CINDI

Uncategorized

17 Agustus 2011

Pukul 08:00 Waktu Korea Selatan

Korean Air mendarat dengan tenang di landasan bandar udara Incheon pagi ini. Dari jendela Korean Air aku menyaksikan suasana basah dan berkabut, nampaknya baru saja turun hujan? Musim apa ini di Korea? Nggak sempat cek di google bulan Agustus begini di Korea lagi musim apa.

fullsizerender-2

Suasana basah menyambutku pagi ini. Alhamdulillah, proses di imigrasi tidak terlalu bertele-tele.

“Film Festival?” Tanya petugas imigrasi sambil menatapku sejenak

“Yes, I attended to Cindi Film Festival, Sir” Jawabku

Petugas itu lantas membubuhkan stempel pada passport hijauku dan tersenyum.

 “Welcome to South Korea, Sir!”

“Kamsahamidah” jawabku kepada petugas imigrasi, mendengar suaraku tadi, dia tertawa kecil.

Aku menerima paspor dari tangannya lalu bergegas menuju tempat pengambilan bagasi. Bandara Korea terekam di ingatanku sebagai kaca-kaca. Tembus pandang dan bersih. Sambil menunggu antrian keluar, aku sempatkan berak terlebih dahulu di toilet bandara. Toiletnya bersih dan nyaman untuk jadi tempat merenung beberapa menit setelah perjalanan panjang dari Jakarta. Koperku sudah menunggu di gate 7B dan aku segera mengangkatnya.

Di pintu keluar sudah ada seorang gadis dengan kertas besar bertuliskan MR. Daniel Rudi Haryanto, Indonesia. Ia bercelana pendek dan berkaos warna pink dengan identitas festival di kalungkan di lehernya. Namanya Eun Bee. Aku memanggilnya Queen Bee dan gadis Korea Selatan yang cantik itu segera tersipu malu disapa dengan nama itu oleh seorang pemuda Indonesia ini. Ia menyambutku dengan ramah. Kemudian mempersilahkan aku menunggu di ruangan tunggu yang telah disediakan. Queen Bee memintaku menunggu beberapa saat karena ia sedang menyambut beberapa filmmaker yang datang dari beberapa Negara.

Rasanya pagi ini aku pengen segera menikmati kopi hitam dan sebatang sigaret. Tetapi Korea Selatan tidak seperti Indonesia yang bisa gampang dapat kopi dan gampang nyulut sigaret. Aku hanya menunggu dan menulis catatan ini di kursi ruang tunggu.

Rombongan filmmaker Thailand muncul, satu diantaranya aku kenal namanya dari google. Namanya Penek Ratanaruang. Ia adalah filmmaker asal Thailand yang cukup terkenal di berbagai festival internasional. Tiga pemuda di sampingnya aku belum kenal, ternyata mereka adalah filmmaker independen yang mengusung film berjudul “Lumpine”. Itulah pertemuan awal dengan Nong, Chira dan Banphot tiga anak muda yang enerjik.

cindi1

Queen Bee mengantar kami ke mobil jemputan di luar bandara. Kami menuju hotel tempat semua filmmakers peserta CINDI (Cinema Digital) Film Festival menginap. Ini kali pertama aku melihat pemandangan kota Seoul. Sejak keluar dari Bandara Incheon aku mendapati Korea Selatan berbukit-bukit dengan rimbun pohon-pohon yang terjaga menjadi hutan.

Pepohonan lebat tumbuh di perbukitan, suasan hijau lestari menyenangkan hati. Jalan tol lengang, gerimis jatuh dari langit, teman-teman baruku dari Thailand ngobrol menggunakan bahasa mereka. Aku nggak tahu apa yang mereka obrolkan. Kadang-kadang nongol kosakata yang sama seperti bahasa Jawa atau Melayu, tapi aku nggak berani mengartikan sendiri, bisa jadi beda arti, sama halnya bahasa Tagalog yang digunakan kawan-kawan filmmaker dari Mindano Selatan, Philipina.

 Memasuki Seoul, jalanan terlihat ramai walaupun bukan kemacetan. Di sebelah kiri terdapat sungai besar yang panjang, Queen Bee menjelaskan sungai itu bernama Sungai Han, sungai yang bersih dari sampah merupakan sungai utama di Seoul. Lebar sungai itu seperti sungai Musi di Palembang atau Kapuas di Borneo. Jembatan-jembatan panjang, setelah melewati beberapa terowongan yang menembus perbukitan kami mulai melihat Seoul.

Jalanan kota Seoul juga tidak terlepas dari macet, tapi nggak seperti di Jakarta. Kemacetan Jakarta Na’udzubillahi mindzalik, kemacetan yang nggak masuk akal bikin cepat stress. Jalanan macet di Seoul ini mudah terurai. Nggak tahu ya kalok di Seoul bagian lain? Hihihi…

Queen Bee volunteer yang ramah. Dia selalu menampakkan wajah gembira. Berbalut kaos pink dan celana pendek jeans warna biru, dalam batin aku berbisik, “Ini K Pop banget, nggak papa deh macet lama-lama asalkan ada Queen Bee menemani perjalanan ini”. Halaaaah! Pret!

cindi.jpg

Hari ini 17 Agustus 2011, Indonesia memperingati proklamasi kemerdekaan ke enam puluh enam tahun, aku berada di Seoul, Korea Selatan yang memiliki kemerdekaannya sendiri. Dari jendela mobil aku melihat pemandangan Seoul. Kota yang bersih, berhias bangunan dan tulisan-tulisan Korea yang tak aku mengerti.

 Queen Bee menyadarkan lamunanku, ia menyampaikan kepada kami bahwa sebentar lagi kita akan tiba di hotel Sunshine, dia meminta kami untuk bersiap turun.  Tak berselang lama, kami memasuki halaman hotel Sinar Matahari itu. Beberapa volunteer menyambut kami dengan ramah sekali. Mereka seperti Queen Bee, berkaos pink dan bercelana jeans pendek warna biru, menyuguhkan senyum mentari yang bersinar di hati para filmmaker sepertiku. Halaaaahh! Pret! *

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s