Aku berjalan menyelusuri jalanan kota Jakarta. Galian tanah nampak terbengkelai di beberapa tempat. Senja hari ini aku sampai pada selembar halaman. Depan stasiun Senen. Sebidang tanah batu semen berdiri di atasnya konstruksi monumen patung. Ada seorang memegang bambu runcing nampak kepayahan, dipapah seorang lelaki berseragam tentara. Patung patung itu hendak berbicara. Menyampaikan cerita masa lalu berkaitan dengan daerah ini. Senen, ya Senen. Sore ini kereta datang dari Jawa, kereta listrik mengangkut orang-orang dengan siluet di wajahnya. Bayang-bayang kelelahan usai mencari nafkah seharian. Deru lokomotif dan suaranya, seperti genderang dan terompet perang menuju front-front perlawanan. Mungkin di jaman ini berbeda. Senen bukan lagi dipenuhi anak-anak muda yang tampang dan gesturnya urakan. Yang berkerumun mencari jawaban dari kata modern, seni, revolusi, realisme, drama turgi, aksi panggung dan berbagai macam pencarian peradaban. Senen sudah banyak berubah. Tugu yang terdapat pejuang-pejuang yang jadi batu itu sudah cukup banyak bercerita. Masa lalu adalah cerita usang, tugu itupun compang-camping sana sini. Beberapa anak berbaju lusuh tiduran dan bermain di sekitarnya.

Apa yang terlupa dari Senen? Apa yang pernah dilahirkan dari Senen? Gedung pertunjukan ketoprak dan wayang orang itupun tenggelam di antara kaki lima dan kepulan asap kendaraan bermotor. Sore berubah senja. Aku menyelusuri jalanan Jakarta yang tambah murung. Teringat “kawan” lama yang pernah aku temui dalam catatan-catatan seniman senen. Dia adalah Sjumandjaja. Bung Sjuman, fotonya fenomenal, dengan topi gaya koboi dan sigaret pipa di tanggannya, meliriklah ia. Ah, Bung Sjuman, lirikan anda itu menembus batas waktu generasi ke generasi perfilman Indonesia.

Dari Senen hingga Moscow. Tak dapat membayangkan perjalanan Bung Sjuman. Tidak banyak catatan yang mengisahkan kawan yang satu ini. Tetapi All Union State Institute of Cinematography, Moskow, Rusia mencatat perjalanan pemuda yang sering nongkrong di Senen ini sebagai pelajar yang jenius.Mengerjakan tugas karya akhir berjudul Bayangan yang diangkat dari karya penulis novel Amerika Erskin Caldwell. Dengan karya itu, Bung Sjuman konon lulus cumlaude. Aku membayangkan betapa enerjiknya pemuda Sjuman pada masa itu. Belum ada internet, belum ada google, belum ada Facebook. Tetapi persentuhannya dengan dunia luar Indonesia sudah sedemikian dekat. Karyanya gemilang.

Suatu ketika aku melihat “Atheis” di acara Jakarta International Film Festival. Film yang tanpa credit title itu masih ada logo TVRI di pojok kanan frame. Walaupun kualitas gambarnya kualitas kopian, namun ceritanya membuat aku berdecak kagum. Sudah sejauh itu orang Indonesia membuat film di tahun 1974? Drama dan pembabakan yang matang, cerita yang dituturkan dengan baik. Walaupun nampak pengaruh realisme sosial Rusia, namun Bung Sjuman dengan sangat apik memperkayanya dengan gaya ke Indonesiaan. Atheis tentunya menjadi film favoritku. Di dalam film itu, wajah Indonesia tergambar dengan jelas. Benturan demi benturan, anak-anak revolusi lahir “prematur”kemudian mati karena TBC atau penyakit kelamin, atau tertembus peluru nyasar aparat pangkat rendahan. Jika di Hollywood dan Amerika pernah melahirkan film Noir, Atheis adalah film yang lebih dari Noir, film ini sungguh kelam. Sekelam Indonesia pada masa Bung Sjuman baru pulang dari Moscow di tahun 1965.

Senja ini saya berjalan menyelusuri jalanan Jakarta bersama bayang-bayang Bung Sjuman. Saya mendengarkan banyak cerita dari alumni Moscow ini. Ketika melewati gedung bioskop di bilangan Senen, Bung Sjuman nampak murung. Tidak banyak bicara. Gedung bioskop itu menyimpan banyak cerita. Duka lara dan suka duka. Ya, bioskop Mulia Agung dan Grand Teatre? Seperti raksasa tua yang kelelahan, usur dan berdebu. Menunggu nasib yang tak pasti. Sejarahnya lebih dramatik ketimbang film-film drama yang diputar di dalamnya. Aku terus melangkah bersama bayang bayang Bung Sjuman. Kali ini tidak banyak pembicaraan. Melewati gedung bioskop Rivoli, tidak banyak obrolan. Konon dulu Chairil pun suka nongkrong di sini. Senen, tidak ada beda antara film, perdebatan seni, pedagang kaki lima, kesibukan kota dan sipilis yang membonceng seperti NICA.

Senja ini lampu-lampu merkuri mulai berpendar. Matahari sudah tenggelam di balik gedung-gedung perkantoran. Secangkir kopi dan sigaret melepas obrolan imajiner dengan Bung Sjuman. Aku sudah sampai di sini, di depan sebuah warnet, nanti malam aku akan menulis surat buat Bung Sjuman. Apa kabar Bung, apa pendapat Bung tentang perfilman Indonesia saat ini?

Leave a Reply