Rohingya

Uncategorized

Pembunuhan atau pembantaian terhadap umat manusia, apapun agamanya, ideologinya, adalah suatu tindakan yang keji dan melanggar kemanusiaan.

Konflik dan pelanggaran hak asas manusia di Rohingya membuka mata dunia akan semakin melemahnya kesadaran umat manusia terhadap kemanusiaan.

Pembantaian umat manusia itu membawa dampak besar di Asia. Terutama di Indonesia. Solidaritas dan keprihatinan muncul sebagai wujud kesamaan sebagai manusia.

Rohingya menjadi jendela yang membuka mata manusia bahwasanya potensi pelanggaran terhadap kemanusiaan itu ada di sekitar kita.

Selain Rohingya, banyak wilayah di Indonesia mengalami kesamaan potensi pelanggaran kemanusiaan.

Tanah-tanah ulayat di Papua, Borneo, Sumatra, Jawa, Sulawesi, dan wilayah lain di Indonesia akibat agresivitas pemilik modal dan oknum aparat negara menjadi potensi besar konflik yang bakal berkepanjangan.

Genocida tidak hanya berupa pembunuhan atau pembersihan etnis belaka, namun genocida telah dimulai sejak hasrat memiliki dan menguasai bercokol di hati manusia.

Rohingya penting untuk dibahas, umat manusia yang tertindas harus dibela, begitu juga mereka yang ada di Papua, Atjeh, Sumatra, Jawa, Sulawesi, Borneo dan wilayah lainnya.

Mereka belum tentu seagama atau seideologi denganmu. Akan tetapi kitah manusia adalah sama. 

Komik ini saya buat sebagai bentuk solidaritas kepada umat manusia yang tertindas di Rohingya dan di seluruh muka bumi.

Iklan

Film Dokumenter dan Saracen

Uncategorized

Film Dokumenter dan Saracen

Reproduksi kebencian, cerita-cerita bohong yang membahayakan keharmonisan umat manusia menjadi sangat mudah didistribusikan pada era pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi digital dewasa ini.

Teks, gambar, suara, film, merupakan bentuk komunikasi yang sangat berpengaruh bagi kesadaran umat manusia. Di era teknologi informasi dan komunikasi digital saat ini bentuk konten media tersebut termodifikasi terus menerus ke dalam ruang media penyampai pesan. Spsial media menjadi medium distribusinya, murah, cepat, efisien dan efektif.

Terungkapnya jaringan penebar kebencian yang menggunakan nama Saracen belakangan ini mampu menyita perhatian pemerintah dan masyarakat Indonesia dan memunculkan kekawatiran yang besar. Reproduksi konten kebencian dan kebohongan terhadap haronisasi umat manusia lebih cepat didistribusikan ketimbang perangkat komunikasi negara dan aparaturnya.

Jaringan Saracen berikut segala produknya mampu mengendalikan kesadaran masyarakat yang haus informasi. Dengan pembohongan melalui media informasi dan komunikasi jaringan Saracen dapat mengendalikan opini dan memicu tindakan kontra positif yang menimbulkan ekses buruk pada kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kekawatiran ini sekaligus membuktikan bahwa terbukanya akses informasi dan komunikasi belum membudidayakan penggunanya untuk melakukan cek dan ricek terhadap kebenaran suatu informasi.

Teknologi digital memicu agresifitas manusia penggunanya untuk mengakses informasi. Dengan terbukanya akses media informasi dan komunikasi melalui gerbang internet saat ini, informasi bisa saja disebarkan tanpa proses pengolahan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kekawatiran muncul dalam negara. Penggalangan opini-opini yang mengarahkan kepada kebencian terhadap pemerintah melalui provokasi-provokasi negatif yang dilakukan oleh jaringan Saracen pantas mendapatkan ganjaran setimpal dalam ranah hukum Indonesia. Aksi-aksi mereka menghambat laju ekselerasi pembangunan.

Lantas, bagaimana menyikapi persoalan yang telah menggejala di lingkungan kita akibat konsumsi informasinyang negatif? Terkait dengan ekses kontra positif yang diakibatkan oleh reproduksi dan modifikasi informasi-informasi kebohongan seperti yang dilakukan secara profesional oleh jaringan Saracen tersebut?

Selain penindakan tegas melalui jalur hukum yang berlaku di Indonesia, sudah merupakan kebutuhan mendesak bagi negara untuk menciptakan sistem informasi dan komunikasi yang integral dari wilayah paling dasar yaitu masyarakat hingga wilayah paling atas yaitu para pemangku pemerintahan.

 

Perspektif Dokumenter
Film dokumenter memiliki kaidah-kaidah yang baku sebagai tontonan yang berisi fakta. Reproduksi konten berbasis fakta di dalam tradisi film dokumenter mampu menghadirkan realitas kepada penontonnya.

Sayangnya, di Indonesia konsumsi terhadap film dokumenter belum membudaya secara meluas. Sejak reformasi 1998 yang ditandai dengan terbukanya ruang kebebasan media, potensi pegiat film dokumenter mulai tumbuh.

Terhitung sejak era reformasi hingga tahun 2017 ini berbagai potensi film dokumenter berkembang di tataran masyarakat, digiatkan oleh masyarakat, dan dirayakan oleh masyarakat.

Negara belum sepenuhnya hadir untuk merevitalisasi potensi kekayaan konten di Indonesia ke dalam pemberdayaan film dokumenter untuk selaras mendukung pembangunan.

Film dokumenter dapat masuk ke dalam segala pembahasan. Tema kebudayaan untuk memperkuat semangat nasionalisme kebangsaan, tema ekonomi, sosial politik, tema kesehatan, pendidikan, kesenian, pertanian, kelautan, kedirgantaraan, teknologi, estetika dan sains, semua konten tersebut dapat direproduksi ke dalam film dokumenter sehingga menjadi konten yang menguatkan pondasi berbangsa dan bernegara.

Negara dapat membangun fasilitas produksi, distribusi, dan eksibisi film dokumenter dari wilayah bottom to up dan dengan teknologi saat ini memungkinkan konten-konten yang diproduksi dari wilayah bottom tersebut dapat menjadi ruang interaksi aktif antara pemerintah dan masyarakat dan sebaliknya.

Secara terus menerus dapat dikelola dan terus diperbaiki sehingga melahirkan formulasi yang efektif dan efisien dalam distribusi pengetahuan positif selaras arah pembangunan yang dapat membawa dampak baik bagi negara dan masyarakat.

Dengan adanya komunikasi yang terjembatani melalui media komunikasi dan informasi berwujud film dokumenter, negara tidak perlu kawatir menghadapi ekses buruk dari produk-produk seperti yang direproduksi oleh Jaringan Saracen. Film dokumenter dapat memacu tradisi kritis masyarakat.
****

Catatan ini masih berupa sketsa gagasan. Secara detil dapat didiskusikan untuk merumuskan sistem media film dokumenter untuk mendukung pembangunan nasional.

Jakarta, 72 tahun Proklamasi 17 Agustus 1945
Daniel Rudi Haryanto
Penggagas Indonesian Documentary Engine (IDE)
Mesin Dokumenter Indonesia (MDI)

https://www.youtube.com/channel/UCp8vXt1HsJ-AHL-OvqZJrDw

GAJAH MADA

Uncategorized

GAJAH MADA

Gadjah Mada, orang memanggil namaku.

Gadjah Mada namaku, bisa juga Gajahmada. Demikian mahasiswa IKJ dari angkatan 1992 yang masih bercokol di kampus hingga angkatan 1998 yang baru saja muncul sebagai mahasiswa baru.

Dari mana nama itu berasal?

Awal muasalnya adalah Mata Seni.

Mata seni adalah kegiatan orientasi mahasiswa baru. Kegiatannya dilakukan selama hampir satu minggu. Di kampus lain disebut Ospek, kami anak IKJ bangga dengan nama Mata Seni.

Tahun 1998, Indonesia bergolak. Bulan September 1998, Indonesia sedang dalam pergolakan. Demonstrasi mahasiswa bisa terjadi setiap hari. Masyarakat dalam dinamika, antara krisis moneter dan krisis politik. Kasus kasbagi kelas pekerja sekaligus cari nafkah buat anak istri.

Bau Jogja masih melekat di tubuhku, rambutku gondrong sepinggang. Biar nggak gerah, aku gelung seperti halnya seniman Nindityo pemilik Cemety Galery. Tapi seluruh mahasiswa IKJ tahun itu memanggilku dengan nama Gadjah Mada.

Awalnya hari pertama Mata Seni. Demy (Demikian kakak kelasku angkatan 1992) yang masih suka nongkrong di kampus akrab aku panggil. Sewaktu aku diundang maju ke depan panggung mewakili mahasiswa sinema, Demy berteriak

“Gadjaaaaaaaaaaah Madaaaaaaaaa!” Peristiwa itu terjadi di bulan September, hari pertama Mata Seni, lokasi kejadian di Teater Luwes. Sejak saat itulah aku dibaptis dengan nama panggung Gadjah Mada.

Lantas setiap hari selama lima hari itu, aku selalu mendengar teriakan Gadjah Madaaaaaaa!

Lalu ada seseorang menyambut dengan jawaban, “ Awaaaas! Adaaaaa Musuuuuuuhhhh!” dan kawan seangkatanku dari jurusan Fotografi yang kini sukses dalam bidang fotografi professional bernama Eriek Juragan dengan gencar memberondong setiap peserta Mata Seni dengan tembakan layaknya Rambo, “That! That! That! That!”

Namaku Gadjah Mada, rambutku gondrong sepinggang, kugelung seperti Nindityo, tapi namaku dipanggil Gadjah Mada!.

Hingga hari ini, jarang anak IKJ angkatan 1992-2003 mengenal nama Daniel Rudi Haryanto, mereka mengenalku dengan nama Rudi Gadjah Mada aka Ruds Gadj aka Ruds Gadj Mads.

***

Pagi ini aku gundah gulana, dari kemarin orang banyak di Sosial Media memanggil namaku. Gaj Ahmada. Ada yang menyebut Gaj Mada. Mereka sedang demam sejarah yang direvisi oleh seorang sejarawan pemula yang nggak tahu dari mana asal usulnya. Entahlah, katanya si Sejarawan adalah lulusan Universitas tertentu yang tokohnya saat inipun sedang dipergunjingkan dan disebut-sebut sebagai Durno.

Aku nggak peduli sipa mereka yang mempergunjingkan nama Gajah Mada itu. Aku juga nggak peduli amat ketika Gajah Mada itu beragama A atau Beragama B. Aku hanya sebel, sebab mataku selalu nengok jika nama Gadjah Mada dipanggil. Walaupu aku sekarang nggak gondrong sepinggang lagi, tapi nama itu sudah menjadi stigma di kepalaku.

 

Jika ada alumni IKJ angkatan 1998, mendengar orang memanggil Gadjah Mada, maka mereka akan teriak rame-rame, “Awaaaaaasssss Ada Musuuuuuuuhhhhhh!”

Mungkin bagus juga kalok mulai sekarang yang sebut sebut nama Gadjah Mada langsung disambut Awas Ada Musuh!

Demikianlah pagi ini aku sampai meluangkan waktuku untuk menulis ini. Semua analisis mengenai Gajah Mada di Sosial Media merupakan kesalahan. Yang Benar, Gadjah Mada itu adalah aku, alumni Instititut Kesenian Jakarta angkatan 98, jurusan Film di Fakultas Film dan Televisi.

Nggak percaya?

Tanya sama maestro Garin Nugroho!

 

 

 

 

Komik dari era Transisi Reformasi

Uncategorized

Selembar Komik dari era Reformasi

Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto selama 32 tahun menghadapi berbagai tantangan. Satu di antaranya adalah perlawanan mahasiswa, pelajar, pemuda, dan rakyat.

Gerakan pro demokrasi di Indonesia mencapai puncak di tahun 1998, ditandai dengan pernyataan Presiden Mandataria MPR, HM Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998.

Situasi perekonomian yang memburuk di tahun 1997 turut andil dalam menyulut pergerakan pro demokrasi menjadi lebih kuat dan bergerak di seluruh Indonesia.

Kalangan prondemokrasi menggunakan selebaran sebagai media propaganda penyadaran.

Komik merupakan satu di antara elemen penting dalam propaganda mendorong perlawanan rakyat terhadap rejim Orde Baru.

Selama masa transisi reformasi, selebaran atau pamflet sangat efektif dalam menjangkau publik.

Di bawah ini adalah selembar komik yang mempresentasikan persoalan yang terjadi pada masa itu.

“Sebuah Komik di Era Reformasi”

Medium: Tinta spidol di atas kertas
Ukuran: HVS A4

Tahun: 1999/2000

Author: Daniel Rudi Haryanto

Dewan Mahasiswa Jabotabek (DM Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi) merupakan satu di antara banyak organ kesatuan gerakan mahasiswa, pelajar, pemuda, dan rakyat kebanyakan di Jakarta.

DMJ bermarkas di jalan Budi Jakarta Timur, tepatnya di kampus Kertanegara. Kesatuan aksi ini merupakan pengembangan dari organ Front Jakarta yang aktif melakukan aksi extra parlementer di Jakarta menjelang dan sesudah Soeharto jatuh dari kekuasaan Presiden.
Gambar Ilustrasi ini merupakan wujud respon terhadap kebosanan publik terhadap selebaran gerakan mahasiswa yang kebanyakan hanya tertulis.

Para aktivis DMJ meyakini, gambar adalah salah satu elemen penting dalam media propaganda.

#komik #comics #comics #drawing #drawings #sketch #sketchbook #sketchdiary #blackandwhite #fineart #reformasi #reformasi98 #1998 #sarangberangberang #sarangberangberangstudio #danielrudiharyanto #danielrudiharyantoartworks #instagram #propaganda #artchieve

Bersama Tsubasa dari Tokyo Menuju Yamagata

Uncategorized

JEPANG, 6 Oktober 2011
Tokyo-Yamagata
Pukul 14:20 siang

narita_ymgtMenuju Yamagata

Pemandangan dari dalam Kereta Tsubasa

Kereta baru saja melewati stasiun Fukushima dan kemudian baru saja tiba di stasiun Hosenawa untuk kemudian berangkat lagi menuju stasiun berikutnya.

Aku menikmati pemandangan di luar kereta yang berupa pemukiman, hutan, sawah, perkebunan sayur, dan ada juga sungai. Bagiku, Jepang siang ini menyuguhkan pemandangan yang luar biasa, mungkin karena ini pemandangan baru bagiku.

Barangkali pemandangan seperti ini bisa aku temukan di Jawa, seperti di Ambarawa ketika mengalami perjalanan dengan kereta wisata bergerbong dari kayu dan ditarik lokomotif buatan Jerman abad 18. Ya, Ambarawa Jawa Tengah juga menyajikan pemandangan yang sama.

Bedanya banyak sih, Di Jepang ini suasana pedesaan sepanjang jalan yang kulihat agak beda dengan di Jawa. Mungkin inilah mengapa YIDFF (Yamagata International Documentary Film Festival) diselenggarakan di Yamagata, mungkin supaya para peserta yang datang dari luar Jepang bisa merasakan transisi dari Tokyo yang super modern kayak radio transistor raksasa sampai ke Yamagata yang lebih anggun dengan pemandangan hijau asri dan segar alami.

tokyo_ymgtDi stasiun Tokyo

Atau barangkali aku sedang mengalami euphoria sehingga melihat setiap pemandangan di perjalanan sebagai sesuatu yang selalu indah. Tapi aku memang tidak menemukan pemandangan sampah plastik atau kotoran ketika melewati sungai atau di stasiun. Semua yang kulihat bersih!

Aku menyaksikan di sepanjang jalan kadang menemukan pemandangan kandang sapi, peternakan, pedesaan, mengingatkan aku pada film Oshin di TVRI yang sering aku tonton pada saat aku usia sekolah dasar dulu.

Sepanjang perjalanan aku takjub menyaksikan bukit-bukit hijau, hutan terjaga persawahan rapih, seolah-olah Nipon enggan memberi kesempatan bagi pendatang sepertiku untuk mengeluhkan kekurangan-kekurangan. Sangat berbeda jika melewati jalur Jakarta ke Jogja atau Semarang. Ketika kereta keluar dari stasiun Senen atau Jatinegara, pemukiman kumuh di kanan kiri rel kereta menjadi pemandangan yang tidak asing. Seolah kemiskinan selalu bergelayut di depan mata manusia Indonesia.

Ah, sepanjang jalan kulihat langit biru, awan putih bersih seperti gumpalan kapas raksasa yang membiaskan cahaya matahari. Pabrik dan sawah, kebun dan perumahan dapat bersanding dengan selaras dan ramah. Tidak tergusur nafsu modernitas dalam pengetian produktifitas absolut seperti di Jawa. Perjalanan dari Tokyo ke Yamagata membuka ruang refleksi bagiku. Mengingat Jawa selama 30 tahun terakhir, aku menyaksikan sawah-sawah habis, kebun-kebun habis semua untuk perumahan, pabrik atau gudang sebagai representasi dari pertumbuhan ekonomi. Sungguh membosankan.

Semua tertata rapih dan bersih sepanjang Kereta Subasa ini sepi, tidak seperti kereta ekonomi yang mengantarku pertama kali ke Jakarta tahun 1995. Tidak seperti kereta kelas bisnis dan eksekutif yang seringkali mendapati kecoak di balik selimut. Alangkah indahnya Indonesia jika memiliki kesadaran pembangunan seperti Nipon.

Aku berpisah dengan Nury Arfi di stasiun Tokyo. Nury menjemputku di pintu keluar Bnadara Narita dan dia membantuku untuk menterjemahkan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jepang kepada volunteer yang menyambutku.

Nuri membelikan bekal makanan seperti Bolo-Bolo dalam kardus kotak, makanan itulah yang mengobati rasa laparku di kereta cepat ini. Arigato gosaimas ta Nuri Kung!

bekalkuMakanan (Bolo-Bolo) yang dibelikan Nuri di Stasiun Tokyo sebagai bekalku ke Yamagata.

Sebentar lagi stasiun Akayu, di sini penumpang dapat menerima informasi perjalanan dengan mudah. Publik transportasi di Jepang ini selalu tepat waktu. Aku menumpang kereta Tsubasa, kerte yang bentuknya kayak belut putih raksasa ini sebenarnya berlari cepat sekali, tetapi di dalam tidak terasa goncangan.

Sungguh kontras dengan Indonesia, apalagi Jakarta. Baru kemarin aku berada di sebuah kota yang penuh dengan kemacetan transportasi, kini aku ada di sebuah kereta super cepat yang menempuh perjalanan hanya 4 jam dalam jarak yang sama antara Jakarta ke Jogja yang jika ditempuh dengan kereta api biasa bisa sampai 10 jam perjalanan.

Pemandangan baru bagiku

Di Jakarta yang tanahnya kuyakin lebih subur dari Tokyo, sawah-sawah tergusur, kebun buah tergusur, taman kota dan jalur hijau tergusur, semua untuk kepentingan peningkatan ekonomi.

Aku dengar cerita di sini, pemerintah tidak perlu kampanye makan ikan, karena di Jepang orang sudah memiliki kesadaran dan tradisi makan ikan. Menemukan kenyataan tersebut, aku terpikir, semua tergantung dari para pemimpinnya mau bener apa kagak.

dscn7745Aku (Paling kanan) bersama kawan-kawan filmmaker Asia di Yamagata.

Pemandangan luar biasa yang aku lihat dari dalam Tsubasa ini memberikan gambaran bahwa para pemimpin di negeri Nipon ini memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Aku bersyukur dapat belajar banyak dari apa yang aku lihat dan apa yang aku rasakan saat pertama kali ke Jepang ini. Jadi pengen ketemu Voltus atau Megaloman atau Naruto. Ah siapa tahu di Yamagata bener-bener ada Dora Emon… haha…:)

Penerbangan KE 627, Bangku 38 A KOREAN AIR

Uncategorized

Kalau nonton film terus, aku nggak akan mengenal Korea Selatan, pikirku. Maka menjelang dua hari terakhir Festival CINDI ini, aku jalan-jalan untuk melihat-lihat suasana Korea Selatan, Seoul dan sekitarnya. Aku pengen berkunjung ke komunitas Muslim di Korea Selatan. Ada apa saja yang bisa ditemukan di sana, tentu menarik. Lagi pula aku pengen ke museum. Melihat data kebudayaan dan sejarah bangsa Korea dari dekat.

fullsizerender-7

Malam sebelum closing night aku menghabiskan waktu di Spicy Chicken bersama Tetsu Kono dan Moon Byoung. Malam itu aku janjian sama Moon untuk ketemu esok harinya dan jalan-jalan berkunjung ke museum dan ke Itewon. Tempat tersebut merupakan satu distrik di Korea Selatan yang dihuni komunitas muslim dan di sana banyak orang Indonesia. Aku ingin berkunjung ke Masjid di Itewon. Informasi tentang masjid itu aku dapatkan dari Andy yang kemarin mengantarku jalan-jalan dengan kereta bawah tanah.

Aku bertemu Moon di hotel Sunshine. Komunikasi di Korea ini kalok nggak punya telpon lokal ternyata cukup susah, sehingga akhirnya komunikasi menggunakan chating Facebook dari laptopku. Syukurlah wifinya kencang sekali di hotel. Aku mencoba sms dengan hpku, tapi selalu gagal, aku mengira negara ini tidak menyediakan fasilitas buat profider XL ku, padahal ternyata pulsaku habis. Hahahhaa…

Dari hotel kami jalan kaki ke stasiun dan menggunakan kereta menuju Museum Palace. Perjalanan cukup cepat dan tepat waktu, tidak lambat juga tidak terlalu cepat. Palace adalah museum sekaligus tempat yang dilindungi karena sejarahnya. Di tempat ini ada gedung-gedung lama yang direnovasi sebagai kawasanheritage.

