Penerbangan KE 627, Bangku 38 A KOREAN AIR

Uncategorized

Kalau nonton film terus, aku nggak akan mengenal Korea Selatan, pikirku. Maka menjelang dua hari terakhir Festival CINDI ini, aku jalan-jalan untuk melihat-lihat suasana Korea Selatan, Seoul dan sekitarnya. Aku pengen berkunjung ke komunitas Muslim di Korea Selatan. Ada apa saja yang bisa ditemukan di sana, tentu menarik. Lagi pula aku pengen ke museum. Melihat data kebudayaan dan sejarah bangsa Korea dari dekat.

fullsizerender-7

Malam sebelum closing night aku menghabiskan waktu di Spicy Chicken bersama Tetsu Kono dan Moon Byoung. Malam itu aku janjian sama Moon untuk ketemu esok harinya dan jalan-jalan berkunjung ke museum dan ke Itewon. Tempat tersebut merupakan satu distrik di Korea Selatan yang dihuni komunitas muslim dan di sana banyak orang Indonesia. Aku ingin berkunjung ke Masjid di Itewon. Informasi tentang masjid itu aku dapatkan dari Andy yang kemarin mengantarku jalan-jalan dengan kereta bawah tanah.

Aku bertemu Moon di hotel Sunshine. Komunikasi di Korea ini kalok nggak punya telpon lokal ternyata cukup susah, sehingga akhirnya komunikasi menggunakan chating Facebook dari laptopku. Syukurlah wifinya kencang sekali di hotel. Aku mencoba sms dengan hpku, tapi selalu gagal, aku mengira negara ini tidak menyediakan fasilitas buat profider XL ku, padahal ternyata pulsaku habis. Hahahhaa…

Dari hotel kami jalan kaki ke stasiun dan menggunakan kereta menuju Museum Palace. Perjalanan cukup cepat dan tepat waktu, tidak lambat juga tidak terlalu cepat. Palace adalah museum sekaligus tempat yang dilindungi karena sejarahnya. Di tempat ini ada gedung-gedung lama yang direnovasi sebagai kawasanheritage.

Pemerintah Korea Selatan sangat serius dalam urusan sejarah dan kebudayaan. Di museum itu aku ketemu pelajar Indonesia dan mahasiswa yang sedang foto-foto! Mereka  ada yang dari Aceh, Solo Jawa Tengah  dan beberapa daerah lain. Mereka mewakili Indonesia mengikuti Youth International Forum di Seoul. Kami berkenalan dengan mahasiswa itu. Ada pula kawan-kawan mereka dari Brunai, Malaysia.

Setelah selesai dari putar-putar di Palace, Moon mengajakku makan di restoran masakan Korea langganannya. Menurut cerita yang kudengar dari Moon, restoran itu dikelola oleh orang Korea asli yang letaknya di perkampungan dan bukan restoran waralaba.

fullsizerender-6

Sungguh pengalaman yang mengesankan saat aku dijamu makan siang oleh Moon. Di atas meja lengkap berbagai makanan Korea. Ada tauge, sayuran, Kimchi, daging dan lain-lain. Tak lupa kami minum Sho Ju sebagai penutup jamuan makan siang itu.

“Ini untuk persahabatan, Daniel. Kombeeee ” kata Moon sambil menyodorkan sloki nya.

“Terimakasih untuk makan siang ini, Sahabatku Moon. Kombeeee!” aku menanggapi sambil mengadu sloki.

“Thing…Ting…” Suara gelas beradu, Indonesia dan Korea Selatan dalam kenikmatan makan siang. Kombe sama dengan Kampai, sama dengan Kompei, dan di Jawa ada juga Ngombe, artinya minum, bersulang. Ngombeeeeeeee…! Hahahaa…

Aku melihat makanan di meja banyak sekali, di mangkuk kecil, di piring-piring kecil, bermacam-macam dan aku nggak mengenal namanya. Moon dengan sabar menjelaskan nama-nama makanan itu dan bahan bakunya.

