Pesan dari Lukisan Maruki Toshi dan Maruki Iri

Uncategorized

Foto: Berpose di depan museum dan pagar perbatasan fasilitas US MARINE CORPS di Okinawa (koleksi pribadi). 

Apabila diibaratkan sebagai Perempuan, maka dalam imajinasi saya bumi Okinawa bagaikan seorang Ibu, yang di dalam tubuhnya terdapat relung rahim yang mengandung kisah kesedihan dampak peperangan.

Museum Sakima terletak berdampingan dengan Futenma Marine Corps Air Station di Ginowan, Okinawa. Lokasi museum merupakan bagian dari wilayah militer Amerika Serikat yang diperuntukkan sebagai pangkalan udara.

Sakima Art Museum dirancang oleh arsitek Yoshikazu Makishi, dibuka pada tahun 1994, yang bertujuan untuk menyampaikan pesan perdamaian melalui karya seni.

Tiket masuk Museum Sakima (Koleksi pribadi).

Pengunjung dapat berkeliling museum hingga menemukan di ruangan utama terdapat lukisan yang menceritakan tentang dampak perang yang melanda Okinawa pada awal April 1945. Perang yang membawa Okinawa jatuh ke tangan tentara Amerika Serikat dan membuat Jepang mengalami kerugian besar akibat Perang Dunia II.

Lukisan tersebut mengingatkan saya pada karya Pablo Picasso berjudul Guernica (1937) yang berukuran 3, 49 meter tingginya dan 7.76 meter lebarnya. Lukisan yang menceritakan tentang kekejaman perang yang brutal dan kejam terjadi di Guernica. Lukisan itu kini tersimpan di The Museo Nacional Centro de Arte Reina Sofía (MNCARS, atau Museo Reina Sofía, Queen Sofía Museum, El Reina Sofía, atau sering disingkat El Reina)

Duduk di depan lukisan besar berjudul The Battle of Okinawa karya Maruki Toshi dan Iri. ( Foto oleh: Yui Nakamura, The Sasakawa Peace Foundation)

Sejak ekspansi Amerika, Okinawa yang tadinya dikenal dengan nama Ryukyu menyimpan banyak kenangan pahit. Saya menyaksikan buih-buih ombak menyapa pantai, menepi dari samudera raya Pasific. Buih ombak yang sepanjang masa bercampur dengan peluh dan air mata manusia yang menjadi korban peperangan.

Hingga 73 tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II, masyarakat Okinawa masih merasakan perang belum berakhir. Aktifitas militer Amerika di pulau terdepan yang menghubungkan laut China dan Samudera Pasifik itu terus mengingatkan masyarakat sipil di Okinawa pada kisah-kisah sedih yang terus menghantui tidur malam mereka.

Mariko san dan Miyagi san yang sedang memetik gitar menyanyikan lagu berbahasa Ryukyu (Foto: Koleksi pribadi).

Bangsa Ryukyu paling mendalam merasakan kepahitan hidup akibat perang. Hingga kini mereka terus berjuang membebaskan pantai dan laut dan perasaab mereka dari kepentingan militerisme Amerika Serikat. Masyarakat Okinawa bekerja bersama untuk menjaga perdamaian dan memperjuangkan hak-hak sipil mereka. Akan tetapi dunia belum banyak mengetahui persoalan yang tengah dihadapi masyarakat sipil di Okinawa. Kenyataan ini mengingatkan saya pada sejarah Timor Leste, Atjeh Sumatra, dan Papua.

Dari lukisan The Battle Of Okinawa, saya dapat melihat perasaan seniman Maruki Toshi dan Maruki Iri mewakili perasaan orang Jepang dan Ryukyu. Kepedihan yang kelam, warna-warna hitam yang keras, merah yang berantakan, biru yang kusam, manusia-manusia dengan mata berkornea putih. Kejadian mengerikan di dalam goa-goa bawah tanah yang memilikan pada awal April 1945, ketika bumi Okinawa dibombardir dari laut, darat, dan udara.

Suasana pengamanan oleh petugas keamanan di depan fasilitas militer US MARINE di Schwab Okinawa.

Sebuah tank amphibi sedang melakukan pendaratan ke pantai di lokasi camp militer US di Schwab, Okinawa

Sebuah tulisan besar di kawasan militer US di Schwab, Okinawa. Yang dibuat oleh masyarakat Ryukyu untuk menolak reklamasi pebangunan camp militer Schwab di kawasan ini.

Generasi manusia Okinawa mulai berganti, tetapi kisah sedih itu terus terpahat, tercatat, dan diceritakan, bukan untuk mengajak anak cucu untuk kembali ke dalam peperangan, melainkan mengingatkan untuk selalu menjaga perdamaian dan keharmonisan.

Para sahabat dari The Sasakawa Peace Foundation mengajak saya mengunjungi museum Sakima. Kami berjumpa dengan Kurator museum yang mengantarkan kami sambil menceritakan latar belakang kisah dari karya-karya yang terpajang.

Sehari sebelumnya, kami berkunjung ke museum Haebaru Town Museum dan museum Himeyuri. Museum tersebut merupakan goa bawah tanah yang merupakan tempat berlindung dan rumah sakit bagi masyarakat Ryukyu saat Amerika membombardir Okinawa pada April 1945. Goa yang luas dan memiliki relung membentuk lorong bercabang yang panjang. Tidak ada cahaya di dalamnya. Saya tidak dapat membayangkan secara visual, penderitaan apa yang dialami manusia saat perang terjadi. Dingin dan lapar, kesepian dan ketakutan.

Sebuah artefak perang di museum Haebaru Okinawa

Artefak perang di museum Haebaru Okinawa.

Kami sedang mendengarkan kisah yang diceritakan Nariko san, di antara benda benda sisa sisa Perang Okinawa di museum Haebaru Okinawa.

Lukisan Maruki Toshi dan Maruki Iri memberikan gambaran yang jelas dan detail perasaan dan pengalaman manusia yang mengalami derita akibat peperangan. Goresan tinta hitam yang lugas, ekspresi wajah-wajah, detail pakaian, kesakitan, ketakutan, semua tergambar dari lukisan itu. Mengerikan sekaligus mengagumi setiap kisah manusia di dalamnya untuk bertahan hidup atau melakukan harakiri ketika disadari telah berada di jalan buntu kehidupan akibat ancaman musuh di depan mata.

Terlalu banyak kisah yang saya dengar. Itu saya sadari merupakan sepenggal kecil dari cerita besar tentang Perang Okinawa. Catatan ini adalah oleh-oleh kecil dari pengalaman yang saya sebut pengalaman besar dalam hidup saya mengunjungi Okinawa.

Saya sudah tiba kembali di Tokyo, namun telinga saya masih mendengar Pak Miyagi memetik Sanshin, gitar dengan tiga dawai asli Okinawa, orang-orang berkumpul menolak pembangunan pangkalan militer baru di Schwab, Mata saya masih terbayang suasana goa-goa bawah tanah, besi baja yang lumer di atap goa karena serangan bom api yang melanda para pengungsi korban perang, benda-benda yang tersisa di dalam goa.

Di atap Museum Sakima kita sapat melihat pemandangan yang mengarah ke pangkalan udara militer US dan pantai yang merupakan lokasi pendaratan militer US pada April 1945.

Awan berarak di atas langit Okinawa

Seorang aktifis dengan mobilnya sedang melakukan orasi sendirian, dia adalah bagian dari gerakan yang mengkritisi kebijakan militer US di Okinawa

Tugu Perdamaian di monumen korban Perang Okinawa

Kami berada di mulut goa kars yang merupakan tempat bekas rumah sakit di masa perang Okinawa, di dalamnya penuh cerita duka. Seperti goa goa bawah tanah di pesisir selatan Jawa, kenangan konflik 1965, pembantaian manusia oleh rejim Soeharto.

Nama-nama korban terpahat di monumen Perang Okinawa.

Kliping berita di koran yag mengabarkan perjuangan pembebasan rakyat Ryukyu dari eksistensi fasilitas militer US di Okinawa.

Dan lukisan besar itu, kesaksian atas perasaan yang mendalam. Namun, saya lebih merasakan kesedihan. Melihat beberapa bagian lukisan telah mengelupas dan terjadi iritasi pada permukaan kanvas dan tintanya.

Akankah kenangan dan harapan hancur terkikis waktu? Lukisan The Battle of Okinawa itu adalah rekaman besar tentang penderitaan akibat perang. Ingatan itu sedang berjuang menghadapi waktu. Akankah kita dapat merawat lukisan itu? Apakah kita dapat terus merawat kenangan dan harapan bagi perdamaian, kebahagiaan, kesejahteraan hingga masa depan yang tak terhingga?

Masih terngiang di telinga daya, suara lirih pak Miyagi menyanyikan lirik berbahasa Ryukyu… ” Mengirimkan air mata… Mengirimkan air mata”.

Saya bertanya, “Quo vadis, Okinawa?”

Ke mana arah umat manusia hari ini di masa depan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s