CINDI Night

27 Januari 2017

Korea Selatan

A Two Some Place, Desert Corner

21 Agustus 2011

Aku hadir di Spicy Chicken tadi malam pukul 00:00. Walaupun sudah larut malam tetapi tempat itu  masih saja ramai dipenuhi pegiat film peserta CINDI, mereka asyik ngobrol. Vladimir mengundangku untuk minum bersama. Kemudian kami sempatkan untuk menghadiri Cindi Night.

Kami bersama-sama datang ke ruang pertunjukan di CGV I,  bersama kami director Cindi, So Yun Park, Filmmaker dari Iran bernama Zamani Esmati dan Vladimir. Malam Ini dipertunjukkan film bisu  hitam putih yang diiringi music live.

Aku pernah melihat pertunjukan seperti ini pada film Edwin yang judulnya “Dayang Sumbi.” Pertunjukan filmnya Edwin itu dulu terjadi di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, pertunjukan yang luar biasa aku kayak lihat film Charlie Chaplin.

Pertunjukan film bisu hitam putih kali ini juga luar biasa. Gambar-gambarnya dan editingnya sangat kuat, music menjadi pendukung kekuatan  emosi yang dihasilkan dari komposisi dan gerak gambar. Sayangnya kami terlambat datang ke venue sehingga tidak melihat pertunjukan dari awal.

Rasanya nggak enak terlambat datang ke dalam gedung bioskop, mendapati pertunjukan sudah setengah main dan aku tidak tahu awal dari pertunjukan ini. Di venue inipun aku menyaksikan hanya sekitar 40 menit. Akan tetapi dalam masa 40 menit itu aku mendapatkan pelajaran yang menarik.

Di dalam film itu gambar sangat kuat, hitam putih, editingnya menyisipkan symbol-simbol menjadi montase yang merangsang pengertian tersendiri bagi penonton. Tokoh-tokohnya memiliki karakter yang kuat, menampilkan mimic dan gesture yang sangat menjelaskan karakter atau watak masing-masing.***

fullsizerender-4

Cindi Night malam tadi menggugah gagasan untuk membuat film baru. Aku pengen menyelesaikan scenario film yang mengisahkan bapakku sewaktu bekerja pada perusahaan Indoofood dan memutar film keliling sebagai media propaganda pemasaran produk mie instan itu.

Aku rasa pengalaman sebagai anak pemutar film layar tancap akan menjadi sangat menarik untuk dituangkan ke dalam karya film. Di dalam film itu aku ingin menjelaskan relasi antara media sinema, produk mie instan dan masyarakat penonton.

Setelah dari Cindi Night, kami kembali ke Spicy Chicken,  minum bersama Vladimir, So Yun dan Tetsu Kono. Nama yang terakhir ini adalah pemuda asal Tokyo yang tertidur di bathub kamar hotelku beberapa malam yang lalu. Aku mengajaknya tidur di kamarku karena dia tidak memiliki tempat menginap di kota ini.

Tetsu datang sebagai volunteer di CINDI. Dia adalah penulis film-film pendek dan film alternatif. Pemuda Jepang yang gayanya mirip David Carradin di film “Kung Fu” televisi series ini juga peneliti musik. Dia bercerita pernah tinggal di Brazil cukup lama untuk meneliti musik di sana.

Sudah dini hari, Vladimir pagi nanti pukul 6 akan bertolak pulang ke Singapura. Dia memutuskan untuk begadang dan menghabiskan malam bersama di jalanan Korea. Dari Spicy Chicken kami pergi ke sebuah distrik  bernama Gong Nam, tempat itu merupakan pusat hiburan malam di Seoul.

Dari beberapa orang aku dengar Gong Nam sangat terkenal. Kami naik taxi menuju tempat itu dan sesampainya di sana aku dan Vladimir begitu surprise, melihat pemandangan malam Seoul yang tidak ada di Negara kami masing-masing. Banyak pub malam, diskotik, karaoke, restoran dan pub music yang menyediakan aneka genre musik. Hiburan lengkap di sini.

Di pusat keramaian malam seperti itu, muda-mudi Seoul menghibur diri. Berpasangan, berombongan perempuan dan laki-laki. Perempuan-perempuan Korea yang seksi-seksi memenuhi tempat itu, menjadi pemandangan “cleaning the eyes” yang indah. Di tempat itu aku lihat setiap orang haus menghibur diri sendiri.

