PESAN SINGKAT DARI CINDI

25 Januari 2017

 

Pada akhir cerita, dengan sangat cerdas, Pushpakumara menampilkan adegan sebuah bus tua yang berkarat, berjalan di jalanan sepi, di dalam bus tanpa sopir itu terdapat berbagai simbol agama, di dalamnya hanya terdapat dua penumpang lelaki dan perempuan.

 

Ruang Tunggu Airport

Incheon, 24 Agustus 2011

Ajang festival film yang digelar di Korea Selatan, Cinema Digital Seoul Film Festival (Cindi) telah berlangsung pada 17 – 23 Agustus 2011. Ratusan film hasil seleksi dan kurasi dari dewan juri memeriahkan festival film yang sederhana, tetapi cukup penting dalam menghubungkan peta potensi perfilman Asia.

cindia

Cindi terbagi dalam beberapa kompetisi dan award, yakni Asian Competition, Red Chameleon, Blue Chameleon, Green Chameleon dan White Chameleon serta Butterfly award serta Movie Collage Award.

Film-film yang mengikuti kompetisi datang dari berbagai negara antara lain; Indonesia, Srilanka, Jepang, Tibet dan China, Korea Selatan, Singapura, Serbia Montenegro, China, Thailand, India dan Prancis, Iran, Mongolia.

Cindi merupakan titik pertemuan film-film yang membawa gagasan-gagasan baru. Setiap film menyampaikan pesan yang dapat memberikan pandangan kepada penonton tentang situasi social, politik, kebuadayaan, yang terjadi di setiap negara, dimana para pembuat film itu berada.

Film yang dipertontonkan dalam ajang Cindi dapat dikatakan sebagai film dengan tema alternatif, tema yang diambil kebanyakan sangat personal. Nilai hiburan yang dimiliki film Hollywood nampaknya harus disimpan di dalam almari, oleh karena ketika menonton film-film di Cindi, para penonton akan melihat film sebagai bagian dari kesaksian dan jembatan menyampaikan realitas yang biasanya menyangkut masalah sosial politik, dan kritik terhadap suatu kebijakan Negara dimana filmmaker itu berasal.

“Fliying Fish” yang disutradarai oleh Sanjeewa Pushpakumara dengan sangat berani memaparkan wajah Srilanka yang diselimuti konflik dan militerisme. Tokoh pada film itu merepresentasikan pihak-pihak yang terlibat dalam hubungan konflik di negara tersebut. Penokohan sosok Tentara, Ibu rumah tangga dan kerepotannya sebab memiliki banyak anak, Seorang pendeta Budha yang gemuk dan lamban berjalan, Seorang anak laki-laki yang berusaha membantu perekonomian keluarganya, Orang tua stress yang tidak puas keadaan di sekitar lingkungannya, perempuan muda yang menjalin hubungan dengan seorang komandan tentara dan terjebak dalam kegemaran melakukan hubungan sex, seorang bapak yang dilematis karena pekerjaan, semuanya kisah tadi disampaikan dalam adegan demi adegan yang sangat kuat memaparkan problem social, politik Srilanka.

Pushpakumara yang mendapat beasiswa belajar film di Seoul oleh pemerintah Korea Selatan, dengan sangat berani “membunuh” semua tokoh yang ada di dalam film itu. Pada akhir cerita, dengan sangat cerdas, Pushpakumara menampilkan adegan sebuah bus tua yang berkarat, berjalan di jalanan sepi, di dalam bus tanpa sopir itu terdapat berbagai simbol agama, di dalamnya hanya terdapat dua penumpang lelaki dan perempuan.

Akhir dari fiksi berdurasi 125 menit ini seperti mengajak setiap penonton mengingat kembali kisah Adam dan Hawa yang terlempar ke dunia karena dosa, dan dosa itu tidak memberikan petunjuk arah pada masa depan umat manusia di kemudian waktu hingga hari ini.

cindib

Film “Old Dog” memaparkan banyak sekali simbol yang menunjukkan bahwa sang sutradara sangat cerdas dalam memaparkan realitas melalui semiotika. Penonton diajak mengurai satu persatu simbol visual dan audio untuk menterjemahkan realitas masyarakat Tibet hari ini.

Pema Tseden, sang sutradara membuka filmnya dengan sosok seorang pemuda Tibet yang mengendarai motor buatan Jepang merk Honda. Sang pemuda itu membawa anjing tua yang berlari-lari dengan leher terantai mengikuti sang pemuda. Latar belakang adegan itu adalah kesibukan pembangunan kota kecil dan Tibet yang mulai berubah. Anjing itu adalah milik ayah si Pemuda. Kepada seorang pembeli anjing, si Pemuda menjual anjing itu.

Selanjutnya “Old Dog” memaparkan tokoh-tokoh dalam film tersebut. Seorang penggembala tua ayah sang pemuda yang berusaha mendapatkan kembali anjingnya dengan bantuan anak angkatnya yang seorag polisi di distrik tersebut.

Banyak adegan ganjil di “Old Dog” yang merupakan simbol untuk diterjemahkan. Seorang lelaki yang bermain biliard sendiri di pinggir jalan, lelaki tua yang berkendara kuda kontras dengan pemuda berkendara motor Honda, gembala yang menggiring ternaknya di antara pembangunan konstruksi besi beton, tukar menukar pemantik api dan dialog panjang antara orang tua sang gembala dengan si pemuda tentang kapan ia memiliki keturunan atau anak. Sekolah dan rumah sakit yang berbendera China dan baliho raksasa yang menyampaikan propaganda pemerintah China terhadap masyarakat Tibet untuk menyudahi mitos, dan saatnya menggenjot reproduksi.

Pema Tseden dengan berani menyisipkan adegan sang gembala membunuh anjing tua penjaga dombanya. Di akhir film berdurasi 88 menit tersebut Sang gembala tua berjalan menaiki bukit menuju arah yang tak dapat diprediksi. Adegan ini seperti hendak mengingatkan penonton kepada sosok Dalai Lama yang tengah memperjuangkan kemerdekaan Tibet dari kolonialisasi China. Sementara itu tahun demi tahun harapan terhadap kemerdekaan itu kemudian menjadi pertanyaan besar. Ke mana arah perjuangan Dalai Lama dan kapan kemerdekaan Bangsa Tibet itu akan terbit?

Kedua film yang terbahas di atas merupakan mendapatkan penghargaan terbanyak dalam festival film Cindi. Kesederhanaan teknik dan cara bertutur dan tema yang kuat menjadi alasan utama dewan juri menganugerahkan penghargaan kepada kedua film tersebut. Satu lagi penghargaan diberikan kepada Tong sutradara dari China dengan filmnya yang berjudul “Shattered’.

Shattered mengisahkan sebuah cerita dari dalam wilayah Dongning, Provinsi Heilongjiang di timur laut China. Tang Xinxin berusia 80 tahun hidup dalam kesepian.

Pada musim dingin tahun 2009, anak-anaknya yang sekarang tersebar di seluruh negeri, berkumpul di kampung halaman mereka, untuk menghabiskan hari tahun baru dengannya.

Setelah sukacita singkat itu dia menyampaikan pendapat kepada kedua orang putranya yang meninggalkan rumah. Sementara putri bungsunya bernama Caifeng juga kembali ke kota untuk mencari nafkah. Tang, yang telah menyiapkan peti mati untuk dirinya sendiri mewakili wajah manusia tua di musim dingin kesepian dan sunyi sendiri.

Dokumenter ini mengisyaratkan China sebagai negara yang menggenjot ekonomi dan produktivitas, tetapi pada kenyataannya hubungan manusia antar manusia, terutama keluarga harus dikorbankan demi kepentingan ekonomi dan pekerjaan.

cindic

Di setiap film, kita dapat melihat kegelisahan yang tertuang di dalam cerita film. Kegelisahan tentang keadaan manusia di era globalisasi dan transisi-transisi antara mesin produktifitas ekonomi, kebijakan negara, benturan nilai-nilai identitas lokal dan global, terorisme dan pertanyaan terhadap peran agama dalam menyelesaikan persolan manusia.

Festival Cindi yang berakhir pekan lalu hendak menyampaikan pesan tentang keadaan manusia hari ini dan sebuah pertanyaan tentang masa depan kemanusiaan dan manusia itu sendiri.

Ruang gelap sinema menjadi semacam ruang syi’ar, atas kenyataan manusia hari ini. Lantas, quo vadis kemanusiaan di luar ruang gelap itu?*

Iklan

2 Tanggapan to “PESAN SINGKAT DARI CINDI”

  1. Yulia Hesti N said

    Disampaikan dengan baik, Kak Rudi….

  2. saksi said

    Terimakasih Hesti…semoga tulisannya bermanfaat yaaa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: