Surat Malam Kepada Kawan
5 June 2009
Kamar itu remang-remang, malam itu aku, AG dan Kau ngobrol tentang cita-cita ke depan setelah lulus SMA. Masing-masing punya keinginan untuk pergi belajar ke luar negeri. Soeharto memang masih sangat kuat berkuasa. Siapa tahu kalau belajar di luar negeri seperti Australia, kita bisa melakukan perjuangan-perjuangan Klandestin melawan Orde Baru semisal bergabung dengan kelompok new left .
Hari-hari kita dipenuhi diskusi, dari Marhenisme hingga Marxisme. Dari Timor Leste, Atjeh dan Irian Jaya hingga Castro, Che, Alende, Mao, Sun Yatsen.Kita makan itu cerita-cerita klasik Jogjakarta tenang sastrawan jalanan macam Umbu Landu Paranggi hingga Willy Surendra. Kita ngrasani Cak Nun di pojok-pojok remang warung penjual Lapen. Aku sendiri kadang mentertawakan Profesor Damarjati Supajar dalam siaran radio paginya. Kita maki-maki manivesto humanisme universal, kita terinsprasi LEKRA. Aku dan kau tak mau kalah sama Soekarno, Hatta, Syahrir Tan Malaka. Buku-bukumu beberapa aku pinjam dan tidak aku kembalikan. Kau ini lebih tepatnya bukan anak sekolah SMA, aku bilang kau ini agitator propagandis yang ulung. Menyusup bagai kuman, membelah diri bagai amuba, panas bagai api, maka kau sebut Dobrak, pantaslah. Unik betul kau ini, kau kenalkan aku pada kawan FNL, yang di kemudian waktu memproklamasikan dirinya Gay. Kawan kita itu kemudian dekat dengan kelompok gerakan pembebasan kaum Gay. Ada DN yang kemudian aku dengar kabarnya, dia menikah dengan seorang Polisi pangkat rendahan. AG, DN, FNL dan Kau hahahahahahah datang seperti hantu dalam pertemuan awal awal itu.
Sendowo dan kolam ikan depan teras kamar-kamar petak itu bagaikan RUMAH HOS Cokroaminoto. Madilog, Buku-buku Pram yang kau beli di pasar gelap, mesin ketik, rencana-rencana aksi, antopologi puisi dan kamar gelap…semua pernah lahir dari tempat itu. Aku lupa kapan kita terakhir ketemu. Barangkali pertemuan kita terakhir adalah selepas kau bikin aksi seribu Lilin di Bulaksumur itu. Beritanya di posting di ruang cyber apa kabar. Atau mungkin pertemuan kita terakhir adalah di Bentara Budaya Jogja, ketika aku dan kawan-kawan sanggar lukis Minggu Kliwon menyelenggarakan pameran lukisan. Kapan itu kita bikin antologi puisi BECAK, kepanjanga dari Bedah dan Cakar, tahun berapa itu? .Sekitar 1995 hingga 1997? Ah itu tidak penting. Aku lupa kapan terakhir kita bertemu.
Tahun-tahun itu aku merasa mendapatkan teman seperjalanan. Selepas aku dibuang dari sekolah Seni Rupa karena melawan Orde Baru itu, aku kesepian di jalanan. Pertemuanku denganmu adalah pertemuan sejarah. Namun kemudian semuanya berubah. Kita tak pernah lagi bertemu. Sejak Peristiwa 27 Juli, aku lebih banyak di Jakarta. Melawan dari dekat kekuasaan Orde Baru Soeharto. Akupun bekerja, sebab tidak mungkin hidup dalam pergolakan dan perlawanan tanpa makan. Aku kerja cari uang, menjadi apa saja. Kadangkala aku jadi tukang Ojek, Kadang berjualan batu akik, tukang parir di Hotel Jati Tanah Abang, kadang aku bikin kartu ucapan Natal atau lebaran, melukis dan membuat komik. Aku juga mulai mendapat kerja di Sinetron sebagai crew penata artistik.
Kawan, aku dengar kau pergi ke Australia dan melanjutkan kuliah di sana. AG masih di Jogja,setelah nikah, DN entah di mana, FNL mati karena tidak kuat melawan rejim HIV yang menggerogotinya sekian lama.Aku kemudian menikmati kota petromaks raksasa ini hingga saat aku menulis ini. 1998 adalah perubahan besar. Soeharto tumbang, Orde Baru runtuh. Timor Leste Merdeka terlepas dari NKRI. Akupun memasuki babak baru. Masuk kuliah di satu Institut kesenian di Jakarta. Menggeluti kuliah film. Aku masih melukis, masih menulis, masih terus bergerak.
Jogjakarta sudah banyak berubah. Kapan itu aku datang ke Jogja.Tetapi pada saat kita bertemu, tidak banyak yang kita obrolkan.Kita hanya bertemu dalam denting botol bir dan cafe pinggiran. Setelah itu tidak banyak percakapan lagi. Mungkin akan sangat lain jika kita bertemu saat Soeharto masih berkuasa.
Hingga tiba waktunya Jakarta memanggilmu. Kau bawa lumut-lumut Jogjakarta ke kota ini. Suatu ketika kita bertemu di sebuah cafe di bilangan Jakarta Pusat. Obrolan kita ketemu di ruang-ruang cerita film, tatto dan perjalanan-perjalanan. Kau tidak berubah, masih seperti orang Batak pada umumnya. Kau pernah menyesal menjadi penyair yang gagal. Tetapi aku tidak melihat kau banyak berubah. Kau tetap agitator dan propagandis. Ditambah lagi kau menyebut dirimu sekarang sebagai Hedonis radikal. Busyet!!! mahluk apa lagi yang kau sebutkan itu? Seperti dulu, kau pandai betul melahirkan kata-kata.Setiap kali bertemu, selalu lahir kata aru, makna baru.
Dunia terus berubah, Kawan. Dunia bisa saja tiba-tiba merubah manusia menjadi apa saja.Tukul belum juga kelihatan Batang hidungnya. Aku sering bertanya, apakah Tukul juga berubah?. Wani sudah besar, kini dia terus membaca kehidupan. Setiap sore dia menatap carawala timur menanti bayang-bayang Bapaknya. Pemilihan Umum sudah beberapa kali, beberapa orang yang dulu kita kenal kini sudah menduduki kursi-kursi parlemen, sebagian yang lain sibuk jualan koran sambil sesekali melawat ke luar negeri.
Kawan, aku selalu tertawa setiap kali ketemu kau muncul di Facebook. Sebab kau tidak pernah berubah. Selalu lucu dengan umpatan dan caci maki dengan agitasi dan propagandamu sebagai hedonis radikal. Aku kirimkan sebotol bir dingin untukmu malam ini. Suatu saat nanti, alau kita ketemu, jangan lupa kau ganti bir itu, bawakan kepadaku kata-kata baru, makna baru. Titip salamku kepada Wani anak Tukul.