Penerbangan KE 627, Bangku 38 A KOREAN AIR

27 Januari 2017

Kalau nonton film terus, aku nggak akan mengenal Korea Selatan, pikirku. Maka menjelang dua hari terakhir Festival CINDI ini, aku jalan-jalan untuk melihat-lihat suasana Korea Selatan, Seoul dan sekitarnya. Aku pengen berkunjung ke komunitas Muslim di Korea Selatan. Ada apa saja yang bisa ditemukan di sana, tentu menarik. Lagi pula aku pengen ke museum. Melihat data kebudayaan dan sejarah bangsa Korea dari dekat.

fullsizerender-7

Malam sebelum closing night aku menghabiskan waktu di Spicy Chicken bersama Tetsu Kono dan Moon Byoung. Malam itu aku janjian sama Moon untuk ketemu esok harinya dan jalan-jalan berkunjung ke museum dan ke Itewon. Tempat tersebut merupakan satu distrik di Korea Selatan yang dihuni komunitas muslim dan di sana banyak orang Indonesia. Aku ingin berkunjung ke Masjid di Itewon. Informasi tentang masjid itu aku dapatkan dari Andy yang kemarin mengantarku jalan-jalan dengan kereta bawah tanah.

Aku bertemu Moon di hotel Sunshine. Komunikasi di Korea ini kalok nggak punya telpon lokal ternyata cukup susah, sehingga akhirnya komunikasi menggunakan chating Facebook dari laptopku. Syukurlah wifinya kencang sekali di hotel. Aku mencoba sms dengan hpku, tapi selalu gagal, aku mengira negara ini tidak menyediakan fasilitas buat profider XL ku, padahal ternyata pulsaku habis. Hahahhaa…

Dari hotel kami jalan kaki ke stasiun dan menggunakan kereta menuju Museum Palace. Perjalanan cukup cepat dan tepat waktu, tidak lambat juga tidak terlalu cepat. Palace adalah museum sekaligus tempat yang dilindungi karena sejarahnya. Di tempat ini ada gedung-gedung lama yang direnovasi sebagai kawasanheritage.

Pemerintah Korea Selatan sangat serius dalam urusan sejarah dan kebudayaan. Di museum itu aku ketemu pelajar Indonesia dan mahasiswa yang sedang foto-foto! Mereka  ada yang dari Aceh, Solo Jawa Tengah  dan beberapa daerah lain. Mereka mewakili Indonesia mengikuti Youth International Forum di Seoul. Kami berkenalan dengan mahasiswa itu. Ada pula kawan-kawan mereka dari Brunai, Malaysia.

Setelah selesai dari putar-putar di Palace, Moon mengajakku makan di restoran masakan Korea langganannya. Menurut cerita yang kudengar dari Moon, restoran itu dikelola oleh orang Korea asli yang letaknya di perkampungan dan bukan restoran waralaba.

fullsizerender-6

Sungguh pengalaman yang mengesankan saat aku dijamu makan siang oleh Moon. Di atas meja lengkap berbagai makanan Korea. Ada tauge, sayuran, Kimchi, daging dan lain-lain. Tak lupa kami minum Sho Ju sebagai penutup jamuan makan siang itu.

“Ini untuk persahabatan, Daniel. Kombeeee ” kata Moon sambil menyodorkan sloki nya.

“Terimakasih untuk makan siang ini, Sahabatku Moon. Kombeeee!” aku menanggapi sambil mengadu sloki.

“Thing…Ting…” Suara gelas beradu, Indonesia dan Korea Selatan dalam kenikmatan makan siang. Kombe sama dengan Kampai, sama dengan Kompei, dan di Jawa ada juga Ngombe, artinya minum, bersulang. Ngombeeeeeeee…! Hahahaa…

Aku melihat makanan di meja banyak sekali, di mangkuk kecil, di piring-piring kecil, bermacam-macam dan aku nggak mengenal namanya. Moon dengan sabar menjelaskan nama-nama makanan itu dan bahan bakunya.

Menurut cerita Moon, Perang menyebabkan bangsa Korea menjalani kehidupan yang keras, bahan makanan sulit dan manusia harus survive denga apa yang ada. Sayuran yang bisa ditanam menjadi bahan makanan utama, itulah kenapa Kimci menjadi makanan utama di Korea, itu adalah makanan yang tercipta karena peperangan.Aku senang bisa belajar banyak dari makanan di atas meja ini. Udah begitu gratis pulak! Dasarrrrr…ndeso! Hehehhee…

Aku kebayang masakan Nusantara, sewaktu aku di Minangkabau, Atjeh, Lombok, dan Sulawesi, setiap kali makan, di meja banyak sekali hidangan yang disediakan, aneka warna dan rasa. Bagi orang Korea, makan sangat penting untuk menjalin persahabatan. Di meja makan nilai persahabatan terbangun. Sungguh menyenangkan.

Perutku melilit, selain kekenyangan nasi, aku juga kekenyangan sayur dan daging.Setalah makan siang kami berangkat ke Itewon. Selain di sana terdapat masjid, ternyata Itewon juga banyak dihuni oleh expatriate dari berbagai Negara. Kawasan ini juga merupakan pusat hiburan malam. Yang menarik dari tempat ini juga terdapat komunitas gay dan lesbian, kasino, restoran dan club-club malam. Komunitas muslim dan masjid besar itu berada di tengah-tengah komunitas itu.

Jalan menuju masjid besar banyak terdapat toko buku Islam dan kitab. Di masjid besar Itewon aku ketemu Hasyim, pemuda asal Indramayu ini bekerja selama beberapa tahun di Seoul. Saat aku temui, Hasyim baru saja melaksanakan sholat dhuhur dan dia mengaku sedang menganggur. Karena itulah ia banyak menghabiskan waktu di masjid besar Itewon. Aku beruntung hadir di Itewon saat bulan Ramadhan, sehingga aku dapat melihat aktifitas Ramadhan di Itewon. Saat aku datang, beberapa orang jamaah masjid sedang mempersiapkan tenda dan karpet untuk acara buka puasa bersama.

Di masjid itu terdapat kegiatan belajar membaca Al Quran dan pengajian. Menyenangkan bisa mengenal komunitas Muslim di Korea Selatan. Aku sempat mencari Al Quran bertulisan Korea tetapi tidak dapat, akhirnya aku membeli buku untuk aku jadikan oleh-oleh buat teman-teman dan handai taulan di Indonesia. Aku membeli buku berbahasa inggris yang mengupas tentang Islam dan Perempuan Islam.

fullsizerender-8

Saat aku menulis ini, aku duduk di bangku pesawat Korean Air. Bangku nomor 38 A Penerbangan nomor ke 627 H. Ahhh….. kembali ke Tanah Air, berarti kembali ke realitasnya. Festival adalah sementara, perayaan adalah sementara, diskursus cinema dunia hanya sementara, gagasan-gagasan besar hanya sementara,

Hehehe…sahur…sahur…sahur….sayup-sayup kudengar suara itu. Setiba di Jakarta nanti segera akan kutemui suasana Ramadhan  di rumah kontrakanku di Gang Arab Pasar Minggu. Marhaban yaaa…Ramadhan. Puasa…*

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: