Film Dokumenter apa Fiksi?

Uncategorized

Catatan-catatan film dokumenter yang tertinggal (2)

Guys…

Kalok kalian suka nonton film di bioskop 21 atau XXI tentu kalian akrab sama film Hollywood ya… simpelnya orang bilang itu film fiksi.  

Ya, fiksi guys, buat anak anak sekolah film IKJ, bahasa film akademiknya agak keren sih film naratif. Nah guys, film naratif itu biasanya berangkat dari imajinasi. Makanya seringkali kita lihat tokoh dan cerita di dalamnya itu khayalan belaka. Namanya juga fiksi hehehe.

Di catatan sebelumnya saya sudah pernah singgung tuh, perkembangan teknologi membawa dampak pada perkembangan bentuk dan gaya bertutur dalam film. Kalok dulu kameramen National Geographic harus bawa kamera dan banyak ken-ken seluloid, budget produksi harus ditekan sehingga merekam realitas hanya 10 detik per shot. Gaya TVRI guys…katanya begitu.
Ini saya mau cerita guys, pengalaman kembara ke Jepang tahun 2011 dan 2012. Nah, di tahun 2012 itu guys… saya diundang ke acara besar di bulan Oktober ya, nama acaranya Tokyo Documentary Dream Show. Ada film menarik yang bikin saya penasaran bener. 
Judulnya “Three Rooms of Melancholia” sutradaranya bernama Pirjo Honskasalo asal dari Finlandia. Tahu ga guys? Saya tonkrongin film panjang itu sampe tuntas tas tas di kredit titel terakhir. Trus waktu penonton pada pergi, saya masih terpaku di bangku sinema! Kenapa terpaku? Ya bukan karena encok atau lemes guys, tapi beneran waktu itu saya gegar guys, kepala saya cetar membahana… dalam benak saya bertanya, ” Ini film dokumenter apa fiksi?”.

Syukur alhamdulillah ya guys, saya segera menyadari kalok itu even film dokumenter. Lalu saya ga bisa tidur guys, bukan karena lapar di negara orang… tapi sebagai filmmaker saya berpikir, bagaimana si filmmakernya mas Pirjo itu bisa bikin film kayak gitu? Apa isi bagasi kepalanya ya? Bagaimana pengalaman hidupnya? Apa aja bacaan bukunya? Siapa orang orang yang mendukungnya mewujudkan film semacam itu?

Edan! Film itu menggoyahkan isi kepala saya guys, dokumenter kok gak ada wawancaranya dan sangat naratif, kayak fiksi di film-film bioskop 21! Nah, guys… sejak saat itu saya terus mengembara mencari dan mencari, belajar dan belajar menemukan jawaban dari pertanyaan, “Apa batasan film dokumenter?

Waktu kuliah di Fakultas Film dan Televisi (FFTV) Institut Kesenian Jakarta (IKJ) di hari-hari pertama kuliah, dosen kami memperkenalkan berbagai film yang tercatat sebagai tonggak sejarah sinema dunia, guys. Tiap hari guys, mata dan otak saya digempur sama tayangan yang terasa aneh waktu itu. Ada film yang masih hitam putih, ada juga yang berwarna. Ada yang lamaaaaaaaaaaaa banget guys, sampai sampai kalok nonton bisa tidur, bangun, tidur lagi… pas bangun belum juga kelar tuh film. Ada film berjudul Sleep, tahun 1963 karyanya Andy Warhol guys! Gilak tuh film beneran bikin tidur hahaha…

 

Satu di antara film itu sampe hari ini masih terpatri di kamus kesadaran saya guys, filmnya orang Amerika namanya Robert J Flaherty berjudul “Nanook of The North”. Itu kan film yang dibikin tahun 1920 an sekian ya, saya nonton tahun 1998. Mbayangin kameranya segede apa, trus gimana menyesuaikan dengan cuaca dan iklim di kutub utara sana, trus berapa rombongan sirkus yang terlibat di film itu. Berapa biayanya, coba dihitung. Bah! Ribet banget guys…! Lalu kenapa masih mau bikin film dokumenter ya? Itulah guys, namanya juga cinta! Kalok dah cinta, taik kucingpun dimakan rasa cokelat bukan? Xixixixixi…

