PESAN SINGKAT DARI CINDI

Uncategorized

 

Pada akhir cerita, dengan sangat cerdas, Pushpakumara menampilkan adegan sebuah bus tua yang berkarat, berjalan di jalanan sepi, di dalam bus tanpa sopir itu terdapat berbagai simbol agama, di dalamnya hanya terdapat dua penumpang lelaki dan perempuan.

 

Ruang Tunggu Airport

Incheon, 24 Agustus 2011

Ajang festival film yang digelar di Korea Selatan, Cinema Digital Seoul Film Festival (Cindi) telah berlangsung pada 17 – 23 Agustus 2011. Ratusan film hasil seleksi dan kurasi dari dewan juri memeriahkan festival film yang sederhana, tetapi cukup penting dalam menghubungkan peta potensi perfilman Asia.

cindia

Cindi terbagi dalam beberapa kompetisi dan award, yakni Asian Competition, Red Chameleon, Blue Chameleon, Green Chameleon dan White Chameleon serta Butterfly award serta Movie Collage Award.

Film-film yang mengikuti kompetisi datang dari berbagai negara antara lain; Indonesia, Srilanka, Jepang, Tibet dan China, Korea Selatan, Singapura, Serbia Montenegro, China, Thailand, India dan Prancis, Iran, Mongolia.

Cindi merupakan titik pertemuan film-film yang membawa gagasan-gagasan baru. Setiap film menyampaikan pesan yang dapat memberikan pandangan kepada penonton tentang situasi social, politik, kebuadayaan, yang terjadi di setiap negara, dimana para pembuat film itu berada.

Film yang dipertontonkan dalam ajang Cindi dapat dikatakan sebagai film dengan tema alternatif, tema yang diambil kebanyakan sangat personal. Nilai hiburan yang dimiliki film Hollywood nampaknya harus disimpan di dalam almari, oleh karena ketika menonton film-film di Cindi, para penonton akan melihat film sebagai bagian dari kesaksian dan jembatan menyampaikan realitas yang biasanya menyangkut masalah sosial politik, dan kritik terhadap suatu kebijakan Negara dimana filmmaker itu berasal.

“Fliying Fish” yang disutradarai oleh Sanjeewa Pushpakumara dengan sangat berani memaparkan wajah Srilanka yang diselimuti konflik dan militerisme. Tokoh pada film itu merepresentasikan pihak-pihak yang terlibat dalam hubungan konflik di negara tersebut. Penokohan sosok Tentara, Ibu rumah tangga dan kerepotannya sebab memiliki banyak anak, Seorang pendeta Budha yang gemuk dan lamban berjalan, Seorang anak laki-laki yang berusaha membantu perekonomian keluarganya, Orang tua stress yang tidak puas keadaan di sekitar lingkungannya, perempuan muda yang menjalin hubungan dengan seorang komandan tentara dan terjebak dalam kegemaran melakukan hubungan sex, seorang bapak yang dilematis karena pekerjaan, semuanya kisah tadi disampaikan dalam adegan demi adegan yang sangat kuat memaparkan problem social, politik Srilanka.

Pushpakumara yang mendapat beasiswa belajar film di Seoul oleh pemerintah Korea Selatan, dengan sangat berani “membunuh” semua tokoh yang ada di dalam film itu. Pada akhir cerita, dengan sangat cerdas, Pushpakumara menampilkan adegan sebuah bus tua yang berkarat, berjalan di jalanan sepi, di dalam bus tanpa sopir itu terdapat berbagai simbol agama, di dalamnya hanya terdapat dua penumpang lelaki dan perempuan.

Akhir dari fiksi berdurasi 125 menit ini seperti mengajak setiap penonton mengingat kembali kisah Adam dan Hawa yang terlempar ke dunia karena dosa, dan dosa itu tidak memberikan petunjuk arah pada masa depan umat manusia di kemudian waktu hingga hari ini.

cindib

Film “Old Dog” memaparkan banyak sekali simbol yang menunjukkan bahwa sang sutradara sangat cerdas dalam memaparkan realitas melalui semiotika. Penonton diajak mengurai satu persatu simbol visual dan audio untuk menterjemahkan realitas masyarakat Tibet hari ini.

Pema Tseden, sang sutradara membuka filmnya dengan sosok seorang pemuda Tibet yang mengendarai motor buatan Jepang merk Honda. Sang pemuda itu membawa anjing tua yang berlari-lari dengan leher terantai mengikuti sang pemuda. Latar belakang adegan itu adalah kesibukan pembangunan kota kecil dan Tibet yang mulai berubah. Anjing itu adalah milik ayah si Pemuda. Kepada seorang pembeli anjing, si Pemuda menjual anjing itu.

Selanjutnya “Old Dog” memaparkan tokoh-tokoh dalam film tersebut. Seorang penggembala tua ayah sang pemuda yang berusaha mendapatkan kembali anjingnya dengan bantuan anak angkatnya yang seorag polisi di distrik tersebut.

Banyak adegan ganjil di “Old Dog” yang merupakan simbol untuk diterjemahkan. Seorang lelaki yang bermain biliard sendiri di pinggir jalan, lelaki tua yang berkendara kuda kontras dengan pemuda berkendara motor Honda, gembala yang menggiring ternaknya di antara pembangunan konstruksi besi beton, tukar menukar pemantik api dan dialog panjang antara orang tua sang gembala dengan si pemuda tentang kapan ia memiliki keturunan atau anak. Sekolah dan rumah sakit yang berbendera China dan baliho raksasa yang menyampaikan propaganda pemerintah China terhadap masyarakat Tibet untuk menyudahi mitos, dan saatnya menggenjot reproduksi.

Pema Tseden dengan berani menyisipkan adegan sang gembala membunuh anjing tua penjaga dombanya. Di akhir film berdurasi 88 menit tersebut Sang gembala tua berjalan menaiki bukit menuju arah yang tak dapat diprediksi. Adegan ini seperti hendak mengingatkan penonton kepada sosok Dalai Lama yang tengah memperjuangkan kemerdekaan Tibet dari kolonialisasi China. Sementara itu tahun demi tahun harapan terhadap kemerdekaan itu kemudian menjadi pertanyaan besar. Ke mana arah perjuangan Dalai Lama dan kapan kemerdekaan Bangsa Tibet itu akan terbit?

Kedua film yang terbahas di atas merupakan mendapatkan penghargaan terbanyak dalam festival film Cindi. Kesederhanaan teknik dan cara bertutur dan tema yang kuat menjadi alasan utama dewan juri menganugerahkan penghargaan kepada kedua film tersebut. Satu lagi penghargaan diberikan kepada Tong sutradara dari China dengan filmnya yang berjudul “Shattered’.

Shattered mengisahkan sebuah cerita dari dalam wilayah Dongning, Provinsi Heilongjiang di timur laut China. Tang Xinxin berusia 80 tahun hidup dalam kesepian.

Pada musim dingin tahun 2009, anak-anaknya yang sekarang tersebar di seluruh negeri, berkumpul di kampung halaman mereka, untuk menghabiskan hari tahun baru dengannya.

Setelah sukacita singkat itu dia menyampaikan pendapat kepada kedua orang putranya yang meninggalkan rumah. Sementara putri bungsunya bernama Caifeng juga kembali ke kota untuk mencari nafkah. Tang, yang telah menyiapkan peti mati untuk dirinya sendiri mewakili wajah manusia tua di musim dingin kesepian dan sunyi sendiri.

Dokumenter ini mengisyaratkan China sebagai negara yang menggenjot ekonomi dan produktivitas, tetapi pada kenyataannya hubungan manusia antar manusia, terutama keluarga harus dikorbankan demi kepentingan ekonomi dan pekerjaan.

cindic

Di setiap film, kita dapat melihat kegelisahan yang tertuang di dalam cerita film. Kegelisahan tentang keadaan manusia di era globalisasi dan transisi-transisi antara mesin produktifitas ekonomi, kebijakan negara, benturan nilai-nilai identitas lokal dan global, terorisme dan pertanyaan terhadap peran agama dalam menyelesaikan persolan manusia.

Festival Cindi yang berakhir pekan lalu hendak menyampaikan pesan tentang keadaan manusia hari ini dan sebuah pertanyaan tentang masa depan kemanusiaan dan manusia itu sendiri.

