Bersama Tsubasa dari Tokyo Menuju Yamagata

19 Februari 2017

JEPANG, 6 Oktober 2011
Tokyo-Yamagata
Pukul 14:20 siang

narita_ymgtMenuju Yamagata

Pemandangan dari dalam Kereta Tsubasa

Kereta baru saja melewati stasiun Fukushima dan kemudian baru saja tiba di stasiun Hosenawa untuk kemudian berangkat lagi menuju stasiun berikutnya.

Aku menikmati pemandangan di luar kereta yang berupa pemukiman, hutan, sawah, perkebunan sayur, dan ada juga sungai. Bagiku, Jepang siang ini menyuguhkan pemandangan yang luar biasa, mungkin karena ini pemandangan baru bagiku.

Barangkali pemandangan seperti ini bisa aku temukan di Jawa, seperti di Ambarawa ketika mengalami perjalanan dengan kereta wisata bergerbong dari kayu dan ditarik lokomotif buatan Jerman abad 18. Ya, Ambarawa Jawa Tengah juga menyajikan pemandangan yang sama.

Bedanya banyak sih, Di Jepang ini suasana pedesaan sepanjang jalan yang kulihat agak beda dengan di Jawa. Mungkin inilah mengapa YIDFF (Yamagata International Documentary Film Festival) diselenggarakan di Yamagata, mungkin supaya para peserta yang datang dari luar Jepang bisa merasakan transisi dari Tokyo yang super modern kayak radio transistor raksasa sampai ke Yamagata yang lebih anggun dengan pemandangan hijau asri dan segar alami.

tokyo_ymgtDi stasiun Tokyo

Atau barangkali aku sedang mengalami euphoria sehingga melihat setiap pemandangan di perjalanan sebagai sesuatu yang selalu indah. Tapi aku memang tidak menemukan pemandangan sampah plastik atau kotoran ketika melewati sungai atau di stasiun. Semua yang kulihat bersih!

Aku menyaksikan di sepanjang jalan kadang menemukan pemandangan kandang sapi, peternakan, pedesaan, mengingatkan aku pada film Oshin di TVRI yang sering aku tonton pada saat aku usia sekolah dasar dulu.

Sepanjang perjalanan aku takjub menyaksikan bukit-bukit hijau, hutan terjaga persawahan rapih, seolah-olah Nipon enggan memberi kesempatan bagi pendatang sepertiku untuk mengeluhkan kekurangan-kekurangan. Sangat berbeda jika melewati jalur Jakarta ke Jogja atau Semarang. Ketika kereta keluar dari stasiun Senen atau Jatinegara, pemukiman kumuh di kanan kiri rel kereta menjadi pemandangan yang tidak asing. Seolah kemiskinan selalu bergelayut di depan mata manusia Indonesia.

Ah, sepanjang jalan kulihat langit biru, awan putih bersih seperti gumpalan kapas raksasa yang membiaskan cahaya matahari. Pabrik dan sawah, kebun dan perumahan dapat bersanding dengan selaras dan ramah. Tidak tergusur nafsu modernitas dalam pengetian produktifitas absolut seperti di Jawa. Perjalanan dari Tokyo ke Yamagata membuka ruang refleksi bagiku. Mengingat Jawa selama 30 tahun terakhir, aku menyaksikan sawah-sawah habis, kebun-kebun habis semua untuk perumahan, pabrik atau gudang sebagai representasi dari pertumbuhan ekonomi. Sungguh membosankan.

Semua tertata rapih dan bersih sepanjang Kereta Subasa ini sepi, tidak seperti kereta ekonomi yang mengantarku pertama kali ke Jakarta tahun 1995. Tidak seperti kereta kelas bisnis dan eksekutif yang seringkali mendapati kecoak di balik selimut. Alangkah indahnya Indonesia jika memiliki kesadaran pembangunan seperti Nipon.

Aku berpisah dengan Nury Arfi di stasiun Tokyo. Nury menjemputku di pintu keluar Bnadara Narita dan dia membantuku untuk menterjemahkan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jepang kepada volunteer yang menyambutku.

Nuri membelikan bekal makanan seperti Bolo-Bolo dalam kardus kotak, makanan itulah yang mengobati rasa laparku di kereta cepat ini. Arigato gosaimas ta Nuri Kung!

bekalkuMakanan (Bolo-Bolo) yang dibelikan Nuri di Stasiun Tokyo sebagai bekalku ke Yamagata.

Sebentar lagi stasiun Akayu, di sini penumpang dapat menerima informasi perjalanan dengan mudah. Publik transportasi di Jepang ini selalu tepat waktu. Aku menumpang kereta Tsubasa, kerte yang bentuknya kayak belut putih raksasa ini sebenarnya berlari cepat sekali, tetapi di dalam tidak terasa goncangan.

Sungguh kontras dengan Indonesia, apalagi Jakarta. Baru kemarin aku berada di sebuah kota yang penuh dengan kemacetan transportasi, kini aku ada di sebuah kereta super cepat yang menempuh perjalanan hanya 4 jam dalam jarak yang sama antara Jakarta ke Jogja yang jika ditempuh dengan kereta api biasa bisa sampai 10 jam perjalanan.

Pemandangan baru bagiku

Di Jakarta yang tanahnya kuyakin lebih subur dari Tokyo, sawah-sawah tergusur, kebun buah tergusur, taman kota dan jalur hijau tergusur, semua untuk kepentingan peningkatan ekonomi.

Aku dengar cerita di sini, pemerintah tidak perlu kampanye makan ikan, karena di Jepang orang sudah memiliki kesadaran dan tradisi makan ikan. Menemukan kenyataan tersebut, aku terpikir, semua tergantung dari para pemimpinnya mau bener apa kagak.

dscn7745Aku (Paling kanan) bersama kawan-kawan filmmaker Asia di Yamagata.

Pemandangan luar biasa yang aku lihat dari dalam Tsubasa ini memberikan gambaran bahwa para pemimpin di negeri Nipon ini memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Aku bersyukur dapat belajar banyak dari apa yang aku lihat dan apa yang aku rasakan saat pertama kali ke Jepang ini. Jadi pengen ketemu Voltus atau Megaloman atau Naruto. Ah siapa tahu di Yamagata bener-bener ada Dora Emon… haha…:)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: