Natal, tahun baru, Gaza, Manokwari
7 January 2009
Natal adalah perayaan meriah bagi pemeluk agama Kristen dan Katolik di seluruh bumi, selain kristen koptik yang merayakan di bulan januari. Walaupun Natal tidak tertulis di Injil, tetapi perayaan itu merupakan bentuksukacita dan rasa syukur atas hadirnya mesias yang diyakini umat Kristen dan Katolik sebagai Yesus Kristus putera Mariam. Natal merupakan peringatan kelahiran Yesus. Di bethlehe sebuah kota kecil. Di palungan yang miskin, hanya ditemani gembala dan Yusup, ayah yang taat dan setia. Dan bintang timur memancarkan cahaya yang hangat di malam hari. Natal adalah ingatan akan miskin dan papanya yesus lahir. Walaupu tiga orang Majusi mempersembahkan mas, mur dan kemenyan, namun kelahiran Yesus merupakan kisah yang sederhana. 25 Desember di akhir tahun Masehi, selalu ramai dengan perayaan Natal, kemudian Januari terbit sebagai bulan baru.
Jika tahun-tahun lalu, kita selalu diingatkan dengan peristiwa besar, bencana Tsunami yang melanda pantai barat Atjeh, tahun 2008 akhir dan awal 2009 ini dunia dikejutkan suatu aksi brutal agresi militer Israel di tepi barat Palestina. Serbuan rudal dari pesawat-pesawat tempur Israel membunuh anak-anak dan kaum wanita serta orang-orang yang tidak berdayaNatal dan tahun baru, yang dirayakan dengan sukacita di berbagai negara dan berbagai belahan dunia dinodai Agresi militer Israel. Dunia terperangah, orang-orang yang berakal sehat marah menyaksikan tayangan layar kaca yang memberikan gambaran dahsyatnya aksi anti kemanusiaan itu.
Manokwari adalah berita kesedihan yang kesekian kali. Gempa dengan kekuatan di atas tujuh scala richter mengguncang Manokwari. Korban berjatuhan. Kerugian segera menjadi perhitungan. Sekali lagi tayangan di layar kaca menyentuh perasaan hati yang sedih ini. Apakah dunia sudah begitu rapuh? Apakah setiap hari manusia mesti memahami kesedihan demi kesedihan?
Natal, Tahun Baru, Gaza dan Manokwari adalah sebagian kisah bumi dan manusianya. Adalah kisah sedih yang terus menerus memukul dinding hati.