Ruang gelap sinema menjadi semacam ruang syi’ar, atas kenyataan manusia hari ini. Lantas, quo vadis kemanusiaan di luar ruang gelap itu?*

Iklan

Anak Tokyo Tidur di Bathub

Uncategorized

Sunshine Hotel,

Seoul, Korea Selatan,

19 Agustus 2011

Ini kisah tentang pemuda asal Jepang. Perawakannya kurus, rambutnya panjang di bawah bahu, jalannya santai kayak naga lapar, kemana-mana menyandang tas dan menjinjing tas kresek besar. Isinya pakaian, botol minuman mineral, kotak kartu nama dan katalog film festival. Dia ramah pada setiap volunteer dan setiap pengunjung festival, ia mudah akrab dengan siapapun.

cindiiv

Kamera pocket yang dia kalungkan bersama dengan Badge Festival tidak pernah lepas dari lehernya, beberapa kali aku lihat dia dengan kamera pocketnya mejeng minta foto sama filmmaker atau juri.

Pemuda ini selalu memeriksa dengan detail isi katalog film festival. Pemuda ini menceritakan, dari katalog itulah dia mendapatkan informasi tentang siapa saja yang berada di dalam perhelatan ini. Itulah mengapa kemudian dia seperti sudah mengenal orang-orang yang dia ajak berfoto bersama. Itulah orang yang ia tahu dari katalog festival.

Pemuda ini jarang pegang gadget, ia tidak minum Sho Ju atau Bir, dia bebas dari alkohol. Aku lebih sering melihat dia minum Coca cola atau membawa air mineral berukuran besar. Ia nampak begitu menikmati festival film, namanya Tetsu Kono pemuda pecinta film dan festival tinggal di Tokyo.

Perkenalanku pertama kali dengan Tetsu terjadi di acara Cindi Hapy Hours setelah acara pembukaan. Pada malam pembukaan itu aku juga bertemu Vladimir Todorovic, orang yang serius itu kesan pertama kali yang aku dapat tentang dia.

Vladimir berasal dari Serbia dan kini menetap di Singapura sebagai deputi professor dan mengajar di Nanyang University (NTU). Pada malam pembukaan itu pula aku bertemu kawan yang pernah bertemu di Dubai, namanya Mun Jeong Hyun . Akhirnya kami yang baru bertemu ini begadang sampai pagi.

cindyi

Setelah acara Hapy Hours kami lanjut ngobrol di Café depan Sun Shine Hotel. Tetsu Kono bergabung di meja kami malam itu. Tetsu sangat gemar nonton film dan suka dengerin music. Tetsu dan Vladimir berbincang tentang musik. Tetsu menceritakan pengalamannya melakukan riset music di Brazil selama beberapa tahun. Kami berdiskusi tentang musik Amerika latin. Satu di antaranya adalah tentang Buena Vista Siocial Club. Herzog membuat film tentang mereka. Maaf, maksudku bukan Werner Herzog tetapi Wim Wenders pada 1999.

Tetsu banyak memiliki referensi pustaka maupun musik Amerika Latin. Aku senang mendengarkan Vladimir dan Tetsu berdiskusi. Tapi nampaknya pemuda dari Tokyo ini nggak terbiasa begadang, berkali-kali ia menguap. Memasuki dini hari dia sudah tertidur di meja. Aku dan Vladimir sampai membangunkannya saat mengakhiri obrolan Subuh itu karena café tutup.

Aku dan Vladimir berpisah dengan Mun yang pamit pulang ke rumahnya, sementara Tetsu terlihat kepayahan karena mengantuk. Aku bertanya di mana dia menginap. Dia bilang tidur di stasiun Kereta. Entah benar entah tidak, tetapi dia bercerita bahwa dia tidak menginap di hotel dan tidak menginap di rumah teman.

Aku mempersilahkan dia tidur di kamarku. Bisa jadi ini adalah kesalahan jika mengikuti prosedur sebagai perantau di negeri orang yang belum tahu tentang adat istiadanya. Tapi aku hanya berpijak pada alas an solidaritas dan kemanusiaan. Kota ini dingin, seorang pengelana festival film tak punya tempat tidur kecuali di stasiun. Dalam situasi Seoul yang dingin saat itu, apa salahnya berbagi ruangan untuk kawan yang tidak punya tempat tinggal.

Kami masuk ke Sunshine Hotel. Setelah membersihkan diri, aku langsung tidur, Tetsu dengan sopan meminta ijin kepadaku untuk boleh memakai kamar mandi. Aku mempersilahkan dia memakai kamar mandi dan akupun langsung take off ke negeri impian. Aku hanya tidur beberapa jam saja pagi itu, karena festival dimulai sejak pagi dan aku akan menghadiri beberapa acara.

cindiii

Aku kira pemuda Tokyo itu sudah bangun duluan dan pergi ke Festival, ternyata tidak. Aku terkejut ketika mendapati dia tertidur di bathub Ketika aku bangunin, dia sempat terkejut dan minta maaf berkali-kali. Aku tertawa ngakak karena baru kali ini melihat orang tidur di bathub dengan air masih merendam setengah badannya.

Tetsu bertanya kepadaku, “Daniel, kenapa kamu tertawa?”

Aku masih terpingkal-pingkal ketika menjelaskan kepadanya bahwa di Indonesia tidur semacam ini sungguh aneh. Dan mungkin di dunia ini tidak ada yang tidur seperti dirinya.

“Apakah saya melakukan kesalahan, Daniel?” Tetsu kembali bertanya kepadaku.

“No problem, Kawan. Ini hanya lucu dan seperti adegan yang berpotensi filmis”. Jawabku.

Dia mentas dari bathub. Aku bilang kalau aku akan menggunakan kamar mandi. dia membereskan diri. Aku menunggu sambil nonton televisi yang memutar tayangan propaganda Korea Selatan yang mengingatkan masyarakat pada sejarah perjuangan mereka.

Terbayang olehku, film televisi berseri yang dibintangi David Carradin, “Kung Fu”. Tetsu seperti tokoh di film itu yang sedang mendapatkan pelajaran dari gurunya, Master Po.

Master Po

Close your eyes. What do you hear?”

 Young Caine

I hear the water… I hear the birds…”

 Master Po

Do you hear your own heartbeat?” 

Young Caine

“No.”

Master Po

“Do you hear the grasshopper which is at your feet?”

Young Caine

“Old man…, how is it that you hear these things?”

 Master Po

Young man…, how is it that you do not?” 

 

I wanna tell to Tetsu the Kung Fu, “Tetsu, you hear the water flowing from the faucet to bathtub, and you do not do what that old man do not do. What is that?”

“Sleeping in the bathtub!”

***

cindiiii

Pagi ini aku mencoba menu sarapan Kimci. Aku sendiri seumur-umur baru pertama kali makan kimci. Perutpun jadi bermasalah. Sebelum berangkat ke acara festival, aku beberapa kali ke toilet menyelesaikan persoalan perutku. Kenyataannya, aku bisa “Makan” film Korea, tetapi untuk Kimci, aku butuh penyesuaian diri.

Tetsu pagi ini melanjutkan perjalanannya keliling acara festival. Dia akan menonton beberapa film dan foto-foto bareng dengan ikon yang ia cari. Aku sampaikan kepadanya, jika malam tiba dan dia tidak tahu di mana akan tidur, silahkan datang ke kamarku untuk istirahat.

Dia mengangguk, dan menghilang di tikungan jalan.

To be continued.:)*

CINDI

Uncategorized

17 Agustus 2011

Pukul 08:00 Waktu Korea Selatan

Korean Air mendarat dengan tenang di landasan bandar udara Incheon pagi ini. Dari jendela Korean Air aku menyaksikan suasana basah dan berkabut, nampaknya baru saja turun hujan? Musim apa ini di Korea? Nggak sempat cek di google bulan Agustus begini di Korea lagi musim apa.

fullsizerender-2

Suasana basah menyambutku pagi ini. Alhamdulillah, proses di imigrasi tidak terlalu bertele-tele.

“Film Festival?” Tanya petugas imigrasi sambil menatapku sejenak

“Yes, I attended to Cindi Film Festival, Sir” Jawabku

Petugas itu lantas membubuhkan stempel pada passport hijauku dan tersenyum.

 “Welcome to South Korea, Sir!”

“Kamsahamidah” jawabku kepada petugas imigrasi, mendengar suaraku tadi, dia tertawa kecil.

Aku menerima paspor dari tangannya lalu bergegas menuju tempat pengambilan bagasi. Bandara Korea terekam di ingatanku sebagai kaca-kaca. Tembus pandang dan bersih. Sambil menunggu antrian keluar, aku sempatkan berak terlebih dahulu di toilet bandara. Toiletnya bersih dan nyaman untuk jadi tempat merenung beberapa menit setelah perjalanan panjang dari Jakarta. Koperku sudah menunggu di gate 7B dan aku segera mengangkatnya.

Di pintu keluar sudah ada seorang gadis dengan kertas besar bertuliskan MR. Daniel Rudi Haryanto, Indonesia. Ia bercelana pendek dan berkaos warna pink dengan identitas festival di kalungkan di lehernya. Namanya Eun Bee. Aku memanggilnya Queen Bee dan gadis Korea Selatan yang cantik itu segera tersipu malu disapa dengan nama itu oleh seorang pemuda Indonesia ini. Ia menyambutku dengan ramah. Kemudian mempersilahkan aku menunggu di ruangan tunggu yang telah disediakan. Queen Bee memintaku menunggu beberapa saat karena ia sedang menyambut beberapa filmmaker yang datang dari beberapa Negara.

Rasanya pagi ini aku pengen segera menikmati kopi hitam dan sebatang sigaret. Tetapi Korea Selatan tidak seperti Indonesia yang bisa gampang dapat kopi dan gampang nyulut sigaret. Aku hanya menunggu dan menulis catatan ini di kursi ruang tunggu.

Rombongan filmmaker Thailand muncul, satu diantaranya aku kenal namanya dari google. Namanya Penek Ratanaruang. Ia adalah filmmaker asal Thailand yang cukup terkenal di berbagai festival internasional. Tiga pemuda di sampingnya aku belum kenal, ternyata mereka adalah filmmaker independen yang mengusung film berjudul “Lumpine”. Itulah pertemuan awal dengan Nong, Chira dan Banphot tiga anak muda yang enerjik.

cindi1

Queen Bee mengantar kami ke mobil jemputan di luar bandara. Kami menuju hotel tempat semua filmmakers peserta CINDI (Cinema Digital) Film Festival menginap. Ini kali pertama aku melihat pemandangan kota Seoul. Sejak keluar dari Bandara Incheon aku mendapati Korea Selatan berbukit-bukit dengan rimbun pohon-pohon yang terjaga menjadi hutan.

Pepohonan lebat tumbuh di perbukitan, suasan hijau lestari menyenangkan hati. Jalan tol lengang, gerimis jatuh dari langit, teman-teman baruku dari Thailand ngobrol menggunakan bahasa mereka. Aku nggak tahu apa yang mereka obrolkan. Kadang-kadang nongol kosakata yang sama seperti bahasa Jawa atau Melayu, tapi aku nggak berani mengartikan sendiri, bisa jadi beda arti, sama halnya bahasa Tagalog yang digunakan kawan-kawan filmmaker dari Mindano Selatan, Philipina.

 Memasuki Seoul, jalanan terlihat ramai walaupun bukan kemacetan. Di sebelah kiri terdapat sungai besar yang panjang, Queen Bee menjelaskan sungai itu bernama Sungai Han, sungai yang bersih dari sampah merupakan sungai utama di Seoul. Lebar sungai itu seperti sungai Musi di Palembang atau Kapuas di Borneo. Jembatan-jembatan panjang, setelah melewati beberapa terowongan yang menembus perbukitan kami mulai melihat Seoul.

Jalanan kota Seoul juga tidak terlepas dari macet, tapi nggak seperti di Jakarta. Kemacetan Jakarta Na’udzubillahi mindzalik, kemacetan yang nggak masuk akal bikin cepat stress. Jalanan macet di Seoul ini mudah terurai. Nggak tahu ya kalok di Seoul bagian lain? Hihihi…

Queen Bee volunteer yang ramah. Dia selalu menampakkan wajah gembira. Berbalut kaos pink dan celana pendek jeans warna biru, dalam batin aku berbisik, “Ini K Pop banget, nggak papa deh macet lama-lama asalkan ada Queen Bee menemani perjalanan ini”. Halaaaah! Pret!

cindi.jpg

Hari ini 17 Agustus 2011, Indonesia memperingati proklamasi kemerdekaan ke enam puluh enam tahun, aku berada di Seoul, Korea Selatan yang memiliki kemerdekaannya sendiri. Dari jendela mobil aku melihat pemandangan Seoul. Kota yang bersih, berhias bangunan dan tulisan-tulisan Korea yang tak aku mengerti.

 Queen Bee menyadarkan lamunanku, ia menyampaikan kepada kami bahwa sebentar lagi kita akan tiba di hotel Sunshine, dia meminta kami untuk bersiap turun.  Tak berselang lama, kami memasuki halaman hotel Sinar Matahari itu. Beberapa volunteer menyambut kami dengan ramah sekali. Mereka seperti Queen Bee, berkaos pink dan bercelana jeans pendek warna biru, menyuguhkan senyum mentari yang bersinar di hati para filmmaker sepertiku. Halaaaahh! Pret! *