Pemerintah Korea Selatan sangat serius dalam urusan sejarah dan kebudayaan. Di museum itu aku ketemu pelajar Indonesia dan mahasiswa yang sedang foto-foto! Mereka  ada yang dari Aceh, Solo Jawa Tengah  dan beberapa daerah lain. Mereka mewakili Indonesia mengikuti Youth International Forum di Seoul. Kami berkenalan dengan mahasiswa itu. Ada pula kawan-kawan mereka dari Brunai, Malaysia.

Setelah selesai dari putar-putar di Palace, Moon mengajakku makan di restoran masakan Korea langganannya. Menurut cerita yang kudengar dari Moon, restoran itu dikelola oleh orang Korea asli yang letaknya di perkampungan dan bukan restoran waralaba.

fullsizerender-6

Sungguh pengalaman yang mengesankan saat aku dijamu makan siang oleh Moon. Di atas meja lengkap berbagai makanan Korea. Ada tauge, sayuran, Kimchi, daging dan lain-lain. Tak lupa kami minum Sho Ju sebagai penutup jamuan makan siang itu.

“Ini untuk persahabatan, Daniel. Kombeeee ” kata Moon sambil menyodorkan sloki nya.

“Terimakasih untuk makan siang ini, Sahabatku Moon. Kombeeee!” aku menanggapi sambil mengadu sloki.

“Thing…Ting…” Suara gelas beradu, Indonesia dan Korea Selatan dalam kenikmatan makan siang. Kombe sama dengan Kampai, sama dengan Kompei, dan di Jawa ada juga Ngombe, artinya minum, bersulang. Ngombeeeeeeee…! Hahahaa…

Aku melihat makanan di meja banyak sekali, di mangkuk kecil, di piring-piring kecil, bermacam-macam dan aku nggak mengenal namanya. Moon dengan sabar menjelaskan nama-nama makanan itu dan bahan bakunya.

Menurut cerita Moon, Perang menyebabkan bangsa Korea menjalani kehidupan yang keras, bahan makanan sulit dan manusia harus survive denga apa yang ada. Sayuran yang bisa ditanam menjadi bahan makanan utama, itulah kenapa Kimci menjadi makanan utama di Korea, itu adalah makanan yang tercipta karena peperangan.Aku senang bisa belajar banyak dari makanan di atas meja ini. Udah begitu gratis pulak! Dasarrrrr…ndeso! Hehehhee…

Aku kebayang masakan Nusantara, sewaktu aku di Minangkabau, Atjeh, Lombok, dan Sulawesi, setiap kali makan, di meja banyak sekali hidangan yang disediakan, aneka warna dan rasa. Bagi orang Korea, makan sangat penting untuk menjalin persahabatan. Di meja makan nilai persahabatan terbangun. Sungguh menyenangkan.

Perutku melilit, selain kekenyangan nasi, aku juga kekenyangan sayur dan daging.Setalah makan siang kami berangkat ke Itewon. Selain di sana terdapat masjid, ternyata Itewon juga banyak dihuni oleh expatriate dari berbagai Negara. Kawasan ini juga merupakan pusat hiburan malam. Yang menarik dari tempat ini juga terdapat komunitas gay dan lesbian, kasino, restoran dan club-club malam. Komunitas muslim dan masjid besar itu berada di tengah-tengah komunitas itu.

Jalan menuju masjid besar banyak terdapat toko buku Islam dan kitab. Di masjid besar Itewon aku ketemu Hasyim, pemuda asal Indramayu ini bekerja selama beberapa tahun di Seoul. Saat aku temui, Hasyim baru saja melaksanakan sholat dhuhur dan dia mengaku sedang menganggur. Karena itulah ia banyak menghabiskan waktu di masjid besar Itewon. Aku beruntung hadir di Itewon saat bulan Ramadhan, sehingga aku dapat melihat aktifitas Ramadhan di Itewon. Saat aku datang, beberapa orang jamaah masjid sedang mempersiapkan tenda dan karpet untuk acara buka puasa bersama.

Di masjid itu terdapat kegiatan belajar membaca Al Quran dan pengajian. Menyenangkan bisa mengenal komunitas Muslim di Korea Selatan. Aku sempat mencari Al Quran bertulisan Korea tetapi tidak dapat, akhirnya aku membeli buku untuk aku jadikan oleh-oleh buat teman-teman dan handai taulan di Indonesia. Aku membeli buku berbahasa inggris yang mengupas tentang Islam dan Perempuan Islam.

fullsizerender-8

Saat aku menulis ini, aku duduk di bangku pesawat Korean Air. Bangku nomor 38 A Penerbangan nomor ke 627 H. Ahhh….. kembali ke Tanah Air, berarti kembali ke realitasnya. Festival adalah sementara, perayaan adalah sementara, diskursus cinema dunia hanya sementara, gagasan-gagasan besar hanya sementara,

Hehehe…sahur…sahur…sahur….sayup-sayup kudengar suara itu. Setiba di Jakarta nanti segera akan kutemui suasana Ramadhan  di rumah kontrakanku di Gang Arab Pasar Minggu. Marhaban yaaa…Ramadhan. Puasa…*

 

 

CINDI Night

Uncategorized

Korea Selatan

A Two Some Place, Desert Corner

21 Agustus 2011

Aku hadir di Spicy Chicken tadi malam pukul 00:00. Walaupun sudah larut malam tetapi tempat itu  masih saja ramai dipenuhi pegiat film peserta CINDI, mereka asyik ngobrol. Vladimir mengundangku untuk minum bersama. Kemudian kami sempatkan untuk menghadiri Cindi Night.

Kami bersama-sama datang ke ruang pertunjukan di CGV I,  bersama kami director Cindi, So Yun Park, Filmmaker dari Iran bernama Zamani Esmati dan Vladimir. Malam Ini dipertunjukkan film bisu  hitam putih yang diiringi music live.

Aku pernah melihat pertunjukan seperti ini pada film Edwin yang judulnya “Dayang Sumbi.” Pertunjukan filmnya Edwin itu dulu terjadi di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, pertunjukan yang luar biasa aku kayak lihat film Charlie Chaplin.

Pertunjukan film bisu hitam putih kali ini juga luar biasa. Gambar-gambarnya dan editingnya sangat kuat, music menjadi pendukung kekuatan  emosi yang dihasilkan dari komposisi dan gerak gambar. Sayangnya kami terlambat datang ke venue sehingga tidak melihat pertunjukan dari awal.

Rasanya nggak enak terlambat datang ke dalam gedung bioskop, mendapati pertunjukan sudah setengah main dan aku tidak tahu awal dari pertunjukan ini. Di venue inipun aku menyaksikan hanya sekitar 40 menit. Akan tetapi dalam masa 40 menit itu aku mendapatkan pelajaran yang menarik.

