permata dan indra

2 Juni 2008

Tempo hari saya pulang ke jogja, menempuh perjalanan dengan mengendarai mobil pribadi: corona dl 1981 2000 cc. perjalanan 12 jam menuju jogjakarta. berangkat lewat jalur utara melalui semarang dan pulangnya melalui jalur selatan. ke jogja untuk datang ke bioskop lokal. bioskop itu adalah indra theater dan permata theater. tentunya menjadi pengalaman yang luar biasa. bisa datang ke ruang sinema, bebas duduk, bebas merokok dan menonton film semi blue buatan cina atau hongkong? dan serasa menyau dengan filmnya. nonton bersama puluhan orang yang setia menunggu sampai adegan terakhir dalam film. sesekali di dalam keremangan ruang sinema itu asap sigaret menyala, sesekali korek api terlihat berkilat, di dalam bias projector chingkang 4 produk cina yang dikanibalin itu, asap sigaret slow motion melahirkan pemandangan yang romantik.

bioskop permata, dulunya bernama Luxor berdiri tahun 1952. saya bertemu dua orang projectionis bernama pak sugeng dan pak haryono. mereka sudah 30 tahun menjadi projectionis, pencatut tiket masuk atau ikut sebagai tukang parkir. ngobrol dengan mereka serasa kembali pada kurun waktu yang sudah lewat, dimana kejayaan bioskop lokal berikut film-film indonesia di dalamnya. pak haryono dan pak sugeng bercerita banyak tentang bioskop itu. kami diajak ke rang projection, pemandangan yang luar biasa. kusam dan usang oleh waktu. kabel dan sarang laba-laba, alat potong seluloid steenback dan potongan frame, fotokopian pakualam terlihat di antara potongan-potongan film. kabel di sana sini, jumper-jumperan nggak karuan, yang tahu bagaimana menghidupkan proector buatan cina itu ya pak sueng dan pak haryono saja. hidup itu so must go on…begitulah barangkali kedua kawakan projectionis itu menikmati hidup. bioskop Permata, jika di lihat dari hotel wilis di seberangnya, nampak tua dan rapuh, hanya mural yang menghias dirinya nampak muda.

Bioskop indra terletak di seberang pasar beringharjo. bioskop dengan ruang screening yang besar. nampak sisa-sisa kebesarannya. seorang projectionis kami temui, sebelum tugas mas projections itu melakukan sholat dulu. ruangan di bioskop idra ini lebih semrawut. kabel malang melintang jumper sana jumper sini. dan senja itu film yang main masih sama dengan yang kami tonton kemarin bloodiy beast. dan mas projectionis memberitahu tentang reel seluloid yang berwarna hitam, artinya di situlah letak adegan syur itu. oooohhhh begitu? yayyayayya? aku baru tahu sekarang ternyata itu trik yang cukup baik buat jualan. yang aneh dari semua kejadian di kedua bioskop itu adalah setiap film hendak selesai, selalu saja ada orang datang, membawa film dalam bungkus terpal. ternyata setiap film selesai di bioskop permata, seorang “jhony” mengantarkan film itu ke indra begitu pula sebaliknya. traffic film berlaku dengan sepeda motor ataupun sepeda ontel. luar biasa.

saya melihat orang-orang nonton bioskop, saya melihat budaya sinema. orang datang, parkir motor atau sepeda, membeli tiket, menunggu dan masuk satu-satu. duduk dengan imajinasi masing-masing, lalu film diputar. tiket 5000 rupiah membawa mereka plesiran ke berbagai scene, ke dalam ruang-ruang action dan persetubuhan…film sepertinya tidak tuntas, saya menghitung ada sekian kane hilang. mereka menonton film yang tidak lengkap…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: