Surat-surat malam kepada Soekarno (2)
6 June 2009
Bung Karno, aku tengah ditemani secangkir kopi Toraja yang hangat ketika menulis surat ini kepadamu. Pedih sekali rasanya jika kesadaran hadir dan di hadapanku nampak berbagai kesalahan penguasa dalam mengelola negara. Tetapi lebih pedih lagi ketika menyadari bahwa generasi yang semestinya melanjutkan tongkat estafet dalam mengelola negara ini ternyata lebih bodoh dari angkatan sebelumnya. Jika kamu masih hidup pada jaman ini, Bung. Barangkali kamu sudah sangat tua dan akan marah-marah setiap hari. Merasakan betapa keadaan semakin buruk. Kamu akan mengumpat terus menerus, bicara betapa njlimet dan sontoloyonya para penguasa negeri ini. Barangkali kamu akan turun ke jalan-jalan, kamu akan masuk ke gedung-gedung pemerintahan dan marah pada segala kebijakan yang keblinger. Barangkali, kamu akan terus menerus marah-marah menyaksikan penguasa negara yang asyik bermain politik tanpa melahirkan kenyataan kenyataan baru yang berguna bagi pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Bagi Rakyat yang empunya negara.
Bung Karno, Jawablah pertanyaanku, apakah kenyataan yang terjadi saat ini adalah warisan dari perilaku kekuasaan di masa lalu?
Angkatan 28, angkatan 45, angkatan 66, angkatan 70an, angkatan 80 an, angkatan 98 adalah angkatan-angkatan yang menorehkan sejarah perubahan di negeri ini. Masing-masing angkatan mengusung cita citanya sendiri, menciptakan ismenya sendiri sendiri. Entah angkatan apa lagi yang akan lahir nanti?. Hingga detik ini, persoalan demi persoalan terus menerus merundung bangsa Indonesia, terus menerus tak pernah surut. Korupsi merajalela, untuk apa Komisi Pemberantasan Korupsi diadakan? Bukankah ini suatu langkah yang keblinger? Jika seluruh elemen negara melaksanaan Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila secara murni dan konsekuen, bukankah tidak diperlukan lagi KPK dan sejenisnya? Apalagi Mahkamah Konstitusi? Bukankah jika semua elemen negara ini sadar hukum dan sadar kewajiban dan haknya sudah tidak perlu lagi Mahkamah itu?. Semuanya menjadi salah kaprah. Raja-raja kecil memanfaatkan pemilu sebagai judi rolet terbesar, memanfaatkan kekuasaan untuk politik penggelembungan modal tanpa mau berbagi untuk kesejahteraan rakyat, kaum intelektual menjadi arogan dan angkuh, suara rakyat tidak pernah didengar, ketidakbecusan penanganan korban PT.Lapindo Brantas, praktek pembodohan demokrasi di berbagai wilayah pedalaman, penggusuran, kerusakan lingkungan hidup akibat eksploitasi tambang dan kayu-kayu hutan, semakin bertambahnya keluarga miskin masih terus terjadi dan menjadi persoalan nasional. Akankah ini turun menurun kepada generasi ke generasi, Bung? Apa pendapatmu?
Indonesia adalah negara kepulauan, pulau-pulau dirangkai menjadi kesatuan geo politik, geo ekonomi, menjadi kesatuan kebangsaan. Laut menjadi pemersatu teritorial, di negara maritim ini, kami serasa tak memiliki pantai dan laut. Hasil laut berlimpah ruah, tetapi desa-desa nelayan kandas dalam kemiskinan struktural. Apa artinya kapal-kapal besar penangkap ikan jika nelayan hanya menjadi penonton mata rantai makanan industri besar? Anak-anak nelayan putus sekolah, sebab sekolah tidak memberikan harapan untuk hidup lebih baik. Mereka berguru pada luasnya lautan, samudera ilmu yang tak berkesudahan. Ketika mereka sadar dan menuntut haknya sebagai warga negara, dengan mudahnya suara mereka dibungkam.
