

 

 

Rangga meninggalkan Cinta.

14 tahun lamanya. 

Selama Rangga meninggalkan Cinta kita tak pernah tahu keberadaan Rangga. Tetapi Cinta setia menunggu.

14 tahun sejak Rangga pergi  dari pintu Angkasa Pura bandara Soekarno Hatta itu, Pemilu telah terjadi 3 kali; 2004,2009, dan 2014. Indonesia telah banyak berubah. 

Hanya 1 yang tak berubah, CINTA!

Lalu, setelah Cinta menemukan Rangga, apa yang terjadi? Komik ini terinspirasi dari kisah Cinta dan Rangga.

Ada apa dengan Indonesia?😃

Neng surat kabar ana berita, Gubernur Jawa Tengah Pak Ganjar Pranowo naggapi anane ontran ontran neng ngarep Istana negara. Ibu-ibu seko Kendeng ngecor sikile nganggo semen wujud prihatin lan wenehi masukan kanggo pemetintah supoyo batalke rencana mbangun pabrik semen neng Rembang.

Anane kedadean iku, Pak Ganjar njuk curiga ten aksi iku didalangi aktor intelektual dadine ora murni.

Saiki yen pak Ganjar ditakoni, anggone deweke dadi gubernur iku murni opo ana sing ndalangi? Njuk terus sopo dalang neng mburine pak Ganjar? Iso po deweke njawab?

Saiki yen pak Ganjar ditakoni, kaitane perspektipe deweke marang kawulo rakyat sing “tapa pepe” neng ngarep istana iku didalangi utawa ana aktor intelektuale?

Wis nganggo logikane cah bodo koyo aku wae lah. Misale tak takon karo pak Ganjar, “Pak, Diponegoro iku yo ngelawan Walanda sing njajah tanah aire Diponegoro. Opo ana sing ndalangi Diponegoro? Opo ono sing dadi aktor intelektuale?”

Trus meneh takon, “Pak Ganjar, Bung Karno sing potone mbok pasang neng mburimu kae wektu kampanye. Bung Karno iku pejuang, bagian seko getihe rakyat! Opo ono sing ndalangi perjuangane?”

Pak Ganjar, bahasa politikmu mbok yo digawe sing elok lan lantip. Jenengan iku pemimpin Jawa Tengah. Ati ati yen ngendika. Atase priyayi duwuran jabatane kok ngomong koyo Orde Baru?

Sing pinter pak, anggone nguri uri Jawa Tengah. Aku cah Semarang yen ngomong orak perlu nganggo tedeng aling aling. Sory ndori pak yen cangkemku clometan koyok ngene. Aku ora tega ndelok jenengan kepleset semen. Jenengan pemimpin sing kudu iso ngayomi rakyat. Ora njuk ngayomi modal kang iso bakal ngrusak kabudayan. 

Pemimpin iso dadi pemimpin ora mung amargo wahyu keprabon, wahyu keprabon iku dongane rakyat, kudangane para leluhur. Oko njuk dadi kere munggah bale. 

Eling pak, sekulipun panjenengan saking petani. Ulam pindang saking nelayan, agemanipun pak Ganjar ugi saking keringetipun buruh. Monggo kondur dumateng rakyat. Berjuang sesarengan ngadepi jaman kalabendu punika.  

Rakyat dimobilisasi melalui mesin politik dalam pesta demokrasi.

Rakyat memilih dengan harapan kehidupan berbangsa dan bernegara lebih baik di masa depan.

Akan tetapi, pada kenyataannya harapan rakyat tidak mudah diwujudkan oleh para pemimpin terpilih. 

Rakyat dipaksa memahami dinamika politik, libido kekuasaan, libido kapital yang memposisikan rakyat pada posisi obyek penderita.

  
  
  
  

Perempuan adalah inspirator. 

Gerak perempuan adalah koreksi peradaban.

  
  
  
  

Keadaan Indonesia riuh rendah. Ketertarikan pada persoalan politik menjadi pembahasan sejak dari warung kopi hingga sosial media. Apa arti semua ini? 
  

Renungan

8 April 2016

Di jaman ini banyak manusia membangun kelompok, pembela agama, pembela golongan, pembela keyakinan mereka, pembela diri sendiri. Seringkali pembelaan-pembelaan itu berbenturan dengan pembelaan-pembelaan dari kelompok atau manusia lain. Mereka seringkali menggunakan TUHAN sebagai jargon.

Lantas saya bertanya kepada diri sendiri. Apakah TUHAN happy? Apabila manusia menyadari bahwa semua yang terjadi di dunia ini adalah atas Kehendak Tuhan. Tidak ada satupun yang luput dari Kehendak NYA. Di mana kewenangan manusia?

Apakah manusia pernah mendoakan TUHAN supaya Tuhan baik baik saja dan selalu gembira?

Ispirasi Jum’at Subuh menggerakkan saya untuk membuat ilustrasi ini. Mari berbahagia bersama Tuhan…😃

Amuba

1 April 2016

Tri Koro Darmo terlupakan
Boedi Oetomo terlupakan

Samanhudi dilupakan

Haji Misbach dilupakan

Soetomo dilupakan

Suwardi Soeryoningrat tiada diingat

Snevliet, Darsono, Alimin, tak terekam, Semaun tidak diingat

Tan Malaka terkubur dalam dalam

Ahmad Dahlan hanya nama jalan

Taman Siswa album kenangan

Termakan jaman

Tjokroaminoto, Deuwes Decker, serpihan kecil masa lalu

Soekarno Hatta di dalam saku tak lupa, Pattimura muka lecek recehan, Diponegoro kusut ratusan, 

SK Trimurti, Sajuti Melik, Chaerul Saleh, Wikana, DN Aidit, Yamin, terlupa

Siapa Muso dan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo?

Mana tahu Amir Syarifudin

Amuba membelah diri
Virus virus Timur Tengah

Kuman Barat dan klenik Jawa

Dunia seperti selembar roti tawar 
Beragi mengembang 

Orang orang memoleskan mentega di permukaannya

Drama drama dibutuhkan
Memperkuat agama agama

Dengan Toa dan speaker mono

Dipoles air mata pedih

Tangisan anak anak pojok Gaza

Meruntuhkan hujan asam dari langit

Perpustakaan ditinggalkan

Bacaan bacaan pada layar gadget 

Lebih penting dari kitab suci

Kelompok bersenjata di dalam rimba