Surat-surat malam kepada Bung Sjuman

6 Juni 2009

Bung Sjuman, setelah perpisahan secangkir kopi dan sigaret senja tadi, lewat tengah malam ini aku memenuhi janji, menulis surat kepadamu.

Suatu ketika aku mencarimu, bertemu cerita perihal rumah yang memberikan banyak inspirasi kepadamu. Di sana ada kursi dan meja tempatmu melahirkan karya-karya besar.Dan kau selalu memandangi pilar-pilar rumah yang kokoh dengan kolam penuh ide dan gagasan.

Bung Sjuman, alangkah indahnya hidup mengenyam jaman revolusi. Penuh dengan gelora semangat. Sungguh terasa indah, di usia muda menemukan film sebagai ruang berbagi pengalaman hidup. Hingga ke Moscow kau tempuh perjalanan mencari film. Selain dirimu, akupun menemukan cerita,perihal Fes Tarigan muda, Mochtar Soemodimedjo muda, Ami Priyono muda menempuh ribuan mil menuju ruang-ruang eksperimen Esenstein, Pudovkin, Kuleshov. Kawan-kawan muda di era 60an itu disambut sejarah.Betemulah mereka pada sejarah Bolsevik.

Bung aku ingin mendengarkan ceritamu, perihal pergulatanmu menjalani kehidupan sebagai pelajar muda di Moscow. menggelti teori teori dialektika, mendengarkan kuliah kuliah materialisme dan logika, Perihal pertemuanmu dengan Internationale dan nyanyian-nyanyian Lapangan Merah.Aku ingin mendengar ceritamu perihal poster-poster raksasa revolusi yang menghiasi dinding-dinding kota. Dan aku ingin mendengar kamu berkisah perihal pertama kali membuat film.

Anak-anak muda Revolusi, pemuda-pemuda yang berjalan maju dalam derap langkah revolusi itu pulang ke Tanah Air. Disambut peristiwa duka nestapa.Ah, jika peristiwa itu tidak terjadi, perfilman Indonesia barangkali tidak akan seperti sekarang ini. Dalam hal ini Bung, akupun ingin mendengarkan ceritamu pada tahun-tahun sulit 1965.

Bung Sjuman, malam ini aku ditemani secangkir kopi Timor yang hangat. Alangkah senangnya jika aku bisa berdiskusi denganmu membicarakan Battleship Potemkin. Kita membicarakan teori montase dan membangun perdebatan intelektual montase.Seperti Pudovkin dan Esenstein. Ah…pasti ruang diskusi kita akan penuh dengan kepulan asap sigaret, puitis sekali…dramatic.

Ruang sinema selalu membawaku pada pengembaraan imajinasi yang tak berbatas. Ruang sinema adalah ruang gelap yang diliputi imaji-imaji bergerak, imaji-imaji yang membawaku berlari dan membawaku pergi pada pengalaman estetika tak berkesudahan.

Mira Sato pernah menulis begini: “Bioskop tetap menjadi kuil gelap yang diziarahi dengan penuh kepercayaan, dan makin kukuh dengan segenap spektakel audio-visual serba spektakuler, yang tak akan pernah tercapai layar gelas seajaib apa pun. Jadi, medianya memang selamat, begitu juga film Amerika. Kenapa film Indonesia tidak? Aku hendak membicarakan film, kuil gelap dan imaji-imaji bergerak itu bersamamu, Bung.

Apakah film itu hanya gambar bergerak yang berisi orang ngobrol? Apakah hanya master shot, medium shot, close up, apakah film itu hanya sekedar perkelahian dan sambungan-sambungan potongan film yang direkonstruksi begitu saja? Apakah sesederhana itu?

Aku menemukan pengalaman yang luar biasa sebagai penonton.Akupun menemukan pengalaman yang luar biasa ketika memegang kamera dan merekam banyak peristiwa. Bioskop adalah dunia kecil, ruang sinema yang mengajarkan kepada saya kenyataan-kenyataan baru. Bung, Sjuman aku ingin membaca pengalamanmu, memasuki perpustakaan-perpustakaanm

u dan mendengarkan lagu-lagu yang kau dengarkan. Aku ingin tahu bagaimana karya-karya heat itu lahir dari Bung Sjuman.

Bung Sjuman, jika Montage adalah proses penyatuan, apakah perfilman Indonesia berikut manusia-manusia yang terlibat di dalamnya merupakan satu kesatuan montage? Apakah teori montage dapat dipraktekan untuk membangun kesatuan menjadi bentuk yang bermakna? Perfilman Indonesia? Manusia film Indonesia? Adakah dialektika perfilman Indonesia yang menciptakan dinamika perfilman Indonesia?

Hingga dinihari ini, Bung tak juga datang. Secangkir kopi sudah tandas sejak tadi, berbatang batang sigaret menjadi debu, menumpuk di asbak dan di paru-paruku. Aku terus menunggumu, pengen membuat film bersamamu. Aku ingin memutarnya terus menerus di dalam ruang sinema kepalaku.

Iklan

2 Tanggapan to “Surat-surat malam kepada Bung Sjuman”

  1. jimmy said

    Kebetulan melihat memoir surat ini, dan ayah saya juga yang termasuk cited dan menimba ilmu di Rusia saat itu. Selamat Pak, atas dedikasi dan upayanya. Sehat selalu dan God Bless.

  2. saksi said

    Terimakasih sudah memberikan apresiasi kepada catatan ini, terimakasih sudah berkenan berkunjung di ruang sunyi catatan catatan kami…semoga anda selalu dalam keselamatan dan berkat kebahagiaan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: