GAJAH MADA

Uncategorized

GAJAH MADA

Gadjah Mada, orang memanggil namaku.

Gadjah Mada namaku, bisa juga Gajahmada. Demikian mahasiswa IKJ dari angkatan 1992 yang masih bercokol di kampus hingga angkatan 1998 yang baru saja muncul sebagai mahasiswa baru.

Dari mana nama itu berasal?

Awal muasalnya adalah Mata Seni.

Mata seni adalah kegiatan orientasi mahasiswa baru. Kegiatannya dilakukan selama hampir satu minggu. Di kampus lain disebut Ospek, kami anak IKJ bangga dengan nama Mata Seni.

Tahun 1998, Indonesia bergolak. Bulan September 1998, Indonesia sedang dalam pergolakan. Demonstrasi mahasiswa bisa terjadi setiap hari. Masyarakat dalam dinamika, antara krisis moneter dan krisis politik. Kasus kasbagi kelas pekerja sekaligus cari nafkah buat anak istri.

Bau Jogja masih melekat di tubuhku, rambutku gondrong sepinggang. Biar nggak gerah, aku gelung seperti halnya seniman Nindityo pemilik Cemety Galery. Tapi seluruh mahasiswa IKJ tahun itu memanggilku dengan nama Gadjah Mada.

Awalnya hari pertama Mata Seni. Demy (Demikian kakak kelasku angkatan 1992) yang masih suka nongkrong di kampus akrab aku panggil. Sewaktu aku diundang maju ke depan panggung mewakili mahasiswa sinema, Demy berteriak

“Gadjaaaaaaaaaaah Madaaaaaaaaa!” Peristiwa itu terjadi di bulan September, hari pertama Mata Seni, lokasi kejadian di Teater Luwes. Sejak saat itulah aku dibaptis dengan nama panggung Gadjah Mada.

Lantas setiap hari selama lima hari itu, aku selalu mendengar teriakan Gadjah Madaaaaaaa!

Lalu ada seseorang menyambut dengan jawaban, “ Awaaaas! Adaaaaa Musuuuuuuhhhh!” dan kawan seangkatanku dari jurusan Fotografi yang kini sukses dalam bidang fotografi professional bernama Eriek Juragan dengan gencar memberondong setiap peserta Mata Seni dengan tembakan layaknya Rambo, “That! That! That! That!”

Namaku Gadjah Mada, rambutku gondrong sepinggang, kugelung seperti Nindityo, tapi namaku dipanggil Gadjah Mada!.

Hingga hari ini, jarang anak IKJ angkatan 1992-2003 mengenal nama Daniel Rudi Haryanto, mereka mengenalku dengan nama Rudi Gadjah Mada aka Ruds Gadj aka Ruds Gadj Mads.

***

Pagi ini aku gundah gulana, dari kemarin orang banyak di Sosial Media memanggil namaku. Gaj Ahmada. Ada yang menyebut Gaj Mada. Mereka sedang demam sejarah yang direvisi oleh seorang sejarawan pemula yang nggak tahu dari mana asal usulnya. Entahlah, katanya si Sejarawan adalah lulusan Universitas tertentu yang tokohnya saat inipun sedang dipergunjingkan dan disebut-sebut sebagai Durno.

Aku nggak peduli sipa mereka yang mempergunjingkan nama Gajah Mada itu. Aku juga nggak peduli amat ketika Gajah Mada itu beragama A atau Beragama B. Aku hanya sebel, sebab mataku selalu nengok jika nama Gadjah Mada dipanggil. Walaupu aku sekarang nggak gondrong sepinggang lagi, tapi nama itu sudah menjadi stigma di kepalaku.

 

Jika ada alumni IKJ angkatan 1998, mendengar orang memanggil Gadjah Mada, maka mereka akan teriak rame-rame, “Awaaaaaasssss Ada Musuuuuuuuhhhhhh!”

Mungkin bagus juga kalok mulai sekarang yang sebut sebut nama Gadjah Mada langsung disambut Awas Ada Musuh!

Demikianlah pagi ini aku sampai meluangkan waktuku untuk menulis ini. Semua analisis mengenai Gajah Mada di Sosial Media merupakan kesalahan. Yang Benar, Gadjah Mada itu adalah aku, alumni Instititut Kesenian Jakarta angkatan 98, jurusan Film di Fakultas Film dan Televisi.

Nggak percaya?

Tanya sama maestro Garin Nugroho!

 

 

 

 

Iklan