Jadi ingat kawasan Hayam Wuruk dan Bongkaran pinggir rel Tanah Abang. Tapi kedua tempat itu tidak seramai Gong Nam. Di tengah situasi yang ramai itulah tiga orang laki-laki, dari Singapura, Jepang dan Indonesia duduk di trotoar mengamati situasi dengan sebotol coca cola dan rokok Gudang Garam merah. Cadas banget gak sih? Hahaha…

Kami bertiga masuk ke dalam warung tenda. Tidak ada kursi tersisa, semuanya diduduki orang makan. Warung itu seperti angkringan di Jogja. Kami memutuskan berdiri minum bir sambil membicarakan segala pengalaman yang kami dapatkan selama beberapa hari ini di Korea.

Vladimir banyak berdiskusi dengan Testu tentang Brazilian Music. Gong Nam malam tadi penuh dengan cahaya neon box dan kerlap kerlip lampu warna-warni. Sementara gadis-gadis Seoul dengan dandanannya masing-masing asyik merayakan kehidupan bersama pasangannya. Aku nggak bisa membedakan mana di antara mereka yang artis. Semuanya kayak artis. Semua cantik cantik, putih putih, kayak iklan klinik kecantikan yang banyak tersebar di stasiun dan jalanan kota Seoul.

fullsizerender-5

Vladimir membawa kisah seru dari Serbia kepadaku. Aku rasa dari setiap ceritanya, Vladimir ingin menceritakan kehidupan di Serbia yang suram akibat perang dan pasca runtuhnya Yugoslavia.

Aku bisa merasakan kesuraman itu dari filmnya  “Water Hands”. Film itu  adalah representasi dirinya atas realitas yang ia hadapi selama ini. Di film itu, Vladimir memuja penonton dengan gambar-gambar yang indah, namun ceritanya mengandung kesedihan, harapan, pertemuan dan kehilangan. Menyaksikan “Water Hands” adalah menyaksikan keganjilan realitas.

Bagaimana mendengar seorang Gadis menunggu Sang Pelaut, kekasihnya. Akan tetapi Sang Pelaut berada entah di mana? Vladimir menceritakan kepadaku tentang konflik yang pernah merundung kampung halamannya, Serbia. Ia bercerita tentang perempuan dan Ibu-Ibu yang selalu menangis sepanjang tahun karena konflik dan kekerasan yang merundung negeri itu. Bagaimana rasanya mengalami negara yang terpecah belah? Bagaimana rasanya kehilangan negara?

Vladimir menceritakan kepadaku tentang pengalamannya mengorganisir ‘Seni Politik” dan bekerja pada NGO yang memberdayakan seniman-seniman Serbia. Namun pada suatu acara pameran bersama, sebuah kelompok gangster merusak karya-karya yang dipamerkan.

Akibat peperangan yang terjadi di Serbia sekolah luluh lantak karena serangan bom, Kehidupan Vladimir dan warga Serbia lainnya sangat menyedihkan. Ketika aku memperlihatkan foto Ibuku kepada Vladimir, Vladimir membuka ipodnya dan menceritakan tentang Ibu dan Saudara-saudaranya. Turut serta dalam diskusi kami ini kawan dari Iran, Zamani Esmati, ia hanya diam mendengarkan kami berbincang dan sesekali merekam dengan handycamnya.

fullsizerender-3

Dari obrolan di Spicy Chicken semalam aku mendapatkan makna bahwa keluarga adalah yang terpenting di dalam hidup ini. Filmmaker seperti Vladimir, Zamani, dan aku memiliki perspektif yang sama dalam hal ini. Walaupun Zamani dan aku belum menikah akan tetapi pengalaman sebagai anggota keluarga menguatkan perspektif bahwa keluarga itu penting dalam kehidupan ini.

Dalam realitas konflik, setiap tentara hanya bagian dari pasukan. Tetapi di luar konflik, setiap tentara merupakan anggota dari keluarga. Setiap keluarga menanggung segala permasalahan konflik.

Vladimir menceritakan banyak hal dari pengalaman hidupnya, bagaimana kemudian ia menikah dan menentukan pindah ke Amerika untuk belajar di sebuah universitas di ST. Barbara. Kini ia tinggal di Singapura dengan seorang istri dan dua anaknya. Vladimir mengajar di NTU (National Technology University). Ia dan keluarganya berbahagia. Bagiku, ini adalah cerita yang menarik untuk dikisahkan melalui film dengan judul yang sederhana “Cerita Vladimir”.

Tadi aku antarkan Vladimir hingga ke pintu hotel, ia menyeret kopernya disambut panitia, gadis-gadis cantik berkulit putih-putih berkaos oblong warna pink dengan celana pendek. Sesaat kemudian ia sudah bergerak menuju bandara.

Dari jendela Sunshine Hotel di kota Seoul, aku melongok Indonesia yang jauh. Aku nggak kebayang bagaimana jika negeri ku seperti Yugoslavia.*

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: