kemerdekaan
17 August 2008
setiap malam tujuh belas agustus seperti sekarang ini saya selalu gelisah. Gelisah perihal kemerdekaan. Ingatan kembali pada masa indah di usia Sekolah Dasar. Di kampung saya, di Gang 5 RT 5 RW 5 Karang Ayu Semarang Barat, suasana tujuhbelasan selalu rame. Bahkan beberapa minggu sebelum tanggal 17 berbagai macam lomba diselenggarakan dengan sangat meriah. Gerak jalan, lomba lari, lomba makan kerupuk, masukin pensil dalam botol, lomba mengambl uang dari buah pepaya dengan menggunakan bibir, balap karung, sedangkan orang dewasa dengan menggunakan daster bertanding sepakbola. pagi-pagi di setiap halaman rumah berkibar bendera merah putih. Seluruh jalanan hingga lorong-lorong perkampungan dihiasi merah putih. Dan dengan semangat setiap 17 Agustus Pagi, saya bersemangat berangkat ke sekolah untuk mengikuti upacara bendera. Televisi menyiarkan film-film perjuangan revolusi kemerdekaan. Semua terasa berlumuran makna kemerdekaan.
Merdeka dan kemerdekaan. Dua kata ini yang hingga saat ini,( ketika usia saya sudah 30 tahun) selalu membuat saya gelisah. Mencoba terus mencari apa itu merdeka dan kemerdekaan. Soekarno membacakan naskah proklamasi, di sampingnya Bung Hatta dan dikelilingi tokoh-tokoh pergerakan masa itu. Berapa hari sebelumnya, Soekarno dan Hatta diba ke Rengasdengklok. Suatu pergerakan yang misterius ketika kemudian di bawah tekanan situasi perang dunia ke 2, mereka, kaum pergerakan itu, yang muda maupun yang tua memutuskan untuk memproklamirkan kemerdekaan. Menyuarakan kepada dunia international akan lahirnya sebuah negara baru, berbendera merah dan putih bernama Indonesia. Suatu pergerakan yang membawa gelombang besar pada jatuhnya kolonialisme di negara-negara yang dikangkangi kolonial, menjadi insppirator bagi negara yang memperjuangkan haknya sebagai bagian dari umat manusia yang tidak mau dijajah.
Kini semangat itu masih menderu di dada saya. Sejarah yang gemilang dari putra-putra Bangsa yang rela mengorbankan apa saja yang mereka punya untuk melahirkan jabang bayi revolusi bernama kemerdekaan Republik Indonesia. Suatu cita-cita yang utuh untuk membebaskan nusantara dari belenggu penindasan kaum kolonial dan imperialis. Suatu semangat yang mengajak manusia untuk terlahir utuh, hidup baru sebagai manusia yang merdeka. Yang bersatu dalam sebuah wadah bernama Indonesia.
Saya di Bali saat ini, sedang ikut dalam satu project shooting film. Film buatan orang Indonesia. Tentunya berbahasa Indonesia. Pemainnya dari dua negara. Selain dari Indonesia juga dari Malaysia. Malam saya menjumpai orang-orang berpawai di jalanan. Dari yang sederhana hingga dengan atribut kemewahan. Dari arak-arakan manusia ingga pawai motor besar Harley Davidson. Semua orang mau merayakan menjadi merdeka. Musik menderu di Kuta dan kawasan Seminyak. Bendera merah putih terpajang di mana-mana. Indonesia ternyata adalah keniscayaan. Kongkret.
Menjadi Indonesia memang butuh pengorbanan. Proklamasi 17 Agustus 1945 bagi saya adalah pintu gerbang dari sebuah jalan yang panjang, yang berliku yang terjal yang rawan. Proklamasi kemudian memunculkan masalah baru yang banyak nan luas yang menjadi pekerjaan rumah yang terus menerus membutuhkan penyelesaian. Seperti hari ini, bukan pemandangan pawai arak-arakan saja, bukan pawai harley davidson yang bergelora, bukan pidato kenegaraan dari Presiden, bukan iklan-iklan partai di televisi yang membualkan janji kesejahteraan. Bagi saya , Proklamasi adalah jalan yang harus saya tempuh. Buat saya sendiri itu adalah jalan yang lapang. Memberikan banyak pilihan. Selain tantangan yang menhadang di jalan itu tentunya. Kemerdekaan bagi saya adalah suatu pemandangan maha luas, yang menyediakan saya banyak lahan yang harus digarap. Yang menjadikan saya harus terus belajar dan bekerja. Bukan untuk diri sendiri tetapik banyak orang. Kemerdekaan adalah berkah dan berkah itu harus dirayakan untuk banyak manusia yang merdeka.
17 Agustus 1945-17 Agustus 2008, adalah rentang waktu yang panjang. Indonesia banyak berubah. Malam ini saya menyadari. Terlahir sebagai manusia Indonesia tentunya merupakan kebanggaan. Saya sudah pergi ke berbagai tempat. Hampir seluruh Kota besar di Sumatra Raya saya pernah Singgah, Seluruh kota besar di Jawa saya sudah pernah hadir, Bali, Lombok, Halmahera Utara, Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur dan Barat. Semua tempat itu saling berjauhan. Setiap kali datang ke tempat yang jauh itu, saya merasa bangga. Saya masih di Indonesia. Jika di dalam pesawat terbang, saya sempatkan melongok ke Jendela. Lautan luas, kadangkala tidak nampak pulau sama sekali. Ini masih di Indonesia.
Tetapi di malam 17 Agustus ini, saya teringat kemarin malam. Shooting dari pagi ke pagi lagi. Di lokasi, saya mendengar sopir-sopir mengeluh karena tidak sejahtera. Temen-temen suntuk karena kerja selalu tanpa hitungan jam yang pasti. Di televisi berbagai masalah ekonomi, politik, kriminalitas, korupsi, kerusuhan massa, ketidakpuasan publik pada hasil Pilkada, harga kebutuhan pokok rakyat semakin mahal, menjadi hiasan audio visual yang miris.
Merdeka, kemerdekaan, proklamasi. Gerbang yang membuka jalan panjang, terjal dan berliku. Samar-samar saya teringat bait-bait penyair Chairil Anwar…



merdeka jelas bukan kemerdekaan
ternyata, meski sudah lebih dari setengah abad makna dasar kemerdekaan itu sendiri terasa sangat mahal. padahal dari hati terdalam ia adalah realisasi panjang dari khusuk doa-doa.
tapi biarlah, meski tidak untuk kita biarkan terus abadi: aku ikut chairil anwar saja dimana makna luka dan bisa kubawa berlari, berlari hingga hilang pedih peri