Bahasa adalah Panglima

Uncategorized

 

Jumeira Beach Hotel, Dubai.

Kamar 2124

13 Desember 2010

 

Namaku Daniel Rudi Haryanto, filmmaker biasa-biasa saja dari Indonesia.

Festival film internasional pertama yang aku kenal adalah Jakarta International Film Festival. Aku adalah volunteer di festival tersebut (2001-2005). Sebagai volunteer traffic film, setiap kali aku menjemput can-can film dari berbagai Negara, aku meraba kaleng itu dan membatin suatu pernyataan, “Suatu saat nanti aku akan datang ke festival-festivalmu”.

***

dubai

Pembukaan Dubai Internasional Film Festival 2010 semalam meriah sekali. Walaupun acara sedikit molor dari jadwal, namun tak mengurangi kemegahan pertunjukan visual yang digelar di panggung sangat menakjubkan.

Di panggung terpajang layar yang lebar banget. Baru kali ini aku melihat layar sebesar itu, Raksasa! Lebih dari format sinemascope! Layar dapat tertutup dan terbuka secara otomatis. Pada acara sambutan dari panitia penyelenggara, layar ditembak dengan visual bermotif detail dan warna warni. Sulit menceritakan motif apa itu, setahuku menurut pelajaran Seni Rupa di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) dulu itu motif dekoratif. Tapi kalau melongok tema Festival, sangat berkaitan dengan jembatan kultural dan open mind and meeting idea.

Di belakang gambar-gambar yang ditampilkan di permukaan layar raksasa itu terdapat para penari kontemporer yang energik. Warna kontras merah berpadu biru, ditimpa kuning, bersanding oranye, hijau, ungu kayak lagu balonku ada lima rupa-rupa warnanya. Ah…ngelantur saya. Hahaha…

Tapi di dalam perayaan pembukaan ini warna-warna yang dipertontonkan dari tata pencahayaan panggung terkesan sangat glamour. Sesekali aku menengok kepada para tamu yang duduk terpesona pada pertunjukan itu. Bias tata cahaya menyapa wajah wajah dengan mata binar itu.

Tadi malam acara red karpet, setiap tamu undangan berjalan di atas karpet merah, difoto-foto dan direkam video oleh kameraman-kameraman news dan entertainment. Hostnya cantik-cantik, parfumnya asyik-asyik walaupun aku nggak tahu parfum apa itu, aromanya yang menggairahkan. Maka aku bilang itu parfum asyik!

Begini ternyata ya, jika sebuah festival film internasional yang memakan biaya besar diselenggarakan, karpetnya aja merah dan tebal, sepatuku terasa tenggelam solnya…hahahhaa

Berjalan di atas karpet merah bareng penggiat perfilman dunia, sambil bersyukur kepada Gusti Allah di dalam hati aku mendendangkan lagunya Aerosmith “Crazy”

Say you’re leavin’ on a seven thirty train,
And that you’re headin’ out to Hollywood.
Girl, you been givin’ me that line so many times
It kinda gets like feelin’ bad looks good. Yeah.

dubai1

“King Speech” merupakan film pembuka, film yang luar biasa! Film yang disutradarai oleh Tom Hooper and penulis skenario David Seidler itu menyajikan acting, penyutradaraan, tata artistik dan editing sangat berperan dalam menentukan film ini sebagai film drama yang sangat bagus.

Setelah pemutaran film aku menghadiri pesta malam di pinggir pantai Madinat Jumeirah. Pesta yang sangat meriah, kembang api membakar langit Dubai malam, pendar cahayanya membuncah sebagai bunga api menyebarkan putik sari. Di mana-mana bir, di mana mana champagne, di mana mana alcohol, wine merah dan putih aku teguk, aku merayakan, aku minum semuanya. Ternyata enak juga minum wine di Uni Emirat Arab. Enak karena emang nggak pernah minum sebelumnya kecuali Bir Bintang! hahahha

Aku bertemu orang-orang yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Berpakaian pesta formal, jas dan ada juga yang menggunakan gamis dengan sorban-sorban. Mereka yang pakai sorban sebagian nggak minum alcohol, sebagian lainnya aku lihat ada yang minum wine.

Aku tidak kenal mereka, datang entah dari mana, di mana negerinya, di mana kotanya, apakah mereka filmmaker seperti aku? aku tak tahu. Tahu-tahu mereka berada di tempat ini merayakan pembukaan festival film.Yang Arab, yang Asia, yang Afrika, yang India, yang dari Eropa, yang dari Amerika, Australia, semuanya kumpul dan merayakan.

Kembang api berkali-kali dinyalakan, pecah membakar cakrawala, membiaskan cahaya di wajahku anak Indonesia dari kampung, lulusan sekolah film yang biasa-biasa saja kualitas pendidikannya ini, cahaya gemerlap nan glamour menyiram wajahku yang kebanyakan wine dan bikin nggeliyeng.

Kembang api di angkasa malam berdebum dan meledak-ledak di angkasa, sama halnya perasaan gundah gulana anak muda asal Karang Ayu, Semarang ini yang sedang patah. Para biduan dengan dandanan dendi naik ke panggung, lagu-lagu dinyanyikan, mengajak menari. Aku bersama Edmund Yeoh, filmmaker muda asal Malaysia yang sedang melanjutkan studi di Tokyo. Kami jalan-jalan keliling, saling motret-motret merekam momen indah pesta malam pembukaan.

Perempuan-perempuan menari bersama teman laki-lakinya, aku minum tiga gelas wine, empat gelas, lima gelas, bir aku tenggak, semua minuman yang tersedia aku rasakan. Ya, aku pikir apapun yang ada di festival ini mesti dirasakan. Termasuk segala hiburannya.

Aku nggak sadar kalau Garin Nugroho sutradara besar Indonesia itu juga ada di tempat itu. Saat aku jalan dia mencolek punggungku. Aku langsung mencoba sadar. Kamipun pulang bareng dan ngobrol sepanjang jalan. Asyik juga ya jalan bareng sutradara besar sambil ngrasani orang film Indonesia di Dubai.

“Film kami menang di FFD, Mas” aku memberitahu Garin.

“Iya saya udah dengar, selamat ya saya ikut senang” jawabnya.

“Ini festival pertamamu ya?” tanya Garin kepadaku.

“Iya mas, pertama kalinya dan langsung gede banget suasananya” jawabku.

Bhuahahahhahaaaaa…kami berdua tertawa ngakak sambil menyelusuri jalanan bercahaya temaram, di tepian pantai yang menghantarkan suara ombak menepi sayup-sayup. Seperti noar sinema…

Barangkali memang begini seharusnya hubungan guru dengan murid, seperti Garin dan aku. Di dalam proses belajar di Institut Kesenian Jakarta aku belajar dari pengalaman Garin Nugroho. Mulai dari film-film pendeknya hingga film-filmnya di era kontemporer sekarang.

Aku berterimakasih kepada kurator filmku, Philip Cheah dari Singapura. Di Festival ini aku banyak belajar untuk membawa diri juga membawa gelas wine, belajar berkomunikasi juga belajar interaksi, belajar mengekspresikan pandangan dan pendapat pada jejaring perfilman internasional, belajar mengidentifikasi aroma parfum dan kain jas yang dikenakan tamu-tamu yang tak kukenal.

Setiap hari aku harus menggunakan bahasa Inggris dan ini menyenangkan sekaligus gak mudah. Begitu pentingnya bahasa Inggris bagi kenyamanan berkomunikasi dengan lawan bicara. Aku juga bertemu dengan orang-orang yang bahasa inggrisnya belepotan tapi dengan percaya diri mencoba berkomunikasi.

“King Speech” memberikan pelajaran kepadaku bahwa mengkomunikasikan pandangan, ide dan pendapat ternyata membutuhkan bahasa dan cara bertutur yang tepat. Sekalipun ia adalah seorang pangeran atau raja, jika tidak dapat mengkomunikasikan dan berbahasa yang tepat, maka ia bukanlah siapa-siapa. Pelajaran kali ini adalah cara berkomunikasi dengan berbahasa, bahasa pada kenyataannya adalah panglima!

Kebanyakan minum semalam, aku kandas di tempat tidur. Rasanya malas bangun, tempat tidurnya terlalu nyaman. Bantal dan selimut serta kasur yang enak buat curhat sama diri sendiri, tersadar dan kayak nggak percaya kalok sampai di tempat ini. Menjadi tamu undangan film festival di Dubai.

dubai2

Aku disergap kemalasan, katalog festival tergeletak di meja kamarku, aku hanya memandangi. Aku enggan beranjak meninggalkan bantalku. Kepala ini sepertiditindis beban, merasakan kenikmatan fasilitas festival internasional. Di luar jendela kamar seharga $800 ini nampak pemandangan dermaga kapal-kapal untuk pesiar. Ini Dubai, bahasa Inggrisku terbata-bata. Tapi aku sudah basah terjebur di kancah festival ini, sendirian.

Tahu gak, berapa isi uang di dompetku? Hanya 200$, aku tukarkan uang tabunganku di Jakarta untuk uang saku berangkat ke festival. Barangkali aku adalah tamu termiskin di sepanjang perjalanan hotel milik emir-emir Arab ini hahhaa. Kehidupan selalu penuh kejutan.(drh)

 

 

 

 

Iklan