Lost in Dubai Airport

Uncategorized

Ahlan Lounge,

Dubai International Airport- Jumeria Beach Hotel,

12 Desember 2010

dubaii

Pagi ini pesawat Emirates mendarat dengan mulus di Dubai International Airport setelah delapan jam nonstop perjalanan udara dengan pesawat yang besar dari Jakarta. Sesuai dengan keterangan yang ada di itinerary festival, aku harus segera menemui panitia di Ahlan Lounge untuk registrasi kedatangan. Panitia akan mengantar setiap filmmaker ke hotel yang dituju.

Dubai International Airport gede banget. Banyak sekali pintu-pintu keberangkatan. Aku menjumpai berbagai macam manusia dengan warna kulit, warna mata, gaya berpakaian, kewarganegaraan, dan bahasa yang berbeda. Aku tidak langsung mencari Ahlan Lounge, melainkan pengen jalan-jalan dulu melihat suasana baru. Dari ujung bandara satu ke ujung yang lain, masuk ke toko satu ke toko lain, maka sampailah aku bertemu dengan kolam ikan dan taman buatan yang masih ada di dalam kompleks bandara.

Para traveller terlihat di sekitar kolam yang airnya gemericik meneduhkan. Mereka sebagian tidur, beristirahat sambil menunggu penerbangan berikutnya. Sebagian yang lain membaca buku dan sebagian lainnya berbincang sambil menikmati kopi dalam cangkir styrofoam.

Gak sadar sudah sekian belas menit aku jalan-jalan dan melihat-lihat hal-hal baru. Kesibukan aktifitas bandara ini membawaku pada kebingungan. Aku sempat lost in Dubai Airport selama setengah jam lebih. Keasyikan menikmati pemandangan toko-toko bebas pajak. Melihat-lihat barang-barang mahal yang dipajang di etalase-etalase yang mahal-mahal. Ada parfum, cerutu Cuba bergambar Ernesto Che Guevara, baju, jas, tas, sepatu, jam tangan, minuman, makanan, rokok, topi, peralatan travelling, cokelat berbagai merk, serta oleh-oleh souvenir dan lain-lain. Semuanya mahal-mahal tapi aku sadar nggak bisa membelinya. Hehehe.. dasar ndeso

“Oh…inilah yang namanya glamour, kemewahan” bisikku dalam hati menyaksikan berbagai macam hiasan kehidupan yang ada di airport. Benar saja di bandara yang letaknya di teluk dan berpadang pasir ini ternyata ada kolam yang dihiasi taman dengan batu-batuan, di taman itu tumbuh tanaman tropis beneran, aku pegang daunnya, beneran! Bukan jenis tanaman plastik made in Cina yang sering dijumpai di Jakarta. Dubai Airport bagiku seperti pintu gerbang yang sengaja diseting sedemikian rupa untuk menyambut para pendatang dengan menyuguhkan pemandangan pencapaian negeri kaya Uni Emirate Arab (UEA).

dubaiii

Aku mendatangi petugas informasi dan bertanya di mana letak Ahlan Lounge. Seorang petugas mengantarku hingga tiba di Ahlan Lounge dan bertemu dengan panitia untuk melakukan registrasi kedatangan. Sewaktu aku mengaktifkan selulerku, beberapa sms dari Indonesia masuk. Satu di antaranya dari Mas Garin Nugroho yang menanyakan apakah aku sudah sampai di Dubai atau belum. Mas Garin berangkat kemarin dengan maskapai yang sama dengan yang aku tumpangi, Emirates.

Aku membalas sms Mas Garin bahwa aku sudah sampai dan sedang mengurus beberapa keperluan registrasi di bandara. Alhamdulillah, di Jakarta aku sempat isi pulsa XL ku 100 ribu rupiah. Ternyata membalas sms beberapa kali sudah menyedot pulsa sekian puluh ribu. Mahal bener harga komunikasi di sini, umpatku. Aku juga membalas sms dari sahabatku Hasna, yang tinggal di Dubai. Hasna adalah sahabatku, dia filmmaker juga dari Jogja yang menikah dengan kontraktor asal Dubai dan negeri ini. Hasna memberikan informasi-informasi tentang Dubai kepadaku melalui pesan elektronik.

Teringat beberapa hari sebelum ini, aku menemui Edwin Blindpig di kantornya di Jeruk Purut, untuk bertanya-tanya tentang bagaimana sih suasana film internasional di luar negeri? Di warung kopi sachet pinggir jalan Jeruk Purut siang itu, Edwin menceritakan pengalamannya dan itu sangat membantuku untuk memahami situasi festival.

Panitia mempersilahkan aku untuk memilih tempat duduk, mereka bilang supaya aku menikmati sarapan dan ngopi-ngopi dulu sambil menunggu kedatangan tamu lainnya. Tamu-tamu yang berbarengan datang denganku sudah berangkat ke hotel diantarkan mobil panitia.

Aku sendirian saja duduk di sofa warna krem dengan cemilan pertama tersaji di meja. Seorang perempuan datang ke arahku dan menyuguhkan biscuit aroma kelapa? dan Kurma! Ya, sarapan pagi pertama di Dubai dengan kurma dan biscuit rasa kelapa dan secangkir kopi hangat yang membuatku nggak jadi mengantuk. Panitia itu bernama Katleen, entah dari negara mana asal perempuan muda yang menyediakan cemilan dan kopi ini. Dari wajahnya aku rasa dia berasal dari salah satu negara Asia.

Panitia pertama yang aku temui adalah Fahad Ebrahim Al Shehhi, dia duduk di sudut Ahlan Lounge dengan tumpukan kertas daftar filmmakers dan penggiat perfilman peserta DIFF 2010. Aku sempatkan berfoto narsis dengan mereka. Mereka menyambutku dengan ramah.

Bahasa Arab mereka sedikit-sedikit aku tahu, karena sedikit tahu maka aku belum tentu paham. Paling nyambung saat aku pertama masuk ke Ahlan Lounge, aku memberikan salam, “Assalamualaikum ya akhi” mereka menjawab dengan “Wa Alaikum Salam, ahlan wa sahlan”. Mereka sedikit terkejut karena mendapatkan salam dari orang bukan Arab.

Setelah mengisi beberapa kertas formulir, aku baru tersadar bahwa aku belum sempat mengambil koperku. Aku meminta tolong panitia untuk ditunjukkan di mana letak bagian lost and found? Aku hendak mencari koperku!

dubaiiv.jpg

Seorang panitia mengajakku keluar dari Ahlan Lounge, aku mengikutinya dari belakang. Benar saja, koperku sendirian muter-muter sendirian di mesin pengantar bagasi pada gate kesekian itu. Panitia DIFF sangat sigap dan professional. Aku melihat beberapa orang datang, wajah mereka menyiratkan kelelahan dari perjalanan jauh. Panitia segera melayani mereka dengan ramah.

Panitia DIFF menyediakan kenyamanan dalam pelayanan kepada setiap peserta festival yang hadir. Suatu pengalaman yang berharga, mereka memberikan apresiasi yang baik kepada filmmakers sebagai tamu.

Setiap peserta festival diantarkan dengan menggunakan fasilitas mobil dari panitia festival. Sejak dari Ahlan Lounge, koper udah dibawain sama petugas. Hingga di tempat pemberhentian mobil penjemputan, panitia yang mengurus kami memasukkan koper ke bagasi di belakang mobil.

Aku tidak tahu jenis mobil apa yang sedang aku tumpangi untuk mengantarkan aku ke hotel tempat menginap selama di DIFF 2010 ini. Aku melihat seseorang berdiri menunggu. Di Ahlan Lounge aku sempat berkenalan dengannya, namanya Shahin Parhami filmmaker dari Iran yang tinggal di Kanada. Aku mengajak Shahin masuk ke mobil untuk berangkat ke hotel bareng, kebetulan hotel kami adalah hotel yang sama.

