to mompalivu bure

Uncategorized

inilah kisah orang-orang pencari garam…

to mompalivu bure adalah ungkapan bahasa wana, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia berarti orang-orang pencari garam. akhirnya film itu ditayangkan perdana di aksara bookstore kemang, dihadiri sekian orang yang senang menonton film dokumenter. sebagian besar dari mereka adalah pekerja lembaga swadaya masyarakat dan lembaga founding. setelah pemutaran film dilakukan diskusi dan suasananya jadi cukup meriah. saya agak kesulitan menjawab pertanyaan dari ikwan Wahid dan ikwan dari universitas islam nasional, semuanya harus saya jawab dari sudut pandang keagamaan dan demokrasi…lhah??? nyambung apa nggak ya?

film ini mengisahkan kehidupan yang tengah dijalani orang-orang wana yang tinggal di marisa, kayupoli dan toronggo. tiga wilayah tersebut merupakan wilayah di dalam dan sekitar cagar alam morowali sulawesi tengah. saya, erwan effendi, ari rusyadi dan seorang relasi dari yayasan shabat morowali bernama ali tinggal hampir satu bulan di pedalaman sulawesi tengah untuk mengumpulkan data audio visual berkaitan dengan kehidupan, aktivitas dan apa yang tengah dihadapi orang-orang wana.

pengalaman yang luar biasa manakala saya bertemu dengan orang-orang suku wana. sebagai penghormatan terhadap eksistensi mereka, saya setelah ini akan menulis mereka sebagai suku Ta. di dalam hutan belantara morowali, saya dapat belajar banyak tentang pola hidup mandiri, mengolah alam dan menghormati alam, mengembalikan apa yang alam berikan dengan menjaga alam. berperilaku jujur dan sederhana. bekerja dan bernyanyi, bergembira setiap hari. walaupun kemudian pada kenyataannya ketika mereka bersentuhan dan menjalin hubungan sosial ekonomi dengan dunia luar wana, pilihan yang harus diterima adalah hidup dalam situasi modern yang menggerus apa saja yang mereka pertahankan. pola ekonomi modern dan konsumsi membawa mereka pada pilihan yang gamang.

kerumitan dan tumpang tindaih persoalan kami dapati di morowali, benturan tradisi dan modernitas, benturan kepentingan komunitas dan kepentingan di luarnya. praktek demokrasi modern yang timpang, ekspansi organisasi agama-agama luar wana yang terus menerus marayu dengan segala propaganda keselamatan. keterlibatan lsm (lembaga swadaya masyarakat) yang dominan, kemudian saya dapat melihat dari segala kerumitan itu bahwa komunitas wana kemudian harus merelakan segala potensi dan kekayaannya untuk menjadi bagian dari sebuah imajinasi: INDONESIA.

sebagai suku bangsa minoritas, pilihan untuk terlibat dalam percaturan sosial dan negara adalah pilihan yang berani. pada awalnya adalah hasrat akan rasa untuk mencari garam, bertemu dengan sarung dan kemudian sarung menjadi sarana adat mereka. perjumpaan yang instens dengan dunia luar wana membawa pengaruh besar, garam kemudian bukan lagi sebagai garam yang asin, rasa itu kemudian berkembang menjadi sekolah, keikutsertaan dalam oraganisasi agama luar wana, bekerja di perkebunan, pemilihan umum dan berbagai bentuk realitas atas nama modern.

garam adalah sejarah yang runut dari keinginan, hasrat, rasa, kebutuhan dan keterlibatan di dalam modernitas. pada akhirnya benteng pertahanan tradisi yang tertutup semakin terbuka dan lumer. garam bisa saja diterjemahkan sebagai dosa peradaban, garam seperti buah koldi yang ketika dimakan mengakibatkan manusia terbuang dari eden, terperosok ke bumi. menjadi bagian dari ruang dan waktu yang terus menerus menggerus manusia dalam penderitaan. garam adalah dosa peradaban. saya sendiri merasa menjadi bagian dari runutan sejarah peradaban yang kemudian hidup dalam alam modern yang gagap. saya adalah runutan dari mata rantai pencari garam yang kini hidup di antara garam dunia. hidup di antara kebutuhan yang praktis dan pragmatis. saya dapat belajar banyak dari orang-orang wana, merunut sejarah nenek moyang saya, merunut sejarah peradaban yang berbenturan satu sama lain. seringkali hasrat mengakibatkan manusia lumer dalam pragmatis tindakan…

to mompalivu bure adalah kisah orang-orang pencari garam, dunia terus berputar dan arus berbalik. kerinduan untuk pulang pada alam yang menyediakan segala kebutuhan manusia semakin saya rasakan semakin jauh. arus balik peradaban itu mungkin terjadi setelah kutub es antartika semua lumer mencair…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s