Catatan Catatan Yang Tertinggal Dari Film Dokumenter (1)

Uncategorized

 (Prolog gaya Gen Milenia)

American Film Showcase

2016

Menggeluti film dokumenter adalah pilihan. Akan tetapi menguliti film dokumenter selama hampir 19 tahun sejak pertama masuk kuliah film di Fakultas Film dan Televisi (FFTV IKJ) Institut Kesenian Jakarta (IKJ) bisa jadi bukan lagi pilihan akan tetapi merupakan suatu ketidakwarasan. Ya tidak waras karena cinta yang terlalu mendalam… eaaaaaaaaaaaaa 😀

Saat senggang merayakan snack


Ada banyak pengalaman yang didapatkan dari proses menggeluti dan menguliti film dokumenter. Mau tahu, guys? Anggap saja jalan-jalan gratis ke banyak wilayah yang sebelumnya hanya jadi angan-angan dapat terwujud karena film dokumenter. Coba bayangin guys, berkunjung selama minimal 1 minggu di berbagai wilayah di seluruh Indonesia, naik pesawat, kapal laut, becak, ojek motor sampai perahu. Membawa perbekalan dan pulang membawa cerita dalam bentuk audio visual, kalau ditotal duitnya berapa coba? Belum tentu filmmaker yang bukan dokumenter mengalami itu. 

Manfaat yang lain masih banyak lagi, misalkan catatan nomer telepon kenalan bertambah, pengenalan adat istiadat dan kebiasaan orang lain bertambah, catatan harian berjibun, kemampuan teknis semakin tajam, skill semakin matang, apa lagi? Tentu banyak. Yang tidak bertambah barangkali adalah penghasilan, guys! Hahahahaa ini penyataan jujur sihh guys. 

Merasakan Selfi di Pendjara Tanah Merah


Di Indonesia sudah jadi rahasia umum bahwasanya film dokumenter dianggap sebagai film dengan biaya produksi murah. Murahnya seberapa? Nah itu guys, variatif sih… gak perlu dijelaskan guys, tapi dijalanin aja dengan sukacita sebagai berkat karunia Tuhan Yang Maha Esa… amin..

Tapi tenang yaaaa guys, pagu produksi film dokumenter yang murah itu sudah gugur di tahun 2017 dengan lahirnya film Banda, The Dark Forgotten Trail yang disutradarai seniman ternama dari Indonesia, mas Jay Subiyakto dan dikawal oleh punggawa produser mas Abduh Azis dan mbak Lala Timothi. Para pegiat film dokumenter Indonesia layak bergembira, dan semoga semakin giat berdoa yaaaa… agar pagu itu tetap stabil, bisa makin naik tapi jangan turun. Hahaha… guys, kalok setiap film dokumenter diproduksi dengan budget milyaran, aku kok yakin ya filmmaker dokumenter bakalan sejahtera. Tentunya harus ada industrinya, guys, di dalamnya ada sistem yang mengatur penyehatan dana film, distribusi dan eksibisinya…. ho oh… bener kalok kata mbak Kim Hyonf Suk direktur Asian Documentary Network yang tiap tahun nongkrong di Festival film Busan Korea Selatan. Hihihi…

Papua, Boven Digoel, EAGLE AWARD 2017

Bandara Boven Digoel


Apa sih menariknya film dokumenter? Pertanyaan itu seringkali terlontar dari penonton film, guys. Ampe kadang sampai bosen njelasinnya. Tentu pertanyaan itu adalah pertanyaan yang jujur dari para kepois-kepois film dokumenter. Sebab, di Indonesia yang belum punya industri film dokumenter saat ini pada kenyataannya film dokumenter sering menjadi tontonan yang dikesankan tidak menarik oleh sebab stigma bahwa film dokumenter selalu pakai wawancara, monoton, tidak naratif dan banyak hal lagi yang bikin gagal paham sama barang bagus bermama film dokumenter ini, guys! Pemahaman seperti itu wajar-wajar saja dan masuk akal. Ngga usah ngamuk, guys. Karena filmmaker dokumenter bukan ormas politik yang mudah tersulut api dendam di bukit Menoreh. Xoxoxoxoxo…

Bersama peserta Eagle Award 2017


Sebagai mantan mahasiswa film (cieeee, guys gini-gini pernah mahasiswa lho!) saya merasakan perkembangan teknologi audio visual berpengaruh pada bentuk dan gaya bertutur dalam film dokumenter. Saya lahir di era analog guys, masih pakai seluloid, lalu ada kaset video dari mulai betamax, vhs, h8, d8, betacam, mini DV, DV Cam sampai sekarang hijrah ke media digital pakai kotak kecil tipis sak uprit bermama memory card, guys. Itu tuhhh medianya generasi milenia.

Nahhh guys, dari situ tuhhh saya merasakan perkembangan teknologi digital berandil besar dalam mengembangkan cara bertutur di dalam tradisi pembuatan film dokumenter. Jika dulu dengan media pita seluloid dan pita suara seorang filmmaker dokumenter hanya bisa merekam dalam durasi pendek, lantas harus mengikuti proses laboratorium yang penuh prosedur, maka film tidak bisa dibilang murah hingga rilis sebagai media pandang dengar.
Kayak dukun harus topo broto belasan tahun menahan haus lapar untuk mendapatkan kesaktian mandraguna, otot kawat tulang besi, seorang filmmaker harus membekali ilmu film dari sekolah film selama bertahun-tahun, guys! Sampai lumutan…hahaha

Saya, dan guru saya; mas Garin dan Philip


Teknologi digital telah merubah banyak hal, guys. Semua yang rumit jadi sederhana, simpel dan asyik. Dulu dengan seluloid filmmaker dokumenter mengumpulkan footage-footage pendek yang kemudian diedit di meja editing dengan proses yang sama njlimetnya dengan proses laboratorium film, kini dengan teknologi digital seorang filmmaker dokumenter bahkan dapat merekam realitas 24 jam nonstop. Mengedit dengan handphone san tayang di sosial media digital, guys! Bukan kentongan analog yaaaak… xoxoxoxoxo

Eagle Award 2016, Mama Amamapare

Mama Amamapare


Tentu ini berpengaruh pada bentuk audio visualnya dan cara bertutur melalui media audio visualnya itu sendiri. Di era analog, para peneliti memiliki ruang dan waktu meneliti genre dan memisahkannya ke dalam teori-teori, namun dengan adanya perkembangan teknologi digital yang pesat, audio visual digital saat ini (Kamera video, alat editing, sound recorder, sosial media) menjadi lebih ringkas namun belum tentu kita sempat meneliti, mencatatkan, dan atau merumuskan teorinya, bisa ketinggalan berita, guys. Nahhh sayangnya hampir bisa dikatakan, negara seperti Indonesia yang berjumlah 250 juta ini belum ada banyak peneliti serupa profesor doktor yang khusus meneliti dan melahirkan teori film. Belum ada satupun yang melahirkan teori seputar seluk beluk film dokumenter. Baru bisa bikin mobil SMK kelessss…:D
Udah ah guys, daripada nguyoworo (berselancar) ke mana-mana ngga jelas juntrungannya, lebih baik fokus nulis ah…
Dengan catatan-catatan yang akan saya update berikutnya, saya ingin menulis berbagai temuan dari pengalaman membuat film dokumenter yang telah saya geliti dan kuliti selama hampir 19 tahun terakhir. Saya berharap catatan-catatan yang tertinggal dari lapangan kekaryaan film dokumenter ini dapat menjadi inspirasi bagi saudara-saudara pemerhati, penikmat, masyarakat biasa yang mulai kepoin apa sih menariknya film dokumenter itu?

IDFA 2015 Amsterdam

Sukarelawan di Minikino, Bali

Film dan masyarakat


Guys, film dokumenter mengajarkan banyak hal kepada saya. Dengan film dokumenter saya mendapatkan kesempatan untuk diperkenalkan dengan masyarakat dan tanah air saya, Indonesia. Dengan film dokumenter saya mendapatkan kesempatan berhijrah ke negeri-negeri yang jauh untuk mengasup banyak pelajaran kehidupan.

Kalau sukak sama tulisan-tulisan saya ojo lali yooo, Jangan lupa share, like, atau tanggapin yaaaa…
Semoga catatan ini menarik buatmu para pembaca semuanya, Guys. 

Terimakasih… Tabik!

Salam hangat
Daniel Rudi Haryanto

– Alumni FFTV IKJ 2005

– Peraih anugrah Director Guild of Japan Award, Yamagata Int’l Documentary Film Festival 2011

– Peraih Special Jury Mention dari Cinemasia Amsterdam 2014,

– Alumni Dare to Dream Asia 2015

– Alumni American Film Showcase 2016, Southern California University ( Amerika Serikat )

– Supervisor di Eagle Award Documentary Competition 2015,2016,2017

– Pendiri Cinema Society, Indonesian Gilm Watch, Sukarelawan di Minikino, Bali.

– Pendiri Studio dan Laboratorium Visual Sarang Berangberang, Indonesian Documentary Engine.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s