Di perjalanan menuju hotel aku memiliki kesempatan lebih banyak untuk berbincang dengan Shahin tentang film, tentang situasi negaranya Iran, tentang berbagai hal terkait perkembangan film dan kebudayaan. “Amin” judul filmnya, termasuk peserta kompetisi Muhrer Asia bersama film kami Prison and Paradise.

Mobil yang kami tumpangi berjenis sedan melaju dengan ringan sangat nyaman menuju hotel, aku mencoba mengidentifikasi ini mobil sedan apa, atau mungkin karena aku belum pernah naik mobil kayak gini jadi bagaimanapun rasanya jauh lebih nyaman daripada naik angkot M16 Jurusan Kampung Melayu Pasar Minggu. Aku sempat minta tolong kawan Shahin motret aku, lumayan ada kenangan di mobil mewah. Hahaha…

Matahari serasa menyengat sepagi ini, saat aku meninggalkan bandara tadi waktu telah menunjukkan pulul 9:00 pagi waktu Dubai.  Sungguh menakjubkan, tadinya aku membayangkan Dubai adalah padang pasir tandus, ternyata kenyataannya di depan mataku tidak demikian. Sepanjang perjalanan aku menyaksikan jalanan dihiasi bunga warna-warni yang ditanam di kanan dan di kiri dan tengah jalan utama dari bandara menuju ke kota. Rumah-rumah, gedung-gedung tertata rapih, banyak terlihat Mall dan mobil mewah di jalanan.

Jalanan Dubai berukuran lebar-lebar, hiasan warna warni dari bunga di sepanjang jalan menambah semarak dan membuat mata rileks.Dubai seperti “The Metropolis” karya Fritz Lang yang pertama kali kutonton saat kuliah film semester awal di FFTV IKJ.Perjalanan dari bandara ke hotel seperti menyaksikan pertunjukan film tentang tembok-tembok dan mesin-mesin modern yang mahal. Itulah kesan pertamaku tentang kota ini.

Setiba di lobby hotel, minuman jeruk dingin disuguhkan kemenyambut kami. Seorang petugas hotel menyodorkan handuk dingin kepada kami yang baru datang. Filmmakers antri di depan meja resepsionis. Aku lihat mereka mendapatkan handuk dingin juga. Menempelkan handuk ke wajah mereka. Aku meniru apa yang mereka lakukan, dan ternyata, Mak nyessss…. Rasanya wajah ini seperti menemukan oasis di tengah padang pasir tandus kering. Segar wajahku, jus jeruk welcome drink membuat segar kerongkonganku dari rasa haus.

Ini hotel besar banget, pohon cemara menjulang ke atas dengan berbagai hiasan. Ini Dubai, UEA, tetapi ada pohon Natal. Mereka ternyata natalan juga. Hotel ini letaknya strategis, di pinggir pantai, terhubung dengan berbagai hotel lain sepanjang pantai Dubai. Aku sempat menyaksikan tadi gedung yang seperti layar di pinggir laut itu.

Itu gedung yang sering aku lihat di berbagai informasi tentang Dubai. Waaaaahhhh…aku sampai di sini. Panitia terlihat sibuk, mereka volunteer yang mengingatkan aku kepada Jakarta International Film Festival. Aku membayangkan kalau ada asosiasi volunteer film di seluruh dunia ini pasti akan menyenangkan.

dubaiiii

Banyak hal-hal baru yang aku temukan dalam perjalanan dari Jakarta ke tempat ini. Aku masih kebayang tadi pagi lost in Dubai Airport. Dan saat ini bocah kampung yang pengen banyak belajar ini sudah ada di Jumeira Beach Hotel bersiap untuk merayakan festival film. *

Iklan