Menurut cerita Moon, Perang menyebabkan bangsa Korea menjalani kehidupan yang keras, bahan makanan sulit dan manusia harus survive denga apa yang ada. Sayuran yang bisa ditanam menjadi bahan makanan utama, itulah kenapa Kimci menjadi makanan utama di Korea, itu adalah makanan yang tercipta karena peperangan.Aku senang bisa belajar banyak dari makanan di atas meja ini. Udah begitu gratis pulak! Dasarrrrr…ndeso! Hehehhee…

Aku kebayang masakan Nusantara, sewaktu aku di Minangkabau, Atjeh, Lombok, dan Sulawesi, setiap kali makan, di meja banyak sekali hidangan yang disediakan, aneka warna dan rasa. Bagi orang Korea, makan sangat penting untuk menjalin persahabatan. Di meja makan nilai persahabatan terbangun. Sungguh menyenangkan.

Perutku melilit, selain kekenyangan nasi, aku juga kekenyangan sayur dan daging.Setalah makan siang kami berangkat ke Itewon. Selain di sana terdapat masjid, ternyata Itewon juga banyak dihuni oleh expatriate dari berbagai Negara. Kawasan ini juga merupakan pusat hiburan malam. Yang menarik dari tempat ini juga terdapat komunitas gay dan lesbian, kasino, restoran dan club-club malam. Komunitas muslim dan masjid besar itu berada di tengah-tengah komunitas itu.

Jalan menuju masjid besar banyak terdapat toko buku Islam dan kitab. Di masjid besar Itewon aku ketemu Hasyim, pemuda asal Indramayu ini bekerja selama beberapa tahun di Seoul. Saat aku temui, Hasyim baru saja melaksanakan sholat dhuhur dan dia mengaku sedang menganggur. Karena itulah ia banyak menghabiskan waktu di masjid besar Itewon. Aku beruntung hadir di Itewon saat bulan Ramadhan, sehingga aku dapat melihat aktifitas Ramadhan di Itewon. Saat aku datang, beberapa orang jamaah masjid sedang mempersiapkan tenda dan karpet untuk acara buka puasa bersama.

Di masjid itu terdapat kegiatan belajar membaca Al Quran dan pengajian. Menyenangkan bisa mengenal komunitas Muslim di Korea Selatan. Aku sempat mencari Al Quran bertulisan Korea tetapi tidak dapat, akhirnya aku membeli buku untuk aku jadikan oleh-oleh buat teman-teman dan handai taulan di Indonesia. Aku membeli buku berbahasa inggris yang mengupas tentang Islam dan Perempuan Islam.

fullsizerender-8

Saat aku menulis ini, aku duduk di bangku pesawat Korean Air. Bangku nomor 38 A Penerbangan nomor ke 627 H. Ahhh….. kembali ke Tanah Air, berarti kembali ke realitasnya. Festival adalah sementara, perayaan adalah sementara, diskursus cinema dunia hanya sementara, gagasan-gagasan besar hanya sementara,

Hehehe…sahur…sahur…sahur….sayup-sayup kudengar suara itu. Setiba di Jakarta nanti segera akan kutemui suasana Ramadhan  di rumah kontrakanku di Gang Arab Pasar Minggu. Marhaban yaaa…Ramadhan. Puasa…*

 

 

Iklan

CINDI Night

Uncategorized

Korea Selatan

A Two Some Place, Desert Corner

21 Agustus 2011

Aku hadir di Spicy Chicken tadi malam pukul 00:00. Walaupun sudah larut malam tetapi tempat itu  masih saja ramai dipenuhi pegiat film peserta CINDI, mereka asyik ngobrol. Vladimir mengundangku untuk minum bersama. Kemudian kami sempatkan untuk menghadiri Cindi Night.

Kami bersama-sama datang ke ruang pertunjukan di CGV I,  bersama kami director Cindi, So Yun Park, Filmmaker dari Iran bernama Zamani Esmati dan Vladimir. Malam Ini dipertunjukkan film bisu  hitam putih yang diiringi music live.

Aku pernah melihat pertunjukan seperti ini pada film Edwin yang judulnya “Dayang Sumbi.” Pertunjukan filmnya Edwin itu dulu terjadi di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, pertunjukan yang luar biasa aku kayak lihat film Charlie Chaplin.

Pertunjukan film bisu hitam putih kali ini juga luar biasa. Gambar-gambarnya dan editingnya sangat kuat, music menjadi pendukung kekuatan  emosi yang dihasilkan dari komposisi dan gerak gambar. Sayangnya kami terlambat datang ke venue sehingga tidak melihat pertunjukan dari awal.

Rasanya nggak enak terlambat datang ke dalam gedung bioskop, mendapati pertunjukan sudah setengah main dan aku tidak tahu awal dari pertunjukan ini. Di venue inipun aku menyaksikan hanya sekitar 40 menit. Akan tetapi dalam masa 40 menit itu aku mendapatkan pelajaran yang menarik.

Di dalam film itu gambar sangat kuat, hitam putih, editingnya menyisipkan symbol-simbol menjadi montase yang merangsang pengertian tersendiri bagi penonton. Tokoh-tokohnya memiliki karakter yang kuat, menampilkan mimic dan gesture yang sangat menjelaskan karakter atau watak masing-masing.***

fullsizerender-4

Cindi Night malam tadi menggugah gagasan untuk membuat film baru. Aku pengen menyelesaikan scenario film yang mengisahkan bapakku sewaktu bekerja pada perusahaan Indoofood dan memutar film keliling sebagai media propaganda pemasaran produk mie instan itu.

Aku rasa pengalaman sebagai anak pemutar film layar tancap akan menjadi sangat menarik untuk dituangkan ke dalam karya film. Di dalam film itu aku ingin menjelaskan relasi antara media sinema, produk mie instan dan masyarakat penonton.

Setelah dari Cindi Night, kami kembali ke Spicy Chicken,  minum bersama Vladimir, So Yun dan Tetsu Kono. Nama yang terakhir ini adalah pemuda asal Tokyo yang tertidur di bathub kamar hotelku beberapa malam yang lalu. Aku mengajaknya tidur di kamarku karena dia tidak memiliki tempat menginap di kota ini.

Tetsu datang sebagai volunteer di CINDI. Dia adalah penulis film-film pendek dan film alternatif. Pemuda Jepang yang gayanya mirip David Carradin di film “Kung Fu” televisi series ini juga peneliti musik. Dia bercerita pernah tinggal di Brazil cukup lama untuk meneliti musik di sana.

Sudah dini hari, Vladimir pagi nanti pukul 6 akan bertolak pulang ke Singapura. Dia memutuskan untuk begadang dan menghabiskan malam bersama di jalanan Korea. Dari Spicy Chicken kami pergi ke sebuah distrik  bernama Gong Nam, tempat itu merupakan pusat hiburan malam di Seoul.

Dari beberapa orang aku dengar Gong Nam sangat terkenal. Kami naik taxi menuju tempat itu dan sesampainya di sana aku dan Vladimir begitu surprise, melihat pemandangan malam Seoul yang tidak ada di Negara kami masing-masing. Banyak pub malam, diskotik, karaoke, restoran dan pub music yang menyediakan aneka genre musik. Hiburan lengkap di sini.

Di pusat keramaian malam seperti itu, muda-mudi Seoul menghibur diri. Berpasangan, berombongan perempuan dan laki-laki. Perempuan-perempuan Korea yang seksi-seksi memenuhi tempat itu, menjadi pemandangan “cleaning the eyes” yang indah. Di tempat itu aku lihat setiap orang haus menghibur diri sendiri.

Jadi ingat kawasan Hayam Wuruk dan Bongkaran pinggir rel Tanah Abang. Tapi kedua tempat itu tidak seramai Gong Nam. Di tengah situasi yang ramai itulah tiga orang laki-laki, dari Singapura, Jepang dan Indonesia duduk di trotoar mengamati situasi dengan sebotol coca cola dan rokok Gudang Garam merah. Cadas banget gak sih? Hahaha…

Kami bertiga masuk ke dalam warung tenda. Tidak ada kursi tersisa, semuanya diduduki orang makan. Warung itu seperti angkringan di Jogja. Kami memutuskan berdiri minum bir sambil membicarakan segala pengalaman yang kami dapatkan selama beberapa hari ini di Korea.

Vladimir banyak berdiskusi dengan Testu tentang Brazilian Music. Gong Nam malam tadi penuh dengan cahaya neon box dan kerlap kerlip lampu warna-warni. Sementara gadis-gadis Seoul dengan dandanannya masing-masing asyik merayakan kehidupan bersama pasangannya. Aku nggak bisa membedakan mana di antara mereka yang artis. Semuanya kayak artis. Semua cantik cantik, putih putih, kayak iklan klinik kecantikan yang banyak tersebar di stasiun dan jalanan kota Seoul.

fullsizerender-5

Vladimir membawa kisah seru dari Serbia kepadaku. Aku rasa dari setiap ceritanya, Vladimir ingin menceritakan kehidupan di Serbia yang suram akibat perang dan pasca runtuhnya Yugoslavia.

Aku bisa merasakan kesuraman itu dari filmnya  “Water Hands”. Film itu  adalah representasi dirinya atas realitas yang ia hadapi selama ini. Di film itu, Vladimir memuja penonton dengan gambar-gambar yang indah, namun ceritanya mengandung kesedihan, harapan, pertemuan dan kehilangan. Menyaksikan “Water Hands” adalah menyaksikan keganjilan realitas.

Bagaimana mendengar seorang Gadis menunggu Sang Pelaut, kekasihnya. Akan tetapi Sang Pelaut berada entah di mana? Vladimir menceritakan kepadaku tentang konflik yang pernah merundung kampung halamannya, Serbia. Ia bercerita tentang perempuan dan Ibu-Ibu yang selalu menangis sepanjang tahun karena konflik dan kekerasan yang merundung negeri itu. Bagaimana rasanya mengalami negara yang terpecah belah? Bagaimana rasanya kehilangan negara?

Vladimir menceritakan kepadaku tentang pengalamannya mengorganisir ‘Seni Politik” dan bekerja pada NGO yang memberdayakan seniman-seniman Serbia. Namun pada suatu acara pameran bersama, sebuah kelompok gangster merusak karya-karya yang dipamerkan.

Akibat peperangan yang terjadi di Serbia sekolah luluh lantak karena serangan bom, Kehidupan Vladimir dan warga Serbia lainnya sangat menyedihkan. Ketika aku memperlihatkan foto Ibuku kepada Vladimir, Vladimir membuka ipodnya dan menceritakan tentang Ibu dan Saudara-saudaranya. Turut serta dalam diskusi kami ini kawan dari Iran, Zamani Esmati, ia hanya diam mendengarkan kami berbincang dan sesekali merekam dengan handycamnya.

fullsizerender-3

Dari obrolan di Spicy Chicken semalam aku mendapatkan makna bahwa keluarga adalah yang terpenting di dalam hidup ini. Filmmaker seperti Vladimir, Zamani, dan aku memiliki perspektif yang sama dalam hal ini. Walaupun Zamani dan aku belum menikah akan tetapi pengalaman sebagai anggota keluarga menguatkan perspektif bahwa keluarga itu penting dalam kehidupan ini.

Dalam realitas konflik, setiap tentara hanya bagian dari pasukan. Tetapi di luar konflik, setiap tentara merupakan anggota dari keluarga. Setiap keluarga menanggung segala permasalahan konflik.

Vladimir menceritakan banyak hal dari pengalaman hidupnya, bagaimana kemudian ia menikah dan menentukan pindah ke Amerika untuk belajar di sebuah universitas di ST. Barbara. Kini ia tinggal di Singapura dengan seorang istri dan dua anaknya. Vladimir mengajar di NTU (National Technology University). Ia dan keluarganya berbahagia. Bagiku, ini adalah cerita yang menarik untuk dikisahkan melalui film dengan judul yang sederhana “Cerita Vladimir”.

Tadi aku antarkan Vladimir hingga ke pintu hotel, ia menyeret kopernya disambut panitia, gadis-gadis cantik berkulit putih-putih berkaos oblong warna pink dengan celana pendek. Sesaat kemudian ia sudah bergerak menuju bandara.

Dari jendela Sunshine Hotel di kota Seoul, aku melongok Indonesia yang jauh. Aku nggak kebayang bagaimana jika negeri ku seperti Yugoslavia.*