Di dalam film itu gambar sangat kuat, hitam putih, editingnya menyisipkan symbol-simbol menjadi montase yang merangsang pengertian tersendiri bagi penonton. Tokoh-tokohnya memiliki karakter yang kuat, menampilkan mimic dan gesture yang sangat menjelaskan karakter atau watak masing-masing.***

fullsizerender-4

Cindi Night malam tadi menggugah gagasan untuk membuat film baru. Aku pengen menyelesaikan scenario film yang mengisahkan bapakku sewaktu bekerja pada perusahaan Indoofood dan memutar film keliling sebagai media propaganda pemasaran produk mie instan itu.

Aku rasa pengalaman sebagai anak pemutar film layar tancap akan menjadi sangat menarik untuk dituangkan ke dalam karya film. Di dalam film itu aku ingin menjelaskan relasi antara media sinema, produk mie instan dan masyarakat penonton.

Setelah dari Cindi Night, kami kembali ke Spicy Chicken,  minum bersama Vladimir, So Yun dan Tetsu Kono. Nama yang terakhir ini adalah pemuda asal Tokyo yang tertidur di bathub kamar hotelku beberapa malam yang lalu. Aku mengajaknya tidur di kamarku karena dia tidak memiliki tempat menginap di kota ini.

Tetsu datang sebagai volunteer di CINDI. Dia adalah penulis film-film pendek dan film alternatif. Pemuda Jepang yang gayanya mirip David Carradin di film “Kung Fu” televisi series ini juga peneliti musik. Dia bercerita pernah tinggal di Brazil cukup lama untuk meneliti musik di sana.

Sudah dini hari, Vladimir pagi nanti pukul 6 akan bertolak pulang ke Singapura. Dia memutuskan untuk begadang dan menghabiskan malam bersama di jalanan Korea. Dari Spicy Chicken kami pergi ke sebuah distrik  bernama Gong Nam, tempat itu merupakan pusat hiburan malam di Seoul.

Dari beberapa orang aku dengar Gong Nam sangat terkenal. Kami naik taxi menuju tempat itu dan sesampainya di sana aku dan Vladimir begitu surprise, melihat pemandangan malam Seoul yang tidak ada di Negara kami masing-masing. Banyak pub malam, diskotik, karaoke, restoran dan pub music yang menyediakan aneka genre musik. Hiburan lengkap di sini.

Di pusat keramaian malam seperti itu, muda-mudi Seoul menghibur diri. Berpasangan, berombongan perempuan dan laki-laki. Perempuan-perempuan Korea yang seksi-seksi memenuhi tempat itu, menjadi pemandangan “cleaning the eyes” yang indah. Di tempat itu aku lihat setiap orang haus menghibur diri sendiri.

Jadi ingat kawasan Hayam Wuruk dan Bongkaran pinggir rel Tanah Abang. Tapi kedua tempat itu tidak seramai Gong Nam. Di tengah situasi yang ramai itulah tiga orang laki-laki, dari Singapura, Jepang dan Indonesia duduk di trotoar mengamati situasi dengan sebotol coca cola dan rokok Gudang Garam merah. Cadas banget gak sih? Hahaha…

Kami bertiga masuk ke dalam warung tenda. Tidak ada kursi tersisa, semuanya diduduki orang makan. Warung itu seperti angkringan di Jogja. Kami memutuskan berdiri minum bir sambil membicarakan segala pengalaman yang kami dapatkan selama beberapa hari ini di Korea.

Vladimir banyak berdiskusi dengan Testu tentang Brazilian Music. Gong Nam malam tadi penuh dengan cahaya neon box dan kerlap kerlip lampu warna-warni. Sementara gadis-gadis Seoul dengan dandanannya masing-masing asyik merayakan kehidupan bersama pasangannya. Aku nggak bisa membedakan mana di antara mereka yang artis. Semuanya kayak artis. Semua cantik cantik, putih putih, kayak iklan klinik kecantikan yang banyak tersebar di stasiun dan jalanan kota Seoul.

fullsizerender-5

Vladimir membawa kisah seru dari Serbia kepadaku. Aku rasa dari setiap ceritanya, Vladimir ingin menceritakan kehidupan di Serbia yang suram akibat perang dan pasca runtuhnya Yugoslavia.

Aku bisa merasakan kesuraman itu dari filmnya  “Water Hands”. Film itu  adalah representasi dirinya atas realitas yang ia hadapi selama ini. Di film itu, Vladimir memuja penonton dengan gambar-gambar yang indah, namun ceritanya mengandung kesedihan, harapan, pertemuan dan kehilangan. Menyaksikan “Water Hands” adalah menyaksikan keganjilan realitas.

Bagaimana mendengar seorang Gadis menunggu Sang Pelaut, kekasihnya. Akan tetapi Sang Pelaut berada entah di mana? Vladimir menceritakan kepadaku tentang konflik yang pernah merundung kampung halamannya, Serbia. Ia bercerita tentang perempuan dan Ibu-Ibu yang selalu menangis sepanjang tahun karena konflik dan kekerasan yang merundung negeri itu. Bagaimana rasanya mengalami negara yang terpecah belah? Bagaimana rasanya kehilangan negara?

Vladimir menceritakan kepadaku tentang pengalamannya mengorganisir ‘Seni Politik” dan bekerja pada NGO yang memberdayakan seniman-seniman Serbia. Namun pada suatu acara pameran bersama, sebuah kelompok gangster merusak karya-karya yang dipamerkan.

Akibat peperangan yang terjadi di Serbia sekolah luluh lantak karena serangan bom, Kehidupan Vladimir dan warga Serbia lainnya sangat menyedihkan. Ketika aku memperlihatkan foto Ibuku kepada Vladimir, Vladimir membuka ipodnya dan menceritakan tentang Ibu dan Saudara-saudaranya. Turut serta dalam diskusi kami ini kawan dari Iran, Zamani Esmati, ia hanya diam mendengarkan kami berbincang dan sesekali merekam dengan handycamnya.

fullsizerender-3

Dari obrolan di Spicy Chicken semalam aku mendapatkan makna bahwa keluarga adalah yang terpenting di dalam hidup ini. Filmmaker seperti Vladimir, Zamani, dan aku memiliki perspektif yang sama dalam hal ini. Walaupun Zamani dan aku belum menikah akan tetapi pengalaman sebagai anggota keluarga menguatkan perspektif bahwa keluarga itu penting dalam kehidupan ini.

Dalam realitas konflik, setiap tentara hanya bagian dari pasukan. Tetapi di luar konflik, setiap tentara merupakan anggota dari keluarga. Setiap keluarga menanggung segala permasalahan konflik.

Vladimir menceritakan banyak hal dari pengalaman hidupnya, bagaimana kemudian ia menikah dan menentukan pindah ke Amerika untuk belajar di sebuah universitas di ST. Barbara. Kini ia tinggal di Singapura dengan seorang istri dan dua anaknya. Vladimir mengajar di NTU (National Technology University). Ia dan keluarganya berbahagia. Bagiku, ini adalah cerita yang menarik untuk dikisahkan melalui film dengan judul yang sederhana “Cerita Vladimir”.

Tadi aku antarkan Vladimir hingga ke pintu hotel, ia menyeret kopernya disambut panitia, gadis-gadis cantik berkulit putih-putih berkaos oblong warna pink dengan celana pendek. Sesaat kemudian ia sudah bergerak menuju bandara.