Bung Karno, lihatlah itu, sepanjang pantai yang dicemari limbah mercuri. Tengoklah Bung anak-anak yang miskin papa seperti orang tuanya yang hidup hanya sebatas jaring dan perahu mereka yang terancam karam tanpa modal lagi.Sarjana dan sekolah tinggi hanyalah mimpi di waktu senggang, ketika orang-orang pasar sudah pulang. Berteman kucing-kucing pemakan kepala ikan, terjebak dalam anggur oplosan dan mati muda.
Indonesia adalah negara lumbung padi raksasa, tetapi anak anak desa terjerat hidup minder tanpa cita-cita.Di Negara Agraris ini, gunung berapi tersebar dari ujung Sumatra hingga Jawa dan seluruh kepulauan Nusantara. Memberikan pupuk kesuburan yang abadi. Bumi memberikan berkah, petani seharusnya sejahtera. Tetapi, program keluarga berencana sejahtera gagal total, hanya berupa romantisme statistik yang tercatat pada papan papan usang BKKBN yang tua renta. Tugu-tugu prasasti transmigrasi modern hanya menjadi saksi bisu yang menciptakan bosan kehidupan desa.
Bung Karno, tidakkah kamu menangis, ketika di bandara-bandara internasional, perempuan-perempuan desa yang muda-muda dicekam ketakutan mati disiksa di negeri orang, tidakkah kamu menangis mendapati perempuan-perempuan desa itu pulang membawa beban di rahimnya? Beginikah manusia Indonesia yang katanya hidup di lumbung padi kesejahteraan? Semua ini serasa tanpa harapan, petani menjadi miskin, urbanisasi merubah wajah desa menjadi kota. Televisi dan media massa mempercepat perubahan. Janji-janji ekonomi modern hanyalah tumpukan hutang luar negeri dan paket kebijakan internasional yang merugikan. Pemuda-pemuda desa hengkang ke kota, meninggalkan tanah dan upacara-upacara musim panen. Mengabdikan diri di ruang-ruang baru, menjadi sekrup sekrup industri yang tak berarti. Sebagian menjadi perampok kelas teri, hidup tersudut di terminal dan tong sampah peradaban. Hanya menjadi hiasan berita Pos Kota dan koran koran kriminal ibukota.
Bung Karno, ini negara Pancasila. Tetapi anak anak sulit kuliah karena biaya belajar di Universitas semakin mahal,bagaimana mungkin berpikir pendidikan jika perut menuntut kenyang? Rumah sakit menjadi musuh masyarakat, apotik serupa meja interogasi. Pertanyaan demi pertanyaan ditujukan kepada si Marhen yang miskin, kenapa tidak mampu beli obat? Apakah si Polan dan si Marhen malas hingga jatuh miskin tak mampu menebus obat atau ongkos rumah sakit? Betapa sedihnya kamu Bung? Melihat si Marhen antri jatah Bantuan Langsung Tunai? Tersungkur dan kehausan di siang terik yang panas?
Di Negeri Pancasila ini, manusia mempertanyakan kembali arti kemerdekaan. Apa Jawabmu, Bung?
Bung Karno, jika kau masih hidup hingga saat ini, kamu sudah pasti sangat tua dan renta, barangkali kamu membawa tongkat, kamu bisa tersenyum melihat tugu Pancoran, Tugu Selamat Datang, Tugu Manusia dengan di atas kepalanya, Tugu Pembebasan Irian Barat, Tugu Monas. Aku akan menuntun langkahmu, mendorong pelan kursi rodamu menyelusuri jalanan Jakarta yang macet. Tetapi aku yakin, kamu tidak akan tersenyum melihat tugu-tugu masa lalu itu, kamu akan terus marah disertai batuk batk, namun aku akan terus mendorong kursi rodamu pelan-pelan, Sambil mendengarkan setiap kemarahanmu.
Bung Karno, ini negeri zonder pemimpin lagi…