Guys, para kritikus bilang film kayak “Nanook of the North” atau “Three Rooms of Melancholia” itu masuk dalam golongan film dokumenter observatory. Nggak tahu deh kok sampe dimasukin ke golongan begituan. Mungkin karena dibikinnya tuh pake sabar kalik ya? Sebab film kayak begituan hanya bisa dikerjakan jika si filmmaker nongkrongin tuh si subyek atau karakter yang ada di film itu. Observasi guys! 

Anyway… balik ke pertanyaan dokumenter apa fiksi? Nah guys akhirnya nih saya jadi berkelana deh nyari jawabannya. Akhirnya guys, menurut pengalaman pencarian itu, saya bisa menarik kesimpulan begini. Fiksi dan dokumenter hanya dibedakan dalam dua prinsip dasar. Fiksi berangkat dari imajinasi, sementara dokumenter berangkat dari realitas, fakta dan data. Filmmaker dengan pendekatan fiksi mewujudkan imajinasinya menjadi realitas sinematik, sedangkan filmmaker dengan pendekatan dokumenter menjemput realitas menjadi realitas sinematik…. halaaah sok mendalam ya saya guys? 

Courtesy: google.com


Wuidiiiiihhh… gitu ya? Ho oh… menurut saya begitu. Nah observasional menurut pandangan saya itu adalah metodelogi dalam pembuatan sebuah dokumenter. Jean Rouch mengatakan cinema verite guys, apalagi nih? Iya artinya sinema yang jujur, terinspirasi sama Dziga Vertov orang Rusia dan Robert J Flaherty.
Sinema jujur, sinema kebenaran. Tokohnya banyak dicatat lengkap di wikipedia guys, males saya nulisnya di sini. Kalian cek aja sendiri guys di google yak… Yang penting dari pembahasan sinema jujur ini adalah data yang mengungkapkan kenyataan walaupun kenyataan itu sulit disampaikan secara visual karena berbagai hal terkait dengan subyeknya. Tuh kan, akhirnya kita bisa memilah bagaimana film dokumenter berangkat dari fakta, dari kenyataan. 
Dari teori itu, guys saya kemudian mencoba membuat eksperimen-eksperimen kecil dalam pembuatan film dokumenter. (Kecil karena tergantung budgetnya ada apa ngak… hahaha). Di dalam eksperimen itu guys, ada pengalaman menarik yang bisa saya bagi dalam catatan ini.

Ini contoh ya guys, semisal begini;

Cerita tentang Suku Wana yang mendiami wilayah adat Hutan Morowali Sulawesi Tengah. Waktu itu ada kerjaan dari Tifa Foundation dan Interseksi Foundation tahun 2008. Mau bikin film dokumenter tentang hak minoritas Suku Wana sebagai bagian dari Indonesia. Selama satu bulan guys, saya berada di hutan rimba belantara jauh dari es cendol, nggak ada internet, ngecharge batere kamera harus menggotong generator ke mana mana. Maklum guys, suku Wana itu nomaden, peladang berpindah. Metode observasi berlaku selama satu bulan itu. Akhirnya saya jadi filmmaker dokumenter nomaden juga deh… asem..

Bersama; Erwan Efendi, Ari Rusyadi, dan Ali Morowali


Ternyata guys, mau bikin film yang gak ada wawancaranya susah banget! Butuh pendekatan yang gak cukup satu bulan! Udah gitu medan yang dilalui nggak gampang guys, hutan rimba belantara!