Dari jendela Sunshine Hotel di kota Seoul, aku melongok Indonesia yang jauh. Aku nggak kebayang bagaimana jika negeri ku seperti Yugoslavia.*

 

 

PESAN SINGKAT DARI CINDI

Uncategorized

 

Pada akhir cerita, dengan sangat cerdas, Pushpakumara menampilkan adegan sebuah bus tua yang berkarat, berjalan di jalanan sepi, di dalam bus tanpa sopir itu terdapat berbagai simbol agama, di dalamnya hanya terdapat dua penumpang lelaki dan perempuan.

 

Ruang Tunggu Airport

Incheon, 24 Agustus 2011

Ajang festival film yang digelar di Korea Selatan, Cinema Digital Seoul Film Festival (Cindi) telah berlangsung pada 17 – 23 Agustus 2011. Ratusan film hasil seleksi dan kurasi dari dewan juri memeriahkan festival film yang sederhana, tetapi cukup penting dalam menghubungkan peta potensi perfilman Asia.

cindia

Cindi terbagi dalam beberapa kompetisi dan award, yakni Asian Competition, Red Chameleon, Blue Chameleon, Green Chameleon dan White Chameleon serta Butterfly award serta Movie Collage Award.

Film-film yang mengikuti kompetisi datang dari berbagai negara antara lain; Indonesia, Srilanka, Jepang, Tibet dan China, Korea Selatan, Singapura, Serbia Montenegro, China, Thailand, India dan Prancis, Iran, Mongolia.

Cindi merupakan titik pertemuan film-film yang membawa gagasan-gagasan baru. Setiap film menyampaikan pesan yang dapat memberikan pandangan kepada penonton tentang situasi social, politik, kebuadayaan, yang terjadi di setiap negara, dimana para pembuat film itu berada.

Film yang dipertontonkan dalam ajang Cindi dapat dikatakan sebagai film dengan tema alternatif, tema yang diambil kebanyakan sangat personal. Nilai hiburan yang dimiliki film Hollywood nampaknya harus disimpan di dalam almari, oleh karena ketika menonton film-film di Cindi, para penonton akan melihat film sebagai bagian dari kesaksian dan jembatan menyampaikan realitas yang biasanya menyangkut masalah sosial politik, dan kritik terhadap suatu kebijakan Negara dimana filmmaker itu berasal.

“Fliying Fish” yang disutradarai oleh Sanjeewa Pushpakumara dengan sangat berani memaparkan wajah Srilanka yang diselimuti konflik dan militerisme. Tokoh pada film itu merepresentasikan pihak-pihak yang terlibat dalam hubungan konflik di negara tersebut. Penokohan sosok Tentara, Ibu rumah tangga dan kerepotannya sebab memiliki banyak anak, Seorang pendeta Budha yang gemuk dan lamban berjalan, Seorang anak laki-laki yang berusaha membantu perekonomian keluarganya, Orang tua stress yang tidak puas keadaan di sekitar lingkungannya, perempuan muda yang menjalin hubungan dengan seorang komandan tentara dan terjebak dalam kegemaran melakukan hubungan sex, seorang bapak yang dilematis karena pekerjaan, semuanya kisah tadi disampaikan dalam adegan demi adegan yang sangat kuat memaparkan problem social, politik Srilanka.

Pushpakumara yang mendapat beasiswa belajar film di Seoul oleh pemerintah Korea Selatan, dengan sangat berani “membunuh” semua tokoh yang ada di dalam film itu. Pada akhir cerita, dengan sangat cerdas, Pushpakumara menampilkan adegan sebuah bus tua yang berkarat, berjalan di jalanan sepi, di dalam bus tanpa sopir itu terdapat berbagai simbol agama, di dalamnya hanya terdapat dua penumpang lelaki dan perempuan.

Akhir dari fiksi berdurasi 125 menit ini seperti mengajak setiap penonton mengingat kembali kisah Adam dan Hawa yang terlempar ke dunia karena dosa, dan dosa itu tidak memberikan petunjuk arah pada masa depan umat manusia di kemudian waktu hingga hari ini.

cindib

Film “Old Dog” memaparkan banyak sekali simbol yang menunjukkan bahwa sang sutradara sangat cerdas dalam memaparkan realitas melalui semiotika. Penonton diajak mengurai satu persatu simbol visual dan audio untuk menterjemahkan realitas masyarakat Tibet hari ini.

Pema Tseden, sang sutradara membuka filmnya dengan sosok seorang pemuda Tibet yang mengendarai motor buatan Jepang merk Honda. Sang pemuda itu membawa anjing tua yang berlari-lari dengan leher terantai mengikuti sang pemuda. Latar belakang adegan itu adalah kesibukan pembangunan kota kecil dan Tibet yang mulai berubah. Anjing itu adalah milik ayah si Pemuda. Kepada seorang pembeli anjing, si Pemuda menjual anjing itu.

Selanjutnya “Old Dog” memaparkan tokoh-tokoh dalam film tersebut. Seorang penggembala tua ayah sang pemuda yang berusaha mendapatkan kembali anjingnya dengan bantuan anak angkatnya yang seorag polisi di distrik tersebut.

Banyak adegan ganjil di “Old Dog” yang merupakan simbol untuk diterjemahkan. Seorang lelaki yang bermain biliard sendiri di pinggir jalan, lelaki tua yang berkendara kuda kontras dengan pemuda berkendara motor Honda, gembala yang menggiring ternaknya di antara pembangunan konstruksi besi beton, tukar menukar pemantik api dan dialog panjang antara orang tua sang gembala dengan si pemuda tentang kapan ia memiliki keturunan atau anak. Sekolah dan rumah sakit yang berbendera China dan baliho raksasa yang menyampaikan propaganda pemerintah China terhadap masyarakat Tibet untuk menyudahi mitos, dan saatnya menggenjot reproduksi.

Pema Tseden dengan berani menyisipkan adegan sang gembala membunuh anjing tua penjaga dombanya. Di akhir film berdurasi 88 menit tersebut Sang gembala tua berjalan menaiki bukit menuju arah yang tak dapat diprediksi. Adegan ini seperti hendak mengingatkan penonton kepada sosok Dalai Lama yang tengah memperjuangkan kemerdekaan Tibet dari kolonialisasi China. Sementara itu tahun demi tahun harapan terhadap kemerdekaan itu kemudian menjadi pertanyaan besar. Ke mana arah perjuangan Dalai Lama dan kapan kemerdekaan Bangsa Tibet itu akan terbit?

Kedua film yang terbahas di atas merupakan mendapatkan penghargaan terbanyak dalam festival film Cindi. Kesederhanaan teknik dan cara bertutur dan tema yang kuat menjadi alasan utama dewan juri menganugerahkan penghargaan kepada kedua film tersebut. Satu lagi penghargaan diberikan kepada Tong sutradara dari China dengan filmnya yang berjudul “Shattered’.

Shattered mengisahkan sebuah cerita dari dalam wilayah Dongning, Provinsi Heilongjiang di timur laut China. Tang Xinxin berusia 80 tahun hidup dalam kesepian.

Pada musim dingin tahun 2009, anak-anaknya yang sekarang tersebar di seluruh negeri, berkumpul di kampung halaman mereka, untuk menghabiskan hari tahun baru dengannya.

Setelah sukacita singkat itu dia menyampaikan pendapat kepada kedua orang putranya yang meninggalkan rumah. Sementara putri bungsunya bernama Caifeng juga kembali ke kota untuk mencari nafkah. Tang, yang telah menyiapkan peti mati untuk dirinya sendiri mewakili wajah manusia tua di musim dingin kesepian dan sunyi sendiri.

Dokumenter ini mengisyaratkan China sebagai negara yang menggenjot ekonomi dan produktivitas, tetapi pada kenyataannya hubungan manusia antar manusia, terutama keluarga harus dikorbankan demi kepentingan ekonomi dan pekerjaan.

cindic

Di setiap film, kita dapat melihat kegelisahan yang tertuang di dalam cerita film. Kegelisahan tentang keadaan manusia di era globalisasi dan transisi-transisi antara mesin produktifitas ekonomi, kebijakan negara, benturan nilai-nilai identitas lokal dan global, terorisme dan pertanyaan terhadap peran agama dalam menyelesaikan persolan manusia.

Festival Cindi yang berakhir pekan lalu hendak menyampaikan pesan tentang keadaan manusia hari ini dan sebuah pertanyaan tentang masa depan kemanusiaan dan manusia itu sendiri.

Ruang gelap sinema menjadi semacam ruang syi’ar, atas kenyataan manusia hari ini. Lantas, quo vadis kemanusiaan di luar ruang gelap itu?*

Anak Tokyo Tidur di Bathub

Uncategorized

Sunshine Hotel,

Seoul, Korea Selatan,

19 Agustus 2011

Ini kisah tentang pemuda asal Jepang. Perawakannya kurus, rambutnya panjang di bawah bahu, jalannya santai kayak naga lapar, kemana-mana menyandang tas dan menjinjing tas kresek besar. Isinya pakaian, botol minuman mineral, kotak kartu nama dan katalog film festival. Dia ramah pada setiap volunteer dan setiap pengunjung festival, ia mudah akrab dengan siapapun.

cindiiv

Kamera pocket yang dia kalungkan bersama dengan Badge Festival tidak pernah lepas dari lehernya, beberapa kali aku lihat dia dengan kamera pocketnya mejeng minta foto sama filmmaker atau juri.

Pemuda ini selalu memeriksa dengan detail isi katalog film festival. Pemuda ini menceritakan, dari katalog itulah dia mendapatkan informasi tentang siapa saja yang berada di dalam perhelatan ini. Itulah mengapa kemudian dia seperti sudah mengenal orang-orang yang dia ajak berfoto bersama. Itulah orang yang ia tahu dari katalog festival.

Pemuda ini jarang pegang gadget, ia tidak minum Sho Ju atau Bir, dia bebas dari alkohol. Aku lebih sering melihat dia minum Coca cola atau membawa air mineral berukuran besar. Ia nampak begitu menikmati festival film, namanya Tetsu Kono pemuda pecinta film dan festival tinggal di Tokyo.

Perkenalanku pertama kali dengan Tetsu terjadi di acara Cindi Hapy Hours setelah acara pembukaan. Pada malam pembukaan itu aku juga bertemu Vladimir Todorovic, orang yang serius itu kesan pertama kali yang aku dapat tentang dia.

Vladimir berasal dari Serbia dan kini menetap di Singapura sebagai deputi professor dan mengajar di Nanyang University (NTU). Pada malam pembukaan itu pula aku bertemu kawan yang pernah bertemu di Dubai, namanya Mun Jeong Hyun . Akhirnya kami yang baru bertemu ini begadang sampai pagi.

cindyi

Setelah acara Hapy Hours kami lanjut ngobrol di Café depan Sun Shine Hotel. Tetsu Kono bergabung di meja kami malam itu. Tetsu sangat gemar nonton film dan suka dengerin music. Tetsu dan Vladimir berbincang tentang musik. Tetsu menceritakan pengalamannya melakukan riset music di Brazil selama beberapa tahun. Kami berdiskusi tentang musik Amerika latin. Satu di antaranya adalah tentang Buena Vista Siocial Club. Herzog membuat film tentang mereka. Maaf, maksudku bukan Werner Herzog tetapi Wim Wenders pada 1999.

Tetsu banyak memiliki referensi pustaka maupun musik Amerika Latin. Aku senang mendengarkan Vladimir dan Tetsu berdiskusi. Tapi nampaknya pemuda dari Tokyo ini nggak terbiasa begadang, berkali-kali ia menguap. Memasuki dini hari dia sudah tertidur di meja. Aku dan Vladimir sampai membangunkannya saat mengakhiri obrolan Subuh itu karena café tutup.

Aku dan Vladimir berpisah dengan Mun yang pamit pulang ke rumahnya, sementara Tetsu terlihat kepayahan karena mengantuk. Aku bertanya di mana dia menginap. Dia bilang tidur di stasiun Kereta. Entah benar entah tidak, tetapi dia bercerita bahwa dia tidak menginap di hotel dan tidak menginap di rumah teman.

Aku mempersilahkan dia tidur di kamarku. Bisa jadi ini adalah kesalahan jika mengikuti prosedur sebagai perantau di negeri orang yang belum tahu tentang adat istiadanya. Tapi aku hanya berpijak pada alas an solidaritas dan kemanusiaan. Kota ini dingin, seorang pengelana festival film tak punya tempat tidur kecuali di stasiun. Dalam situasi Seoul yang dingin saat itu, apa salahnya berbagi ruangan untuk kawan yang tidak punya tempat tinggal.

Kami masuk ke Sunshine Hotel. Setelah membersihkan diri, aku langsung tidur, Tetsu dengan sopan meminta ijin kepadaku untuk boleh memakai kamar mandi. Aku mempersilahkan dia memakai kamar mandi dan akupun langsung take off ke negeri impian. Aku hanya tidur beberapa jam saja pagi itu, karena festival dimulai sejak pagi dan aku akan menghadiri beberapa acara.

cindiii

Aku kira pemuda Tokyo itu sudah bangun duluan dan pergi ke Festival, ternyata tidak. Aku terkejut ketika mendapati dia tertidur di bathub Ketika aku bangunin, dia sempat terkejut dan minta maaf berkali-kali. Aku tertawa ngakak karena baru kali ini melihat orang tidur di bathub dengan air masih merendam setengah badannya.

Tetsu bertanya kepadaku, “Daniel, kenapa kamu tertawa?”

Aku masih terpingkal-pingkal ketika menjelaskan kepadanya bahwa di Indonesia tidur semacam ini sungguh aneh. Dan mungkin di dunia ini tidak ada yang tidur seperti dirinya.

“Apakah saya melakukan kesalahan, Daniel?” Tetsu kembali bertanya kepadaku.

“No problem, Kawan. Ini hanya lucu dan seperti adegan yang berpotensi filmis”. Jawabku.

Dia mentas dari bathub. Aku bilang kalau aku akan menggunakan kamar mandi. dia membereskan diri. Aku menunggu sambil nonton televisi yang memutar tayangan propaganda Korea Selatan yang mengingatkan masyarakat pada sejarah perjuangan mereka.

Terbayang olehku, film televisi berseri yang dibintangi David Carradin, “Kung Fu”. Tetsu seperti tokoh di film itu yang sedang mendapatkan pelajaran dari gurunya, Master Po.

Master Po

Close your eyes. What do you hear?”

 Young Caine

I hear the water… I hear the birds…”

 Master Po

Do you hear your own heartbeat?” 