Saya menggunakan wawancara untuk merajut cerita-cerita dari orang-orang di Kajupoli dan Marisa ( frontier ekonomi mereka yang berbatasan langsung dengan wilayah kabupaten, port Kolonedale). Saya juga menggunakan perekaman mengikuti setiap kegiatan mereka. Kesulitannya nih di lapangan, mereka sering pakai bahasa Wana, guys kalau pas saya rekam. Sementara budget ga ada buat bawa mereka ke Jakarta buat terjemahin. Nah, dari wawancara itu akhirnya saya mendapatkan data bagaimana mereka memasuki kehidupan modern namun masih memiliki semangat untuk mempertahankan adat istiadat sebagai kesatuan adat dan wilayah orang Wana. 

Guys, kalau kalian jadi orang Wana, bisa bayangin guys bagaimana menyesuaikan diri menjadi Indonesia? Bagaimana mereka memutuskan memilih agama, memilih wilayah tempat tinggal karena wilayah mereka terpatok kebijakan Taman Nasional misalnya? Memilih cultural heritage atau hidup bebas menyesuaikan diri dengan perubahan? 

Kemudian bagaimana mereka menyamakan nilai kebutuhan ekonomi dari barter ( tukar menukar ) menjadi jual beli dengan uang? Lalu bagaimana mereka harus mengikuti sistem demokrasi melalui pemilihan umum, siapa yang mereka pilih? Apakah mereka terwakili hak politiknya sebagai minoritas? Hmmmm… gak gampang banget nyatanya.

Gaya observatory hehehe


Dari cerita di lapangan, guys… ada beberapa rekaman yang saya sebut “meminjam relitas”. Begini, waktu saya tiba di sana banyak yang sudah berubah, mereka pakai baju seperti halnya kita di masa modern, mereka sudah sedikit yang menggunakan “Kimbi-kimbi” cawat dari kulit kayu. Untuk penerangan sudah menggunakan solar cell barang warisan peneliti dari Prancis yang ngendon di Wana bertahun-tahun. 

Saya meminjam realitas mereka dengan rekonstruksi. Dengan demikian batasannya adalah tidak melebihi dari fakta yang ada. Semisal rekonstruksi upacara Mamago, upacara yang dilakukan untuk berkomunikasi dengan roh-roh leluhur. Salah satunya menggunakan sarana air Pongase (minuman beralkohol asli Wana). 

Dari rekonstruksi itu kita mendapatkan data audio visual yang mendekati realitasnya. Mendekati ya guys, karena kalau tidak direkonstruksi maka filmmaker harus menunggu bisa berbulan-bulan sampai mereka melaksanakan upacara adat itu sesuai almanak atau kalender adat mereka.

Apakah kemudian itu disebut fiksi? Karena menempatkan kamera, angle dan komposisi berdasarkan kemauan si filmmaker? 

Apakah itu disebut dokumenter karena menggunakan fakta yang ada di lapangan dan hanya meminjam realitas dari fakta yang ada? 
Guys, kita bisa menuntaskan catatan-catatan yang tertinggal dari pembuatan film dokumenter ini dengan jalan diskusi. Silahkan guys kalau mau bertanya di sini. Tentunya lihat dulu guys filmnya, ada kok di youtube… mau saya bagi linknya? Nihhh guys cekidot!

Ada empat bagian ya guys… silahkan dilihat, kalau suka ya tolong dilike, jangan lupa guys klik juga subscribe nya yaaa maklum guys, saya masih fakir subscribe hehehe…

Observasi perdagangan damar di Wana


Ada catatan lama yang bisa dibaca juga nih guys; http://membacaindonesia.blogspot.co.id/2011/06/morowali-journey2007.html?m=1

Thanks ya guys udah meluangkan waktu baca curcolku perihal film dokumenter… ditunggu yaaaa responnya… kritik? Boleh guys kritik aja, yang pedes sekalian! Hahaha… semoga berguna, salam! 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s