Young Caine

“No.”

Master Po

“Do you hear the grasshopper which is at your feet?”

Young Caine

“Old man…, how is it that you hear these things?”

 Master Po

Young man…, how is it that you do not?” 

 

I wanna tell to Tetsu the Kung Fu, “Tetsu, you hear the water flowing from the faucet to bathtub, and you do not do what that old man do not do. What is that?”

“Sleeping in the bathtub!”

***

cindiiii

Pagi ini aku mencoba menu sarapan Kimci. Aku sendiri seumur-umur baru pertama kali makan kimci. Perutpun jadi bermasalah. Sebelum berangkat ke acara festival, aku beberapa kali ke toilet menyelesaikan persoalan perutku. Kenyataannya, aku bisa “Makan” film Korea, tetapi untuk Kimci, aku butuh penyesuaian diri.

Tetsu pagi ini melanjutkan perjalanannya keliling acara festival. Dia akan menonton beberapa film dan foto-foto bareng dengan ikon yang ia cari. Aku sampaikan kepadanya, jika malam tiba dan dia tidak tahu di mana akan tidur, silahkan datang ke kamarku untuk istirahat.

Dia mengangguk, dan menghilang di tikungan jalan.

To be continued.:)*

CINDI

Uncategorized

17 Agustus 2011

Pukul 08:00 Waktu Korea Selatan

Korean Air mendarat dengan tenang di landasan bandar udara Incheon pagi ini. Dari jendela Korean Air aku menyaksikan suasana basah dan berkabut, nampaknya baru saja turun hujan? Musim apa ini di Korea? Nggak sempat cek di google bulan Agustus begini di Korea lagi musim apa.

fullsizerender-2

Suasana basah menyambutku pagi ini. Alhamdulillah, proses di imigrasi tidak terlalu bertele-tele.

“Film Festival?” Tanya petugas imigrasi sambil menatapku sejenak

“Yes, I attended to Cindi Film Festival, Sir” Jawabku

Petugas itu lantas membubuhkan stempel pada passport hijauku dan tersenyum.

 “Welcome to South Korea, Sir!”

“Kamsahamidah” jawabku kepada petugas imigrasi, mendengar suaraku tadi, dia tertawa kecil.

Aku menerima paspor dari tangannya lalu bergegas menuju tempat pengambilan bagasi. Bandara Korea terekam di ingatanku sebagai kaca-kaca. Tembus pandang dan bersih. Sambil menunggu antrian keluar, aku sempatkan berak terlebih dahulu di toilet bandara. Toiletnya bersih dan nyaman untuk jadi tempat merenung beberapa menit setelah perjalanan panjang dari Jakarta. Koperku sudah menunggu di gate 7B dan aku segera mengangkatnya.

Di pintu keluar sudah ada seorang gadis dengan kertas besar bertuliskan MR. Daniel Rudi Haryanto, Indonesia. Ia bercelana pendek dan berkaos warna pink dengan identitas festival di kalungkan di lehernya. Namanya Eun Bee. Aku memanggilnya Queen Bee dan gadis Korea Selatan yang cantik itu segera tersipu malu disapa dengan nama itu oleh seorang pemuda Indonesia ini. Ia menyambutku dengan ramah. Kemudian mempersilahkan aku menunggu di ruangan tunggu yang telah disediakan. Queen Bee memintaku menunggu beberapa saat karena ia sedang menyambut beberapa filmmaker yang datang dari beberapa Negara.

Rasanya pagi ini aku pengen segera menikmati kopi hitam dan sebatang sigaret. Tetapi Korea Selatan tidak seperti Indonesia yang bisa gampang dapat kopi dan gampang nyulut sigaret. Aku hanya menunggu dan menulis catatan ini di kursi ruang tunggu.

Rombongan filmmaker Thailand muncul, satu diantaranya aku kenal namanya dari google. Namanya Penek Ratanaruang. Ia adalah filmmaker asal Thailand yang cukup terkenal di berbagai festival internasional. Tiga pemuda di sampingnya aku belum kenal, ternyata mereka adalah filmmaker independen yang mengusung film berjudul “Lumpine”. Itulah pertemuan awal dengan Nong, Chira dan Banphot tiga anak muda yang enerjik.

cindi1

Queen Bee mengantar kami ke mobil jemputan di luar bandara. Kami menuju hotel tempat semua filmmakers peserta CINDI (Cinema Digital) Film Festival menginap. Ini kali pertama aku melihat pemandangan kota Seoul. Sejak keluar dari Bandara Incheon aku mendapati Korea Selatan berbukit-bukit dengan rimbun pohon-pohon yang terjaga menjadi hutan.

Pepohonan lebat tumbuh di perbukitan, suasan hijau lestari menyenangkan hati. Jalan tol lengang, gerimis jatuh dari langit, teman-teman baruku dari Thailand ngobrol menggunakan bahasa mereka. Aku nggak tahu apa yang mereka obrolkan. Kadang-kadang nongol kosakata yang sama seperti bahasa Jawa atau Melayu, tapi aku nggak berani mengartikan sendiri, bisa jadi beda arti, sama halnya bahasa Tagalog yang digunakan kawan-kawan filmmaker dari Mindano Selatan, Philipina.

 Memasuki Seoul, jalanan terlihat ramai walaupun bukan kemacetan. Di sebelah kiri terdapat sungai besar yang panjang, Queen Bee menjelaskan sungai itu bernama Sungai Han, sungai yang bersih dari sampah merupakan sungai utama di Seoul. Lebar sungai itu seperti sungai Musi di Palembang atau Kapuas di Borneo. Jembatan-jembatan panjang, setelah melewati beberapa terowongan yang menembus perbukitan kami mulai melihat Seoul.

Jalanan kota Seoul juga tidak terlepas dari macet, tapi nggak seperti di Jakarta. Kemacetan Jakarta Na’udzubillahi mindzalik, kemacetan yang nggak masuk akal bikin cepat stress. Jalanan macet di Seoul ini mudah terurai. Nggak tahu ya kalok di Seoul bagian lain? Hihihi…

Queen Bee volunteer yang ramah. Dia selalu menampakkan wajah gembira. Berbalut kaos pink dan celana pendek jeans warna biru, dalam batin aku berbisik, “Ini K Pop banget, nggak papa deh macet lama-lama asalkan ada Queen Bee menemani perjalanan ini”. Halaaaah! Pret!

cindi.jpg

Hari ini 17 Agustus 2011, Indonesia memperingati proklamasi kemerdekaan ke enam puluh enam tahun, aku berada di Seoul, Korea Selatan yang memiliki kemerdekaannya sendiri. Dari jendela mobil aku melihat pemandangan Seoul. Kota yang bersih, berhias bangunan dan tulisan-tulisan Korea yang tak aku mengerti.

 Queen Bee menyadarkan lamunanku, ia menyampaikan kepada kami bahwa sebentar lagi kita akan tiba di hotel Sunshine, dia meminta kami untuk bersiap turun.  Tak berselang lama, kami memasuki halaman hotel Sinar Matahari itu. Beberapa volunteer menyambut kami dengan ramah sekali. Mereka seperti Queen Bee, berkaos pink dan bercelana jeans pendek warna biru, menyuguhkan senyum mentari yang bersinar di hati para filmmaker sepertiku. Halaaaahh! Pret! *